For A Great Love

For A Great Love
episode 102 cinta terbaik



pov kiand


Melihat Pak Pandu dan Bu Bintang aku merasa canggung, aku mengerti dengan kesedihan yang di alami pak pandu, jadi aku memilih pergi, Namun saat aku hendak berbalik, tangan pak pandu menahan ku, dia melepaskan pelukan Bu Bintang.


"ehh sorry ! ujar Bu Bintang saat menoleh ke arahku yang persis ada di belakangnya


Aku pikir pak pandu akan larut dalam pelukannya, dan melupakan aku, tapi nyatanya pak pandu sangat menghargai perasaanku.


" Nggak papa bu! " jawabku


Pak Pandu sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya, sampai salah satu dokter keluar dari ruang operasi


"keluarga pasien candra! " panggil dokter itu


"saya pak! " pak pandu berlari ke arahnya


entah apa yang dokter itu katakan, aku tidak bisa dengan jelas mendengarnya, tapi sepertinya itu kabar buruk, mimik wajah pak pandu melukiskan kekecewaan, apa...? ahhh kiand jangan berpikir macam-macam


Pak pandu berjalan kearah kami, dengan penuh ke khawatiran


"Kak Candra kehabisan banyak darah, disini ada yg darah Ab? " tanya Pak Pandu


"Saya pak! " aku langsung menawarkan diri. untuk mendonorkan darahku ke Pak Candra


"Kamu serius ki? " tanya Pak Pandu seakan tak yakin


"menurut pak pandu, saya akan main-main dengan nyawa seseorang? "


"Oke ikut aku! " kami menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang operasi, syukurlah operasi pak candra berjalan baik, hanya memang dia kehabisan banyak darah, dan ternyata tak ada satupun darah yang sama dari keluarga mereka. ehh tunggu, bukannya keluarga itu harusnya memiliki kesamaan golongan darah? sebaiknya aku tanyakan hal ini nanti saja, keselamatan pak candra lebih penting.


Di dalam ruangan, seorang perawat mulai mempersiapkan beberapa alat, yang membuat jantungku berdebar kencang, jujur aku sangat takut sintikan, dari kecil aku tidak pernah sakit, apa lagi harus masuk rumah sakit, aku benar-benar di buat tegang


"Rileks aja ya kak! " ujar perawat itu


seandainya aku bisa rileks, tapi nyatanya aku tak bisa menutupi keteganganku


Pak Pandu meraih tanganku yang mulai keluar keringat dingin karena takut, dia tersenyum "Its oke! aku disini! " ahhhh hatiku rasanya luluh lantah tak karuan.


selama pengambilan darah, pak pandu terus mendampingiku, entah sudah berapa kali dia mengatakan terima kasih padaku, padahal aku merasa tidak terlalu banyak berbuat apa-apa, hanya memberikan sebagian darahku untuk kakaknya.


"Oke sudah selesai, nggak papakan kak? " ujar perawat itu ramah


memang tidak apa-apa, tapi tetap saja terasa sakit, ketika jarum suntik itu menusuk lenganku


"Jangan bangun dulu! " ujar pak pandu, saat aku dengan santainya hendak bangun dari tempat tidur


"kenapa? " tanyaku


"kamu baru saja kehilangan darah dari tubuh kamu, memangnya kamu tidak merasa lemas ? " tanyanya


"enggak! aku biasa saja! " jawabku sambil menggelengkan kepala


"udah kamu tiduran aja ya! "


" suster, apa saya bisa buka kamar untuk pacar saya? " tanya pak pandu, dan sukses membuatku terkejut


"pak, mau ngapain? "


"ohh apa kakak nya ada keluhan? " tanya perawat tadi


"tidak, saya cuman mau pacar saya istirahat! " aku rasa suster itu sedang menahan tawanya kali ini,


"pak saya nggak papa! " ujarku


"udah, kamu nurut aja,! "


"ohh kalau itu, silahkan bapak menyelesaikannya di bagian administrasi


"pak.. pak pandu, saya nggak papa! " teriakku tapi sama sekali tak di hiraukan. Aku tersenyum malu pada perawat itu, bagaimana tidak? ini terlalu berlebihan


Benar saja, gak lama beberapa perawat lainnya masuk dan membawaku ke sebuah ruang perawatan, tidak main-main pak pandu memesan kelas vip untukku


apa apaan ini? aku aja bahkan masih bisa bangun dan berdiri, kalau di suruh lari juga aku masih mampu! gumamku kesal


"Baik terima kasih ya! " ucap pak pandu pada beberapa perawat yang menfantarku


"Kamu istirahat, sampai kondisimu pulih ya! "


