For A Great Love

For A Great Love
episode 51 waktu terasa terhenti



"oke!" senyumnya puas " bawa dia ke kamar suruh dia ganti baju yang benar, bukan pakaian kumal seperti itu" momy jasmin menyerahkanku dan arga pada seorang wanita dan langsung di bawa ke sebuah kamar yang ukuran lebih kecil.


Ia menyuruhku untuk memakai sebuah baju yang ku kira belum selesai di jahit karena sangat mini


"mbak saya harus pakai baju ini? " tanyaku pada wanita itu, iapun terlihat menggunakan baju yang tak kalah seksi


"yah...! " jawabnya singkat, lalu kemudian meniggalkanku dan arga


"kak, apa kakak yakin? " tanya arga,


"sebenernya enggak ga, tapi kita nggak punya piluhan lain" jawabku pada arga


"kak, kita kabur dari sini aja! " bisik arga


"kakak lagi mikirin itu, tapi nggak ada celah ga" jawab ku


"hey kamu, pakai ini ! " wanita itu masuk kembali dan menyodorkan sepasang high heels padaku


astaga! aku benar-benar mirip wanita murahan gumamku saat melihat diriku di kaca, rasanya risih sekali karena baju ini begitu ketat dan pendek hingga paha dan belahan dadaku terlihat


"heh! " wanita itu memanggilku begitu kasar "sini duduk! " titahnya menunjuk ke arah kursi depan cermin


Ia mulai mendadaniku dengan riasan yang mencolok bahkan mataku saja terasa sakit saat melihatnya ini sih definisi menor pake banget.


"Rosa sudah selesai belum? " tanya seseorang dari luar


wanita yang ternyata bernama rosa itu segera mengantarku ke luar, aku terkejut saat aku tengah melihat seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahun mungkin, dengan pakaian rapi berdiri di samping momy jasmin, matanya menatapku penuh *****, sungguh membuatku semakin takut. arga yang berada di dalam kamar spontan keluar


"kak, jangan...! " teriak arga


"heh anak kecil jangan ikut campur" seorang pria bertubuh tegap yang sedari tadi mengawal momy jasmin dengan cepat menarik tangan arga


"kak jangan lanjutin itu! " arga terus berteriak dan laki-laki itu menyeret arga


"jangan sakiti adik saya! " teriakku saat melihat arga di seret keluar


"tenang, adik kamu akan aman selama kamu mengikuti perintah saya" ujar momy jasmin


aku begitu khawatir pada arga, tapi aku juga begitu takut kakiku bergetar, jantungku berdetak, bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan kehormatanku pada kakek hidung belang ahhh membayangkannya saja aku tak sanggup.


"Silahkan bos, dia milikmu malam ini" ujar mommy jasmin, pria itu pun hendak merangkulku, namun dengan cepat aku menghindar


"Maaf bks, masih baru dia" ujar momy saat pria itu menoleh ke arahnya setelah menerima penolakanku


"Ayolah layani pelanggan kamu malam ini! " ujar momy jasmin kearahku, rasanya ku ingin berlari atau menghilang, dengan terpaksa ku biarkan tangan pria hidung belang itu mendarat di bahuku.


pria itu pun membawaku ke luar, disana sebuah mobil sedan hitam sudah menunggunya.


"masuk sayang...! " ujar pria menyebalkan itu, mendengarnya saja terasa menjijikan


aku segera memasuki mobilnya, diikuti pria itu yang duduk di sampingku, sepanjang jalan tangannya tak henti-hentinya mengelus pundakku,


aku hanya bisa diam beberapa kali menelan ludah, tanganku gemetar, dan tubuhku terasa merinding membayangkan tubuh ini akan habis oleh pria yang berada di sampingku


Tuhan ku mohon selamatkan aku aku terus berdoa dalam hati, berharap ada sebuah keajaiban


Mobil memasuki sebuah gang aku sempat membaca plang yang bertuliskan jl darmawangsa sepuluh , aku tidak kenal daerah ini, tak lama mobil memasuki rumah besar, rumah ini penuh penjagaan ketat, ahhh akan sulit untukku kabur dari sini pikirku.


pria itu membawaku ke sebuah kamar di lantai dua, kamarnya cukup besar dengan interior dan design yang mewah.


