
"Live must go on" itu yang terjadi padaku, pak pandu mungkin sudah pergi, tapi hidupku tak mungkin berhenti.
aku mencoba melepaskan,itu lebih baik, agar aku bisa fokus dengan karirku, keluarga kecilku, dan diriku tentunya. Ayah sekarang sudah pulih, beliau sudah bisa belajar berjalan meski masih memakai bantuan kursi roda, Arga fokus dengan kuliahnya, awalnya dia bersikeras untuk bekerja membantu keuangan keluarga, tapi aku menjanjikan padanya keuangan keluarga kita akan ku handle sebaik mungkin dan aku hanya memintanya untuk fokus belajar.
Selalu ada pelangi setelah hujan, itu yang ku percaya, di saat aku bersedih dengan apa yang ku alami sebelumnya, sekarang tuhan membukakan jalan untukku, karirku melejit belakangan ini, aku bahkan bisa membeli rumah meski dengan cara mencicil, motor dan membiayai kuliah arga.
Kisah cintaku memang tak sebaik karirku saat ini, tapi aku punya noval, pria yang selalu ada untukku, berbagi kesedihan dan kebahagiaan, dia begitu sabar menungguku, walau dia tahu perasaanku tidak pernah berubah, jika ditanya apakah aku masih mencintai pak pandu? tanpa berpikir aku akan mengatakan YA! aku memang terlalu bodoh ketika aku berharap dia akan datang.
...****************...
Siang ini aku dan Kak Nanda akan makan siang bersama, kami makan bakso legen yang tempatnya tak jauh dari kantor Pak Pandu dulu, awalnya aku menolak, karena itu akan kembali membuka ingatanku tentang pak pandu, tapi kak nanda memaksa, dia hanya ingin bernostalgia denganku.
"Hai....! " Sapaku saat melihat kak nanda sudah duduk di sebuah meja, dan ternyata dia tidak sendiri, ada Pak Jefry di sampingnya
"Hai... orang sibuk!" balas kak nanda, kami melepas rindu dengan saling memeluk dan mengecup pipi
"Apa kabar Ki? " sapa Pak Jefry
"Baik pak, pak jefry sendiri apa kabar? " tanyaku
"hmmm baik! "
Kami saling berbincang mengenang masa lalu, meski aku akan berhenti ketika ku sadari setiap hariku selalu ada pak pandu
"Ki.. Kiand! " aku tersadar ketika tangan kak nanda melambai di hadapanku
"ehh iya kak! " dengan cepat aku tersenyum lebar, tak ingin merusak suasana
"Inget pandu ya? " tanya Pak Jefry
"hus...! " kak nanda seolah menegur pak jefry
"hmmm enggak kok, ohh ya! makan yuk baksonya , nanti keburu dingin " aku berusaha mengalihkan pembicaraan
"Ki! " kak nanda menyodorkan sebuah undangan
"hah! kalian...? "
"iya kita mau nikah! " jelas pak jefry
"wahhh selamat ya! gue ikut seneng! " jujur aku bahagia mereka menikah, tapi entah kenapa hati kecilku merasa sakit, lagi-lagi semua tentang pak pandu, mereka terlalu berkaitan dengan pak pandu
"makasi ya ki! " ujar kak nanda " lo harus dateng, wajib karena lo bakal jadi bridesmaid gue "
"oke siap kak ! gue pasti dateng! " jawabku meyakinkan
Aku bahagia dengan pernikahan mereka, tapi ada rasa iri dalam hatiku, kebersamaan kami sebelumnya, selalu mengulik kenanganku bersama dengan pak pandu, seandainya dulu aku tak membiarkannya pergi! apa mungkin saat ini aku bisa tetap bersama dengannya?
"kiand! " kak nanda menyentuh punggung tanganku, dia mungkin tahu apa yang ada di pikiranku saat ini
"ehh kak! " aku sedikit terperanjat, saat menyadari lagi-lagi aku melamun
"Gue tau lo masih nunggu pandu, tapi mau sampai kapan? lo nggak mau buka sedikit hati lo buat noval? dia itu tulus ki! " kata-kata kak nanda sudah sering aku dengar dari yang lainnya, tapi aku merasa akan tidak adil untuk noval jika aku berusaha membuka hatiku, sedang nama pak pandu masih ada di dalamnya
"tapi kak! "
"kiand! bukannya setiap orang memiliki sebuah kesempatan? apa lo nggak mau kasih kesempatan itu buat noval? "
Aku tertunduk tak berdaya, apa mungkin aku harus membuka hatiku untuk noval, lalu jika pak pandu kembali? apa aku sanggup untuk tetap berada di samping noval?
"kiand! kita semua nggak ada yang tahu kabar pandu maupun yoga, mereka benar-benar menutup rapat kehidupan mereka, bahkan media aja nggak ada yang bisa cari mereka, terakhir gue dengar.... " Pak jefry tak melanjutkan perkataannya , raut wajahnya berubah
"pak jefry denger kabar apa tentang pak pandu? kapan terakhir pak jefry dapet kabar dari mereka? "cecarku
" sorry ki, tujuh bulan lalu gue dapet kabar dari yoga, kalau pak bagaskara sudah meninggal, tapi gue cuman dapet kabar itu doang, setelah itu udah mereka sama sekali nggak ngasih kabar apapun"
mendengar hal itu aku semakin khawatir pada pak pandu, bagaimana kondisinya dia sekarang? kenapa dia pergi begitu saja? hal itu yang ingin ku tanyakan jika aku masih punya kesempatan bertemu lagi dengannya
"ki! " panggil Kak Nanda
"ehh iya kak! "
"Lo baik-baik aja kan? " tanyanya mengkhawatirkanku
aku mengangguk meyakinkan kak nanda jika aku baik-baik aja.
