
"Demi apa lo semua baju itu dari Pak Pandu? " teriak Dian begitu aku menceritakan dari mana pakaian yang ku berikan untuknya, saat aku berada di pantry
Dengan cepat aku membekap mulutnya agar Dian tidak melanjutkan perkataannya lagi "Syuuuuut! "
"Oh my Gosh Kiand, Lo gak jadi wanita bayaran Pak Pandu kan? " tanya Dian terkejut, tanganku refleks menoyor keningnya
"Jangan gila lo, gue masih punya iman! "
"Kok bisa Pak Pandu belanjain lo sebanyak itu? "
melihat ekspresi Dian, aku hanya bisa tersenyum bangga, padahal aku sendiri juga tidak menyangka, Pak Pandu akan membelikan pakaian mahal untukku.
"Eh tapi By the way Abis itu lo sama Pak Pandu kemana? gak ke hotelkan? " tanya Dian dengan wajah kepo nya
"Sial Lo! gak lah, dia cuman ngajak gue makan di Dabiel Vigone Resto" jawabku
"Sumpah lo? itukan resto mahal Kiand! " Mata Dian terbelalak seperti akan keluar
"Iyee gue tau, gue ampe bingung nyebutin nama makanan yang ada di menu! " sahutku
"Lo pakai susuk apa, Ki? " tanyanya "Berapaa susuk yang lo pakai buat narik perhatian Cowok sedingin Pak Pandu? " tanya Dian dengan ekspresi super kepo
"hahaha! lo pikir gue bakal ikhlasin duit gue buat masang susuk, buat makan aja gue irit-irit "
"terus gimana lo bisa di ajak makan Pak Pandu? dan di belanja-in sebanyak itu? pasti ada sesuatu yang lo sembunyi-in dari gue! " tebak Dian, Matanya menatapku penuh curiga
"yeyyyyy!!!! mana gue tahu, dia yang ngajak gue! " jawabku sambil berlalu meninggalkan Dian yang berdiri di pintu Pantry
"Ki..! lo jangan bikin gue mati penasaran ya! " Dian berjalan di belakang berusaha mengejarku. Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan, aku memang paling suka membuat Dian penasaran seperti ini hehe
...****************...
Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sebuah gosip menyebar luas di perusahaan ini, beberapa hari belakangan aku bak artis dadakan, semua orang memperhatikankanku sambil berbisik entah apa yang mereka bicarakan dan itu membuatku gerah, gerak gerikku seakan mulai terawasi.
"Pagi Nyonya Pandu! " Sapa Kak Nanda membuatku terkejut
"Apa maksudnya ka? " tanyaku pada Kak Nanda
"Kamu gak sadar semua orang membicarakan hubungan kamu sama Pak Pandu? kamu pacaran kan sama pak Pandu? " tanyanya memastikan, aku yang saat itu masih bingung hanya mengerutkan keningku
"Hmm kakak tahu dari mana? " tanya ku
"Itu udah jadi konsumsi public di kantor! abis ini lo siap-siap aja, di panggil Pak Candra buat di introgasi! " ujar Kak Nanda
"introgasi? kenapa di introgasi? " tanyaku semakin bingung
"Pak candra mau yang terbaik buat adikknya, jadi dia pasti menyeleksi ketat siapa calon pasangan hidup sang adik! " jawab Kak Nanda
aduhh kenapa jadi ribet gini sih urusannya, kalau candra gak suka sama aku? gimana nasibku di perusahaan ini?
Ponselku berdering mengejutkanku dan lamunanku, ku lihat nama Pak Pandu tertulis di layar ponselku.
mau apa dia? tanyaku dalam hati sambil menatap layar pobsel
"Ciyee di telpon yayang! " goda Kak Nanda
"apaan sih ka! " tak ingin Kak Nanda mendengar percakapanku, aku memilih ke Pantry untuk menghubungi balik Pak Pandu
"Hallo pak! " sapaku dari balik telepon
"Kamu dimana sih? gak bisa langsung angkat telepon saya? "
"Loh. ! sayakan lagi kerja! "
"tetap kamu wajib angkat telepon saya cepat! " ujarnya menyebalkan "Ke ruangan saya sekarang juga! "
dia selalu menyuruhku seenaknya aja, huh kalau bukan atasanku, aku maki-maki dia! gerutuku kesal.
Sebelum aku ke ruangan Pak Pandu, aku meminta izin pada Kak Nanda, seperti biasa, dia selalu menggodaku. Dian yang melihatku meninggalkan ruangan, langsung berlari menghampiriku
"Ki..! Kiand... " panggil Dian
Aku langsung menghentikan langkahku dan menoleh kearah sumber suara "kenapa Di? "
"Lo mau kemana? " tanyanya mulai kepo
"Ke ruangan Pak Pandu! " jawabku
"Gue ikut dong! " rengeknya sambil menggenggam lenganku tak ingin melepas
"Ihhhh, lo mau di marahin atasan lo! gak ahhh! " tolakku
"Lo mah, tapi abis ini janji ya! lo harus ceritain semuanya! "
"gue males, mulut lo lemes, sama aja gue bongkar rahasia gue kalau cerita sama lo! " tolakku meledeknya, dia tampak memasang muka sedih dan kecewa
"Iya.... Gue janji, gue gak bilang siapa-siapa! yahhh cerita ya! "
Liat nanti! " jawabku
Aku berlalu memasuki lift meninggalkan Dian.
