For A Great Love

For A Great Love
episode 55 Ungkapan Cinta lagi



Reina memberi kesempatan untuk para penjaga istirahat, dengan alasan atas intruksi papi, yah memang agak alot negosiasi mereka, tapi setelah reina menghubungi papi, dan merayunya papi memberi izin penjaga untuk istirahat. Di saaat itulah jefry dan Yoga membawa kiand masuk.


"Makasi ya de! " ucapku pada reina


"Untuk kali ini aja, dan masih dalam pemantauan aku" ujarnya manja


Tak lama Jefry, yoga dan kiand masuk, aku begitu senang ketika bisa melihat kembali wajah itu, ia tersenyum padaku meski dengan raut wajahnya yang tak seceria dulu.


setelah kemarin seharian aku hanya bisa terbaring kali ini aku sudah mulai bisa duduk bersandar meski masih terasa sakit.


"Setelah ini lo harus naikin gaji kita dua kali lipat ya! " sahut jefry


"Heh reina yang punya andil besar, jadi abis ini beliin reina iphone terbaru ya... " celetuk reina yang diikuti gelak tawa kami


"mahal banget bayaran kalian! " sahutku


"kak jefry, kak yoga ayo ikut reina! " Rerina mengajak jefry dan Yoga masuk ke dalam kamar yang tersedia di ruang vip.


Kiand tampak berjalan kearahku, senyum itu seperti menyimpan banyak beban dan kesedihan. Dia berdiri tepat di sampingku, memandangku dengan mata yang berkaca-kaca


"Gimana kondisinya pak? " tanya Kiand


"Sudah jauh lebih baik " jawabku tersenyum tak ingin menampakan rasa sakitku di depan Kiand


"Makasi sudah nyelametin saya, tapi saya mohon jangan pernah lakuin hal bodoh itu lagi" ujarnya


aku hanya mengangguk dengan sebuah senyuman, ku raih tangannya dan memintanya duduk di sampingku


"Saya dengar kemarin papi nampar kamu, pasti sakit ya? " aku mengelus kedua pipinya


"Nggak papa kok pak, rasa sakit ini nggak sebanding sama apa yang pak pandu rasain saat ini"


"Ki, semua yang saya rasain sekarang bukan apa-apa, saya akan lebih sakit, saat saya tidak bisa nyelametin kamu, jadi saya mohon tetap di samping saya, jangan pernah jauh dari saya! "


Ku rangkul bahu kiand dan membiarkannya bersandar di bahuku " Saat Arga telpon saya, dan bilang kamu di bawa orangnya momy jasmin, rasanya hati saya hancur, satu hal yang ada di pikiran saya, saya nggak akan maafin diri saya sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu, jadi tolong tetap di samping saya dan satu hal lagi, jangan tinggalkan saya, apapun yang terjadi di antara kita tetap disini, jangan pergi!"


Kiand menatapku lekat, dia hanya bisa mengangguk saat ku bicara dan aku sangat suka memandanganya, aku sadar baru beberapa hari aku tak melihatnya aku sudah merindukannya.


"Sekarang kamu percaya, kalau saya sayang banget sama kamu? " tanyaku


"Hmmm Tentang Bu Bintang? "


"Memang tak mudah menghilangkan bayang-bayang Bintang dari hidup saya, kedekatan kami terjalin hampir 20 tahun, begitu banyak memori yang terekam dalam otak saya, tapi bukan berarti saya masih mencintainya, rasa ini sudah berbeda, dan saya sadar bukan Bintang yang saya cintai tapi kamu Ki! " Kiand hanya mengulum senyum, pipinya mulai merona


"Pak Pandu nggak lagi gombalkan? "


"Menurut kamu? apa ekspresi saya seperti orang yang sedang gombal? "


Senyum kiand semakin lebar, ia tampak malu saat aku terus menatapnya


"Jadi secara tidak langsung pak pandu nembak saya? " seolah tidak percaya dia masih menanyakan hal itu untuk lebih meyakinkan dirinya


"Iya Kiand! "


"Kali ini jadi pacar beneran? "


Aku mengangguk pasti, meyakinkannya


"Benaran pak? " tanyanya menyelidik


Lagi-lagi aku hanya mengangguk


"Kalau sampai ternyata pak pandu pura-pura, pak pandu harus bayar gaji saya 100 kali lipat, sebagai ganti perasaan saya yang tersakiti" ujarnya dengan wajah yang menantang


"Dasar matre...! " aku kembali mengulum senyum


"Bukan matre itu bentuk keamanan untuk diri sendiri"


"Ki, saya mungkin nggak bisa menjanjikan kamu apapun, karena hubungan kita akan sulit kedepannya, tapi saya ingin kamu tahu kalau saga akan berusaha membuatmu bahagia. saya akan membayar semua luka yang saya buat sampai kamu tidak pernah mengingat luka itu lagi"


Mendengar ucapanku, Kiand langsung memelukku, ia bahkan lupa, jika beberapa tulang rusukku, sedang dalam perawatan


"Au.. au...! " aku meringis kesakitan, dengan cepat kiand melepaskan pelukannya


"Sakit ya pak, maaf pak maaf! " kian mengelus lembut bagian dadaku, dan itu membuatku semakin berdebar


"Aw... rasanya aku sulit bernapas" ujarku sambil berlagak seperti orang yang kehabisan oksigen


"Pak Pandu.. pak pandu nggak papa? " aku tak kuat menahan tawa saat melihat ekspresi panik kiand, "Pak saya panggil dokter ya! " aku masih berpura-pura kesakitan ...