Kami melanjutkan makan bakso yang terasa sudah dingin, tak ada pertanyaan apapun yang keluar dari mulut pak jefry maupun kak nanda.
"Hai...! " seru seseorang yang tak asing untukku
spontan aku menoleh ke arah suara itu, dan ternyata Noval sudah berdiri di sampingku
"novalll? " aku terkejut
"ohh... nggak papa kok pak! " jawabku
"duduk val! " aku memberi ruang pada noval untuk duduk di sebelahku
"pesen gih! " titah kak nanda
"gampang, gue udah kenyang! " jawab noval
aku masih melirik ke arah noval, agak kaku ketika noval di sebelahku saat ini, teringat kembali ucapan kak nanda tadi, apa mungkin aku bisa mencintai pria yang begitu tulus mencintaiku
"Sorry ya ki, tadi kebetulan gue ke kantor lo, tapi lo nggak ada, jadi gue telpon jefry"
"ohh iya nggak papa val, santai aja! " jawabku
kak nanda melihat jam yang melingkar di tangannya " ki, val kayanya gue harus pulang deh, masih banyak urusan yang harus gue selesein "
"hmmm , kitakan baru sebentar kak ketemunya! " rengekku
"yah kiand sorry ya! next kita ketemu lagi ya! nggak papakan? "
"ya udah ! tapi janji ya next kita atur jadwal buat makan bareng lagi! "
"oke! "
Lambaian tangan kak nanda dan pak jefry menjadi perpisahan kami, menyisakan aku dan noval, ada perasaan canggung yang tak biasa
"hmmm udah? " tanya noval
"ya...! " jawabku sambil menaruh sendok dan garpu yang ku mainkan sedari tadi
"mau ikut gue nggak sebentar? " tanyanya
aku langsung melihat jam di tanganku, hanya tersisa waktu 30 menit, untukku kembali ke kantor
"tapi gue udah harus ngantor" jawabku, berharap dia tidak kecewa
"ohh! ya udah! yu gue anter! "
aku mengangguk, menandakan aku menerima ajakannya
Di dalam mobil, aku merasa sikap noval berbeda, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tertahan, dia juga terlihat sedikit tengang saat menatapku
"val! " panggilku
"hmmm" jawabnya terlihat santai meski aku tahu dia sedang menyembunyikan sikap groginya
"lo mau ajak gue kemana? " tanyaku
"ohh itu.. hmmm! " noval terdiam
"val...! " aku mencoba memanggilnya lagi
tiba-tiba noval membawa mobilnya ke tepi jalan dan menghentikannya
"ki! " noval meraih tanganku, aku sungguh terkejut dengan pergerakan tubuh noval yang cepat. " gue tahu, perasaan lo mungkin bukan buat gue, tapi gue percaya suatu saat gue bisa masuk ke dalam hati lo, please kasih gue kesempatan"
Aku bingung harus merespon bagaimana? karena perasaanku saja masih tidak karuan, bayang-bayang pak pandu seakan sulit untuk hilang di pikiranku,
"val! lo mau terima diri gue dan perasaan gue yang belum selesai? " tanyaku dan noval mengangguk
"nggak perduli sebesar apa perasaan lo buat pandu, gue bakal berusaha buat ambil hati lo"
"tapi val! lo bakalan terluka! dan gue nggak mau itu! "
"kiand, di saat kita mencintai seseorang, terluka, jatuh, sakit itu biasa! jadi lo nggak perlu khawatir apa yang terjadi sama gue kedepannya, yang jelas saat ini gue minta sedikit hati lo, untuk ngasih kesempatan itu ke gue! "
Aku terdiam mendengar kata-kata noval, sekarang aku harus bagaimana? ku tatap wajahnya lekat, ketulusan itu yang selalu terpancar, aku akan merasa bodoh ketika aku sama sekali tak memberinya kesempatan
"kiand, lo nggak perlu jawab sekarang, gue bakal tetep nunggu sampe lo siap! "
Noval kembali menyalakan mesin mobilnya, dan melaju menyatu dengan kendaraan lain yang memadati jalanan ibu kota.
selama perjalanan ke kantor aku hanya diam, menunduk, aku memikirkan apa yang aku katakan pada noval? aku hanya takut jika suatu saat pak pandu datang dan aku sudah memilih noval! apa aku mampu untuk tidak berpaling dari pak pandu?
Mobil noval berhenti di lobby, dia tersenyum saat aku kembali menatapnya sebelum turun dari mobil, hatiku kembali bergejolak, rasanya ini waktu yang tepat untukku menjawab perkataan noval.
Sebelum aku pergi, aku memberanikan diri memberi kecupan di pipi noval, itu adalah jawaban dariku, karena tak terbiasa dan malu aku langsung pergi dan meninggalkan noval begitu saja.
Benar kata kak nanda setiap orang memiliki kesempatan, dan aku akan memberi kesempatan itu pada noval.