For A Great Love

For A Great Love
Bab 9 makan siang II



Itu benar Kiand? Aku benar-benar terkesima melihat kecantikan Kiand hingga mataku enggan berpaling


"Pak...! hey..! Pak Pandu! " Saat ku tersadar Kiand sudah berada di hadapanku sambil melambaikan tangannya, mencoba mengalihkan pandanganku


"Ah... Eh, Ohhh kamu sudah selesai! " tanyaku gugup, setelah sekian lama aku tak pernah terpesona pada wanita lain selian Bintang, yang aku tahu cuman Bintang wanita yang mampu membuatku tidak mengalihkan pandanganku saat menatapnya


"Bapak kenapa? jangan bilang bapak terpesona ya.. sama kecantikan saya! " goda Kiand sambil menunjuk kearah ku, senyumnya yang tadi begitu menawan kini berubah menjadi kiand yang mengesalkan.


"Ihhh...! jangan GeEr kamu !!!! " Sontak aku menjadi salah tingkah, Kiand yang melihatku berubah kikuk terus menggodaku dengan tertawa cengengesan, Kiand tetaplah Kiand dia bukan Bintang yang anggun dan menawan.


"Tapi tadi mata Pak Pandu sampe nggak berkedip loh! " Dia masih terus menggodaku


"Udah jangan banyak ngomong, ayok! Mas Candra sudah menunggu kita! " Aku segera meraih jas yang ku gantung di standing hanger lalu memakainya. Kami berjalan menuruni gedung menggunakan lift. Tak ingin Mas Candra curiga dengan hubunganku dan Kiand, aku memulai sandiwaraku dari kantor, agar semua karyawan yang melihat mulai menyebarkan gosip yang pasti akan terdengar ke telinga Mas Candra.


"Mana tangan kamu? " tanyaku pada Kiand


"Ini! " jawabnya sambil membuka telapak tangan kirinya. Dengan cepat ku raih tangan Kiand dan menggandenganya


"Pak! " Kiand terkejut


"Kita sepasang kekasih bukan? apa sepasang kekasih akan jalan seperti orang lain? " tanyaku


"Ohh iya lupa! " seperti biasa dia hanya cengengesan "Tapi cuman pegangan tangan aja loh! " dia mencoba memperingatiku


"Kamu pikir saya akan melakukan apa lagi? "


"Yahh....! kali aja bapak mau berbuat yang aneh-aneh" sahut Kiand


"Kamu bukan tipe saya! " celetukku dengan melempar senyum sinis


Pintu lift terbuka di lantai dasar, aku dan Kiand keluar lift dengan bergandengan tangan, sontak semua pegawai yang melihat kami begitu terkejut, hingga menjadikan kami pusat perhatian. Kiand yang saat itu terlihat kikuk, ku paksa untuk tetap berjalan tegap menuju lobby, disana Kemal salah satu supir pribadiku sudah berdiri di samping mobil untuk membukakan pintu.


...****************...


Sesampainya di Dabiel Vigone Resto, restoran yang menjadi favorite Bintang mataku menyipit menyapu seluruh sudut restoran, Bola mataku terhenti saat menangkap keberadaan Mas Candra dan Bintang, meski aku sedikit ragu tapi aku berusaha menutupinya, sampai detik ini tak pernah habis rasa cintaku untuk Bintang yah meski aku sendiri tahu, jika aku tak mungkin bisa memilikinya.


"Hai Du! " sapa Mas Candra, aku hanya melempar sedikit senyuman kearahnya begitupun Bintang, ada yang beda dengan tatapan Bintang, seakan banyak pertanyaan yang ingin ia berikan padaku, namun seolah terhalang oleh keberadaan Mas Candra. Setelah Bintang memutuskan memilih Mas Candra hubungan kami berubah kaku, tak ada tawa lepas yang dulu terlihat dari bibirnya. Kami seperti tidak mengenal satu sama lain.


