
aku memberanikan diri turun dari mobil menghampiri dua preman tersebut, sedang noval masih di mobil bersama arga menunggu aba-aba dari ku
"malam! " sapa ku pada dua penjaga bertubuh tegap
"malam ada apa ya mas! " jawabnya
"Mas bisa bantu saya! " tanyaku " saya lagi cari alamat" aku menunjukan sebuah tulisan yang baru saja ku tulis
"kita nggak tahu mas! " jawabnya setelah melihat alamat yang ku tunjukan
"ehh tunggu sebentar! " ujar salah seorang penjaga setelah melihat kertas yang ku berikan,
"Pt bagaskara.. " dia membaca tulisan kecil yang ada di atas kertas, kebetulan aku menulis menggunakan note kantor
"ada apa dengan Pt bagaskara mas? " tanyaku heran
"masnya kerja di sana? " tanya penjaga itu
"iya mas, saya kerja di sana! " jawabku
"ohh saya antar ke alamat ini mas.. !" tiba-tiba penjaga ini bersikap baik padaku, dan aku semakin heran, apa hubungannya perusahaan papi dengan orang ini
"ini pak alamatnya" pria itu menunjukan sebuah rumah yang agak jauh dari rumah besar, aku memang menulis alamat ini asal saja hanya mengganti nomer rumahnya.
Saat dia lengah aku mulai menghabisinya hingga ia benar-benar tersungkur, tak percuma aku pernah belajar bela diri, yah aku hanya kena satu pukulan di wajah sedikit sakit tapi masih bisa ku atasi, setelah itu aku harus menyingkirkan petugas satunya lagi, yang masih menjaga di pintu masuk.
"Udah mas? " tanya pria itu saat melihatku berjalan kearahnya
"Udah, ohh ya, tadi temennya bilang mas di suruh ke rumah yang tadi saya datangin , katanya di ajak ngopi" ujar ku berbohong,
"wah gimana si jambrong, orang lagi jaga dia malah ngopi" gerutunya
"iya makanya mas di suruh ke sana! " sahutku
"gila kali tuh orang, mana boleh penjagaan disini kosong" ujarnya
"saya yang gantiin masnya " jawabku, aku teringat saat pria tadi melihat nama Pt bagaskara, raut wajahnya yang garang berubah ramah, ini bisa ku manfaatkan
"nggak bisa mas, nanti kalau bos besar tahu, saya bisa di bunuh" jawabnya
"ini id card saya mas, tuh benarkan saya kerja disini, ! " aku menunjukan id card yang selalu ku taruh di kantung celana
"iya , masnya kerja di sana.. ! " dia mengangguk seakan percaya jika aku berpihak padanya, sebenarnya aku ingin bertanya apa hubungan pak bondan dengan perusahaan papi, tapi itu bisa ku cari tahu nanti, keselamatan kiand jauh lebih penting
"bener ya mas saya titip dulu! " ujarnya. Tak lama dia berjalan ke arah rumah yang tadi ku tuju, kebetulan posisi rumah itu tak jauh dari belokan jadi memang tidak terlihat jika sebenarnya teman dia sudah tak sadarkan diri.
Setelah agak jauh dia berjalan aku mencari kayu dan mulai mengikuti pria itu, aku melihat momen yang pas saat dia terkejut temannya tengah terkapar, ia hendak berbalik namun dengan cepat aku memukul bagian kepala belakangnya, hingga diapun tak sadarkan diri.
tempat ini begitu sepi sampai aku saja tidak melihat ada seorangpun melintas.
