For A Great Love

For A Great Love
bab 70 di hadapkan pilihan sulit



POV Kiand


Siang menjelang sore Pak Pandu harus meeting ke PT Jaya Wijaya, sedang aku masih mengurus beberapa proposal untuk proyek Pondok Emak, bersama Kak Nanda, Pak Yoga , dan Pak jefry di ruang kerja Pak Pandu.


Tok.. Tok.. Tok... suara ketukan pintu dari luar


"Permisi bu kiand! " ternyata itu karin sekertaris Pak Pandu


"Iya mbak karin ada apa? " tanyaku


Pak Yoga dan Pak jefry saat itu tengah duduk di meja kerja pak pandu, sedang aku dan Kak Nanda sedang berada di sofa


"Maaf Bu Kiand di panggil Pak Bagaskara ke ruangannya" Aku terdiam mendengar nama itu, kami saling berpandangan satu sama lain, ada apa? pikirku


"Oh... iiya Mbak, nanti saya ke ruangan Pak Bagaskara " ujarku terbata-bata


" Baik bu! " Karin kembali ke meja kerjanya


"aduh ngapain bokap pandu manggil lo? " tanya Pak Jefry


aku hanya mengangkat ke dua bahuku "saya nggak tahu"


"Hmm jangan jangan masalah Pak Pandu, aduhhh mana Pak Pandu lagi nggak ada lagi! " sahut Kak Nanda, yang tak kalah cemas dariku


"Aduhh jadi gimana nih! " ujarku takut


"Udah lo dateng aja, gue percaya Pak Bagas nggak akan macem-macem sama lo" ujar Pak Yoga "jangan ada yang bilang apapun sama pandu, biar dia fokus disana"


Kami semua mengangguk, menuruti perintah Pak Yoga. Aku segera meninggalkan ruang kerja Pak Pandu, dan langsung menuju ruang kerja Pak Bagas, yang terletak di lantai yang sama.


"Permisi bu..! " sapa ku pada sekertaris Pak Bagas


"Ohh iya Bu kiand! silahkan masuk Pak Bagas sudah menunggu! " Akupun dengan perlahan membuka pintu, Pak Bagaskara tampak tengah duduk di sebuah kursi yang berada di balik meja, dengan dua orang pengawal yang ada di samping kanan dan kirinya


"Permisi pak! " sapa ku ragu


"Masuk..! " jawabnya, dia sama sekali tidak tersenyum padaku, dia hanya menatapku dan memintaku duduk di kursi yang berada di hadapannya.


"Pasti kamu terkejut saya panggil kesini! " ujar Pak Bagaskara , aku hanya mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa, rasanya aku sedang berada di kursi pesakitan, dan para hakim sedang menatapku, menunggu jawaban yang akan membawaku ke dalam penjara. "Saya sengaja panggil kamu, di saat Pandu tidak ada, karena saya ingin membicarakan hal ini hanya antara kita berdua" ujar pria yang terus memegang sebuah tongkat meski dalam keadaan duduk


"Maaf pak sebelumnya, apa yang ingin Pak Bagaskara bicarakan sama saya? " tanyaku terbata-bata


"Tentang hubungan kalian , kamu dan anak saya! " ujar Pak Bagaskara "Sejauh ini kamu sadar siapa Pandu? " tanyanya


"Yah saya sadar pak! " jawabku menunduk


"Lalu, apa kamu sadar siapa kamu? "


Aku hanya mengangguk


"Lalu kenapa kamu masih nekat mendekati anak saya? " tanyanya


"Saya sayang pak sama Pak Pandu! " jawabku memberanikan diri


"Sayang, yakin kamu menyayanginya tulus? "


"Sangat yakin! "


"Tapi saya tidak yakin! "


Aku benar-benar kehilangan kata-kata, ini benar-benar lebih menegangkan di banding saat aku sidang dulu.


