
"aku cuman ketemu bintang sebentar" jelasku, saat kami jalan bersama menuju ruang meeting
"Ini pengakuan atau penjelasan" bisik Kiand
"Dua-duanya" balasku membisikan ke telinganya
"oke, pengakuan, dan penjelasan saya terima" jawabnya
"makasih... "
kami saling tersenyum sebelum masuk ke ruang meeting.
Suasana mulai menegang, saat Papi sudah membuka meeting hari ini, aku sempat melihat ke arah kak candra, dia lebih santai dari sebelumnya.
Setelah papi membuka meeting pagi ini, dia meminta para direksi untuk memberikan votting, persentasi siapa yang dapat di terima oleh mereka. Disini aku tak bersemangat seperti awal, aku atau kak candra yang menang nantinya, aku akan memberikan posisi ini untuk kak candra, setidaknya dengan cara seperti itu aku tidak merasa bersalah.
Voting sedang berlangsung, kiand yang duduk persis di samping, terus menenangkan ku yang terlihat sekali mulai tegang, sedang yoga, jefry dan lainnya sibuk berdoa, aku bahkan tidak mengerti doa apa yang mereka baca.
Voting di lakukan menggunakan e-votting yang terhubung langsung denga laptop milik papi, jadi papi sudah bisa melihat hasilnya lebih dulu sebelum kami, aku melihat ada ketenangan terpancar dari mata papi, tapi aku belum bisa menyimpulkan siapa yang mendapatkan votting terbanyak, aku atau kak candra.
Selang beberapa menit papi mengumumkan jika proposal akulah yang lebih banyak di pilih olehlh para dewan direksi, Yoga, Jefry, Nanda, dan Kiand terlihat begitu gembira, tapi kali ini akulah yang di buat dilema. aku berniat menyerahkan jabatanku pada kak candra, tapi melihat kegembiraan mereka rasanya tidak adil jika aku memberikan keberhasilanku begitu saja tanpa berdiskusi dengan mereka.
...***************...
selesai meeting, kami bergegas menuju ruang kerja, tapi sebelumnya aku memutuskan menemui papi terlebih dahulu di ruangannya, aku teringat saat karin memintaku menghadiri rapat mengenai perjanjian kerja sama dengan pt jaya wijaya
Tok Tok Tok ku ketuk pintu ruangan papi
"masuk...! "
perlahan ku memasuki ruangannya, ruangan yang tidak pernah berubah, meski beberapa kali kak candra hendak merubahnya, papi selalu bilang, selama papi belum menetapkan siapa presdir yang menggantikan papi, biarlah ruangan ini seperti apa adanya
"Ada apa du? " tanya papi, dia begitu serius melihat beberapa majalah
"papi sibuk? " tanyaku
"Nggak, ada apa? " papi menaruh majalah yang ia baca sebelumnya,
"ada yang pandu ingin tanyakan! "
"duduk! "
aku duduk tepat di hadapan papi, wajahnya lebih teduh, tidak seperti dulu.
"tadi karin memberitahu pandu, kalau pandu akan menghadiri meeting dengan utusan pt jaya wijaya, apa itu benar? " tanyaku
"ohh itu..mmm!! papi memang menyuruh karin mengosongkan jadwal mu di jam itu, kamu harus ketemu pak wira dan anaknya, kita akan bekerja sama dengan beliau, pak wira adalah teman papj, kami menggeluti usaha di bidang yang sama, dan kemarin pak wira sedang membangun sebuah tempat wisata alam di daerah bandung, papi memang belum melihat tempatnya, tapi kalau di lihat dari denah yang pak wira tunjukan, tempatnya bagus dan strategis, papi berniat untuk ikut andil dalam proyek ini" jelasnya
"kenapa harus pandu? "
"melihat proposal yang kamu buat, papi yakin proyek ini lebih cocok kamu yang pegang, Sesuai kesepakan Kak candra juga sudah harus mengurus hotel yang ada di malaysia , jadi biarlah dia fokus mempersiapkan semuanya, toh kamu yang akan menjadi presdir di perusahaan ini, jadi kamu harus lebih sering terjun langaung menangani setiap proyek yang akan perusahaan garap "
"Pi, itu yang ingin pandu bicarakan sama papi"
"maksudnya ? "
"soal jabatan presdir, pandu tidak akan menerima jabatan itu pi, kak candra lebih cocok! "
"Pandu, bukannya kemarin kamu yang menggebu-gebu untuk merebut kursi presdir, kenapa sekarang kamu justru ingin menyerahkan jabatanmu pada kak candra? apa karena kamu tahu kebenaran yang terjadi? "
"Pi, kak Candra sudah banyak berkorban untuk pandu, anggap saja, jabatan ini sebagai bayaran hutang budi pandu, walau pandu tahu, sampai kapanpun pengorbanan kak candra tidak bisa pandu balas"
Papi menarik napas panjang, dia terdiam, dan menatapku.