Ting!!!! lift behenti di lantai depapan belas, seperti sudah biasa melihatku, kali ini security yang bertegus hanya tersenyum sambil membukakan pintu, tidak ada pertanyaan apapun lagi seperti pertama aku bertemu
"Pagi Bu Kiand! " sapa seorang reseptionis dengan ramah, yah semenjak gosip aku dan Pak Pandu pacaran merebak, aku merasa di perlakukan istimewa
"Pagi mbak! Pak Pandu di ruangannya? " tanyaku
"Iya Bu, masuk aja! " Aku pun segera bergegas masuk ke dalam, ku lihat Bu Karin sekertaris Pak Pandu sedang duduk di meja kerjanya, saat ia melihatku berjalan menghampirinya, dia langsung tersenyum.
"Pak pandu di dalam Bu! " ujarnya, kali ini semua memanggilku ibu, rasanya aneh di telinga.
Tok... Tok.. Tok.... ku ketuk pintu ruangan Pak Pandu
"Masuk!!! " teriak Pak Pandu dari dalam ruangan
Aku membuka lebar pintu ruang kerja Pak Pandu, dia tampak sibuk dengan kertas yang berserakan di depan mejanya
"Ada apa pak? " tanyaku setelah aku menutup pintu tuang kerja Pak Pandu
"Duduk, saya mau bicara! " perintahnya , seperti biasa tidak ada senyum yang menghiasi wajah tampannya, tapi dari cara bicaranya dia lebih lembut di banding saat pertama kami bertemu
Akupun duduk di sebuah kursi yang berada di sebrang meja kerjanya
"Minggu ini, Mas Candra dan Bintang akan bertunangan, kamu harus ikut saya ke pesta pertunanagan mereka! " ajaknya, lebih tepatnya memaksa
"Tapi pak! "
"Sudah ingat dengan perjanjian kita? " potong Pak Pandu,membuatku kikuk tak bisa berkata apapun
Yah status kita adalah pacaran saat ini, meski hanya pura-pura
"i-iya Pak! "
huh dasar cowok mesum, mentang-mentang berkuasa bisa bersikap seenaknya
"I-iya pak! "
"Hari sabtu saya akan menjemputmu, saya akan bawa kamu ke salon dan kita berangkat ke Sania Hotel, karena sabtu malam ada acara makan malam keluarga, mulai besok kamu harus belajar etika berjalan, etika makan , dan etika berbicara , jangan mempermalukan saya di keluarga besar saya! " ucapnya panjang lebar " karin akan membantumu, jadi mulai besok kamu langsung ke ruangan saya, tidak ke ruang kerjamu paham? "
"Lalu kerjaan saya gimana pak? " tanyaku
"Apa perlu kamu menanyakan hal itu? " dia malah betanya balik, hal yang selalu dia lakuakan
"Yah perlu pak! kan pekerjaan saya adalah tanggung jawab saya! " jawabku santai
"serahkan semuanya pada Nanda! " ujar Pak Pandu" Oh ya satu lagi, siang ini kita akan makan siang dengan Mas Candra dan Bintang, kamu jangan banyak bicara, biar saya yang bicara, saya akan memesankan menu makanan yang waktu itu saya pesankan untuk kamu, jadi jangan ada protes atau membantah! bersikap seolah kamu sudah terbiasa dengan restoran mewah, saya pikir kamu cukup pintar untuk memahami ucapan saya! "
"I-iya pak, saya mengerti! "
"Ya sudah, kembali ke meja kerjamu! seperti biasa saya tunggu jam dua belas siang disini! " titahnya
"Baik pak! " Yahh saat ini aku hanya bisa tunduk pada perintah Pak Pandu, kalau enggak, bisa hengkang aku dari perusahaan ini,
ahhhh Kiand, Kiand, harusnya dari awal lo jangan berurusan sama Pak Pandu! ceroboh sih lo!
Aku keluar ruang kerja Pak Pandu dan kembali ke meja kerjaku, bukan Dian namanya kalau dia nggak kepo maksimal, melihatku sudah berada di meja dia segera menghampiriku, tidak ada takutnya meski sudah beberapa kali di beri peringatan untuk tak keluar meja kerjanya
"Kiand! gimana? lo ngapain aja tadi? " tanyanya seperti wartawan
"Dian! kamu tuh kepo banget sih! sana lanjut kerja! " sahut Kak Nanda, aku hanya tersenyum melihat ekspresi kekecewaan Dian
"Sebentar aja ka! aku penasaran! " pinta Dian
"Hmmm Diannn! "
"Iya kak, iya...! " akhirnya miss kepo pun kembali ke meja kerjanya dengan muka yang di tekuk
"Ki! " panggil Kak Nanda, kali ini bukan hanya Dian yang jadi miss Kepo, Kak Nanda pun seperti sudah tertular
"Kok bisa kamu pacaran sama Pak Pandu! jujur aku sih gak percaya! dia kan gak pernah pacaran setahuku! " ujar Kak Nanda
"Heheh! Kakak nggak percaya, apa lagi aku ka! " jawabku dan kembali dengan laptopku
"Kamu tuh! aku serius! " tegasnya
"Aku juga serius ka hehe! " balasku
"Ya udah lanjutin deh kerjaan kamu, nanti Pak Darma liat marah lagi dia! "
Aku kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
...****************...