"Kamu tahu, saya bisa berbuat apapun untuk memisahkan hubungan kalian! " lagi-lagi aku hanya mengangguk,


"maaf sebelumnya pak! saya mungkin bukan dari keluarga terpandang, tapi saya punya ketulusan yang orang lain belum tentu memilikinya " ujarku memberanikan diri, meski dengan tangan yang berkeringat, dan kaki yang sedikit gemetar


"Apapun yang menjadi alasan kamu mencintai anak saya, tapi itu tidak saya benarkan! "


"Saya mengerti, dan saya minta maaf untuk hal itu" ujarku, sungguh hatiku sakit, seperti ingin menyerah dengan hubungan ini, tapi sisi lain dari hatiku masih ingin bertahan


"Mungkin saya akan memberikan kamu pilihan, untuk memantapkan keputusanmu" Ujar Pak Bagaskara. Aku yang tak mengerti dengan ucapan Pak Bagaskara, hanya menatapnya penuh pertanyaan


"Lihat ini...! " Pak Bagaskara menyalakan layar televisi yang menempel di dinding , tampak sebuah rekaman mulai di putar, awalnya aku biasa saja, namun saat aku melihat seseorang yang ku kenal di rekaman itu, aku langsung terkejut, dalam rekaman itu terlihat, ayah tengah berbaring di sebuah kasur rumah sakit, dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.


"Ayah!!! " teriakku


"Yah itu ayahmu, kondisinya sedang kritis, sekarang dia sedang berada di rumah sakit dan masih dalam perawatan, " Pak Bagaskara menghentikan rekaman itu, hingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan ayah " Sekarang saya kasih dua pilihan, tinggalkan pandu dan pekerjaanmu, atau saya lepaskan semua alat yang di gunakan ayah mu"


Deg!!! hatiku terasa begitu sakit, pilihan itu terlalu sulit untuk ku ambil, jika Pak Bagaskara mencabut semua alat di tubuh ayah, aku yakin ayah tidak akan tertolong, tapi apa aku sanggup meninggalkan Pak Pandu


"Tolong jangan cabut alat ayah saya, dia akan mati jika itu terjadi " pintaku


"Yah, saya tahu kamu anak yang sangat berbakti dan patuh, jadi jelas pilihan kamu sejauh ini? " ranya Pak Bagaskara


Aku tak menyangka pria tua itu begitu jahat dan menyebalkan, dari mana dia tahu keberadaan orang tuaku. Aku hanya bisa diam dan menunduk, mungkin aku memang tidak seharusnya mencintai Pak Pandu, harusnya aku sudah sadar dari awal, siapa diriku, dan siapa Pak Pandu


"Bagaimana? " tanyanya lagi "sepertinya aku harus memperlihatkan sesuatu, agar kamu lebih yakin dengan keputusanmu"


Pak Bagaskara menghampiri salah satu penjaganya, dan tak lama penjaga itu ke luar ruangan


"Apa lagi permainan Anda? " tanyaku kesal


"lihat saja nanti, " jawabnya dengan senyuman licik


Tak lama Pria tadi masuk dan ternyata dia tidak sendiri, dia membawa seseorang, dan lagi-lagi aku terkejut, ternyata orang yang yang dia bawa, adalah Bi Nur, saudaraku yang merawat ayah selama ini "


"Bi Nur? " tanyaku, Dia tampak ketakutan, dan cemas


"Kamu kenal dia bukan? " tanya Pak Bagaskara


"Ini adalah masalah saya dan Anda, harusnya anda tidak melibatkan keluarga saya, apa memang orang kaya seperti anda selalu melakukan hal tanpa memikirkan orang lain? " tanyaku


" Tolong jangan cabut alat yang terpasang pada ayah, saya akan merututi permintaan anda! " pintaku, Ayah adalah orang tua yang ku punya saat ini, aku belum siap ke hilangan ayah.


"Mbak Kiand! " ujar Bi Nur , dia berjalan ke arahku, dan langsung memelukku, di situ air mataku jatuh, aku tak punya kekuatan untuk mempertahankan cinta ini," maaf" ujarku lirih


"Bibi nggak papa? Bibi baik-baik aja? " tanyanku


Dia hanya menggeleng sambil terus menangis,


"Ayahmu terkena serangan jantung saat seseorang menemuinya! " ujar Bi Nur


"Seseorang? " tanyaku, aku menatap Pak Bagas yang masih berdiri di balik meja kerjanya


"Apa maksud anda menemui ayah saya? " tanyaku kesal


"Untuk apa saya menemui ayahmu? saya tidak punya urusan dengannya"


"lalu, siapa yang menemui ayah saya? "


"tanyakan pada saudaramu itu! "


Aku menatap Bi Nur "Bukan dia Kiand! "


"Lalu bagaimana ayah saya bisa bersama orang suruhan anda? " tanyaku


"Dari awal saya tahu jika kamu bukanlah orang yang pandu ceritakan, saya mencari tahu keluargamu, saya pantau siapa kamu sebenernya, dan yah ternyata saya mendapatkan bonus, saat ayahmu justru di bawa kerumah sakit milik keluarga Bagaskara" ujarnya


