
POV Kiand
Astaga!
Astaga !
Astaga
Aku benar - benar mematung , aku tak tahu harus melakukan apa? Aku hanya bisa memejamkan mata dan mengikuti alur yang di layangkan oleh Pak Pandu, Bibirnya terasa begitu hangat, entah kenapa aku seperti menikmati dan enggan melepaskan, Jantungku terus berdebar kencang, Kakiku lemas seperti agar-agar hingga sendok yang ku pegang pun jatuh ke lantai.
Setelah itu Pak Pandu segera melepaskan bibirnya , wajahnya menjauh, bibirnya tersenyum miring, aku masih mematung tak percaya apa yang tadi Pak Pandu lakukan padaku, aku pikir aku sedang bermimpi. Tak lama Pak Pandu mendekap ku, kenyamanan meliputi perasaanku, aku benar tak habis pikir dan tidak mengerti dengan takdir ku sendiri. Sungguh aku tak bisa menutupi kebahagiaanku, aku anggap ini adalah hari keberuntunganku.
...****************...
Setelah kejadian tak terduga kemarin aku tak henti-hentinya tersenyum, ku sentuh bibirku dan ku bayangkan apa yang pak pandu lakukan, lagi-lagi aku tersenyum.
"Pagi Kak! " Sapaku pada Kak Nanda dengan penuh ceria
"Pagi ki! berseri banget nih yang abis nemenin pacar! " ledeknya
Aku segera duduk di kubikel ku, setelah menaruh tas di bawah meja. ku balikan badanku menghadap ke arah Kak Nanda, senyuman seakan tak mau lepas di bibirku kebahagiaan ini belum pernah aku rasakan sebelumnya
"Gimana kemarin, aman proposal kita? " tanyaku pada Kak Nanda
"Aman....! " jawabnya membuatku sedikit lega
"Tapi ada satu hal lagi yang pasti bikin kamu tercengang" ujar Kak Nanda
"Apa tuh? " tanyaku
"Pak Darma di pilih Pak Pandu untuk membantu proyeknya dalam masalah investasi yang sekarang lagi dia kerjain" jawab Kak Nanda.
Kemarin Pak Pandu tidak bilang apa-apa pikirku
"Oh ya? " tanyaku kaget
"Iya, dan kita jadi ikut andil pastinya" jawab Kak Nanda . Aku bingung harus senang atau sedih, disisi lain itu artinya aku akan terus bersama Pak Pandu, tapi tanggung jawab ku semakin besar.
"Siap-siap kita lembur! " sahutku
"Kok lemes gitu, kalau lemburnya ama pacar bukannya lebih semangat ya? " ledek Kak Nanda
"Syuuuuttt Kak Nanda! jangan sampai gosip menyebar, taring Pak Candra bisa muncul kalau tahu justru aku dan adiknya resmi pacaran" bisikku
Kak Nanda segera tutup mulutnya " Ups lupa... "
Aku memang cerita banyak sama Kak Nanda tentang Pak Pandu memintaku untuk tetap di sampingnya, tapi aku tidak menceritakan jika Pak Pandu mencium ku kemarin.
Saat aku tengah pokus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda, Pak Darma memintaku dan Kak Nanda ke ruangannya
"Permisi pak! " sapa kami saat memasuki ruangan Pak Darma
"Kiand, Nanda, kita di panggil Pak Pandu ke ruang meeting " titah Pak Darma "bawa catatan kecil karena pekerjaan ini sangat penting! " tegasnya
"Baik Pak! " jawab kami bersamaan
"Ya sudah, saya tunggu di lantai 15 , cepet ya tidak pakai lama"
Aku dan Kak Nanda segera bersiap, dadaku berdetak lebih cepat saat tahu akan bertemu Pak Pandu. Aku membawa note kecil dan sebuah pulpen, pekerjaan ini menaruhkan jabatan Pak Pandu dan aku berjanji tidak akan mengecewakannya.
Tanganku sudah terasa dingin saat masih di lift, jantungku berdetak semakin cepat saat sudah mau sampai ke lantai 15
"Kenapa? grogi? " tanya Kak Nanda
"Heheh sedikit" jawabku
Kak Nanda menggandeng tanganku saat ke luar lift, kami berjalan masuk ke sebuah ruangan berukuran kurang lebih 5x8 bisa ku lihat dari keramik yang terpasang, jangan bingung kalau aku bisa langsung nebak ukuran ruangan ini, sebagai seorang arsitektur hanya dengan melihat saja sudah bisa memperkirakan berapa luas ruangan tersebut
Aku duduk di sebuah meja bundar, untuk pertama kalinya aku merasakan rapat dengan para direksi.
Pak Darma dan Dua orang lainnya sudah berada di ruang rapat, di tambah aku dan Kak Nanda, tapi Pak Pandu belum juga datang, seandainya bukan di kantor sudah ku seret agar dia cepat datang
Panjang umur, baru saja ku pikirkan dia sudah nongol,
"Siang semu! " sapa nya saat masuk ke dalam ruangan, kami sempat saling tatap aku bisa rasakan senyum Pak Pandu sengaja di lemparkan untukku
"Bagaimana kabar kalian hari ini? " tanya Pak Pandu mengawali rapat kali ini
"Baik Pak! " jawab kami hampir serempak
"Nah, untuk beberapa rencana kerja sudah di rancang oleh teman saya, tapi beliau belum sempat hadir, karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda " ujarnya "Sampai sini ada yang ingin kalian tanyakan? " tanya Pak Pandu
"Jadi untuk survei kita akan langsung melihat ke lokasi Pak ? " tanya Kak Nanda
"Iya, hanya perwakilan saja tidak semua" jawab Pak Pandu
"Oke baik! " sahut Kak Nanda
Rapat masih terus berlangsung, aku yang tidak terbiasa dengan dinginnya AC mulia merasa menggigil, beberapa kali aku menggosokan tanganku untuk memberikan rasa hangat, Pak Pandu yang menyadari jika aku ke dinginan, segera mengambil remote AC dan menaikan suhunya.
