
POV KIAND
"Jadi gimana dapet izin dari pacar ? " Tanya Kak Nanda setelah aku menaruh gagang telpon
"hhmmm yeayy kita bisa makan bakso! " jawabku kegirangan "Kayanya Pak Pandu hatinya lagi adem"
"Bagus deh! " sahut Kak Nanda dari meja kerjanya yang berada di belakangku
Tepat jam makan siang Aku, Kak Nanda dan Dian langsung meluncur ke sebuah kedai bakso yang cukup terkenal di pusat kota jakarta ini jaraknya juga mampu di tempuh dengan berjalan kaki saja.
Sesampainya disana kedai bakso terlihat sangat ramai, karena memang pas jam istirahat kerja, selain terkenal baksonya enak harganya juga cukup murah untuk sebuah kedai bakso yang berada di pusat kota
"Yahhh penuh gimana dong? " tanyaku sedikit kecewa. Mataku terus mengitari meja siapa tahu ada meja kosong yang bisa kami tempati
"Yahhh nasi padang aja paling! " sahut Dian tak kalah kecewa
"Hmmmm! gue udah ngiler ama nih bakso! " ujar Kak Nanda
"Mau nunggu? " tanyaku
"Kayanya waktunya nggak cukup deh kalau nunggu! " Dian melihat kearah jam yang melingkar di tangannya
"Ya udah kita cari tempat lain! " ajakku. Saat aku akan berbalik tiba-tiba terdengar suara pria memanggilku
"Kiand! " panggilnya lagi. Aku langsung menoleh mencari arah suara laki-laki itu
"Ki! Kiand! " panggilnya lagi, ternyata itu suara Nauval, dia terlihat sedang menikmati semangkok bakso bersama teman-temannya di meja yang berada di ujung kedai
"Heyyy! " jawabku sambil melambaikan tangan, dan berjalan kearahnya
"Ngapain lo disini? " tanyaku pada Nauval
"Yah makanlah! " jawabnya "kenalin nih temen gue! "
Nauval memperkenalkan ketiga temannya yang juga sedang menikmati semangkok bakso
"Kiand! " ucapku sambil mengulurkan tangan pada pria yang berada di samping Nauval
"Anto! " jawabnya membalas uluran tanganku
"Kiand " Aku lanjut memeperkanlakan diri pada teman Nauval selanjutnya
"Rian! " jawabnya
"Kiand"
"Deni! "
"Val, gue sama temen gue juga mau makan bakso tapi nggak ada tempat! " ucapku pada Nauval
"Ya udah di meja ini aja! gue juga bentar lagi udahan kok! "
"Beneran? " tanyaku
"Iya, noh lo nggak liat bakso gue tinggal kuahnya ! " Jawab Nauval sambil menunjukan isi makuk yang ada di depannya
"Heheh! ya ydah gantian ya mejanya! "
"Ngusir! " sindir Nauval
"nggak... gue nggak ngusir cuman nyuruh lo pergi! " sahutku
"Ya udah tunggu nanggung nih! suruh temen lo kesini! " titah Nauval sambil menghabiskan sisa makanannya
Aku pun meminta Kak Nanda dan Dian untuk menghampiriku
"Udah cepet pergi sana! " paksaku dengan nada bercanda pada Nauval dan teman-temannya
"Iye.. iye...! buat lo apa sih yang nggak! cuman buat pergi dari meja doang mah gampang, asal jangan pergi dari hati lo aja! " gombal Nauval
"Ciyeeeee! " goda ketiga temen nauval
"Iya nggak? " tanya Nauval sambil menyentuh daguku
"Ihh apaan sih lo! " dengan cepat aku menghapus sentuhan tangan Nauval yang mendarat di daguku "Udah hus hus...! "
"Ya udah gue duluan ya! silahkan duduk! " Nauval dan ketiga temannya beranjak meninggalkan meja yang langsung di tempati olehku, Dina dan Kak Nanda
"Siapa? " tanya Kak Nanda yang masih memperhatikan Nauval
"Temen gue kak! dia kerja di transjakarta ! " jawabku
"Ohhh...! " ujar Kak Nanda sambil mengangguk
Setelah mendapatkan meja di kedai Bakso, kami segera memesan Bakso fenomenal yang menjadi buah bibir para karyawan. Tidak butuh waktu lama, tiga mangkok Bakso sudah berada di atas meja, dengan santai kami menikmati Bakso yang rasanya menggelegar, sambil berbincang membicarakan Pak Pandu dan Bu Bintang, baru saja aku selesai makan suara dering ponselku terdengar.
