For A Great Love

For A Great Love
episode 53 kesempatan



pov pandu


Perlahan aku membuka mata, ruangan ini terlalu terang hingga membuat aku silau, aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku, terakhir yang ku ingat aku sedang di hajar oleh para penjaga bertubuh tegap.


"kak! kapan kakak mau bangun?" samar aku mendengar suara reina "bangun kak! reina kangen sama kakak!! ayo bangun! " suara reina semakin jelas ku dengar, apa yang sedang di lakukan anak ini? pikirku


aku mencoba menggerakan tanganku hendak meraih kepala reina, yang tengah tertunduk di di samping tempat tidur, tapi tanganku sulit di gerakan.


"hmmm...! " aku mencoba berdehem


"kak pandu! " reina langsung mengangkat kepalanya, dia tampak sedih, matanya sembab, hidungnya merah entah sudah berapa lama ia menangis


"Kak pandu udah sadar! " ujarnya begitu bahagia


"ngapain kamu nangis? " tanyaku. orang pertama yang ku lihat saat itu adalah reina, tak ada siapapun lagi disini


"Kak Pandu. jahat! kenapa seneng banget bikin reina khawatir?" tanya reina dengan isak tangis


"kenapa kamu khawatir? kakak nggak papa!" aku berusaha menghapus air mata reina yang masih mengalir membasahi pipinya, selain momy, dan kiand reina adalah wanita paling berarti untukku saat ini.


"apanya yang nggak papa! kakak udah dua hari koma, dan kakak masih bilang kakak nggak papa! " dia tampak kesal dengan ucapanku


Aku hanya tersenyum menatapnya dengan tubuh yang masih terbaring


"ini sih bukan apa-apa rei! " ujarku menggodanya


"huh, kakak egois! kalau kakak pergi, terus reina gimana? " Reina memang hanya dekat denganku, bahkan dengan momy pun dia tak bisa sedekat denganku


"kamu sendiri? " tanyaku masih lemah


"Papi Momy lagi keluar sebentar, tadi ada kak candra dan kak bintang, tapi baru aja pergi! " jelas reina


"mau ngpain mereka kesini? mau ngetawain kakak? " ujarku mendengar kak candra dan bintang ada di ruangan ini


"kak pandu! " ujar reina dengan nada menegur


"ada jefry atau yoga? " tanyaku. aku masih mengkahwatirkan kondisi kiand, dan hanya mereka berdua yang tahu bagaimana kiand sekarang


Reina menggelengkan kepala. "mereka nggak boleh kesini sama papi, papi naro dua penjaga di depan" jelas reina . apa lagi sih ini? gumamku dalam hati "kakak! jangan pernah bikin reina khawatir lagi ya? "


"Iya, kakak janji ini nggak akan terulang lagi" Aku masih merasakan nyeri di beberapa tubuhku


"reina panggil perawat atau dokter ya, buat kasih tahu kakak sudah sadar! " ujar reina, saat melihatku beberapa kali meringis menahan sakit


"Nggak usah nanti aja! kakak perlu telpon jefry atau yoga! " sahutku


"Kakak masih mikirin cewek itu ya? " tanya Reina dengan nada tak suka


"Bukan, ini urusan pekerjaan" jawabku


"Bohong! pasti kakak mau nanya cewek yang waktu itu, Reina nggak suka! gara-gara dia kakak jadi koma, tamparan papi waktu itu sih belum cukup buat bales apa yang dia lakuin ke kakak! "


"Tamparan? papi tampar kiand? " tanyaku terkejut mendengar ucapan reina


"Iya! papi tampar dan usir cewek itu! itu alasan kenapa papi taro dua penjaga buat kakak, biar cewek itu nggak bisa temuin kakak lagi! " jelasnya penuh emosi, aku tidak menyalahi reina jika dia membenci kiand, dia hanya memandang dari satu sudut, dan itu juga menjadi bukti rasa takut reina akan kehilangan kaka yang paling dia sayang


"Rei, kiand nggak salah! " aku mencoba menjelaskan dengan lembut


"Udah reina nggak mau ngomongin cewek itu, yang jelas kakak sampai koma seperti ini gara-gara dia! "


"Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti sebuah rasa, kakak begini bukan karna kak kiand, kaka begini karrna memang keputusan kakak ! " aku masih mencoba menjelaskan


