
Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah mami, beberapa hari mami menghubungiku, ia bahkan menangis memintaku pulang, jujur aku masih malas menginjakan kaki di rumah, yang akan berujung dengan perdebatan.
Ku parkir kan mobil di halaman, kemal yang melihatku segera membukakan pintu mobil.
"Siang pak! " sapa kemal
"siang, apa kabar kamu? " setelah tidak menjadi supirku kami memang jarang bertemu, dia ku suruh untuk menjaga reina karena aku sendiri tidak bisa menjaganya
"Baik pak! " jawabnya sambil mengikuti langkahku
"Gimana reina? dia tidak menyusahkan mu kan? " tanya ku pada kemal
"Yah nggak lah pak! non reina anak yang baik kok! " jawabnya yang ku anggap sebuah kebohongan
"yah.. bagus kalau kamu tidak kerepotan olehnya" ujarku menepuk pundaknya.
aku membuka pintu meninggalkan kemal yang hanya mengikuti sampai depan rumah.
Rumah besar ini tanpa sepi, tak ada pergerakan manusia yang ku lihat, aku berjalan menuju ruang keluarga, terlihat papi dan mami tengah duduk menikmati secangkir teh.
"Malam mi, pi...! " sapaku sambil mencium tangan mereka, Papi terlihat kurang sehat, semenjak memutuskan untuk kembali ke kantor, papi sangat sibuk hingga mengurangi waktu istirahatnya
"Akhirnya kamu pulang! " mami beranjak dari kursi dan langsung memelukku
"Dasar anak nakal! kamu lupa kalau kamu punya rumah? " tanya papi, padahal kita selalu bertemu di kantor, tapi yah gitulah papi, di kantor aku bukanlah anaknya, dia akan memperlakukan kami sama halnya seperti karyawan lain
"Maaf pi, pandu terlalu sibuk! " jawabku tertunduk
Papi masih duduk di kursinya, dengan selimut kecil yang menutupi setengah tubuhnya
"Papi baik baik aja? " tanyaku menatap iba pada papi , aku menyanginya tapi sikapnya yang keras membuat aku tak nyaman.
"Seperti yang kamu lihat! " jawabnya
"Papi mu sakit nak! beberapa hari ini dia selalu berdebat dengan kakak mu, semakin hari kakakmu sulit di kendalikan, dia bahkan meminta papi untuk mengembalikan jabatannya dan mengakhiri persaingan kalian! " jelas mami
"Papi dengar, kamu memasukan wanita itu ke dalam tim mu? " tanya papi, wanita yang di maksud papi adalah kiand
"Pasti kak candra yang memberi tahu! " tebakku
" Yah kakakmu cerita apa yang terjadi di hotel saat kalian menemui pak jonathan" jawab papi
"Sayang...! mami harap kamu pikirkan lagi, apakah wanita itu layak ada di samping kamu" mami masih berdiri di sampingku
"Mi, kiand itu anak yang cerdas, pandu banyak di bantu oleh kiand dalam proyek ini, cobalah untuk tidak melihat latar belakang seseorang dari kekayaan" ujarku
"Pandu, sebenarnya papi tidak ingin berdebat denganmu, tapi papi harap kamu pikirkan lagi keputusan mu"
"Pi, papi sudah menyerahkan semua keputusan sama pandu, jadi biarkan pandu yang memutuskan, tolong jangan ikut campur! "
"Mami dan papi hanya khawatir pandu, kamu ingat apa yang terjadi jika kamu kalah dari kakakmu? " mami mencoba mengingatkan
"Jika pandu ke rumah hanya untuk di ajak berdebat lebih baik pandu pergi! " ujarku
"Pandu....!!! " bentak papi "Kami hanya ingin yang terbaik buat kamu,"
"Pi... pandu tahu apa yang terbaik buat pandu! " sahutku
perdebatan ini kembali terjadi, sebenarnya ku tak ingin terlebih kondisi papi yang sedang menurun, tpi aku tak suka jika papi selalu memandang rendah kiand