"gimana indah bukan kamarnya! " ujar pria itu, aku semakin panik apa mungkin ini akhir dari hidupku, ahhhh ayah tolong aku hatiku menjerit


pria itu menyuruhku duduk di atas tempat tidur mewah, perlahan dia membuka jasnya , aku semakin takut, dia mulai membuka kancing kemeja satu persatu, aku semakin ketakutan hingga aku tak tahu harus berbuat apa,


"kamu manis banget, ! " pria itu mencubit daguku, mencium pipiku. mataku terus mencari sesuatu tang bisa aku gunakan untuk kabur dari sini. saat pria itu hendak memeluk tubuhku, aku melihat sebuah vas bunga di nakas, dengan spontan kuraih vas bunga dan melemparkan persis ke kepalanya. aku terkejut saat aku melihat darah mengalir dari kepala pria itu, dia langsung tidak bergerak, aku mulai panik, beberapa kali aku berusaha membangunkannya, tapi dia tidak bangun apa mungkin dia mati? " pikirku, aku semakin ketakutan aku begitu kalut, hingga aku bersembunyi di samping tempat tidur, aku lihat ada telpon di sebuah meja, awalnya aku ingin menghubungi pak pandu, tapi ku urungkan aku lebih baik memghubungi noval, untunglah aku memiliki daya ingat yang baik.


aku menghubungi noval, aku terkejit saat suara pak pandu yang menjawab panggilanku, tangisku sudah tak tertahankan, pak pandu memintaku untuk tenang, tapi hatiku semakin tak karuan, aku berusaha percaya jika dia bisa membantuku.


Setelah panggilan terputus, aku kembali menghampiri pria itu, aku cek nadinya untunglah masih ada, aku harap dia tidak mati.


"ada yang masuk ada yang mausk... " suara teriakan dari lantai bawah, aku berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit, aku melihat kondisi di luar apa mungkin aku bisa kabur dari sini, saat hendak keluar aku mendengar suara sepatu yang berlari dari tangga, dengan cepat aku kembali masuk dan ku kunci pintu kamar, tak lama orang itu mengetuk pintu


"ki.. kiand, apa kamu di dalam? " aku mengenal suara itu, dengan cepat aku berlari ke arah pintu dan membukanya, aku pikir pak pandu yang akan menolongku, ternyata aku melihat sosok noval yang berdiri di depan pintu, reflek aku memeluknya tapi aku sedikit menyesal, bayanganku pak pandu yang akan datang menjemputku.


"ayo lari, semua orang lagi sibuk di bawah" ujar Noval hendak menarik tanganku, aku menahannya, teringat pria itu harus segera di tolong


"ada apa ? tanya noval


"pria itu...! " aku menarik masuk tangan noval, noval begitu terkejut saat melihat sosok pria tengah berbaring dengan darah yang mengalir dari kepalanya


"tapi kita harus pergi! " ujar noval


"aku yang sudah membuatnya seperti itu! " jawabku


"ya udah aku cek dulu! " novalpun mengecek kondisi pria itu, "dia masih hidup, cari sesuatu untuk menghambat darahnya" ujar noval. aku segera mencari kain yang ada di dalam kamar, untunglah ada baju di lemarinya, segera ku ambil dan memberikannya pada noval


"bantu aku angkat! " titah noval


aku dan noval mengangkatnya dan membaringkan nnya di atas tempat tidur


"jangan bergerak, polisi diaini! " terdengar suara itu dari lantai bawah


"kamu tunggu disini! " ujar noval


"kamu mau kemana? " tanyaku


"ada polisi di bawah, kita bis aminta bantuan mereka! " ujar noval sambil berlari


selang beberapa menit noval datang dengan dua orang pria menggunakan seragm polisi


"apa yang terjadi? " tanya pria yang ku lihat berna suprapto


"sebaiknya kita bicarakan ini di kantor polisi nsnti, sekarang lebih baik kita bawa dulu dia ke rumah sakit, agar nyawanya bisa tertolong" ujar noval


"oke, tapi kalian harus ikut kami ke kantor polisi! " ujar pria satunya


mendengar kata kantor polisi aku begitu takut , apa aku akan di oenjara setelah ini?