"Reina nggak mau dengeeeerrr! " teriak reina sambil menutup kedua telinganya


"Kakka boleh tanya sama reina? " tanyaku


"apa? "


"Reina sayang sama kakak? "


"sayang banget! "


"kalau kakak dalam bahaya, apa yang akan reina lakuin? " dia tampak berpikir


"Sebisa mungkin reina tolongin kakak! " jawabnya


"apa kakak salah jika sesuatu terjadi sama kamu? " tanyaku lagi, kali ini reina diam, mungkin dia mulai mencerna pertanyaan demi pertanyaan yang aku lontarkan


"Kaka sayang sama kak kiand, dan kakak berusaha sebisa mungkin buat nolongin kak kiand, jadi bukan salah kak kiand kalau kakak sampai masuk rumah sakit kaya gini! "


"Reina cuman takut kehilangan kak pandu! " ia tampak begitu sedih, air matanya kembali menetes.


"mau peluk kakak? " tanyaku


dia hanya menggeleng "badan kakak nanti makin remuk! " jawabnya


Aku tersenyum sambil mengelus tangannya, hanya dia arti keluarga buatku.


Terdengar seseorang membuka pintu, ternyata momy dan papi, mereka begitu terkejut saat melihatku sadar, momy bahkan sedikit histeris bahagia berlari ke arah ku di ikuti papi


"sayaang kamu sudah sadar! " momy berdiri di sampingku, mengelus wajahku dengan air mata yang menetes


"Maaf sudah buak kalian khawatir" ucapku


"jangan pernah lakukan hal bodoh seperti itu" sahut papi, aku menoleh ke arah papi, memberikan sedikit senyum


"Ini bukan hal bodoh pi! " ujarku


"Kamu ini! apa kamu sudah gila membiarkan tubuh kamu hancur di pukuli oleh para penjaga? " tanya papi


"pandu memang sudah gila pi! " sahutku


"pandu... " mami mencoba menahan emosiku


"Disaat kondisi seperti ini, kamu masih mau ajak papi debat? "


"mana bisa pandu berdebat dengan papi! bukannya selama ini semua keputusan ada di tangan papu? "


"Sudah-sudah, kalian ini! " lerai momy


Papi terlihat menghindar dariku, ia memilih duduk di sebuah sofa panjang yang tak jauh dari tempat tidur.


"Pandu, kamu tahu begitu khawatirnya papi kamu, cobalah bersikap baik padanya" ujar momy


"Itu buat kebaikan kamu pandu! " ujar papi


"Kebaikan buat pandu atau papi? " tanyaku


Tak ingin mendengar kami berdebat dengan cepat momy memencet tombol nurse call


"suster pasien atas nama Pandu sudah sadar " ujar momy


"oke baik bu! "


"mi, buat apa panghil suster? " tanyaku


"Mereka harus mengecek kondisimu, sudah dua hari kamu koma.... " jelas momy


tak lama terlihat dua orang perawat dan seorang dokter datang berkunjung, mereka mulai memeriksaku


"Kamu luar biasa kuat! " ujar dokter yang ku tahu dari id cardnya bernama putri, aku hanya tersenyum sambil menahan sakit, saat dokter putri mencoba menggerakan tanganku


"Bagaimana kondisimu? " tanyanya


"lebih baik dok, yah hanya sedikit rasa sakit di bagian bawah dada " jawabku


"yah wajar, bagaimana tidak, tulang tulang rusukmu patah, kamu harus bersyukur, tuhan masih memberikan kesempatan" ujarnya dengan gaya bercanda


"Sus tolong berikan obat pereda nyeri ya! " titah dokter tersebut


"baik dok! "


"Oke, kondisimu sedikit sudah stabil, tolong jangan terlalu banyak bergerak, jika masih terasa sakit, bisa menyuruh perawat untuk mengompres bagian dada, jangan lupa terus latih pernapasannya agar kembali normal, boleh menggerakan tubuh sedikit demi sedikit, tapi jangan di paksakan ya! " pesan dokter putri


"baik dok! terima kasih.. "


"Ya sudah saya mau cek pasien yang lain, jika ada keluhan langsung panggil perawat"


Dokter putripun meninggalkan kamar rawat, sedang beberapa suster mulai menyuntikan cairan obat ke selang infusku, setelah itu mereka meninggalkan kamar rawat.