"Papi sudah menyiapkan seseorang yang bisa mendampingi kamu! " kali ini suara papi merendah, namun sukses membuatku terkejut
"Maksud papi? " tanyaku
"Yahhh...mami dan papi sepakat ingin mengenalkan kamu dengan anak temen papi . "
"Pandu nggak setuju! "
"kita nggak perlu persetujuan kamu! " ujar papi
Saat kami saling berdebat, ponselku berdering entah siapa yang menghubungiku karena hanya tertera nomer tanpa nama
"Pi... " aku duduk di samping papi "pandu mohon, biarkan pandu memilih sendiri siapa pendamping pandu" pintaku
"Pandu ini buat kebaikan kamu, kakak mu bilang kamu masih mencintai Bintang? dan wanita itu hanya untuk pelampiasan kamu! " jelas mami " mami nggak mau kamu justru mempermainkan dirimu sendiri"
"mi, pandu tahu mana yang terbaik untuk pandu.. dan soal bintang, pandu bisa selesaikan sendiri"
"dengan mempermainkan hati wanita lain? " sahut papi
dering telpon kembali berbunyi, dan dengan nomer yang sama
"siapa? wanita itu? " tanya papi ketus
"bukan! " jawabku "pandu angkat telpon dulu! "
aku berjalan menjauh dari papi dan mami, saat telpon tersambung aku mendengar suara seorang pria yang aku kenal
"hallo pak pandu? "
"iya ini siapa ya? " tanyaku karena aku tidak mengenal nomernya
"arga pak! " jawab arga dengan nada terisak
"ohh iya, ada apa arga? " tanyaku
Arga menjelaskan jika Kiand di bawa oleh segerombolan orang berbaju hitam, awalnya arga yang di bawa, tapi kiand rela menggantikan arga.
"terus posisi kiand dimana? " tanyaku cemas
"arga masih di tempat yang waktu itu pak! " jawab arga masih terisak
"oke, arga tenang dulu, jangan kemana-mana, saya kesana sekarang"
"aku udah telpon kak noval, tapi kak noval belum dateng, aku takut aku lagi sembunyi pak! " ujarnya
"oke oke kamu shareloc, nanti saya akan cari posisi kamu dimana, jangan pergi kemana mana oke! "
aku segera menutup telpon arga dan langsung menghubungi jefry
"hallo jef! "
"iya du ada apa? "
"jef, sekarang kita ke tempat momy jasmin, kiand di tangkap, arga lagi sembunyi disana, gue mau jalan sekarang" jelasku
"du, lo jangan jalan sendirian, tungguin gue sama yoga, lo dimana? " tanya jefry
"jef lo langsung ke lokasi, gue jalan dari rumah nyokap" jawabku.
apa yang aku takutkan benar terjadi, tanpa berpamitan aku segera pergi ke sebuah tempat club malam. aku mendengar teriakan mami dan papi, tapi tak aku hiraukan, keselamatan kiand lebih penting.
Begitu sampai di salah satu club malam milik momy jasmin mataku mulai menelusuri sudut untuk mencari keberadaan arga, aku sempat menghubungi nomer arga, untunglah arga segera menjawab panggilanku
"Kamu dimana ga? " tanyaku
"Saya ada di parkiran pak pandu " jawabnya.
"Arga...! " panggilku, aku melihat arga di balik mobil sedan dengan posisi tubuh sedikit menunduk
" Pak pandu...! " arga berlari ke arahku, tak lama aku melihat mobil milik pria yang dulu mengantar kiand , benar saja dia keluar dari mobil, matanya langsung bisa menemukanku dan arga.
"Kiand nggak disini! " ujar pria itu tampak tergesa-gesa
"lalu? " tanyaku
"tadi kiand nelpon gue, suruh jemput arga disini" jelasnya
"ohhh" aku hanya mampu mengatakan itu, mendengar ternyata kiand lebih memilih meminta bantuan pada pria yang bernama noval dan itu cukup mencubit hatiku.