"Duduk Ki! " aku menarik kursi dan mempersilahkan Kiand duduk, persis seperti yang biasa aku lajukan pada Bintang


"Mau langsung pesan makanan? " tanya Mas Candra


"Boleh! " jawabku setelah duduk di samping Kiand


"Kamu jauh lebih cantik, dari pertama kita bertemu di lift! " puji Bintang pada Kiand saat aku tengah melihat buku menu


"Oh. i-ini itu di suruh...! "


sebelum Kiand sempat melanjutlan ucapanya dengan cepat alu menginjak kakinya hingga dia meringis keskaitan


"Au....! " Dia menatapku kesal


"Dia memang selalu tampil seperti itu kalau di luar kantor, tapi kalau di kantor aku menyuruhnya untuk berpenamipilan biasa saja! " potongku "Benarkan sayang! " tanyaku pada Kiand


"Oumm i-iya! " jawab Kiand dengan senyum terpaksa


"Ohh!!! " sahut Mas Candra dan Bintang bersamaan


"Aku gak tahu kamu bisa se romantis itu sama perempuan! " ujar Mas Candra


"Kalian sudah memesan makanan? " tanyaku mengalihkan pembicaraan


"Sudah!" jawab Bintang


Akupun memesan Bruschetta dan Pasta Carbonara untuk makan siang kali ini. Selama menunggu pesanan datang kami banyak membahas tentang hubunganku dan Kiand.


"Jadi kamu tinggal dimana Ki? " tanya Mas Candra, tanpa memberi kesempatan Kiand berbicara, dengan cepat aku yang menjawabnya


"Apartmen daerah kemang! " jawabku berbohong. Kiand hanya menatapku heran, tapi dengan cepat ku kedipkan mata agar dia mengerti


"Loh bukannya itu deket apartemen kamu Du? " tanya Mas Candra. Aku memang memiliki Apartmen di daerah Kemang, biasanya aku akan banyak menghabiskan waktu disana dari pada di rumah milik mamih dan papaih.


"Iya, aku ketemu Kiand juga disana kok! " jawabku santai


"Oh...! tinggal sama orang tua atau sendiri? " tanya Mas candra


"Aku tinggal sama adik laki-laki, kebetulan mamahku sudah meninggal dan papahku sedang sakit di kampung! " jawaban Kiand sontak membuat Mas Candra heran mendengar kata kampung


"Kampung? kamu tinggal di apartemen mewah, tapi papahmu tinggal di kampung? " tanya Mas Candra


aduh... kiand! kenapa dia sepolos itu gumamku dalam hati sambil menarik napas panjang dan berpikir bagaimana cara mengalihkan perhatian Mas Candra


"Maksud Kiand di jogja Mas, jadi papahnya Kiand itu tinggal di jogja bersama neneknya, karena kondisinya yang sedang sakit! " aku berusaha mengalihkan pikiran Mas Candra, lagi-lagi Kiand hanya menatapku heran


"Ohhh jogjanya dimana? kita juga punya keluarga di jogja" tanya Mas Candra pada Kiand, Kiand yang tidak tahu harus menjawab apa, hanya menatapku bingung


"Gak jauh dari tugu! " jawabku lagi


"Tadi waktu di mobil kiand bilang, dia grogi kalau mas candra banyak nanya sama dia! " aku berusaha mencari alasan " benarkan Kiand? " tanyaku sambil menyenggol kakinya


"I-Iya mas! " jawab Kiand gugup


"Permisi ini pesanannya ya kak! " Untunglah seorang pelayan datang membawa pesanan kami.


"Makan dulu mas, gak usah banyak tanya sama Kiand! kasian dia! "


"Ohh iya iya! silahkan Kiand di makan! "


Akhirnya aku bisa bernapas lega, setidaknya untuk hari ini, dan untuk acara sabtu malam aku harus benar-benar membicarakan ini dengan Kiand, agar keluarga tidak curiga. Kiand harus bisa mempersiapkan dirinya yang berbeda, bukan Kiand polos, sederhana dan cuek, tapi kiand yang elegan, cantik dan lembut persis seperti Bintang


Setelah selesai makan siang dengan Mas Candra, aku sengaja tidak mengantarkan Kiand ke kantor, dan sudah meminta izin pada Pak Darma tentunya, aku juga sudah menghubungi HRD untuk meng-keep semua data Kiand, jika Mas Candra bertanya.