"Gimana sudah lebih baik? " tanya momy


"belum ! " jawabku


"Pandu... ayolah, jangan seperti itu! "


"Pandu harus ketemu jefry dan yoga mi! " perkataanku ku anggap sebagai sebuah permohonan


" Untuk apa? menanyakan wanita murahan itu? " sahut papi


"Pi, tolong jangan ajak pandu berdebat kali ini! " pintaku


"Pandu, dia itu memang wnaita murahan, lihat cara berpakaian dia, bajunya saja seperti kurang bahan! " tambah momy


"Jika kalian disini hanya untuk menghina kiand, dan mengajak pabdu berdebat, pandu lebih baik sendiri! " mungkin mereka akan sakit hati mendengar ucapanku ini


"Pandu! seorang wanita bahkan membuat kamu lupa tentang adab berbicara pada orang tua " bentak papi


"Sudah pi, sudah, jangan emosi, pandu sedang sakit" momy terlihat mengelus dada papi berusaha menenangkan


"Momy papi pulang aja, reina yang akan jaga kak pandu" ujar reina "Ini bukan rumah, ini rumah sakit, kenapa kalian nggak tahan diri untuk nggak berdebat sih! " tambahnya


" ya sudah, kita pulang dulu, nanti yang ada bukan cuman pandu yang sakit, papi juga ikut sakit" ujar momy


momy berjalan kearahku, ia mencium keningku, mungkin hanya akan momy lakukan ketika aku sakit , sedang papi tidak berkata apa-apa, dia meninggalkan kamar rawat begitu saja.


Sekarang aku sedang memikirkan bagaimana caranya jefry dan yoga bisa masuk kesini!


"Reina, kakak bisa minta tolong? " tanyaku pada reina yang masih setia menjagaku


"apa kak? "


"kakak butuh perawat laki-laki, kakak harus ke kamar mandi " aku sedang memikirkan ide agar jefry dan yoga bisa masuk ke ruangan ini


"ohh... tunggu sebentar" reina pun meniggalkan kamar rawat, untunglah, dia meninggalkan ponselnya, di samping tempat tidurku, jadi dengan mudah aku mengambilanya


Ku hubungi jefry, aku memintanya ke rumah sakit sekarang juga, aku mempunyai ide bagaimana dia bisa masuk ke kamarku, jefry dan yoga setuju dengan ideku.


tak lama reina dan dua oerawat pria masuk, aku meminta reina menunggu di luar sebentar, dan reina setuju kebetulan reina juga ingin mencari camilan.


"Ada yang bisa kami bantu pak? " tanya salah satu perawat yang bernama irwan


"Saya mau minta tolong mas! " jawabku


"Oh iya pak, boleh...! " ujar irwan "bapak mau ke kamar mandi? " tanyanya


"bukan mas, ini agak sedikit beresiko sih! tapi saya akan bayar masnya kok, " kedua perawat itu saling menatap bingung


"wahh apa tuh pak? " tanya perawat satunya


"mas liat di depan kamar saya ada dua orang penjaga? " tanyaku dan mereka mengangguk "teman-teman saya mau kesini, tapi karena ada penjaga jadi nggak bisa, sedangkan saya ada hal urgent yang harus saya bicarakan langsung dengan mereka"


"lalu pak! apa yang bisa saya bantu? " tanya irwan


"Boleh kalian bantu kedua teman saya masuk? " tanyaku


mereka hanya diam, raut wajahnya menampakan kebingungan.


"gimana? " tanyaku ingin mendapat jawaban secepatnya


"Pak, maaf kalau untuk itu kita nggak berani! " ujar salah stau perawat


"saya akan bayar kalian!" aku berusaha mengiming imingi mereka, tapi sepertinya mereka masih ragu


"mas ayolah ini antara hidup dan mati saya! " aku masih memohon pada mereka


"aduh gimana ya pak! kalau sampai ketahuan kami bisa di pacat "


"kalau kalian di pecat, kalian bisa kerja sama saya, saya akan gaji kalian dua kali lipat dari gaji kalian saat ini! "


"hmmm gimana? " tanya perawat bernama iwan pada temannya


"ya udah pak, kita akan usahakan" akhirnya salah satu dari mereka setuju untuk membantuku. Dalam ketidak berdayaanku aku sangat mengandalkan mereka, tubuhku masih harus terbaring, masih sulit untuk aku gerakan, tapi kerinduanku pada kiand membuatku harus segera bangkit, aku harus menemuinya, aku tak ingin dia terlalu mengkhawatirkanku.