
POV KIAND
Kepalaku terasa sakit, matakupun berat apa yang terjadi denganku? aku kembali mengingat kejadian sebelumnya.
saat itu aku melihat pak pandu tengah makan dengan pak jefry dan Kak Nanda, aku mendengar semua alasan Pak Pandu sangat sulit di hubungi belakangan ini, dan aku memilih untuk pergi dengan rasa kecewa.
Aku mengajak kak nanda menemaniku ke club malam, hanya untuk sebuah alibi, agar kak nanda memberi tahu pak pandu, aku yakin pak pandu akan datang,
Aku melihat kondisiku yang tak karuan, bahkan aku mencium bau alkohol di tubuhku, ini untuk pertama kalinya aku menyentuh minuman haram itu, Ku turuni Kasur perlahan, dengan menjadikan benda-benda di kamar sebagai penopang tubuhku, karena aku masih merasa lemah
Saat keluar kamar, ku lihat Pak Pandu tengah tertidur di sofa, Rasa marah, kesal benci namun rindu bercampur aduk di hatiku, aku mencoba tak menghiraukannya, namun saat hendak ke toilet, tanpa sengaja aku menjatuhkan buku yang berada di atas meja hingga membuat Pak Pandu terbangun.
"Kiand! " Pak Pandu langsung menghampiriku, dan mencoba memapahku, namun dengan cepat ku tolak
"Aku nggak papa! " jawabku ketus
"Kiand, kamu masih lemas, aku bantu kamu ya, kamu mau kemana? " tanyanya
"Mau ke kamar mandi! kenapa ? mau ikut ? " tanyaku lagi-lagi dengan nada ketus
"Aku antar sampai depan pintu kamar mandi ya! " pintanya
"nggak usah, aku udah gede, bisa jalan sendiri! "
"ki,... "
"pak pandu masih perduli? " pertanyaan sekaligus sebuah sindiran untuknya
"Yah aku masih perduli! aku nggak mau sampai nanti kamu jatuh! " jawabnya
"jatuh nggak sakit, dari pada di ghosting! " jawabku
"Kiand, aku tahu kamu marah! aku minta maaf, aku bisa jelaskan semuanya! "
"nggak perlu, aku udah tahu, kalau pak pandu sengaja menghindar! selama ini pak pandu anggap aku apa? Kita menjalani hubungan bukan hanya soal kebahagiaan, tapi apapun akan kita hadapi bersama, pak pandu ingat, berapa banyak permasalahanku yang pak pandu selesaikan? berapa banyak ke sulitanku yang pak pandu ringankan? lalu kenapa pak pandu nggak mau berbagi luka, berbagi duka pak pandu sama aku? " Diantara sisa kewarasanku aku berusaha meluapkan semua kekesalan,
"Ki, maaf aku cuman takut... aku belum siap menampakan keterpurukanku di hadapan kamu, aku tahu aku terlalu pengecut, aku pecundang aku minta maaf! "
"Pak pandu memberikan bahu untukku bersandar, lalu untuk siapa bahuku? kita itu pasangan, apapun kita lalui berdua, kita berjuang berdua, jika pak pandu saja tidak mengijinkan ku untuk meringankan beban pak pandu, lalu untuk apa hubungan ini?, untuk apa aku ada disini? "
Pak pandu mencoba menenangkanku, ia hendak menyentuh bahuku, namun lagi-lagi aku tolak
"Kiand, aku minta maaf, aku salah! tapi aku nggak sanggup, seandainya aku harus berbagi kesulitan ini denganmu, "
"Kenapa? pak pandu takut aku terluka? pak pandu takut aku kecewa?" tanyaku " justru dengan cara seperti ini, aku jauh lebih terluka, saat aku tahu orang yang sangat aku sayangi, harus berdiri sendiri di tengah badai besar! "
"kiand aku minta maaf! "
"Aku pernah berada di titik aku hancur sehancur, hancurnya, aku menangis setiap malam, bahkan dalam tidurku aku berpikir bagaimana caraku mengatur hidupku kembali, berkali-kali aku ingin menyerah tapi aku sadar cintaku adalah hidupku, dan pak pandu tahu hal apa yang aku lalui, hingga akhirnya aku benar-benar bangkit dari itu semua? " tanyaku, pak pandu hanya bisa menatapku yang di penuhi dengan emosi "karena aku mempercayai pak pandu ! "
"Ki aku benar-benar minta maaf! " tak ada kalimat lain selain permintaan maaf dari mulut pak pandu
"Sudahlah! aku mau ke kamar mandi! " ujarku berlalu pergi
Satu titik kelemahan manusia ketika di hadapkan di depan orang yang kita cintai, semua amarah mendadak hilang, kemarin ingin rasanya aku menampar pak pandu, mencaci makinya, tapi setelah aku bertemu dengannya, semua tak bisa aku lakukan, aku terlalu mencintainya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian aku kembali ke ruang tamu, pak pandu terlihat masih duduk dengan kepala menunduk, kami mendadak seperti orang asing, tak ada saling sapa, tawa, canda seperti yang biasa kami lakukan, suasana berubah dingin.