"Kenapa bapak bohong sama Pak Candra? " tanya Kiand saat kami sudah berada di dalam mobil


"Kamu pikir, mereka akan percaya jika aku pacaran dengan orang biasa yang tinggal di sebuah kontrakan? " jawabku kesal,


"Memang kenapa dengan orang yang tinggal di kontrakan? " di malah balik bertanay, anak ini memang tidak bisa berhenti bicara jika rasa ingin tahunya muncul


"Kamu tahu saya siapa? dan kamu siapa? lalu apa pendaar Mas Candra nantinya! "


"Tapi kalau Pak candra cari tahu tentang saya gimana? "


"Makanya itu saya akan ajak kamu ke apartemen kemang, saya akan sewakan apartemen disana, toh gak begitu jauh juga dari kantor! " jelasku


"Apa? bapak mau sewa apartemen buat saya dan Arga? " dia nampak terkejut


"Iya, penyamaran ini harus totalitas, jangan sampai keluarga saya tahu kalau kamu hanya karyawan biasa, ! " tegasku


"Tapi pak? "


"Kamu diam saja biar saya yang urus semuanya! " potongku


"Kenapa sih pak sampe segitunya? apa hebatnya bapak berpura-pura hanya untuk menutupi perasaan Bapak, seolah bapak sudah bisa move on dari Bu Bintang! "


"Kamu disini hanya untuk ikuti perintah saya, jangan banyak bicara, jangan banyak nanya paham! " tegasku


"Oke..! " jawabnya kesal


Mobil melaju menuju apartemen di daerah kemang, aku harus menyewakan apartemen yang layak untuk Kiand, Mas Candra pasti akan menyelidiki tentang keluarga Kiand, dia bukan orang yang mudah di tipu, jadi aku harus sebisa mungkin membuat semua ini seolah nyata


"Kemal kamu tunggu disini ya! jangan kemana-kemana saya cuman sebentar! " ucapku pada Kemal


"Baik pak! "


Aku dan Kiand berjalan menuju meja Reseptionist yang tak jauh dari pintu loby


Aku meminta seorang Reseptionist untuk menunjukan unit apartemen kosong yang berada di lantai 40 agar berada satu lantai dengan apartemenku, untunglah masih ada dua unit saat itu. Aku dan Kiand bergegas melihat kondisi apartemen unit yang pertama


"Gimana? " tanyaku saat melihat kondisi unit apartemen di lantai 40


"Pak...! bapak serius ? ini buat saya? " tanya Kiand dengan ekspresi takjubnya yang tak lepas, dari pertama matanya melihat isi apartemen ini


"Menurut kamu saya akan bercanda? "


"Yah enggak, tapi ini mewah banget...! " Kiand terus berjalan menyusuri setiap ruangan apartemen


"Disini ada dua kamar, jadi kamu dan Arga punya privasi masing-masing! " jelasku saat menunjukan kamar tidurnya


"Mimpi apa ya pak saya semalam, ini sih namanya rezeki nomplok! Masya Allah....! " Entah terlalu polos atau bego, Dia tuh selalu menjatuhkan ekspetasi ku tentang seorang perempuan


"Disni ada ruang tamu, dan ruang tv jauh lebih luas dari kontrakan kamu, nanti saya akan suruh Kemal antar jemput kamu dan adikmu, jadi kamu nggak perlu repot naik angkutan umum! " jelasku "Gimana kamu mau apartemen ini? "


"Mau pak! wahhh saya sih nggak bakal nolak! " jawabnya cepat "tapi pak! saya cuman jadi pacar pura-pura doang kan? "


"Iya..! tapi kalau kepepet yah jadi istri juga! " celetukku sambil berjalan ke arah sofa


"Maksud bapak? " dia yang saat itu sedang melihat kearah jendela dengan cepat berbalik dan menghampiriku yang sudah duduk di sofa ruang TV


"Yah kalau orang tua saya minta kita menikah, yah mau gak mau! " ledekku sambil mengangkat kakiku dan menopang kan pada kaki lainnya dengan tangan yang ku lipat di dada


"Kalau gitu saya nggak mau! " tolaknya. Raut wajahnya berubah kesal


"Yakin kamu nggak mau? konsekuensinya kamu akan kehilangan pekerjaan kamu loh! " Kiand hanya terdiam, mungkin saat ini dia sedang berada dalam sebuah dilema


"loh nggak bisa gitu pak! " protesnya


"Kenapa nggak bisa? perusahaan, perusahaan saya, saya bebas mau pecat atau mempertahankan karyawan! " jawabku santai


"Hmm dasar orang kaya mesum! " gumamnya, tapi aku bisa mendengar jelas suaranya


"Siapa yang mesum? "


"Itu tadi ada kucing mesum! " jawabny dengan ekspresinya yang menggemaskan, Kiand memang wanita biasa, tapi entah kenapa dia selalu bisa membuatku terkagum-kagum dengan sikap cueknya, jika dulu aku berekspetasi bahwa semua perempuan itu akan bersikap feminin, lembut, ramah, tapi tidak ku temukan pada diri Kiand, dan itu yang membuat Kiand berbeda.