"Siapa? " Tanya Dian yang duduk di hadapanku
"Siapa lagi yang nelpon gue, kalau bukan bos kalian! " jawabku saat melihat layar ponsel tertulis nama Pak Pandu
"Ciyee pacar lagi kangen! " goda Kak Nanda
"gue angkat dulu ya! "
Aku beranjak dari kursi dan bergegas keluar kedai untuk mengangkat telepon dari Pak Pandu
"Halo pak! " jawabku
"Dimana kamu? " tanyanya ketus seperti biasa
"Dihatimu...! " godaku
"Saya serius kamu dimana? " tegasnya
"Kenapa? bapak kangen sama saya! baru juga sehari pak kita nggak makan siang bareng! " aku masih menggodanya
"Kiand, jangan pernah ke geeran ya! saya telpon kamu itu artinya ada tugas buat kamu! "
"Ohh tugas! saya pikir bapak kangen sama saya! " celetukku
"Ngapain juga saya kangen sama kamu! " sanggahnya
"Tugasnya apa? " tanyaku dengan nada kecewa
"Cepat ke ruangan saya! " pinta Pak Pandu
"Saya masih di luar, baru selesai makan! "
"Ya sudah cepat kembali ke kantor, saya tunggu lima menit! " tegasnya
"Tapi pak....!!!!! "
tuuuut... tuuuuut....
Belum selesai saya bicara, Pak Pandu sudah memutus sambungan telepon
"ihhh kebiasaan deh! selalu minta cepet, dia aja nggak tahu gue lagi nggak di kantor " gerutu ku kesal
Aku kembali ke meja di mana Kak Nanda dan Dian masih menikmati baksonya
"Kak, Di! gue duluan ya! Pak Pandu rese, gue di suruh ke ruangannya sekarang juga ! " pamitku menyesal
"Yahhh Kiand! abis ini kita kan mau makan es doger! " seru Kak Nanda kecewa
"Iya maaf ya kak! "
"Ya udah nggak papa, dari lada lo kena masalah! " ujar Dian
"Iya nih! ya udah, ini uang bakso gue ya! gue pamit! "
Aku segera berlari menaiki anak tangga untuk sampai ke gedung kantor.
Dia pikir gue the flazz apa? dari kedai bakso ke ruang kerjanya cuman di kasih waktu lima menit
Akhirnya aku sampai di depan ruang kerja Pak Pandu setelah berlari selama lima belas menit, ruangan masih terasa sepi karena masih waktu jam istirahat.
Tok.. Tok...
Aku mengetuk pintu ruang kerja Pak Pandu dengan tenaga yang tersisa
"Masuk! " teriak Pak Pandu dari dalam
Saat aku membuka pintu ku lihat Pak Pandu tidak sedang sendiri, ada Pak Jefry salah satu temannya Pak Pandu
"Ada tu.. tu.. gas apa? " tanyaku dengan napas ter senggal-senggal
"Kamu abis lari maraton? " ledek Pak Jefry yang sedang bersandar di sudut meja kerja Pak Pandu
"Jam berapa ini? " Tanya Pak Pandu dengan wajah yang ketus sambil melihat jam tangan miliknya
"Yah.. ba ba pak..pi.. kirrr, sa.. ya... the flazz.....! bisa lari secepat ki... laaat! " jawabku
"Udah udah minum dulu! " Pak Jefry mengambil air mineral gelas yang berada di meja tamu, lalu menyerahkannya padaku
"Ma.. ka.. siii pak! " jaeabku sambil meraih air mineral yang Pak Jefry berikan dan langsung meminumnya, sampai tersisa setengah gelas.
