For A Great Love

For A Great Love
epesiode 100 terbuka



POV Pandu


"Lo gimana sih jef, masa jagain kiand gitu aja masih kecolongan? " tanyaku kesal, saat di hubungi jefry kalau kiand gak di rumah


"gue nggak liat dia keluar du, body guard di depan juga udah nganter kiand ke respsionis, ehh taunya kiand kabur, dan terakhir gue dapet pesan, kiand ada di tempat mommy jasmin" jelas jefry


Aku benar-benar di buat nggak karuan, aku masih di surabaya saat jefry bilang kalau kiand ada di rumah momy jasmin


"Gue terbang ke jakarta sekarang, lo dan yang lainnya, langsung ke lokasi" ujarku


Tanpa pikir panjang, aku segera mencari tiket penerbangan untunglah aku mendapatkan jadwal penervangan jam 1 siang.


Selama perjalanan, aku terus berusaha menghubungi kiand, tapi ponselnya tak aktif, aku juga langsung menghubungi yoga, untuk membantu jefry. Saat ini aku benar-benar tak bisa apa-apa, perjalanan udara 1,5 jam terasa sangat lama untukku apa lagi setelah take off aku tak bisa menghubungi siapapun.


Tepat pukul 2.45 siang pesawatku landing, dan aku sudah meminta pak sapto salah satu supir kantor untuk menjemputku di bandara. Aku langsung melesat menuju rumah mommy jasmin, tapi sesampainya disana aku melihat jefry hanya menggelengkan kepalanya


"maksud lo? " tanyaku


"kiand sama arga gak disini Du" jawab Bintang


saat itu aku merasa diriku tak berguna, untuk menjaga kiand pun aku tak mampu. Bintang menghampiriku yang sudah lunglai, dengan semua pikiran buruk di kepalaku


"Gue yakin, ada seseorang di balik mommy jasmin" ujar jefry


"yah, aku sependapat sama jefry! " ujar Bintang


"aku juga mikir begitu bi, tapi aku gak tahu siapa di belakang mommy jasmin ini! " ujarku pada Bintang


"Du, lo inget club malam pertama kita ketemu mommy jasmin? " tanya Jefry


"Iya gue inget! " jawabku


"Malam ini kita kesana! "


"oke...! " jawabku


"apa perlu kita bawa polisi? " tanya bintang


"nggak usah bi, kiand dan arga baru hilang beberapa jam, dan polisi nggak mungkin terima laporan kita! " jawab jefry.


Tidak ada yang bisa kami lakukan disini, alhasil kita memilih kembali ke apartemen, kita nggak boleh gegabah, keselamatan kiand dan arga sedang di pertaruhkan saat ini.


Di Apartemen kami bersikap biasa saja, aku tak mau Bi Nur dan Ayah Kiand tahu, keadaan kedua anaknya, akupun harus berbohong saat Bi Nur menanyakan keberadaan Kiand.


...****************...


jam menunjukan pukul 12 malam, aku, yoga, jefry, dan Bintang bersama-sama menuju club malam mommy jasmin, sedang noval menjaga Bi Nur dan Ayah kiand. suasana club malam cukup ramai, oranga-orang sedang menikmati malam mereka, dengan alunan lagu yang begitu keras, tetiba aku melihat seorang wanita yang sempat ku lihat dulu kalau gak salah wanita itu adalah orang yang dulu di tolong oleh noval.


"kalian tunggu disini, gue ada perlu sebentar! " titahku


Aku langsung berlari mengejar wanita itu, yang berjalan di antara kerumunan, hampir saja aku kehilangan jejaknya, untunglah kami bertemu di parkiran


"tunggu! " teriakku


berbeda dengan suasana di dalam, di luar club begitu sepi, tak ada orang lalu lalang ataupun suara musik yang bergema


"heyyyy!!! " teriakku lagi dan wanita itu menghentikan langkahnya


"kamu panggil saya? " tanyanya


"i... i.. iya..! " dengan nafas tersenggal senggal aku menjawab


"ada apa ya? maaf malam ini saya sedang tidak bertugas, " ujarnya, mungkin dia mengira aku akan menyewanya malam ini seperti pria hidung belang lainnya


"oohhh ennggak... enggak... saya bukan laki-laki seperti itu" jawabku sambil mengatur ritme nafasku


"tunggu sebentar! " aku meminta waktu agar nafasku kembali normal "saya pernah melihat kamu bersama seorang pria bernama arga! " ujarku


sontak wanita itu terkejut, dia hendak lari, tapi dengan cepat aku meraih tangannya


"please tunggu, jangan pergi! saya butuh bantuan kamu! " ujarku


"maaf, saya nggak tahu pria itu, saya harus pergi! " ujarnya sambil menarik tangannya yang masih ku genggam


"saya nggak mungkin salah orang, saya yakin kamu adalah wanita itu, arga dan kiand sedang dalam masalah, dan itu karena kamu! sekarang mereka di sekap momy jasmin, jadi aku mohon kasih tahu, dimana mereka? "


