For A Great Love

For A Great Love
episode 82 luka itu kembali



Selesai meeting, aku merapikan beberapa kertas yang sempat wulan bawa sebelum kami keluar ruangan, beberapa atasan HRD dan kepala tim kreatif sedang berbincang dengan Pak Pandu. Setelah semua rapi, aku langsung keluar ruangan bersama wulan dan Daniel, Pak Pandu sempat menoleh ke arahku saat aku hendak keluar pintu, tapi ku abaikan.


"Ki, kamu kenal sama atasan baru kita? " tanya Wulan


"eng.. enggak...! " jawabku kikuk


"Tapi aku perhatiin, dari tadi atasan baru kita liatin kamu kaya ada sesuatu gitu" terka Wulan


Aku tidak begitu memperhatikan tatapan Pak Pandu karena sepanjang meeting aku hanya menunduk, mencoba mengalihkan tatapanku


"apa jangan-jangan atasan baru kita, suka sama kamu kiand! " Ujar Wulan sok menyimpulkan meski itu memang benar,


"heh.. dia udah punya tunangan tahu, mana mungkin dia suka sama kiand" sambar Daniel, mendengar ucapan Daniel hatiku terasa sakit, dan ternyata meski kami di pertemukan kembali, kenyataan jika kami tidak mungkin bersatu itu tetap ada


"emang dia udah punya tunangan? " tanya Wulan dengan gayanya yang kepo


"iya, kata Pak Louis, kalau nggak salah dia kesini sama tunangannya" jawab Daniel, aku hanya terdiam mendengar perbincangan mereka,


siapa sebenarnya tunangan Pak Pandu? dia pasti jauh lebih cantik dariku, dan yang lebih utama, kelas mereka sejajar. gumam ku dalam hatu


"heh kiand, bengong...! " wulan menepuk pundakku, saat kami berjalan menuju meja kerja yang berada di lantai 1 "ayo masuk! " titah wulan ternyata kita sudah berada di depan lift


"ohh iya... " jawabku kikuk


"kamu kenapa sih? dari tadi meeting kita liatin kaya ada yang di pikirin? " tanya Daniel


"Ohh enggak kok, aku cuman kikuk aja, karena ini pertama kalinya aku ikut meeting dengan tim kalian " jawabku sedikit berbohong, aku tak ingin mengatakan apapun tentang pak pandu dan sebaiknya aku harus berpura-pura tak mengenalnya


"Kiand, kiand kamu kikuk, tapi persentasi kamu tadi itu bagus banget, kaya bukan persentasi karyawan baru loh! " Wulan merangkul bahuku sambil kami keluar lift


"hehe bisa aja ! "


"lain kali sepertinya perpersentasian bisa di handle kiand nih! " seru Daniel


Aku menyipitkan mata ke arah Daniel "maksudnya? Daniel dan Wulan tertawa kecil dan kami kembali ke meja kerja kami


" gara-gara bos baru seperti biasa kita memberikan loyalitas waktu kita buat perusahaan! " ujar wulan sambil merapikaneja kerjanya


"Padahal kalau hitung lembur lumayan nih buat beli bakso ! " sahut Daniel dari mejanya yang terhalang oleh dua meja kosong


"Kamu pulang kemana Ki? " tanya Wulan


"Aku kebetulan ngontrak di jalan Darmo no 8 " jawabku


"Dekat rumah sakit? " tanya Daniel


aku manggut-manggut menjawab pertanyaan Daniel


"Itu sih enggak jauh dari rumah aku" Ujar Wulan "Gimana kalau kita pulang bareng? " ajaknya


"Boleh...! " jawabku.


Kami mulai bersiap untuk pulang, kata Wulan biasanya kita pulang jam 4 sore, tapi karena ada meeting tadi kita terpaksa pulang jam 4. lewat 40 menit.


Saat kami akan meninggalkan meja, aku berpapasan dengan pak louis dan Pak Pandu tentunya, mereka terlihat sedang berbincang seru, bersama dua atasan lainnya.


