For A Great Love

For A Great Love
episode 75 please stay! 3



Aku di bantu bi nur merapikan pakaian, rasanya hati ini benar-benar hancur, beberapa kali aku meneteskan air mata saat memasukan baju ke dalam koper, persahabatan, percintaan, dan karirku harus ku lepaskan.


"Kiand, yang sabar ya ndok" ucap Bi Nur sambil mengelus dadaku


"Iya Bi, mudah-mudahan Kiand bisa cepet dapet kerja ya disana"


"Iya nak! kamu anak pintar, pasti banyak perusahaan yang mau terima kamu" Bi Nur memelukku, meski begitu tetap saja, berat untuk ku melepaskan semua ini.


Tok Tok Tok


Noval mengetuk pintu yang sedikit terbuka, dengan cepat ku hapus air mataku, dan berusaha tetap ceria


"Masuk val! " titah ku


"Ada yang perlu gue bantu? " tanyanya


"Udah mau selesai kok, arga gimana? " tanyaku, Tadi noval memang bilang akan bicara pada arga


"Bisa kita bicara berdua? " tanya noval


"Ohh, boleh mas Noval, bibi tak keluar disek" Bi Nur pun beranjak dan meninggalkan kamar


"Arga biar tinggal disini! " ujar noval sambil duduk di sampingku, membantuku merapikan beberapa pakaian yang masih berhamburan di lantai


"Nggak bisa val, nanti kalau pandu nyamperin arga ke sekolah, dan maksa arga buat kasih tahu gue dimana, gimana? ribet nantinya! " kataku


"Udah lo tenang aja, gue yang bakal urus itu, lagian arga sebentar lagi ujian, kasian dia kalau harus ngulang dari awal! "


"Tapi val... gue nggak_ "


"nggak tenang ninggalin arga? " potong noval dan aku hanya mengangguk


"lo nggak percaya sama gue? " tanyanya


"bukan gitu val! "


"terus? "


"Gue udah terlalu banyak ngerepotin lo val .. " ujar ku


"Nggak ada yang di repot kan Ki, gue seneng ada arga disini, rumah jadi tambah rame, arga udah gue anggap sebagai adek gue sendiri"


Aku berpikir sejenak, apa mungkin aku meninggalkan arga di kota yang sejahat ini sendiri, kemarin saja dia sudah babak belur, lalu bagaimana jika tidak ada aku?


"Ki! " noval merangkul ku " lo bisa fokus sama kesembuhan bokap lo disana, gue yang akan jaga arga,! " Noval semakin meyakinkanku


setelah noval meyakinkanku, akhirnya aku setuju membiarkan arga tinggal di sini, namun tetap dalam pengawasan noval.


Aku kembali merapikan beberapa pakaian yang harus ku bawa. Waktu berjalan begitu cepat, sekarang saja sudah pukul 4 sore, sedari tadi aku sudah mematikan ponselku, aku tak ingin melihat pesan-pesan dari pak pandu, karena itu akan membuatku semakin merindukannya.


Aku membayangkan, tidak ada lagi teman berdebat ku nanti, tak ada lagi pria yang akan memanjakan ku, meski dengan sikapnya yang dingin, tidak ada lagi keceriaan di meja makan seperti yang biasa ku lakukan saat bersamanya, tak ada lagi si posesif yang selalu mengkhawatirkan ku.


"sudah siap semua..! " ujar noval sambil menepukkan kedua tangannya


Tas sudah tertata rapih di kamar, hanya tinggal memindahkan ke dalam mobil. Cuaca di luar sedang tidak bersahabat, hujan turun dengan lebat, jadi Noval menyarankan untuk berangkat lebih awal, khawatir terkena macet karena pasti banyak genangan air di jalan.