"saya benar nggak tahu dimana mereka!" ujarnya, tapi aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku


"kamu yakin? lalu kenapa kamu masih disini, bukannya kamu dulu pergi karena tidak ingin menjadi wanita pekerja malam? " tanyaku


"itu bukan urusan kamu! jadi tolong lepasin tangan saya "


"saya nggak akan lepasin tangan kamu, sebelum kamu kasih tahu, dimana arga dan kiand! "


"saya nggak tahu! " teriaknya "tolong lepasin!" paksanya


" tolong, kiand adalah wanita berharga buat saya, saya sangat mencintai kiand, saya nggak bisa memaafkan diri saya jika terjadi apa-apa pada kiand dan adiknya " ujarku mengiba "kamu ingat, bagaimana arga tulus membantu kamu saat itu! lalu sekarang kamu diam aja, saat tahu arga sedang dalam masalah"


Wanita itu tampak tertunduk, dan aku melepaskan tangannya


"Semua yang terjadi sama arga itu karena saya,saya sudah menjebak arga, hingga arga di tahan oleh mommy jasmin," jelasnya


"terus mereka dimana? " tanyaku tak sabar


"saya cuman suruh jebak arga, selebihnya saya nggak tahu" ujar wanita itu "ehh tunggu, terakhir saya denger seseorang bilang bahwa mereka menuju jalan Anyar di daerah jakarta selatan, kalau nggak salah tadi bilangnya Pondok Eyang, yah iya pondok eyang! "


"pondok eyang? kak candra...! " gumamku


"ehhh ya udah ya, saya takut ada yang liat kita! " ujarnya, dan langsung pergi begitu saja


Benar dugaan ku, kak candra juga ikut andil dalam masalah ini, aku segera menghubungi jefry untuk menuju ke rumah yang menjadi rumah masa kecilku dan kak candra, kebetulan di depan gang ada sebuah ojek yang mangkal, dan aku pikir menggunakan ojek akan lebih cepat sampai, dari pada aku menggunakan mobil


Amarahku benar-benar memuncak, tak habis pikir dengan semua yang di lakukan kak candra, apa yang dia mau dariku sebenarnya?


"pak jalanan kosong, tolong lebih ngebut lagi! " pintaku


"baik mas! "


bapak ojek itu mempercepat laju motornya, untunglah malam hari suasana jalanan benar-benar sepi, sehingga aku hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk sampai kesini.


"nih pak, kembaliannya ambil aja! " aku menyodorkan uang 100rb pada pengendara motor, dan langsung meninggalkannya. Pagar rumah ini masih sama seperti dulu. Rumah yang terlihat klasik dan mewah pada zamannya, disinilah dulu aku dan keluargaku tinggal. Rumah ini adalah warisan dari eyang orang tua papi, setelah eyang meninggal, kamilah yang menempati rumah ini, sambil papi meniti usaha yang ia geluti sampai saat ini, tangis tawa, kebersamaan, canda gurau, semua terpancar di rumah ini,aku dan kak candra memang tidak begitu berhubungan baik dari kecil, tapi aku bisa merasakan sedikit perhatiannya saat kami tinggal di rumah ini.


Aku terus berjalan menuju taman kecil yang biasa kami lewati sebelum kami sampai di pintu rumah, rumah ini seperti tidak ada siapa-siapa, karena aku tidak melihat seorangpun disini, bahkan aku sama sekali tidak melihat kendaraan, baik motor ataupun mobil, penjaga yang biasa berjaga pun tak terlihat.


perlahan ku buka pintu rumah, yang ternyata tidak terkunci, rumah tua ini masih terawat, beberapa foto keluarga kami masih terpajang tanpa ada yang berbeda sedikitpun


"Kiand.... Arga! " panggilku, sambil terus berusaha mencari mereka meski tak ada tanda-tanda apapun disini


"kiand! kiand kamu disini? " aku terus memanggil namanya, berharap mereka ada di rumah ini


aku menaiki anak tangga, untuk melihat apa mungkin mereka ada di lantai atas tapi mereka juga tidak ada disini


"kiand, kamu bisa denger aku? " teriakku lagi


ku buka pintu kamar satu persatu, dan saat hendak membuka pintu kamar aku mendengar seseorang menjatuhkan benda aku kembali turun ke lantai bawah, menuju asal suara tadi, tapi aku hanya melihat seekor kucing.


aku berjalan menyusuri lorong, yang menjadi penghubung antara rumah utama dan rumah kecil, kali ini aku berjalan perlahan, karena aku melihat sebuah bayangan yang sedang berdiri tak jauh dari dapur.


aku menindik nindi, bersembunyi di balik tiang, sampai aku melihat mereka ada di rumah ini. kekecewaan ku semakin meradang saat ku lihat ternyata mereka bersekongkol, monic, dan pak wijaya juga ada disini, tapi aku tidak melihat kiand ataupun arga.