Akhirnya setelah 30 menit rapat selesai, tugas pertamaku dan Kak Nanda membuat kerangka awal bangunan hotel yang akan kita bangun, aku di minta mendesignnya se unik dan semewah mungkin
Beberapa dewan direksi sudah meninggalkan ruangan hanya tersisa aku dan Kak Nanda karena memang Pak Pandu yang menahannya.
"Kiand, Nanda saya sudah dengar kemampuan kalian dalam mendesign bangunan " ujar Pak Pandu begitu formal
"Bukan saya pak, lebih tepatnya Kiand" sahut Kak Nanda sambil melirik ke arahku
"Oke siapalah, yang jelas besok kita akan ke lokasi melihat tempatnya, dan kalian bisa pikirkan bentuk bangunan dan denahnya seperti apa? saya bisa percaya sama kalian? " tanya Pak Pandu
Kami menjawab dengan anggukan kepala, anehnya dalam kondisi seserius ini aku tak bisa menahan senyumku saat menatap Pak Pandu
"Denah ini tidak boleh bocor pada pihak manapun, bahkan Pak Darma sekalipun, jadi setelah kalian membuat designnya, kalian segera menemui saya di ruangan oke! " tegas Pak Pandu "Kita belum tahu perusahaan mana yang di pilih Pak Candra, yang jelas perusahaan ini memiliki daya tarik di banding perusahaan lainnya, sehingga ada kemungkinan Pak Candra memilih perusahaan yang sama" tambahnya
Aku bisa merasakan persaingan sengit antara seorang adik dan kakak
"Ya sudah kalau begitu kalian boleh kembali bekerja" titahnya
"Baik Pak! " jawab kami serentak
Aku dan Kak Nanda meninggalkan ruang meeting, tak lama terdengar suara pesan masuk di ponselku
Saya Tunggu di Basemant Pesan dari Pak Pandu
"Hey... ngapain senyum-senyum sendiri? " tanya Kak Nanda yang berada di sampingku
"Gie langsung ke basemant ya kak! " ujar ku sambil menekan tombol B1 pada lift
"Mau ketemu Pak Pandu? " tanya Kak Nanda
Dengan semangat aku menganggukan kepala dan tersenyum ke arah Kak Nanda
"Yah, gue istirahat bareng Dian lagi dong" keluhnya "Berdua doang nggak seru"
Kak Nanda memasang wajah kecewa dengan mendorong bibirnya hingga sejajar dengan hidungnya yang mancung
"Hari ini aja , besok enggak..nggak papa ya! " mohonku sambil merangkul tubuh Kak Nanda
"Oke.. oke, bener ya besok kita makan bareng" pesannya
"Siap bos! " jawabku dengan posisi hormat
Ting!!!!
Lift terhenti di lantai 12, Kak Nanda lebih dulu keluar sedang aku masih harus melanjutkan perjalan ke lantai B1. Sesampainya di Basemant mataku mulai mengitari setiap sudut untuk mencari keberadaan mobil Pak Pandu.
Sangat mudah mengenali mobil sedan putih keluaran terbaru miliknya, karena mobil itu terlihat begitu dominan di banding mobil hitam lainnya, saat aku hendak berjalan ke arah mobil, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan memintaku berbungkuk di balik mobil
"Pak Pandu!" panggilku terkejut
" Syuut" Pak Pandu menutup mulutkku, lagi-lagi tubuh kami saling berdekatan tanpa jarak .
Mobil hitam yang ku tahu milik Pak Bagaskara melintas. Pak Pandu menarikku agar Pak Bagaskara tidak melihatku berada di Basemant 1 yang memang di peruntukan untuk direksi atau tamu undangan
"Hampir aja! " ujarnya sambil mengelus dada "maaf ya, kamu nggak papa? " tanya Pak Pandu
Aku hanya menggeleng dan tersenyum sambil menatapnya,
"Kenapa malah senyum? " tanya Pak Pandu
"Seneng aja...! makasi ya" jawabku
"Ayo...! " Pak Pandu menggandengku berjalan ke arah parkiran mobil miliknya, dia membukakan ku pintu mobil lalu mempersilahkan ku masuk, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Aku bak seorang cinderella yang di cintai oleh pangeran.
Aku tahu Bu Bintang tidak hilang begitu saja di hati Pak Pandu, tapi aku akan menutup mata dan telinga untuk hal itu, aku ingin kebahagiaan bodoh seperti ini kurasakan tanpa memperdulikan apapun, egois memang tapi itulah hatiku, aku akan buktikan jika cinta yang tulus dapat mengubah segalanya.
Mencintai Pak Pandu memang sebuah kesalahan tapi aku akan tetap melakukan kesalahan itu, dan siap menanggung apapun resiko yang akan ku hadapi kedepannya.