Aku berjalan ke dapur, hendak membuat secangkir teh, karena kepalaku masih terasa berat, sambil menunggu air mendidih, aku menyiapkan dua gelas teh untukku dan pak pandu.
kadang aku selalu berpikir, mengapa kisah cintaku terlalu rumit dan berliku, apa karrna aku mencintai seorang pandu?
ngiingiiiiiingiiiinging!!!! suara air dari teko menandakan air sudah mendidih
Aku mengambil teko dan hendak menuangkan ke dalam gelas, tapi entah kenapa, tanganku licin, hingga membuat teko itu sedikit miring, dan air mendidih mengenai tanganku,
"Kiand! " pak pandu yang berada di sofa, langsung loncat dan berlari ke arahku.
"aduhhhh...! " aku meringis tal kuat menahan panas di tanganku
"aku lihat! " pak pandu langsung menarik tanganku dan meniupnya
"Aku nggak papa! " ku tarik tanganku
"tangan kamu merah ki! " dia kembali menarik tanganku
"aku bilang aku nggak papa! " aku hendak menarik kembali tanganku, tapi tenaga pak pandu jauh lebih kuat
"ayo kita obatin dulu! " ujarnya, dia berlari mencari kotak p3k dan kembali dengan membawa obat oles, untuk luka bakar
"Sini...! " titahnya
Dia mengoleskan salap ke tanganku yang tersiram air panas, begitu lembut dan hati-hati
"lain kali tolong hati-hati! " serunya
aku hanya menatapnya, dengan air mata yang tertahan, semua sikap dan perlakuannya, sulit untuk bisa kau lupakan, aku merasa aku sudah bergantung padanya, dan jika dia benar-benar pergi apa aku sanggup menjalani hari-hariku tanpanya
"pak! " panggilku, dia masih meniup tanganku yang semakin memerah
"hmmm! " jawabnya
"apa pak pandu benar-benar harus pergi? " tanyaku dengan dada yang sesak
Dia mengadahkan kepalanya, dan menatapku, membuat air mataku terjatuh,
"maaf kiand, yah aku harus pergi! " mendengar jawaban itu, dadaku semakin sesak, sulit untuk aku terima, air mataku mulai menetes tak tertahan
Melihat kesedihanku, pak pandu menarik tubuhku jatuh ke dalam pelukannya, hal yang selalu membuatku nyaman.
"aku akan selesaikan secepatnya dan segera kembali! " ujarnya
"hmmmm! " jawabku sambil mengangguk meski dengan air mata yang tak mau berhenti, bahkan hingga aku terisak
udah jangan nangis ya! " tangannya membelai rambutku,
"Hmmm! "
pak pandu melepaskan pelukannya, ia menghapus air mataku, dan kembali tersenyum
"tangan kamu nggak papa? " tanyanya lagi
aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, dia kembali melihat tanganku dan meniupnya
"kita ke klinik aja ya, tangan kamu masih merah! " ajaknya
"nggak usah pak, aku nggak papa! " pak pandu terlihat terdiam
"kamu mau teh? " tanyanya
"tadinya, tapi nggak usah deh! "
"biar aku yang buatin aja, kamu istirahat dulu ya! "
pak pandu berjalan mengambil teko, dan kembali memanaskannya di atas kompor, setelah itu menuangkannya ke gelas yang sudah berisi teh dan gula
aku akan merindukan setiap waktu bersamanya, pelukannya, perlakuannya yang membuatku merasa wanita paling beruntung karena telah memilikinya, lalu apakah aku sanggup melalui hari itu?