
Sebuah kecupan mendarat di pipiku saat aku masih terlelap, rasanya begitu jelas hingga sulit untukku membedakan antara mimpi atau nyata
Tadi malam aku mengecek beberapa email masuk, hingga aku tidur terlalu larut, beberapa hari ini, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan, tidak mungkin aku harus bergantung hidup pada pak pandu, biaya pengobatan ayah, biaya arga dan yang lainnya, sudah menjadi tanggung jawabku, jika aku tidak bekerja bagaimana dengan mereka, meski pada kenyataannya pak pandu sudah menutupi semua kebutuhanku
"Pagi....!!! " suara pak pandu terdengar samar di telingaku, tapi apakah ini nyata?
Ku buka perlahan mataku, suasana kamar yang awalnya gelap, kini berubah terang, sehingga membuat mataku sedikit harus berusaha untuk terbuka.
"Pacar!!! " aku terkejut ketika wajah pak pandu sudah berada di dekatku "kok tumben bangun duluan! " aku menarik selimut untuk menutupi wajahku, bagaimana mungkin dia melihat ku dengan kondisi wajah yang masih mengantuk
"Kenapa? aku sudah siapkan kamu sarapan, bukannya hari ini ada interview? " tanyanya
kami memang tinggal bersama di apartemen ini, tapi pak pandu tidur di kamarnya, dan aku tidur di kamarku
" Tunggu aku di luar, muka aku masih jelek! " teriakku dari balik selimut
"aku suka kok! " sahutnya
perlahan ku turunkan selimut sedikit demi sedikit, hingga wajahku dapat terlihat jelas oleh pak pandu
"Aku mandi dulu, baru kita sarapan ! " teriakku, sambil melompat dafi kasur dan bergegas ke kamar mandi
...****************...
Pak pandu mengantarku untuk interview pagi ini,
"Kamu susah siap? " tanyanya, saat mobil sudah berhenti di halaman gedung
"Hmm siap! " jawabku mengangguk
"semangat!!! " serunya
setelah memastikan semua sudah oke, aku membuka pintu mobil dan berjalan keluar , aku sengaja meminta pak pandu untuk tidak turun, karena dia juga sudah harus ke kantor pagi itu.
"aku masuk dulu ya! " pamit ku sambil berdiri di depan jendela mobilnya.
"ya... nanti kalau sudah selesai aku jemput! " ujarnya
aku berjalan meninggalkan mobil pak pandu yang masih terparkir
"kiand! " teriak pak pandu dari dalam mobil
Aku segera menghentikan langkahku dan berbalik
"ada yang ketinggalan ! " ujarnya
aku sempat berpikir, apa yang tertinggal? handphone? sedang ku pegang! beberapa berkas ? juga sudah ada!
Aku berjalan kembali kearahnya " apa yang ketinggalan? "
"sini! " pak pandu memintaku mendekat kearahnya. tiba-tiba kedua tangannya merengkuh kepalaku, dan mendaratkan kecupan di kening
"semangat!!! semoga berhasil! " ucapnya
"bye!!!! " aku melambaikan tangan kearahnya.
Dalam keadaan yang begitu sulit untuknya, dia masih selalu membuatku nyaman dan tersenyum, kadang aku berpikir sebesar apa cintanya untukku?
"Pagi ! " sapa ku pada security yang sedang bertugas
gedung ini begitu besar entah ada berapa lantai di dalamnya.
"ohh iya pagi mbak, ada yang bisa saya bantu!"
"pak saya mau interview di PT Abadi Jaya, saya harus kemana ya? " tanyaku
"Ohh PT Abadi Jaya ada di lantai 5, mbak nya bisa menggunakan lift yang berada di sana! " security itu menunjukan ke arah pintu lift yang tidak jauh dari pintu masuk
"oke baik pak! terimakasih! "
Aku segera berjalan ke arah pintu lift, melihat ada dua pintu yang berdampingan, aku teringat awal perjumpaan ku dengan pak pandu! seandainya saat itu aku tak salah masuk lift, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya.