"syaa harus membawa dia keluar dari sini, anda bisa percaya sama saya, setelah urusan kami selesai, kami akan langsung ke kantor polisi" ujar noval


"maaf tidak bisa, kalian harus ikut dengan kami untuk menjadi saksi" kekeh pak suprapto


"ini bisa menjadi jaminan? " noval mengelurkan sebuah kartu " dia yang akan menjamin kami! " ujar noval. kartu itu seperti kartu ajaib, dengan mudahmya polisi itu melepaskan kami


Kedua polisi membawa pria itu ke lantai bawah untuk segera di bawa ke rumah sakit, sedang aku berjalan keluar melalui pintu belakang


"ki,...... " noval mengatakan sesuatu tapi aku tidak bisa mendengarnya. suasana begitu riuh, suara sirine terdengar dimana-mana, saat aku menoleh ke arah suara sirine, aku melihat pak jefry dan pak yoga, wajahnya begitu panik, dia berada di kerumanan orang, seperti sedang menggotong seseorang


"pak jefry! " panggilku. aku hendak berlari ke arahnya, tapi dengan cepat noval menahannya


"ayo kita pulang, lihat bajumu...! " ujar noval


"val itu pak jefry, dia ngapain disini? " tanyaku


aku teringat pak pandu, tadi dia bilang akan datang ,


"val, pak pandu mana? " tanyaku pada noval . noval tidak menjawab apa-apa dia hanya terdiam


tanpa pikir panjang aku berlari kearah pak jefry


"pak ! " teriakku , untunglah pak jefry langsung mendengar panggilanku, dia segera menoleh kearahku


"kiand! " tatapannya begitu terkejut, mungkin dia heran melihatku berpakaian seseksi ini. dia menghampiriku, membuka jasnya dan menyuruhku memakainya


"kamu baik-baik aja? " tanya pak jefry


aku hanya menangis sambil mengangguk, pak jefry menarik tanganku "dia butuh lo! " ujar pak jefry awalnya aku tak mengerti tapi saat pak jefry membawaku ke arah ambulance, aku melihat pak pandu tengah terbaring di sebuah brangkar yang hendak di bawa masuk ke dalam mobil ambulance, aku begitu terkejut, wajahnya terlihat babak belur, beberapa perawat sedang memasangkan alat bantu pernapasan, tubuhku seketika lunglai, seperti tidak bertulang, dengan cepat pak jefry menahan tubuhku yang mulai sempoyongan


"ayo masuk! " pak jefry memintaku masuk ke dalam mobil "yang lain biar mengikuti pakai mobil" ujarnya


aku , pak jefry dan dua perawat masuk ke dalam mobil ambulan, pak yoga, noval dan arga mengikuti kami di belakang. tak ada pergerakan dari pak pandu, itu sungguh membuatku khawatir


aku hanya bisa menangis sambil memegang tangannya, berharap ia segera sadar


"pak... kenapa bisa kaya gini! " ujarku menyesal


"saya mohon bangun pak, bangun! " aku masih menangis di sampingnya


"tekanan darahnya menurun " ujar salah satu perawat membuat suasana menegang


"pak pandu... pak bapak bisa dengar saya pak! " aku terus berusaha memanggil namanya, tapi pak pandu masih tidak sadarkan diri, perjalanan ini terasa begitu jauh, waktu seolah terhenti


"pak tolong bangun, pak pandu saya mohon" aku terus menangis, pak jefry yang duduk di sebelahku berusaha menenangkan meski aku tahu dia tak kalah khawatir dariku


mobil ambulan sampai di sebuah rumah sakit, dengan cepat beberapa orang terlihat membantu mendorong brangkar pak pakndu masuk ke ruang ugd, sedang aku hanya bisa menunggunya di luar.


bayangan hal buruk yang akan menimpa pak pandu semakin membuatku tertekan, aku tak tenang, aku khawatir.