sesuai rencana aku sudah melumpuhkan dua raksasa penjaga, aku kembali ke mobil untuk menemui noval dan arga
"Lo bisa berantem gak? " tanyaku pada noval
"sedikit! " jawabnya
"ya udah gue percaya lo bisa jaga diri lo sendiri, di dalem gue masuk duluan, nanti pas penjaga sibuk ngurusin gue lo masuk ke dalam garasi, disitu ada pintu yang mau masuk ke dapur, nanti lo harus bisa naik ke lantai dua, ada kamar besar dan kiand ada di situ ngerti! " jelas ku
" lo yakin bisa handle semua penjaga di dalem? " tanya Noval meragukanku
"nggak yakin! tapi mungkin bisa tahan mereka sampai temen gue datang! " jawabku. yahh disini aku hanya berharap pada jefry bisa datang tepat waktu, karena aku tidak mungkin menghabisi semua preman itu
"Arga, kamu tetap disini, jangan nyalakan mesin atau lampu apapun, tetap menunduk dan jangan terlihat" titah ku pada arga
"i.. iya pak! " jawabnya ketakutan
"val, lo harus bawa kiand ke mobil ini, penjaga di dalem pasti bakal sibuk ngurusin gue, lo harus manfaatin itu, jangan sia-sia in pengorbanan gue! " ujar ku pada noval "gue percaya sama lo! "
"hmmm" noval mengangguk
Kami mulai berjalan menindik nindik ke arah pintu, ku lihat ada sekitar lima penjaga di dalam, mereka sedang asik berbincang di sebuah kursi yang berada agak jauh dari pos, perlahan aku dan noval masuk, untunglah ada beberapa mobil yang tengah terparkir sehingga memudahkan ku dan noval untuk bersembunyi.
"val, itu garasinya lo lurus ke sana, gue ke sana! " ujar ku menunjuk ke arah dimana para penjaga tengah berkerumun
"lo yakin? kenapa nggak masuk bareng aja! " pintanya
"kenapa? lo takut? " sahutku sedikit songong
"bukan, dari pada lo babak belur! " sahut noval
"oke.. oke..! tapi lo yakin lo aman! " ujar noval
"aman! " jawabku
saat noval hendak berlari , dia sempat terhenti dan menoleh ke arahku
"lo harus selamet, kiand nggak bakal maafin gue kalau lo sampe mati" ujarnya, aku sempat tertegun mendengar ucapan noval, aku semakin yakin jika cinta kiand tulus untukku, dan aku mulai menyadari jika aku pun mencintai kiand, aku begitu takut ketika kiand dalam bahaya, dan aku rela mengorbankan diriku untuk kiand.
"bilang sama kiand, gue sayang sama dia! " noval hanya menatapku, aku bisa lihat dia cemburu, tapi aku yakin noval akan menyampaikan pesanku. kami berpisah disini, aku sengaja menghampiri para penjaga dan mulai menghadangnya satu persatu, cukup sulit melawan mereka, tapi aku masih bisa terus menangkis semua pukulan mereka , halaman depan mulai ricuh, beberapa penjaga tersungkur, tapi jumlah mereka malah bertambah, aku cukup kewalahan, menghadapi mereka, pukulan demi pukulan melayang ke wajahku, tapi aku harus bangun, di otakku hanya ada kiand, kiand harus selamat tak perduli jika aku harus terluka. aku masih cukup sadar meski aku beberapa kali tersungkur, aku terus berusaha bangun dan menghajar seorang penjaga, hingga akhirnya sebuah benda tumpul melayang di bagian kepala belakangku, kepalaku terasa berat, pandanganku kabur, aku masih merasakan sakitanya pukulan demi pukulan. tapi aku harus bertahan untuk
Aku terjatuh dan beberapa orang masih menghajar ku, terdengar samar suara sirene yang membuat orang-orang itu lari berhamburan, aku hanya bisa melihat beberapa pasang kaki berlarian meninggalkanku yang masih terkapar lemah, aku berusaha untuk tetap sadar meski kepalaku dan pandanganku mulai gelap, aku melihat sepasang sepatu berjalan mendekat ke arahku, dan terdengar samar memanggil namaku, aku berusaha untuk bisa melihatnya tapi pandanganku tak jelas.
"pandu... pandu lo baik baik ajakan?.!! " aku mendengar suara yoga dan jefry, aku merasakan tubuhku terangkat, aku tak tahu saat ini, apa aku berada di pangkuan yoga atau jefry, aku hanya bisa mendengar suara mereka yang panik
"pandu.. ! lo bisa denger gue? " itu jelas suara jefry,
"jef..! " dalam keadaan lemah aku berusaha meraih tangan jefry " tolong kiand! " ucapku lemah aku mengkhawatirkannya, bagaimana dengan dia?, apa noval berhasil menyelamatkan kiand?
"lo nggak usah khawatir, noval udah bawa kiand ke tempat yang aman" jawaban Jefry cukup membuatku lega, jika aku harus mati aku tahu kiand selamat.