"Untung ada jefry kalau nggak kamu sudah saya hukum! " tegas Pak Pandu dengan santainya
"I.. ya maaf! " aku hanya tertunduk sambil mengerutkan bibirku
"Maaf tapi sambil manyun! " gumamnya
"Jadi tugas saya apa? " tanyaku. Kali ini aku sudah lebih rileks
"Gimana kamu sudah siap untuk acara besok? " tanya Pak Pandu
"Siap pak! " jawabku tegas
"Nanti pulang kerja, kita cari gaun untuk acara besok, ingat jaga sikap, jangan bersikap ceroboh! "
"Siap pak! "
"Ya ampun ampe segitunya sahabat gue yang satu ini! " Pak Jefry berjalan kearah belakang Pak Pandu yang masih duduk santai di kursi singgasananya
"Diem lo! jangan sampe rahasia gue bocor, terutama sama Bintang! " Ujar Pak Pandu pada Pak Jefry yang sudah bersandar pada sandaran tangan kursi Pak Pandu
"Siap Brooooo!!!! " sahutnya menggoda
"Jadi tugasnya buat nanti sore pak? " tanyaku
"Iya nanti sore! "
"Terus kenapa bapak minta saya buru-buru dateng ke ruangan bapak? " Aku masih tak habis pikir sama Pak Pandu.
"Yah... i.. tu..! " Pak Pandu terlihat kikuk tak bisa menjawab
"Itu namanya rindu! " lanjut Pak Jefry sambil menggoda sahabatnya itu
"Apaan sih lo! " Pak Pandu memukul kepala Pak Jefry yang berada di sampingnya
"Loh kalau bukan Rindu apa dong namanya? " Pak Jefry masih terus menggoda Pak Pandu hingga Pak Pandu semakin kikuk di depanku
"Berisik lo! sana lo....! " Pak Pandu memukul bahu Pak Jefry dengan majalah yang berada di mejanya. Aku hanya tersenyum melihat Pak Pandu yang mulai salah tingkah, mereka jadi terlihat seperti tom and jerry saat bercanda.
Dering ponsel Pak Pandu terdengar nyaring dari dalam saku jas nya. Dia terlihat langsung mengangkat telepon setelah melihat layar handphone nya
"Kenapa Bi? " tanyanya lembut, padahal dia bisa loh bersikap lembut pada Bu Bintang, tapi kenapa dia selalu bersikap semena-mena padaku
"Ohh iya! kamu dimana? " tanya nya
"Ya udah tunggu! aku on the way sekarang! " Setelah menaruh handphonenya kembali ke kantung jas, Pak Pandu langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Saya ada perlu dulu! kamu jangan kemana-kemana! tunggu sampai saya datang, ingat kalau saya datang kamu nggak ada, saya potong gaji kamu! " tegasnya sebelum bergegas meninggalkan ruangan
"Iya pak !" jawabku malas
Saat ini aku tinggal berdua dengan Pak Jefry , dia hanya tersenyum menatapku yang masih berdiri tak jauh dari meja kerja Pak Pandu
"nggak pegel berdiri aja? " tanyanya
"Pegel sih! " jawabku datar
"Duduklah! kursi banyak! " sahutnya " Kamu takut sama saya? Tenang saya nggak gigit kok! " ujar Pak Jefry sambil mengitari ruang kerja Pak Pandu
"Iya pak! " jawabku. Aku bingung apa yang harus aku kerjakan disini, sedang di meja kerjaku saja masih banyak yang bisa aku lakukan .
"bagaimana ceritanya kamu bisa terjebak dalam permainan gila pandu? " tanya Pak Jefry, tangannya meraih sebuah bunga plastik yang tertata rapi di lemari pajangan dan kemudian di taruh kembali.