"pandu, bukan kakak mu yang banyak berkorban, tapi kamu, dan satu hal lagi, perusahaan sedang tidak baik-baik saja, selama di pegang kakakmu, itu alasan kenapa papi mantap memberikan jabatan ini sama kamu, karena seandainya kakakmu terlibat kamu orang pertama yang akan mengetahuinya"
selama ini aku memang melihat banyak kejanggalan dalam pengelolaan keuangan, ada beberapa transaksi yang di luar kebutuhan kantor, tapi sejauh ini aku belum bisa fokus mengaudit keuangan kantor, karena kemarin aku sedang tidak baik-baik saja
" hmmm baik kalau pi! "
"satu minggu? pandu nggak berangkat sendiri kan? " tanyaku , aku harap aku bisa membawa kiand
"Kamu bisa pergi dengan yoga, sepertinya dia lebih cocok " jawabnya
"ohh.. baik pi! "
"Jangan berpikir kamu akan pergi dengan wanita itu, sampai kapanpun papi tidak akan menyetujui hubungan kalian" yah dia tetaplah papi yang teguh dengan prinsipnya
"Iya pandu tahu, tapi papi juga harus tahu, pandu tidak akan mudah melepaskan kiand! "
"kamu memang keras kepala! " ujarnya "sudah sana, kerjakan tugasmu, jangan buat papi kecewa! "
Aku kembali ke ruang kerjaku, tapi di tengah perjalanan aku berpapasan dengan kak candra dan bintang, tadi bintang memang tidak hadir saat meeting, karena dia harus mengurus perusahannya di global hotel.
ku hentikan langkahku saat berhadapan dengan kak candra, tatapannya masih menyimpan kebencian kau bisa merasakan itu.
"sekarang lo bisa menang, tapi itu nggak akan bertahan lama! " kata-katanya terdengar seperti sebuah ancaman, aku mengerti itu bentuk kekecewaannya padaku, dan aku memakluminya
"Gue nggak minta untuk berada di posisi ini, tapi sepertinya sekarang gue harus ada di posisi ini" ucapku
Kak candra tidak mengatakan apapun, dia berlalu pergi dengan menggandeng tangan bintang.
Ku abaikan pertemuanku dengan kak candra, mungkin sudah menjadi jalan hidupku menjadi adik yang tidak di inginkan , seberapa keras aku mencari kasih sayang kaka candra, nyatanya tidak pernah aku dapatkan.
ku buka pintu ruang kerjaku, Jefry, Yoga, Nanda dan kian, nampak sedang tertawa membahas sesuatu, entah apa yang mereka bicarakan
Aku langsung berjalan dan duduk di samping kiand
"sepertinya, kalian harus merayakan keberhasilan ini tanpa gue! " ujarku setelah menjatuhkan tubuhku pada sebuah sofa panjang
"kenapa lo? " tanya jefry
"Pak Pandu mau kemana? " tanya kiand
"Saya masih ada meeting sore ini" jawabku
"ohhhh... " kiand mengangguk
"ya udah gimana kalau kita rayakan sambil dinner aja! " saran nanda
"nah ide bagus tuh! " sambut jefry "lo meeting sampe jam berapa? "
"gue nggak tahu yang jelas abis makan siang gue langsung ke pt jawa wijaya "
"bisa kali ya jam 8 di owl resto...! " ujar jefry
"gue rasa bisa sih... "
"saya nggak tahu di mana tempatnya! " ujar kiand dengan polosnya
"kamu lupa, kalau kamu punya pacar? " tanyaku
"hmmm pak pandu mau jemput saya? "
"terus, kamu pikir saya bakal biatin kamu di antar cowok itu lagi, siap namanya? "
"noval pak pandu....! " jawab nanda
"yah itu dia! "
"Nggak usah posesif gitu lah bro...! " ujar jefry sambil menepuk bahuku
"bukan posesif, gue cuman menjaga apa yang gue milikin! "
"ohhhh sweeetnya!!!!!! " seru nanda, dengan gayanya yang manja, aku sempat menangkap lirikan yoga yang berbeda pada nanda, tapi saat yoga menyadari dia dengan cepat mengalihkan pandangannya pada benda lain.
"Ya udah, setelah proposal kita sudah di acc oleh dewan direksi, kita akan kerja lebih keras, karena akan banyak pertemuan kedepannya, semangat!!!!! " ujarku.