"Bi, kenapa bibi nggak cerita kondisi ayah? "


"Maaf kiand! tapi orang-oarang besar itu menjaga kami ketat, bibi nggak boleh mengatakan apapun tentang ayahmu"


"Saya tidak mengira, ternyata anda bukan saja orang yang sombong, tapi juga licik! "


Pak Bagaskara hanya tersenyum " Jadi gimana? " tanya pak Bagaskara


"Apa yang harus saya lakukan untuk anda? "


"Tanda tangan surat pengunduran diri ini, dan saya minta, kamu tinggalkan kantor ini saat pandu pergi ke bandung"


"Lalu proyek saya dengan Pak Pandu? "


"Pandu dan yang lainnya bisa menghandle semua, jadi itu bukan alasan untuk kamu tetap berada di perusahaan ini"


Sepertinya, aku tidak punya pilihan lain, nyawa ayah lebih penting dari segalanya, bahkan perasaan ku.


"Baik...! " dengan berat hati aku terpaksa menandatangani surat pengunduran diriku, setiap goresan pena ini membawa luka yang begitu menyakitkan, aku teringat janjiku pada Pak Pandu jika aku akan tetap bersama apapun yang terjadi, seketika desir perasaan bersalah menderaku, tapi pilihan ini begitu berat


"Uang pesangon kamu akan kami transfer ke rekening kamu, dan biaya rumah sakit kami yang akan menanggung semuanya" ujar Pak Bagaskara tanpa sedikitpun memperdulikan perasaanku


"Baik! " jawab ku


"Sekarang silahkan kemasi barang-barang mu, jangan katakan apapun pada teman-teman mu, terutama pandu, saya harap pandu tidak tahu sampai nanti dia pergi ke Bandung, kamu paham! " tegasnya


"Oh ya satu lagi, kamu bisa lihat ini! " Pak Bagaskara menunjukan sebuah foto wanita mengenakan dress putih sedang berpose bak artis "Dia adalah calon untuk pandu, jadi saya harap kamu bisa mengerti wanita seperti apa yang pantas untuk pandu"


Sekarang aku hanya bisa menyadari posisiku, wanita itu cantik, dan yang jelas derajat mereka setara, memilih mundur adalah jalan satu-satunya


Aku melangkah keluar dengan air mata yang berderai, tak ingin yang lain tahu, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh air mataku


"Bi Nur, nanti pulang bareng kiand, Bi Nur tunggu disini, kiand mau ambil tas dulu ya" pintaku


"Iya ki! " jawab Bi nur


Setelah memastikan tak ada jejak air mata di wajahku, aku kembali ke ruang kerna Pak Pandu, aku harus berpura-pura tak terjadi apapun.


"Ki, gimana? " tanya Kak Nanda saat melihatku memasuki ruangan Pak Pandu


"Nggak papa Pak Bagaskara cuman nanyain kerjaan untuk project pondok emak" jawb ku terpaksa berbohong


"Lo yakin nggak ada apa-apa? " tanya Pak Jefry


"Yakin! " jawabku


"Kok lama banget? " tanya Pak Yoga


"Ohh itu, kebetulan ada Bibi saya dari kampung, ngasih tahu kalau ayah saya masuk rumah sakit" ujar ku


"serius ki? " tanya kak nanda


"Iya, makanya sorry ya, kayanya saya harus pulang" pintaku


"Hmmm kiand! ya udah nggak papa pulang aja, lo mau langsung ke kampung? " tanya kak nanda


"belum sih kayanya besok, sekarang aku mau cari tiket bis dulu"


"Pandu udah tahu? " tanya Pak Yoga


"Belum! " jawabku sambil menggelengkan kepala "Tolong jangan bilang apapun sama Pak Pandu ya, nanti malam saya masih ikut ke acara makan malam kok, besok baru saya berangkat, tapi please jangan bilang apapun ke pak pandu" pintaku pada mereka


"kenapa? " tanya pak Yoga


"Saya nggak mau nambah beban pikiran pak pandu! kasian, banyak yang dia pikirkan"


"Ya udah iya, kita nggak akan bilang apapun ke pandu, tapi lo jujur kan sama kita! nggak ada yang lo sembunyiin? " cecar Pak Jefry


aku hanya mengangguk ragu, "maafin aku" batinku


Sebelum aku pulang, aku memeluk mereka satu persatu, mungkin setelah acara makan malam itu aku tidak akan bertemu dengan orang-orang baik dan perduli seperti mereka.