"Sore Pak ! " sapa Wulan. terpaksa kami harus menghentikan langkah kami. Aku sudah mengalihkan Pandangan, tapi Pak Pandu terus menatapku, membuat aku jadi salah tingkah


" Sore...! " jawab Pak Pandu dan yang lainnya " Kalian mau pulang? "


"Iya pak! " jawab Wulan aku hanya diam menunduk di samping wulan dan Daniel


"Oke.. oke! kalian ini anak buah pak louis bukan? " tanyanya lagi


"Iya pak! " lagi-lagi hanya wulan dan Daniel yang menjawab


"Iya pak, mereka adalah tim kreatif, ini Wulan , itu Daniel dan itu karyawan baru disini, yang tadi persentasi namanya ... " Pak Louis terhenti dia seperti lupa dengan namaku


"Kiand pak! " seru Wulan


"Ohhh... ya.. ya..! saya Pandu! " Pak Pandu mengulurkan tangannya ke arah Wulan dan langsung di sambut oleh Wulan dan Daniel, diapun mengulurkan tangannya kearahku, dadaku lagi-lagi bergetar, sudah hampir satu bulan setelah aku meninggalkannya aku tak lagi menyentuh tangan lembut itu, dan kali ini aku akan menyentuhnya lagi


"Kiand! " suara Pak Louis mengagetkanku


"Ohh i.. iya...! " dengan gemetar aku sambut uluran tangan Pak Pandu


"Kiand! " ucapku...


"Pandu " balasnya


Kami kembali di pertemukan, seperti sebuah lembaran buku baru, yang menungguku kembali menuliskan cerita pertemuan kita.


Sepanjang jalan pulang aku hanya diam, aku bimbang aku harus apa? antara merasakan kesenangan karena rindu yang terobati atau sedih karena luka lama yang sedang ku sembuhkan akan kembali tergores.


"Ki... kalau di perhatiin Pak Pandu naksir kali ya sama kamu! " ujar Wulan saat kami jalan meyusuri trotoar


"ahhh enggak mungkin Wulan, kamu salah merhatiin kali" sanggahku


"Ini sih baru tebakan aku ya, tebakan itu bisa salah bisa benar, tapi dari tatapan Pak Pandu saat di kantor tadi aku liatnya kaya ada sesuatu gitu, beda cara dia liat kamu sama liat aku" katanya tampak yakin dengan ucapan


"berarti tebakan kamu jelas-jelas salah, lagian nggak denger kata Daniel kalau Pak Pandu udah bertunangan " sahutku dengan nada putus asa.


wulan berdecak sebal " iya ya, kenapa dia sudah bertunangan, padahal aku juga naksir"


"Hush nggak boleh naksir tunangan orang" bisikku


terlihat sebuah mobil alphard hitam menghampiri kami, mobil itu berhenti tepat di samping trotoar


aku dan Wulan saling menatap, kami bingung mau apa mobil itu berhenti.


jendela mobil alphard itu terbuka perlahan, dan ternyata itu Pak Pandu


"Hei, kok jalan? rumah kalian dekat dari sini? " tanyanya ramah. aku hanya terdiam menatapnya, kenapa dia ada disini gumamku


"ehh Pak Pandu..." ujar Wulan "deket kok pak, kita mau naik angkot di depan" jawab Wulan


"Mau bareng sama saya? " tanya pak pandu


"enggak pak ! "


"boleh "


sahutku dan wulan berbarengan, wulan menatapku seolahemberi kode agar aku menerima tawaran Pak Pandu


"gimana jadi mau nggak? " tanya pak pandu lagi


"mau...! "


"enggak...! "


lagi-lagi kami menjawab secara bersamaan


"Ki... ayolah! " bisik Wulan


"kalau kamu mau naik mobil pak pandu naik aja, aku enggak deh " tolakku


"Ahhh kiand ayolah...! " paksa wulan. aku semoat melirik kearah pak pandu yang berada di dalam mobil, ia mengedipkan matanya seolah memintaku ikut dengannya


"Ayo, dari pada kalian jalan" ujar Pak Pandu


Seolah tak punya pilihan lain, aku pun mengikuti peemintaan wulan untuk menerima ajakan Pak Pandu, masih teringat kata-kata Daniel tadi di kantor, kalau Pak Pandu sudah bertunangan, ingin rasanya aku menanyakan kebenaran itu, tapi bibirku terasa kaku.