"permisi! " seseorang memecahkan lamunanku, beberapa orang lainnya terlihat langsung memasuki lift. Ku tekan tombol 5 setelah aku berada di dalam lift dan tak lama, pintu lift terbuka.
Suasana gedung cukup ramai, orang lalu lalang melakukan aktivitas pekerjaannya, di gedung ini ada 3 perusahaan, jadi tidak hanya satu perusahaan saja.
"permisi! " aku menghampiri meja resepsionis yang bertuliskan nama PT Abadi Jaya
"ohh iya mbak, ada yang bisa saya bantu? " ujar wanita dengan nama sarah pada name tag nya
"saya mau interview ruangannya dimana ya? " tanyaku
"ohh iya sebentar, mbak nya tunggu dulu aja ya! " titah wanita bertubuh langsing dengan rambut yang tertata rapih
aku menunggu di sebuah kursi yang sudah di sediakan, sedang wanita itu tengah menghubungi seseorang
"Mbak kiand? " panggilnya
"ohh iya mbak! " aku langsung berdiri dan menghampirinya
"mari mbak...! " wanita itu mengantarku ke sebuah ruangan, ia menyalakan lampu dan mempersilahkan aku menunggu
Tak lama, seorang pria mengenakan pakaian kantor rapi masuk membawa beberapa berkas
"mbak kiand! " sapa nya, sambil mengulurkan tangan
"Saya niko yang akan meng-interview mbak! "
"ohh iya pak niko! " jawabku membalas jabatan tangannya
"silahkan duduk !!! " titahnya
"terima kasih pak! "
Interview berlangsung cukup lama, aku pikir akan ada kandidat lainnya selain aku, tapi nyatanya hanya aku sendiri, beberapa pertanyaan sudah ku jawab dengan baik, aku berharap aku bisa di terima di perusahaan ini.
"Baik Mbak kiand, saya akan segera infokan kapan mbak kiand bisa mulai bekerja! " ujarnya
Aku meninggalkan ruangan menuju lantai dasar, ku lihat ponsel ada satu pesan masuk
"Bagaimana interviewnya ? lancar?
kiand! maaf kayanya aku nggak bisa jemput, kalau kamu sudah selesai langsung telpon aku ya, aku akan suruh supir yang jemput kamu! "
Pesan itu dari pak pandu, aku mengerti kondisi perusahaan benar-benar membuat pak pandu menghabiskan waktunya, meski awalnya aku berharap hari ini dia akan menjemput ku dan aku akan mengajaknya ke taman untuk sekedar me rilekskan pikirannya.
"Interviewnya sangat lancar!
Iya nggak papa, aku bisa pulang pakai taxi online, pacar nggak usah khawatir, selesaikan pekerjaan dulu, jangan lupa makan, dan jaga **kesehata***n*! "
balasku
"jangan kemana-mana, supir sedang menuju kesana! "
Benar saja tak lama aku menunggu, sebuah nomer tak di kenal menghubungiku, ternyata supir pak pandu sudah berada di lobby
Aku memilih untuk tak pulang ke apartemen, saat ku lihat jam sudah menunjukan pukul 11, sebentar lagi sudah waktunya makan siang, aku berinisiatif menemuinya dan membawa beberapa makanan, untuk kita makan bersama, setidaknya hanya itu caraku memberi suport untuknya
Sudah lama aku tidak menginjakan kaki di kantor ini, tempat ini masih ramai, dan masih menyimpan begitu banyak kenangan, kenangan pahit maupun manis.