Saat dia hendak beranjak, mencari pertolongan, aku segera menarik tangannya hingga ia berbalik, dan kami saling berhadapan, dengan cepat aku mencium bibir kiand, kini bibir kami saling bertaut, tidak ada perlawanan dari Kiand, ia hanya mengikuti alurku, dan melepaskannya dengan lembut.


"Pak pandu bohong lagi kan? " tanyanya gemas


Aku hanya tersenyum dan menjatuhkan tubuh kiand dalam pelukanku.


Wanita ini mampu membuatku melakukan hal di luar akal sehatku, aku mencintainya bahkan melebihi diriku sendiri.


Apapun yang akan terjadi ke depannya, aku akan menjaga dan membahagiakannya. itu janjiku.


...****************...


POV Kiand


Hari ini Pak Pandu sudah di perbolehlan pulang, Pak Jefry dan Pak Yoga mengajakku untuk menjemput Pak Pandu di rumah sakit, setelah jam pulang kerja, tapi aku merasa ragu, aku takut jika kedatanganku akan kembali membuat keributan antara Pak Pandu dan keluarganya


"Gimana? lo mau ikut nggak? " tanya Pak Jefry saat kami bertemu di lobby


"gimana ya pak? " aku ragu saat itu


"Udah ikut aja, Pak Pandu pasti seneng kalau lo yang jemput" ujar kak Nanda


"Udah lo nggak usah takut sama keluarga pandu, selagi ada pandu gue yakin lo aman! " sahut Pak Jefry


Akhirnya aku memutuskan untuk ikut menjemput Pak Pandu, tapi aku meminta Kak Nanda untuk menemaniku.


Jam menunjukan pukul Empat sore, aku sempat bertemu Dian saat akan meninggalkan Meja kerja


"Kiand! " panggil Dian, dia tampak berbeda, gayanya lebih feminim, rambutnya di potong sepanjang bahu, dengan waran coklat kemerahan, baju yang ia kenakan terlihat berbentuk dengan tubuhnya yang ideal.


"Waw.... Di, lo cantik banget! " pujiku. saat ia menghampiriku


"Tumben lo kesini? " sahut Kak Nanda yang sedang bersiap pulang


"Ihh kak Nanda, guekan kangen sama kalian! kalian sibuk banget, sampe nggak ada waktu buat gue, " ujar Dian dengan ekspresi swsih


"Udah.. udah...! maaf ya Di, kita belum sempet ngerayain jabatan baru lo! gue bener-bener masih sibuk" aku mengelus bahu Dian


"Hehhe nggak papa kok Ki, tapi nanti kalau lo udah ada waktu luang, kita makan bareng ya, gue yang traktir! "


"Siap... iyakan kak? " tanyaku pada kak Nanda, kami sudah berteman cukup lama, aku tak ingin membuat kita renggang, sebisa mungkin aku berusaha mendekatkan kembali kak nanda dan Dian


"Hmmm nggak janji! " jawab Kak Nanda malas


"Kalian sekarang mau kemana? " tanya Dian


"Kita mau ke rumah...____"


"Ke rumah gue," potong kak nanda saat aku hendak bilang jika kita akan pergi ke rumah sakit untuk menjemput pak pandu


Aku yang bingung dengan jawaban kak nanda langsung menoleh ke arahnya


"Lo mau ikut di? " tanya Kak Nanda


Ada apa sebenarnya antara mereka, kak nanda seperti enggan berbicara pada Dian


"Hmm nggak deh, gue mau ada perlu juga...! " jawab Dian


"Yahh sayang banget"


"Ya udah gue jalan dulu ya, hapfun kalian" Dian berbalik dan berlalu pergi.


"Kak Lo kenapa sih? " tanyaku saat kami jalan menuju pintu keluar


"Gue males aja, sama tingkahnya dia yang sekarang! " jawabnya


"Emang kenapa? lo ada masalah sama Dian? " tanyaku semakin penasaran


"nggak gue nggak suka aja sama cara dia sekarang" jawab Kak Nanda " Udah nggak usah bahas dia, yuk pak jefry dan Pak Yoga udah di lobby" Kak Nanda menarik tanganku keluar dari lift


Selama di perjalanan aku hanya diam, aku gugup, aku takut jika aku bertemu keluarga pak Pandu


"Nggak usah pucet gitu Ki, biasa aja" Ujar Pak jefry yang memerhatikanku dari kaca spion depan


"Tau Kiand! tenang, ada Pak Pandu di sana" tambah Nanda


"Nggak tau nih, tapi gue deg degan banget" jawbaku. Meski Aku harus siap menghadapi mereka, tapi tetap saja rasa gugup itu tak bisa hilang.


Hubungan kami memang akan sulit untuk di jalani, aku tahu itu dan aku selalu pegang perkataan Pak Pandu, sesulit apapun masalah dalam hubungan kita, kita harus hadapinitu bersama.