For A Great Love

For A Great Love
Episode 12 too Good at goodbyes



POV PANDU


Setelah mengantar Kiand ke kontrakan aku langsung bergegas pulang, dua hari kemarin aku tidak pulang ke rumah, hari ini aku memutuskan untuk pulang.


Selama di jalan aku masih geli sendiri setiap kali mengingat ekspresi Kiand di mobil. Apa benar dia sepolos itu? Masa sih wanita seusia Kiand, belum pernah berkencan dengan lelaki manapun?


"Kayanya ada yang sedang memulihkan luka? " Sindir kemal.


"Diem lo! mau gue potong gaji lo! " sahutku. Aku dan Kemal memang sudah bukan seperti bos dan supir, mungkin karena kebersamaan kami yang cukup lama, dan Kemal sudah banyak membantuku.


"Ya elah Pak! kalau suka jangan di tutup-tutupin bilang aja! " lanjutnya


"Berisik! udah nyetir-nyetir aja! lagian kamu tuh nggak bisa lihat, mana mungkin Kiand bisa menggantikan Bintang, dari penampilan saja Bintang tidak tergantikan! " decak ku


"Hmmm! Sayakan nggak bilang mbak Kiand bisa menggantikan Mbak Bintang Pak! " gumamnya sambil melihatku dari spion depan


"sudah tidak usah di bahas! " balasku tak ingin perdebatan ini makin panjang.


Mobil memasuki halaman rumah besar, ternyata Mas Candra sudah ada di rumah, jujur selama Mas Candra berhubungan dengan Bintang, aku merasa asing dengan kakakku sendiri, mungkin karena rasa kecewaku


"Mau turun Pak? " tanya Kemal, saat aku terdiam sejenak memandang mobil Mas Candra


"turunlah udah sampai rumah! " sahutku dan langsung membuka pintu mobil.


Saat aku masuk, rumah terasa sepi tapi aku mendengar suara tawa dari ruang makan, benar saja Mas Candra, mami, papi dan Reina sudah berada di meja makan, awalnya aku tak ingin berkumpul dengan mereka, namun saat aku ingin menghindar mami langsung melihatku


"Pandu...! " panggil Mami dan membuat semua orang di meja makan menatapku "Mau kemana kamu? "


Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah mami " mau mandi mih capek! "


"Sayang, sini makan dulu! " ajak Mami


"Nanti mi, Pandu mandi dulu! " tolakku, Mami terlihat meninggalkan kursinya dan berjalan ke arahku


"Ayolah nak! dari kemarin kamu tidak pulang ke rumah, kita sedang membahas pertunanagan masmu! " pinta Mami, dari dulu aku memang tidak bisa menolak permintaan mami, biar mami galak, cerewet tapi mami adalah wanita yang paling aku sayangin


"Oke mih! " Aku dan mami berjalan ke ruang makan, dan bergabung bersama mereka, Mas Candra hanya melirik ke arahku.


"Du, besok mas bisa minta tolong? " tanyanya saat aku baru saja menuangkan air mineral ke dalam gelasku


"Ngapain? " tanyaku ketus


"Jemput Bintang di global hotel, mas besok harus ke Sania hotel untuk memastikan semuanya sudah siap! " jawab Mas Candra, entah apa maksud Mas Candra menyuruhku menjemput Bintang,


"Nggak bisa! " tolakku


"Panduuu! masa masnya minta tolong nggak bisa sih? " sahut mamih


"Besok Pandu ada rapat mih, belum lagi semua pekerjaan di kantor sementara ini Pandu yang handle, mana ada waktu Pandu untuk jemput Bintang, kenapa nggak suruh supir aja! " Aku mencoba mencari alasan


"Pandu, Bintangkan sebentar lagi akan jadi kakakmu juga, jadi kamu juga harus menjaga Bintang seperti kamu mejaga saudaramu yang lain! " ujar Papih


Mereka tidak mengerti bagaimana perasaan aku saat aku harus kembali berduaan bersama Bintang, rasanya lukaku semakin perih.


"Oke.. oke! " lagi-lagi aku harus mengalah demi Mas Candra, tak tahu sampai kapan dunia ini tak adil padaku.


"Makasi ya Du! " ucap Mas Candra


"Hmmm! jawabku.


Kami melanjutkan makan malam, sambil berbincang tentang acara pernikahan Mas Candra, pembicaraan yang nggak begitu menarik, ini alasan pertama aku nggak mau pulang ke rumah ini, aku lebih nyaman di apartemen, menikmati malam meski harus sendiri, mencoba menata hati yang sudah hancur berkeping-keping.


" Pandu duluan ya! pandu ngantuk! " ucapku di tengah obrolan asik mereka


"Tumben kak! biasanya kakak tidur malem! " sahut reina


"Kakak capek de! " jawabku.


"Ya sudah, jangan lupa bersihkan tubuhmu sebelum tidur! " pesan mamih sambil mencium kedua pipiku


Rumah ini seperti sangat asing ketika semua orang sibuk mengurus pertunangan Mas Candra dan Bintang, tak ada yang mengerti perasaanku, bahkan Mas candra yang notabennya tahu perasaanku.