Setelah makan sore bersama untuk yang terakhir kalinya, aku berpamitan pada bunda noval, wanita cantik dan lembut itu bahkan sampai meneteskan air mata, saat aku memeluknya


"nanti main ya kesini, atau nanti tante yang akan nemuin kamu di surabaya, kalau kamu butuh bantuan tolong kabarin tante, jangan sungkan, " ujarnya, entah bagaimana aku harus mengucapkan kata terima kasih padanya


"Iya tante, maaf kiand selalu merepotkan! " ucapku " kiand titip arga disini, kiand janji setelah urusan kiand di surabaya selesai, kiand akan main kesini, doakan kiand ya tante... " kami kembali berpelukan, aku pun tak kuat menahan air mata, suasana kini berubah haru, tidak hanya aku dan bunda noval yang menangis, Bi Nur, Arga, bahkan noval terlihat berkaca - kaca


"Iya sayang, kamu baik-baik disana" bunda noval mengecup keningku, setelah ibu meninggal, aku tidak merasakan pelukan dan kecupan sehangat ini.


"Arga, baik-baik disini, jangan nakal, jangan berantem, tolong jangan menyusahkan kak noval dan tante... " pesanku


"iya kak, arga janji, maaf arga nggak bisa ikut kakak pulang, salam buat ayah, " ku peluk erat tubuh arga, untuk pertama kalinya aku berpisah dengan adik semata wayang ku


"Yuk,...! " ajak noval..


"Hati-hati ya nak! " pesan Bunda noval.


Hujan semakin lebat, mengguyur kota jakarta, aku dan Bi Nur berlari masuk ke mobil yang sudah terparkir persisi di depan rumah bunda noval.


Lambaian tangan menjadi akhir sebuah perpisahan, menutup ceritaku di sebuah kota penuh kenangan.


Mobil melaju meninggalkan rumah bunda noval, tepat di depan gerbang, aku melihat mobil sedan hitam berhenti, aku kenal mobil ini, mobil yang selalu menjemput ku.


"kenapa dia kesini? " tanya noval


"gue nggak tahu.. "


Seseorang terlihat keluar dari mobil itu, benar saja itu pak pandu, dia berlari menuju gerbang rumah noval, menerjang derasnya hujan


"Kiand....! " teriak pak pandu.


Aku masih terdiam kaku di dalam mobil, entah apa yang harus aku lakukan


"Kiand aku mohon keluar! " teriaknya..


Pak Nimin yang saat itu tengah berjaga langsung membuka gerbang, agar mobil noval bisa keluar, dan dengan cepat pak pandu berlari menghampiri mobil kami


"Kiand! kita harus bicara! " teriaknya sambil mengetuk kaca mobil, melihat pak pandu seketika tangis ku pecah, air mata yang ku coba bendung seakan tak kuat menahan derasnya kesedihan


Aku tak tahu apa yang di katakan pak nimin, saat itu pak nimin berusaha menghadang pak pandu, tapi akhirnya ia membiarkan pak pandu kembali menghampiri mobil noval.


"ki..." ujar noval, seolah ingin menanyakan apakah aku akan keluar


"jalan val! " jawabku,


"ki... tolong buka, kita harus bicara! " Pak pandu terus mengetuk jendela mobil.


Noval mulai melajukan mobilnya perlahan, tapi pak pandu tak menyerah, ia bahkan tidak perduli meski derasnya hujan mengguyur tubuhnya


"Kiand, kamu nggak bisa pergi gitu aja! kiand!!!!" Pak Pandu masih mengejar mobil noval, melihat itu hatiku benar-benar tersayat, hingga dadaku terasa nyeri, sungguh ini bukan mau ku, aku tidak bisa melawan keadaan, aku lemah.


maaf pak pandu, ini pun menjadi hal tersulit untukku, tapi aku tak punya pilihan lain gumamku dalam hati. Aku terus menangis tersedu, memandangi Tubuh Pria yang ku sayangi tersungkur di atas aspal dari kaca spion mobil


"berhenti! " seruku, noval langsung menginjak rem mobil, hingga mobil berhenti mendadak


"Ki ada apa? " tanya noval, rasanya aku tak tahan membiarkan pak pandu seperti ini, aku rapuh sangat rapuh. Tanpa menjawab pertanyaan noval aku segera membuka pintu mobil, dan berlari ke arah Pak Pandu, tak perduli air hujan membasahi tubuhku.


Pak Pandu yang melihatku berlari kearahnya langsung bangkit. Aku memeluk tubuh Pak Pandu begitu erat tak ingin ku lepaskan sungguh aku tidak ingin melepaskannya, Pak Pandu membalas pelukanku, kami menangis di bawah derasnya hujan.