Tepat jam Dua belas, aku bergegas ke ruangan Pak Pandu, untunglah kali ini dia tak marah, meski aku telat lima menit.
Saat aku masuk ke ruanganya, sudah ada Bu karin sedang berdiri memegang sebuah paper bag yang entah apa isinya
"Siang pak! " sapae ku
"Hmmm! karin tolong kamu urus untuk makan siang hari ini! " perintah Pak Pandu.
"Baik Pak! " Bu karin pun mengajakku ke sebuah ruangan, yang aku sendiri tidak tahu ruangan apa ini, disini banyak sekali alat make up lengkap dengan kaca besar dan meja rias.
"Kenapa kita kesini bu? " tanyaku bingung
"Pak Pandu menyuruh saya make over kamu untuk makan siang dengan Pak Candra! " jawab Bu karin dengan ramah
"ohhh! ibu bisa merias wajah saya juga? " tanyaku
"Yah! sedikit sih bisa! "
"apa menjadi sekertaris Pak Pandu harus multitalent ya bu, bisa segala hal" tanya ku
"Enggak juga, kebetulan saya dulunya kerja di salon milik sahabat Pak Pandu, waktu itu Pak Pandu sangat butuh sekertaris, kebetulan basic awal saya juga di bagian sekertaris, jadi saat saya menawarkan diri Pak Pandu langsung menerima saya! " jelasnya "Duduk sini! "
Aku pun duduk di atas kursi berwarna hitam yang menghadap cermin besar
"Lalu ini tempat apa? " tanyaku
"Ini temaot pemotretan, Bu bintang atau Bu sania selalu melakukan pemotretan disini, makanya semua alat make up, hair do semua lengkap disini, biasanya Bu Bintang atau Bu sania akan memanggil Make up Artist, atau Hair stylist dan itu di datangkan dari salon sahabatnya Pak Pandu! " jawab Bu karin sambil mulai memoles wajahku.
"Bu sania itu siapa? " tanyaku
"Bu sania itu, ibunda dari Pak Pandu istri tuan Bagaskara pemilik perusahaan ini" jelas Bu Karin "memang Pak Pandu belum mengenalkan Bu Kiand? "
whats? aku akan berhubungan langsung dengan orang-orang besar, apa aku bisa? Ohh My God , takdir apa yang sedang kau tulis untukku, hingga aku terjebak dalam lingkaran setan ini.
"Bu..! " panggil Bu karin dan cukup membuatku terkejut
"Ehh i-ya kenapa? " tanyaku karena tak mendengar pertanyaan Bu karin, efek membayangkan hal mengerikan jika nanti aku mempermalukan Pak Pandu
"Pak Pandu belum mengenalkan ibu dengan Bu Sania? " tanyanya
"Belum Bu, kan kita pacaran juga baru! " jawabku
"Ohhh..! "
Cukup lama Bu karin merias wajahku, hingga leherku terasa pegal, setelah selesai dengan riasan wajah, dia mulai menata rambutku yang bergelombang karena bekas ikatan rambut. Bu karin mulai menguncir setengah rambutku, dan memberikan twist pada ujungnya.
"Selesai! "ujar Bu karin,
Aku yang sedari tidak fokus pada cermin sedikit terkejut melihat pantulan wajahku
"Bu ini saya? " tanyaku tak percaya,
ternyata aku secantik ini? kemana aja kiand! gumamku memuji diri sendiri
"Iya itu Bua kiand, masa itu saya! " sahut Bu Karin
"Wahhh saya baru pertama di rias wajah seperti ini loh bu! "
"Nih pakai bajunya! " Bu karin menyodorkan papper bag yang ternyata berisi dress cantik berwarna biru, sesuai dengan kemeja yang di kenakan Pak Pandu hari ini
"kok pake ini? " tanyaku
"Sudah pakai saja, Bu kiand kan tahu Pak Pandu tidak suka di bantah! " ujar Bu Karin, akupun segera berganti pakaian di tempat yang sudah tersedia, saat aku keluar Bua Karin menatapku kagum,
"Cantik banget! " pujinya "Nih sepatunya! "
Aku benar-benar bak cinderela dalam dongeng, yang bertemu pangeran impiannya, aishhh seandainya Pak Pandu benar mencintaiku dan menjadikanku pacar sunguhan aku akan menjadi cinderela sesungguhnya, sayangnya semua hanya untuk Bu Bintang.
Setelah semua siap, aku bergegas menuju ruangan Pak Pandu, saat ku buka Pintu, Pak Pandu menatapku begitu lekat,dia tidak mengalihkan pandangannya seperti biasa, kami saling melempar tatapan cukup lama.