"ko disini saya baik-baik aja pak! saya bahkan bisa lari atau loncat-loncat! ini terlalu berlebihan " ujarku dengan nada merajuk


"Sudah, jangan membantah, saya nggak mau nanti kamu sakit, jadi lebih baik kamu istirahat! " ujarnya "oh ya, aku mau ke ruang ICU katanya kak candra sudah di pindahkan, nanti aku suruh yang lainnya jagain kamu! "


"pak! saya nggak papa! aduh jangan lebay deh! " kesalku


"iya saya tahu, semua ini hanya jaga-jaga saja kiand, jadi jangan protes! saya hampir saja kehilangan orang yang saya sayangi, saya nggak mau seperti itu lagi! "


"tapi ini konsepnya beda pak! pak candra jelas tertusuk pisau.... " pak pandu berlalu begitu saja, bahkan di saat aku masih bicara.


"Pak Candra jelas di tusuk pisau darahnya keluar banyak, lah gue? gue cuman ke tusuk jarum suntik " aku terus menggerutu


Rasanya bosan meski di kamar dengan fasilitas lengkap, tetap saja namanya rumah sakit bau obat, aku memilih duduk di sebuah sofa, sambil melihat pemndangan area parkir rumah sakit, karena hanya itu yang bisa aku lihat


Kreakkk!!! bunyi suara pintu terbuka, dengan cepat aku berdiri dan hendak berlari ke arah ranjang, takut kalau itu pak pandu, tapi ternyata bukan, aku lebih terkejut lagi dengan siapa yang datang


"hei... duduk aja nggak papa! " ujar wanita yang tengah mendorong sebuah kursi roda


"ehhh ii.. iya tante! " yah dia adalah orang tua pak pandu, mungkin ini akan jadi masalah baru untukku,


"Bagaimana kondisimu? " tanya pak bagaskara, namun dengan nada sedikit jutek, hal itu sudah biasa


"Baik pak! sebenaranya saya nggak papa, hanya pak pandu saja terlalu berlebihan" jawabku merasa canggung


"nggak papa kiand! apa yang pandu lakukan sudah tepat! " ujar ibunda pak pandu


jujur aku kaget dengan ucapannya, aku pikir wanita itu akan pasang muka jutek, dan marah-marah, karena anaknya akan mengeluarkan banyak uang untuk biasya kamar rawat


"terima kasih ya, kamu sudah mendonorkan darahmu untuk candra! " wanita itu menghampiriku, dan mengelus pundakku


"ehhh i.. iya tante, sama-sama! " aku semakin canggung, mana cuman aku disini!


"Penilain kami tentang kamu sudah salah, kami minta maaf! " ujar pak bagaskara, yang masih berada di kursi roda


"tidak papa pak! niat saya hanya menolong,! " ujarku, meski dalam hati aku merasa menang kali ini, sudah terlalu sering mereka bersikap sombong, dan saat ini tuhan menunjukkan jika manusia kaya sekalipun butuh kami orang-orang biasa.


"Kiand, jujur tante sangat malu jika mengingat semua sikap tante kala itu, tante harap kamu tulus memaafkan kami! "


Aku harap permintaan maaf ini pun tulus gumam ku, dalam hati tak ada embel-embel lagi untukku meninggalkan pak pandu


"tentang hubunganmu dengan pandu, saya tidak akan ikut campur lagi, silahkan kalian yang memutuskan! " ujar pak bagaskara


kalau boleh ku ceritakan hatiku ini sedang berjingkrak jingkrak, aku merasa menang, menang mempertahankan perasaanku


"bapak serius? " tanyaku memastikan, tentunya dengan ekspresi yang begitu excited


"Yah, kami memberi restu pada kalian! " tambah sang istri yang setia berada di sampingnya


Mendengar kabar gembira ini, aku langsung meraih tangan mereka " makasih tante, makasih pak bagaskara"


"Kami yang harusnya berterima kasih, kamu juga sudah membuka mata kami, jika cinta itu tak bisa di paksakan, cinta kalian memang yang terbaik" puji ibunda pak pandu.


Selama ini aku hanya percaya, jika cinta terbaik itu tetap bertahan meski tekanan datang silih berganti. Aku mencintai pak pandu dengan sisi cinta terbaikku.


Dulu ayah pernah bilang "pertahankan laki-laki yang rela berkorban untuk kamu, selalu menggenggam tanganku, tak sedikitpun membiarkanmu dalam keadaan apapun" dan itu terbukti kali ini, Pak Pandu orang yang selalu berkorban untukku, tidak pernah melepaskan genggamanku, meski saat itu badai datang silih berganti.