Aku terus berjalan, menaiki lift menuju lantai 15 , kali ini aku boleh menaiki lift khusus para petinggi,
"siang bu kiand! " sapa salah satu karyawan yang masih mengenalku
"hmm iya siang! " jawabku ramah
sapaan itu tidak hanya terlontar dari satu karyawan tapi beberapa karyawan yang aku temui sampai aku berada di meja resepsionis
"Bu kiand! " sapa karin , sekertaris pak pandu
"hey...! " aku yang awalnya ingin menuju resepsionis, langsung mengganti arah, menuju ke arah karin yang berdiri di samping ruang meeting kecil "pak pandu masih meeting? " tanyaku
"iya, meeting intern doang! biasa.....!!!, tapi kalau nggak salah ada pak candra di ruangan pak pandu! " jawab karin
"ohh, ya udah aku tunggu di sini aja deh! " ujarku tak enak hati
"ihhh, langsung aja ke ruangan pak pandu! lagian sudah jam makan siang kok, sebentar lagi mereka selesai! " jawab karin
aku sedikit bingung, aku masih merasa sungkan jika ada pak candra di sana
"bu kiand! " panggil karin " ayo saya antar! " aku pun setuju untuk menemui pak pandu di ruangannya.
saat sudah berada di depan ruangannya, aku mendengar suara pak candra sedikit meninggi
"semua nggak bisa di pertahankan lagi Du! " serunya
"Tapi nggak harus ngejual perusahaan kita pada dia!!!! " sahut pak pandu
"lalu? apa ada solusi? biaya operasional perusahaan tidak ssdikit! belum gaji karyawan, beberapa partner kita udah pergi..... proyek kita terbengkalai! " teriak pak candra
aku dan karin hanya saling menatap, mengurungkan niat membuka pintu
"udah, udah, kalian berdebat bukan menyelesaikan masalah! " ujar pak yoga, aku bisa mengenali suaranya
"Yu! " aku mengajak karin ke sebuah ruangan yang dulu pernah ku gunakan untuk belajar jalan mengenakan high heels
"Apa seberat itu masalahnya? " tanyaku
"hmmm begitulah bu! saya khawatir jika perusahaan masih seperti ini, saya juga akan kehilangan pekerjaan" jawab karin penuh kecewa
aku tak menyangka, sesulit ini masalah pak pandu, dia tidak pernah mengatakan hal apapun tentang pekerjaannya, dia hanya bilang dia akan segera menyelesaikan pekerjaan, agar ada waktu untukku
"Tenang ya mbak karin! pak pandu pasti bisa mengatasi semuanya! " ujarku berusaha memberi keyakinan
"iya bu...! saya harap seperti itu"
Setelah menunggu lama, aku meminta karin melihat, apakah masih ada pak candra?
ternyata pak candra sudah keluar dari ruangan pak pandu.
Aku berlagak tak tahu dengan apa yang kudengar sebelumnya, tak ingin membuatnya terlalu mengkhawatirkan aku.
Tok.. tok.. tok...!!!! aku mengetuk pintu yang terbuat dari kaca, ku buka perlahan pintu itu
"siang! " sapa ku, aku melihat pak pandu tengah duduk di ujung meja, sambil melipatkan kedua tangannya, sedang pak jefry dan pak yoga sedang duduk di sofa panjang
melihatku datang, pak pandu langsung berdiri, dan berjalan ke arahku " hey! kok nggak bilang? " tanyanya , raut wajah yang awalnya muram, mendadak cerah, begitupun dengan pak Yoga dan Pak jefry
"Iya, kejutan buat pacar! " sahutku sambil menunjukan beberapa porsi makanan yang ku beli sebelumnya
"Wahhh mantap, kiand tahu aja kalau kita lapar! " ujar pak jefry
"sini aku bawain! " pinta pak pandu
Pak Pandu membawa bungkusan plastik itu di atas meja
"Begini kalau punya pacar pengertian! jam makan siang langsung di bawain makan! " celetuk pak jefry
"emang nanda lo kemana? " tanya pak yoga
"nanda? " tanyaku heran, karena kak nanda tak pernah bicara apapun tentang pak jefry
"iya nanda! dia kan jadian sama nanda! " jawab pak yoga
"yeeyyy belum, tapi akan...!!! " tegas pak jefry penuh percaya diri
"udah berisik, berisik!!!! cepet makan! " seru pak pandu
kami makan siang bersama, pak pandu, pak yoga dan pak jefry terlihat tertawa bersenda gurau bersama, tak ada beban yang terlihat dari wajahnya, meski aku tahu sebenarnya mereka sedang menanggung beban yang berat, terutama untuk pak pandu.
.