"Terus kak kiand kemana? " tanya arga begitu cemas
"kita belum tahu mereka membawa kiand kemana? kiand juga belum nelpon gue lagi" ujarnya
mengetahui kiand tidak ada di tempat ini, aku langsung menghubungi jefry untuk tidak menyusulku, aku meminta mereka menunggu sampai kita tahu dimana keberadaan kiand.
ponsel noval berdering, tapi ia tak mengenali siapa yang menghubunginya, terlihat jelas dari raut wajahnya
"Ki, ini lo? kiand! "
mendengar noval menyebut nama kiand aku segera mengambil ponsel noval
"ki... ini saya pandu! kamu dimana? " tanyaku, kiand hanya terisak tanpa bisa berkata apa-apa
"pak pandu. ... sa.. sa.. saya takut" ujar kiand terisak
"kiand, kamu tenang ya! saya akan kesana! " aku berusaha menenangkan kiand "kamu dimana sekarang? " tanyaku
"orang itu... saya nggak tahu dia masih hidup atau nggak! " aku terkejut mendengar ucapan kiand
"maksud kamu ki? " tanyaku
"pak pandu tolong, saya benar-benar takut" dia terus menangis
"oke.. oke..! kamu sebutin posisi kamu dimana sekarang! saya ke sana! " ujar ku mulai panik
"Jaraknya nggak jauh dari club nya momy jasmin, tadi saya masuk ke jalan darmawangsa sepuluh, disini ada rumah besar, saya di bawa ke rumah itu, di luar banyak penjaga, saya ada di kamar, dan orang itu.... " Kiand seperti tak sanggup meneruskan perkataannya lagi
"kunci kamarnya! " titah ku
"sudah pak, pak orang itu saya nggak tahu dia masih hidup apa nggak!" aku tak mengerti apa yang terjadi di sana? dan orang yang di maksud kiand!
"kamu sabar, saya ke sana sekarang! "
Setelah sambungan tertutup, aku segera menghubungi jefry dan Yoga untuk ke lokasi membawa polisi, dan kami langsung bergegas menuju alamat yang kiand sebutkan
Ternyata benar alamatnya tidak jauh dari sini, saat kami masuk gang, banyak sekali preman yang sedang nongkrong, mereka menatap kami sinis, entahlah ini seperti sarang mafia.
"Pak! arga takut... " arga terlihat begitu syok. saat berangkat arga memang bersamaku dan noval membawa mobilnya sendiri.
Aku melihat ada rumah besar, apa mungkin ini yang kiand maksud? pikirku, aku meminggirkan mobil hendak bertanya dan melihat situasi disini, kebetulan ada warung kopi di sebrang dan terlihat banyak orang di sana, ini sih benar nekad namanya, gumamku dalam hati. orang-orang itu berbadan besar dengan tato yang memenuhi lengannya
"permisi, malam...! " sapa ku. mereka menatapku dari atas sampai bawah, dengan tatapan tidak suka
"malam, siapa ya? dan mau cari siapa? " tanya salah satu pria bertubuh tegap dengan kepala plontos, di warung ini ada sekitar 7 orang, mereka sedang bermain kartu dan yah di temani beberapa alkohol.