"Hmm entahlah! akibat kecerobohan saya sepertinya! " jawabku sambil mengangkat kedua bahuku
Pak Jefry hanya tersenyum geli sambil berjalan kembali ke kursi kerja milik Pak Pandu
"Ngadepin dia tuh harus punya mental baja! " Pak Jefry memutar kursinya kearah ku
"Yah sudah saya persiapkan pak! semua saya lakukan karena saya butuh pekerjaan ini, anggap aja ini sebuah tantangan! " jawabku
"Bagus bagus...! " Pak Jefry menganganggukan kepalanya berkali-kali " Tapi kamu perlu tahu sisi baik dari Pandu, dia itu penyayang dan tidak pernah menyakiti hati wanita! " lanjut Pak Jefry
Tapi kenapa dia selalu menyakitiku gumamku dalam hati
"Dari segi mana Pak Jefry melihat Pak Pandu itu penyayang? " tanyaku
"Dari segi dia rela mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaan Bintang! " jawab Pak Jefry
Yah hanya berlaku untuk Bu Bintang gerutuku dalam hati
" Memangnya segitu cintanya ya, Pak Pandu pada Bu Bintang! " entah kenapa terlintas pertanyaan bodoh ini di otakku
"menurut kamu? "
"Hmmmm! " aku menaikan bola mataku dan mengerutkan keningku berlagak sedang berpikir
"Menurut gue sih! perasaan dia sama Bintang itu, sudah pada titik tertinggi sebuah cinta yang sesungguhnya!" desahnya "Lo pikir ya! mana ada laki-laki yang rela patah hati, hanya untuk kebahagiaan wanitanya, dan yang lebih gilanya lagi, dia akan melihat wanita itu bahagia bersama kakaknya sendiri"
Aku sedikit tersentak mendengar ucapan Pak Jefry, rasanya aku iri pada Bu Bintang. sedalam apapun rasa sakit Pak Pandu karena Bu Bintang, dia tetap berusaha selalu ada untuknya. Contohnya hari ini, dia dengan cepat bergegas saat Bu Bintang memintanya.
"Hey...! kok bengong! "
"Astagfirullah pak! " Aku begitu terkejut ketika menyadari wajah Pak Jefry sudah berada dekat dengan wajahku
"Lo mikirin Pandu ya! " goda Pak Jefry
"Ng-nggak.. nggakk! " sanggah ku malu, aku merasakan pipiku mulai memerah, Aku memang begitu mengagumi sosok Pak Pandu, walau dia itu menyebalkan, tapi aku bisa merasakan kebaikan dan ketulusan dalam hatinya.
"Ayo ngaku...! tuh liat muka lo udah kaya kepiting rebus! " Pak Jefry mengacungkan jari telunjuknya ke arah pipiku, sontak aku berdiri mencari sebuah kaca yang berada di ruangan Pak Pandu untuk memastikan apakah pipiku benar-benar memerah
"Mana nggak merah kok! " Aku menatap Pak Jefry setelah melihat wajahku di cermin
"Hahahhaha" Pak jefry terkekeh geli "Pandu memang cocok sama lo! setidaknya untuk mencairkan ketegangan dalam hidupnya! "
"Apaan sih bapak ini! " Aku kembali duduk di sofa panjang
"Ohh ya! gue ada urusan nih! lo nggak papa gue tinggal? " tanya Pak Jefry sambil melihat jam di tangannya
"Nggak papa kok pak! santai aja! lagian ada Bu karin di luar! " jawabku
"Ya udah kalau gitu gue tinggal ya! "
"Siap pak! " jawabku tersenyum
"Sembuhin Pandu dari luka hatinya! " Pak Jefry menepuk bahuku dan langsung bergegas pergi membiarkanku yang langsung terdiam saat mencoba mencerna ucapannya.
Luka Pak Pandu hanya bisa di obati oleh hatinya sendiri, mana mungkin aku bisa sembuhin hati Pak Pandu! Rasa cinta Pak Pa du untuk Bu Bintang terlalu dalam, hingga hatinya lebih memilih terluka dan membiarkan luka itu, dari pada harus mengobatinya.