"pandu lo harus bertahan ya, kita bakal bawa lo ke rumah sakit" itu ucapan terakhir yoga yang bisa ku dengar, setelahnya penglihatan ku gelap, tak ada suara yang bisa ku dengar dan aku tak ingat apapun.
Pov Kiand
Aku terkejut ketika seorang wanita menghubungiku, mengatakan jika arga berada dalam sekapan nya, aku tahu wanita ini, aku kenal suaranya.. mommy jasmin, bagaimana mungkin dia bisa tahu keberadaan ku dan arga?
"cepat kesini bawa uang 50juta atau adikmu nggak akan selamat" ancamnya.
sore itu aku berada di rumah noval, minggu ini noval tetap harus bekerja kebetulan dia shift siang, jadi akan pulang malam, bunda noval juga sedang ada arisan keluarga, tadinya aku di minta ikut, tapi aku menolak, tak enak hati berada dalam kumpulan orang-orang mapan, sedang aku?
Aku menyuruh arga untuk membeli telur, kebetulan telur di rumah noval habis, aku berniat membuatkan bilu untuk noval, dan bundanya di bantu oleh salah satu PRT di rumah noval.
selang beberapa menit telpon ku berdering, ternyata dari arga, saat aku menjawab telponnya, aku tidak mendengar suara arga melainkan momy jasmin, dia menangkap arga dan membawanya ke club miliknya, dan aku di minta untuk menemuinya disana. tanpa pikir panjang aku meninggalkan pekerjaanku dan bergegas menyusul arga menggunakan taksi online.
ketika aku sampai di club itu, aku di hadang dua orang penjaga bertubuh tegap, aku ingat mereka, mereka yang dulu menangkap arga.
"Saya mau ketemu momny jasmin! " ucapku tegas
mereka membawaku ke sebuah club malam yang cukup besar . aku cukup terkejut saat aku masuk ke dalam karena suasana yang hingar bingar dan suara musik yang membuat telinga sakit.
"Bang inj tamunya momy! " ucap penjaga yang membawaku pada penjaga lainnya
"bawa dia ke kamar, momy udah nunggu dia! "
Aku pun di bawa ke sebuah kamar, saat penjaga itu membuka pintu aku melihat arga tengah terikat, persis seperti dulu, aku berlari menghampiri arga
"arga... " teriakku dan langsung memeluknya " lepasin adik saya! " teriakku pada momy jasmin yang duduk di balik meja sambil menyilangkan kedua tangannya di dada
"mana uan
g 50 juta? " tanya momy helga, aku bingung bagaimana aku akan menjawabnya, sedang aku saja tak ounya uang sebanyak itu
"kasih saya waktu, lima oulub juta bukan uang yang sedikit" ujarku
"kasih kamu waktu? " momy jasmin nampak berjalan mendekat kearah ku, ia merendahkan tubuhnya sejajar denganku menatap wajahku dengan senyuman setan "kamu lupa, aku sudah memberi kamu waktu, dan apa hasilnya? kamu menghilang bukan? " jawabnya
"saya minta maaf, tapi saya nggak ada uang segitu" ujar ku
" yahhh karena saya cukup baik" momy jasmin beranjak, berjalan kembali ke kursinya.
"ada dua pilihan untuk kamu, membayar hutangmu atau bekerja untukku" ucapnya. bagaimana mungkin aku akan bekerja di tempat seperti ini? pikirku
"apa nggak ada pilihan lain? " tanyaku berusaha negosiasi
"nggak ada, cepat kamu mau pilih yang mana? atau adik kamu akan terus berada disini? "
"Saya akan bayar hutang saya, tapi kasih saya waktu! " pintaku
"nggak ada, saya nggak percaya... saya hitung sampai tiga, dan kamu sebutkan pilihanmu! " ucapnya dengan gaya bak seorang ratu
"satu.... " momy jasmin mulai menghitung, dan aku begitu panik, aku melihat arga yang ketakutan, mana mungkin aku membiarkan arga seperti ini
"dua.... " dia masih terus berhitung sampai di hitungan terakhir
"yahhh aku mau bekerja disini! " jawabku, arga terkejut mendengar jawabanku yang cukup nekat, karena tidak ada pilihan lain.