"saya mau tanya apa rumah ini, rumah paling besar disini? " tanyaku
Mereka tidak langsung menjawab pertanyaan ku, mereka hanya menatapku saja, sampai tiba-tiba si ibu pemilik warung menarik tanganku
"sini mas! " ajak si ibu itu, aku di bawa menjauh dari para pria pemabuk
"Ada apa ya bu? " tanyaku heran
"mas ada urusan apa ke rumah besar itu? " tanya ibu warung
"bu, pacar saya ada di sana ! " bisik ku berharap ibu ini bisa menolongku
"sudah saya duga! " ujar si ibu
"maksud ibu? " tanyaku
"mas itu rumah bos bondan, dia kepala preman disini, udah banyak wanita yang di bawa masuk dan di jadikan pemuas nafsunya" jelas si ibu berbisik, matanya sambil mengawasi beberapa preman yang sedang nongkrong di warung
"Terus bu, gimana caranya saya menyelamatkan pacar saya? " tanyaku
"susah mas! orang-orang disini seolah tutup mata dengan apa yang terjadi di dalam rumah tersebut, mereka memang tidak akan ikut campur, tapi juga mereka tidak akan membantu "
" Apa nggak ada cara saya buat bisa masuk ke dalam? " tanyaku lagi
"ada jalan pintas, tapi di jaga ketat mas! " jelas ibu itu
"bu saya mohon bantu saya, saya harus nolongin pacar saya di dalam, tolong bu! " pintaku
"aduh mas, resikonya tinggi mas, berbahaya! " ujarnya
"saya akan panggil polisi untuk melindungi saya bu! "
"polisi udah nggak mempan disini mas, mereka seperti sekongkol, beberapa penjaga di dalam juga ada yang menggunakan seragam, pak bondan juga termasuk salah satu pejabat negara mas! " ujarnya
"bu pacar saya lagi ketakutan di dalam! " ujar ku
"di samping sana, ada pintu kecil, biasanya saya mengantar kopi untuk para penjaga melalui pintu itu, ada 5 orang penjaga di sana, dan mas bakal langsung masuk ke garasi rumahnya, di garasi itu ada pintu yang menghubungkan ke dapur, mas bisa masuk ke sana " jelas si ibu
"lalu apa ada banyak kamar di sana? " tanyaku
"yah.. ada sekitar 6 kamar, tapi kamar pak Bondan ada di lantai 2, hanya ada satu kamar itu, biasanya penjaga hanya akan menjaga di tangga, tidak sampai ke kamar" jelasnya lagi
. Untunglah si ibu ini begitu hafal dengan keadaan di dalam rumah sehingga dia bisa menjelaskan titik mana yang harus aku hindari dan titik mana yang bisa aku lewati.
"ibu terima kasih banyak infonya! " ucapku sambil memegang kedua tangan si ibu
"iya mas, hati saya miris setiap ada orang yang mencari pacarnya, kadang anaknya atau adiknya, tapi saya nggak bisa berbuat apa-apa, terakhir anak perempuan saya yang jadi korban, tapi saya di ancam untuk tidak melapor atau mengadu pada siapa-siapa, jika itu terjadi nyawa saya yang jadi bayarannya, anak saya bunuh diri karena malu, dan itu menjadi penyesalan saya sampai detik ini" aku sungguh tak tega pada si ibu, dan pikiranku melayang jauh pada kiand, kemungkinan buruk yang terjadi pada anak si ibu, bisa juga terjadi pada kiand
"bu, saya benar-benar berterima kasih ! saya akan balas kebaikan ibu" ku beri pelukan pada si ibu, dan langsung kembali ke mobil, ternyata noval juga sudah ada di sana.
"gimana? " tanya noval tak kalah panik
"tunggu, ! " aku langsung menghubungi jefry dan menceritakan apa yang si ibu tadi ceritakan, intinya kita tidak boleh memanggil polisi sembarangan, aku teringat om anton , omnya jefry dia adalah seorang polisi yang mempunyai pangkat tinggi di kepolisian, aku meminta jefry segera menghubunginya, dan menceritakan apa yang terjadi .
"Kita harus atur strategi" ucapku
"lo..! " panggil ku pada noval, sebenarnya aku malas melihat pria ini, aku masih kesal padanya, tapi demi keselamatan kiand kita harus kerjasama
"gue noval! " sahutnya kesal
"iya gue udah tahu! " jawabku ketus "lo harus selamatin kiand di dalam, gue bakal ngalihin perhatian para penjaga, orang-orang disini bakal tutup mata, jadi kita nggak bisa ngandelin bantuan mereka, temen gue bakal dateng bawa polisi, jadi kita hanya bisa berharap pada mereka" jelasku
aku mulai menjelaskan bagaimana kita bisa masuk kedalam, khususnya noval. dia yang akan membawa kiand nantinya sedang aku akan mengalihkan perhatian
Kami segera bergegas menuju pintu belakang yang si ibu tunjukan tadi, dari jauh kita melihat dua orang berbadan besar tengah berdiri di sebuah pintu.