Setelah membersihkan tubuhku dan mengganti pakaian, hal yang selalu aku lakukan adalah mengambil gitarku, sambil duduk di balkon menikmati angin malam yang menjadi temanku beberapa hari terakhir ini


You must think that I'm stupid


You must think that I'm a fool


You must think that I'm new to this


But I have seen this all before


I'm never gonna let you close to me


Even though you mean the most to me


'Cause every time I open up, it hurts


So I'm never gonna get too close to you


Even when I mean the most to you


In case you go and leave me in the dirt


And every time you hurt me, the less that I cry


And every time you leave me, the quicker these tears dry


And every time you walk out, the less I love you


Baby, we don't stand a chance, it's sad but it's true


I'm way too good at goodbyes


(I'm way too good at goodbyes)


I'm way too good at goodbyes


(I'm way too good at goodbyes)


Saat aku sedang menikmati kesendirianku, handphoneku bergetar dan kulihat ternyata group chat


Jefry: Sepi aja nih, se sepi hatinya Pandu! ups (emot tutup mulut)


Yoga : Jeje meraptlah ke caffe gue! kebetulan gue di caffe nih, sendiri tanpa kekasih


Jefry: Team jomblo berkoar juga


Yoga : emang lo nggak jomblo


Jefry : eits Jeje mana pernah jomblo


Pandu: Berisik lo pada! gue ngantuk mau tidur


Jefry: akhirnya pangeran kodok nongol


Yoga: Masih sore kali Du, udah mau tidur aja lo, kaya anak SD


Jefry: Gue on the way ke rumah lo yee!


Pandu: Gue ngantuk


Tidak ada pesan apapun dari kedua sahabatku, dan aku melanjutkan memetik setiap senar gitar sambil membayangkan kembali kebersamaanku dengan Bintang, namun entah kenapa wajah Kiand terkadang hadir dalam kepalaku, saat otakku mengingatnya aku pasti akan senyum sendiri karena mengingat tingkah lakunya yang lucu dan pasti berujung masalah.


Dasar ceroboh gumamku dalam hati


Beberapa menit kemudian ponselku kembali bergetar dan ku lihat ternyata dari jefry


Gue di luar! cepet turun!


Aku segera bangun dari kursi dan melihat mobil putih Jefry sudah terparkir di depan rumah


"Pintu keluarnya disana! " teriakku menyuruhnya pulang


"Turun lo! kalau nggak gue bakar nih rumahnya! " teriak Jefry dari halaman rumah yang berhadapan persis ke Balkon kamar


"Berisik lo! tunggu! gue turun! " Aku segera menaruh gitarku dan mengambil jaket lalu turun ke bawah, ku lihat ruang makan sudah sepi, ternyata semua sedang berkumpul di ruang keluarga,


"Mih, Pih! " panggilku pada Mamih dan Papih yang sedang menonton televisi di temani Reina dan Mas Candra


"Ehh Du, mau kemana? " tanya Mamih saat melihatku sudah berpakaian rapih


"Pandu mau keluar sebentar sama jeje! " pamitku sambil mencium tangan papih dan mamih


"Ohh ya sudah hati-hati ya! " pesan Mamih


"Jangan pulang pagi! ingat jaga kesehatanmu! " sahut Mas Candra yang kemudian ku acuhkan


Aku berjalan ke luar rumah, Si tengil Jeje sudah bersandar pada mobilnya sambil ketawa cengengesan


"Buruan nanti gue berubah pikiran! " aku segera masuk ke dalam mobil Jefry, dan dengan cepat jefry menyusul


"Ke Caffe yoga? apa ke tempat biasa? " tanya Jefry sambil menyalakan mesin mobilnya


"terserah! " jawabku


"wokey! " Jefry memacu mobilnya meninggalkan halamn rumah, menuju Caffe Yoga, kami bertiga memang biasa nongkrong di Caffe milik Yoga, selain tempatnya yang asik, disini juga makananya enak dan lengkap.


...****************...


Sesampainya di Caffe Yoga, Aku dan Jefry langsung menuju lantai 3, tempat dimana aku dan dua sahabatku mengahabiskan waktu, Yoga terlihat sedang santai di sebuah sofa panjang sambil menonton film fqvoritnya


"Woy! " Teriak jefry


"Sial lo! " Yoga nampak terkejut, aku yang berada di belakang jefry hanya tersenyum


"gue pikir nggak jadi! " ujar Yoga


"Jadilah! kasian dia lagi patah hati! " goda jefry yang sudah duduk di samping Yoga


"Sial lo! " Aku memukul kepala jefry


"Gimana pesta tunangan Bintang sama Mas Candra? " tanya Yoga


"Udah 100% " jawabku tak suka


"Sudahlah Bro, kan sudah ada Kiand! lupakan Bintang! " ujar Jefry dengan gaya sok tahu nya


"Kiand? siapa Kiand? " tanya Yoga. Yoga memang tidak tahu kedekatanku dengan Kiand


"Pacar baru! " celetuk Jefry


"Sotoy lo! " lagi-lagi aku memukul kepala Jefry


"Ada yang mau kasih tahu gue, gosip terbaru tentang pangeran kodok ini? " ujar Yoga


"Bukan pacar gue! dia karyawan baru di kantor orang fit out, gue sama dia deket cuman buat bikin cemburu Bintang! " jelasku


terus? Berhasil? " tanya Yoga


"Hmm! " Aku menaikan kedua bahuku


"Lagian lo ngapain sih masih ngarepin Bintang, jelas-jelas dia milih Mas Candra, kakak lo sendiri! bangun dong Pandu! " seperti biasa Yoga akan berkata hal yang sama


"Gue sayang banget sama Bintang, sampai kapanpun, kalian tahu itu kan? nggak ada yang bisa gantiin Bintang di hati gue! walaupun Kiand sekalipun! " tegasku


Mereka merasa perbincangan ini tidak bagus jika di teruskan, dan kami memutuskan mencari topik lain untuk menghabiskan malam bersama.