Di dalam mobil aku hanya diam menunduk, sekali-kali aku melihat ponselku, aku mengirim pesan pada Kak Nanda tentang Pertemuanku dengan Pak Pandu, tapi sepertinya Kak Nanda sibuk, ia belum membaca pesanku.


"Wulan kamu tinggal dimana? " tanya Pak Pandu


"Di jalan Darmo pak! tapi aku masih masuk kedalam gang" jawab Wulan


"Ohh jadi siapa dulu yang saya antar pulang? "


"sepertinya saya dulu pak! karena Kiand masih di depan dia dekat rumah sakit kontrakannya"


Aku tak banyak bicara saat itu, Pak Pandu lebih banyak bertanya pada wulan, mungkin dia tahu saat ini kebersamaan ku tidak senyaman dulu.


Pak Pandu menurunkan Wulan terlebih dahulu, awalnya aku meminta turun bersama Wulan, tapi Pak Pandu menahanku. teroaksa aku tetap berada di dalam mobil Pak Pandu, hanya ada aku, pak pandu dan seorang supir.


"Pak Norman bisa bapak pulang naik taxi online? " tanya Pak Pandu pada seorang pria kurang lebih berusia 40tahunan, aku sedikit terkejut saat pak pandu berbicara seperti itu, perasaanku mulai tak enak, aku yakin pak pandu hanya ingin ada aku dan dia di mobil ini


"ohh bisa pak! tapi kalau bu monic tanya, saya jawab apa? " tanya pria yang masih berada di kursi kemudi


"bilang aja, saya mau putar-putar surabaya , saya nggak akan lama kok" jawabnya.


Nama monic begitu asing di telingaku, apa itu wanita yang di bilang tunangan Pak Pandu? pertanyaan itu mulai mengganggu pikiranku, aku masih tak rela jika ada wanita lain yang mengisi hati pak pandu, tapi tak ada yang bisa aku lakukan.


"Ya sudah, Pak Pandu yakin mau bawa mobil sendiri? "


"Iya pak! udah Pak norman pulang dan istirahat, ini buat bayar ongkos taxi onlinenya" Pak Pandu menyerahkan uang entah berapa lembar pada Pria yang bernama Norman


"baik pak terima kasih! pak pandu hati-hati ya"


Setelah Pak Norman meninggalkan mobil, Pak Pandu berpindah posisi, ia kini duduk di kursi kemudi, sedang aku masih duduk di kursi belakang.


"enggak mau pindah ke depan? " tanyanya


Aku hanya menggelengkan kepala, rasanya aneh berada di dekat Pak Pandu, dulu aku merasa nyaman, tapi kali ini, entahlah...aku teringat kembali kata-kata Pak Bagaskara saat itu, dan aku pun sudah berjanji untuk menjauh dari Pak Pandu, tapi nyatanya Tuhan kembali mempertemukan kami


"Kalau kaya gini, saya jadi kaya supir" ujaranya terdengar ringan seolah tanpa beban, sangat berbeda denganku aku begitu gugup dan kikuk


"lebih baik saya turun aja pak! " ujarku sambil mencoba membuka pintu, ternyata pintu mobil sudah terkunci.


"Saya akan antarkan kamu pulang, ya udah nggak papa kamu tetap duduk di belakang" ujarnya menyerah


Pak Pandu mulai melajukan kendaraannya, tapi dia tidak menanyakan alamat ku dimana, bahkan dia juga tidak menanyakan arah yang akan dia tuju untuk sampai ke rumah ku


" pak ini bukan jalan ke rumah saya" ujarku panik, aku terus menatap keluar mobil dari balik jendela, ini jelas-jelas bukan arah menuju rumahku


"saya tahu! saya hanya ingin mengajakkumu ke sesuatu tempat" ujar Pak Pandu santai


"Pak maaf, orang rumah pasti khawatir kalau saya pulang telat, jadi saya mohon antarkan saya pulang, "


"saya pasti akan mengantarkan kamu pulang, kamu tenang saja"


"tapi ini bukan arah ke pulang pak! "


"yah memang! "


"Pak tolong, jangan buat masalah lagi di hidup saya! tolong pak, saya baru menata diri dan hati saya, jangan buat semuanya kembali runyam "