For A Great Love

For A Great Love
epusode 83 i'm still missing you



POV Pandu


Sepeninggalan Kiand, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Aku terus menyibukan diri agar nama kiand tidak terus hadir di pikiranku. Aku pernah mencintai dan aku tersakiti, karena di tinggalkan, di saat aku menata hatiku dan mencoba melangkah, langkah itu harus terhenti, aku di paksa mundur oleh keadaan, meski langkah yang ku ambil sudah begitu jauh.


Ada Cinta yang harus di bunuh secara paksa, sehingga ada perasaan yang terpaksa harus di sudahi.


Setelah beberapa hari di rawat akhirnya Papi di perbolehkan pulang oleh Dokter, saat itu aku hendak menjemput Papi dan Mami, ternyata mereka tidak hanya berdua, teenyata ada Pak Wijaya dan keluarganya disana. Aku benar-benar di buat terkejut, saat melihat wanita yang dulu masuk mobilku secara paksa.


"Ee Lo? " tanyaku spontan menunjuk ke arahnya


Itu pertemuan keduaku dengan wanita aneh itu, ternyata dia adalah putri dari Pak Wijaya,


"Wah kalian sudah saling kenal rupanya" ujar seorang wanita yang duduk di samping pak Wijaya, aku rasa dia adalah istrinya


"Bagus deh kalau gitu! " sahut mami sambil berjalan menuju tempat tidur papi membawa makanan


"Eeenggak kenal juga sih! cuman pernah ketemu sekali" jawabku


"Pandu, dia adalah Monic, anaknya Pak Wijaya" jelas Papi yang tengah duduk di atas tempat tidur, dengan tangan yang masih terpasang selang infus


"Monic, ini anak om! namanya Pandu...! " tambahnya


Wanita aneh itu hanya tersenyum ramah ke arahku, berbeda sekali saat pertama kita ketemu di mobil waktu itu


"wah dunia itu sempit ya om! kami pernah bertemu saat aku kabur dari kantor papi, seperti pengalaman yang sudah-sudah papi selalu mengenaliku dengan pria yang tidak sesuai dengan keinginanku, kalau tahu dari awal mungkin aku nggak akan kabur! " ujarnya sambil bergelayut manja di bahu sang ayah


Aku merasa jengah dengan suasana ini, Monic yang ku pikir agak arogan ternyata dia lebih agresif. aura-aura perjodohan semakin tercium, dan aku tak bisa melakukan hal apapun, setelah kemarin membuat papah terkena serangan jantung, aku jauh lebih lemah, rasa bersalah yang terus menghantuiku membuatku sulit mengambil keputusanku sendiri di hadapan papi.


Sore harinya Papi memintaku mengantarkan Monic ke sebuah toko buku, mau tidak mau harus ku ikuti kemauan Papi.


Ed Sudah dua jam kami berada di toko buku yang terletak di dalam Mall, beberapa kali aku melihat jam tanganku dengan hati-hati tanpa ketahuan monic. Kalau saja bukan karena papi yang memintaku, Aku tak akan pernah mau pergi berdua dengan wanita yang notabennya bukan siapa-siapa bagiku.


"Apa masih belum ketemu bukunya? " tanyaku " Dari tadi perasaan kita udah keliling satu toko ini, tapi kamu masih belum mengambil satu buku pun"


"hmmmm... aku bingung! " ujarnya sambil menggit bibir dengan ekspresi berpikir


"Semua buku fotografi sudah kamu lihat, memang tidak ada satupun yang bisa kamu beli" kali ini nadaku mulai kesal


" Nggak ada! " jawabnya dengan santai, membuatku semakin muak berada di sampingnya


Aku hanya bisa menghela napas panjang, Kaki pun sudah merasa pegal, seandainya wanita itu Kiand, bukan monic, mungkin rasa pegal itu tidak aku rasakan.


"Yuk ahh kita keluar aja, nggak ada bukunya! " ujarnya sambil menarik tanganku.