"jangan pergi ki, please aku mohon! " air mata kami menyatu dengan air hujan, adegan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya


"Maafin aku pak! maaf... " ucapku


"Kiand, kamu percaya, kita akan lewatin masalah apapun bersama" ucap pak pandu sambil mendekap ku


"Maaf pak, ini akan sulit buat kita," mendengar ucapan ku Pak Pandu melepaskan pelukannya, ia menyentuh kedua pipiku memaksaku menatap matanya,


"Ki, jangan bilang kamu menyerah, kamu sudah janji ki, kita akan lewati ini sama-sama"


"Pak dari awal kita sudah salah, nggak seharusnya kita memupuk perasaan ini, nggak seharusnya aku mencintai pak pandu, aku terlalu egois karena aku tak ingin melepaskan pak pandu, dan sekarang aku sadar seekor ikan tak akan pernah bisa berenang di daratan, meski sekeras apapun mereka berusaha"


"nggak kiand, nggak! aku nggak akan biarin kamu pergi, kalau memang semua karena statusku sebagai anak pemilik perusahaan, aku akan lepaskan semua, kita hidup dari nol, aku akan lepaskan jabatan, kekayaan, bahkan status ku sebagai anak bagaskara! " ujarnya ,


"maaf pak, tapi aku nggak bisa, aku nggak mau karena aku, hubungan pak pandu dengan pak bagaskara hancur, biar bagaimanapun dia adalah ayah pak pandu, orang tua pak pandu yang menjadikan pak pandu sehebat ini"


Cukup lama kami berdiri di bawah guyuran hujan, noval yang khawatir melihatku basah kuyup, datang memayungi ku, begitupun dengan Pak Yoga, yang datang memayungi Pak Pandu


" Ki, ayo kita temui papi, ayo kita menikah, aku nggak akan biarin kamu pergi ki, Pak Pandu menggenggam tanganku erat,


"Ki, nanti kamu bisa ketinggalan kereta" bisik noval


"Pak Pandu maaf...! " ku lepaskan genggaman tangan pak pandu dengan hati yang terluka


"ki... tolong ki, tolong! " Pak Pandu bersujud di hadapanku, itu membuatku semakin terluka, aku bisa merasakan sakitnya luka pak pandu, karena aku pun merasakan hal yang sama, perpisahan ini harus terjadi


"Pak jangan seperti ini! " ku raih tangan pak pandu dan memaksanya untuk bangkit, "Pak, aku janji mungkin tidak sekarang, ataupun esok, aku akan me mantaskan diriku untuk pak pandu, aku akan datang sebagai kiand yang baru, sehingga bumi dan langit pun merestui kita" ujar ku sambil menggenggam tangannya, dan perlahan ku lepaskan


"ki, kamu benar akan pergi? " tanya pak pandu sebelum tangan kami benar-benar terlepas


"Pak ini terbaik buat kita, aku mohon tetap bahagia, jalani hari seperti biasa, aku pun akan melakukan hal yang sama meski sesulit apapun itu, jangan pernah bersedih, jangan tidur terlalu larut, dan satu lagi, jangan berantem sama pak candra" banyak pesan yang ku ucapkan untuknya, pria ini yang sampai kapanpun akan mengisi hatiku, meski aku tidak akan bisa bersamanya.


"oke, kalau itu mau kamu, tapi jangan paksa hatiku untuk bisa kembali seperti saat kamu ada disini" ujarnya.


akhirnya kami harus berpisah, noval yang melihat bajuku basah kuyup, membiarkan aku mengganti pakaianku di dalam mobil sedang ia menunggu di luar.


kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun. Emosi dan rasa bersalah berbaur di dalam hatiku, mataku masih berkabut , kedua bola mataku tak henti-hentinya meneteskan air mata, terkadang aku ingin marah, dan ingin bertanya pada tuhan, kenapa kami di pertemukan jika akhirnya kami harus berpisah? kenapa ada cinta, jika akhirnya harus terluka? sampai detik ini aku masih mencari jawaban dari semua pertanyaan ku.