"Toko sebesar ini, tak ada satupun buku yang kamu cari? " tanyaku penuh penekanan


"Disini koleksi bukunya nggak komplit, aku mau cari baju aja... " Jawabnya. Kali ini dia menarik tanganku ke sebuah butik. Butik ini mengingatkanku pada Kiand, masih teringat jelas ekspresi wajah kiand saat aku meenyuruhnya memilih pakaian untuk mengganti pakaiannya yang kotor.


"Pandu! " Suara monic memecahkan lamunanku tentang Kiand


" Bagus mana? " Tanyanya sambil menunjukan dua dress yang satu berwana hitam dan satu lagi berwarna biru


"nggak tahu! " jawabku ketus,


"menurut kamu? "


"sudah ambil yang mana aja, lalu kita pulang! "


"kamu tuh harus pilih mana kira-kira yang cocok untukku? " paksanya denga gaya manjanya dia


"Ya sudah, ambil saja yang biru! " pilihku asal


"Hmmm yakin? tapi aku lebih suka yang hitam! "


"ya sudah, ambil yang hitam! " ujarku


"kamu gimana sih, tadi katanya kamu pilih yang Biru sekarang hitam, tidak punya prinsip! " celetuknya, sambil tersenyum kearahku


entah kenapa setiap waktu yangbku habiskan bersama monic hanya semakin membuatku teringat pada kiand, Monic memang cantik, ia juga periang, tapi dia bukan Kiand, dan aku hanya ingin kiand! Bayangan tawa renyah kiand selalu menari-nari di pikiranku , hanya dia yang istimewa bagiku, meski dia kadang keras kepala, tapi aku benar-benar di buat jatuh cinta olehnya .


Kerinduan yang menggebu-gebu selalu menyerangku, meski aku sudah berusaha menyibukan diri, aku rindu memeluk tubuhnya yang mungil, aku rindu mengecup bibirnya yang lembut aku benar-benar merindukannya.


Monic banyak menemaniku, kami bahkan mengurus beberapa proyek bersama, tapi tak ada perasaan sedikitpun untuknya, Jefry pernah menyaranlan untuk menjadika Monic persinggahan sementara, sampai aku bisa menyembuhkan lukaku, tapi sekuat apapun aku mencoba membuka hati, dan hasilnya nihil. aku tahu monic merasakan hal itu, tapi dia seolah menutup mata, bahkan dia pernah berkata " siapapun wanita yang ada di hati kamu, kamu akan tetap jadi milikku.


...****************...


Setelah rapat pagi, Papi menghubungiku, dia memintaku untuk segera terbang ke surabaya melihat sebuah perusahaan advertising, yang sudah Papi beli dari temannya, awalnya aku tidak bersemangat, tapi aku ingat Nanda pernah bilang, kalau Kiand sebulan ini tinggal di surabaya, tanpa pikir panjang aku mengiyakan tawaran Papi untuk tinggal beberapa hari di surabaya.


Benar saja, ternyata keberuntungan memang berpihak padaku, Tuhan memang mengirimkan Kiand untukku, tanpa sengaja aku bertemu kiand di kantorku sendiri, dia adalah salah satu karyawan disini.


Tak ingin melewatkan kesempatan ini, aku banyak mencari tahu Kiand dari Pak Louis, kepala bagian tim kreatif dimana kiand bernaung, sayang Pak Louis tidak terlalu banyak tahu tentang kiand, karena ini hari pertama dia masuk kerja.


Aku melihat Kiand tampak lebih kurus, namun dia semakin cantik, tak banyak cerita yang ku dengar tentangnya, meski dari sahabatnya sendiri, dia benar-benar menutup rapat kehidupannya agar kami tidak bertemu kembali, tapi ternyata tuhan mendengar doaku, kami kembali di pertemukan, meski dengan keadaan dan status yang berbeda.


Rasa pahit dan perih sama sama kita rasakan, sebulan bukan waktu yang sebentar saat aku tak bersama kiand, setiap hari yang ku lalui hanya monoton tanpa warna, terlebih saat monic hadir, semua hidupku terasa toxic, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, aku harus selalu terlihat semua baik-baik saja meski sebenarnya aku rapuh.