
"Oke oke, saya akan ganti semua kerugian anda, tapi tolong lepaskan Arga" pintaku
"Saya percaya, uang 50 juta sih receh buat seorang anak pemilik perusahaan besar" ujar Jasmine
"Apa-apaan ini? " teriak jefry di belakangku, sontak kami semua terkejut, jefry datang dengan beberapa orang yang tak kalah besar dari para penjaga
"lepasin dia gue bilang! " teriaknya
Wajah jasmine terlihat sangat kesal, saat jefry berteriak kearahnya "Ngapain diem aja lepasin! " teriak jefry
"Gue nggak ada urusan sama lo bang***t" teriak jasmine, dua orang penjaga dengan cepat memegang kedua tangan arga
"ohhh mau cafe lo ancur? " ancam Jefry , Jasmine terdiam sejenak, matanya menatap aku dan Kiand penuh kebencian
"Oke, sekarang mungkin lo bisa lolos, tapi inget urusan lo belum kelar sama gue, dan lo.... " jasmine menaruh telunjuk tepat di wajahku "gue bakal buat perhitungan" ujarnya garang
"Nggak usah pake ngancem-ngamcem, cepet lepasin Arga! " teriakku sambil menyingkirkan telunjuknya
"lepasin dia, " perintahnya pada kedua penjaga "ayo cabut " seorang penjaga mendorong tubuh Arga ke arah kiand, dengan cepat kiand memeluk arga dan melepaskan ikatan di tangannya
"Kamu nggak papa ga? " tanya kiand khawatir
"nggak papa kak, arga takut! " Arga menangis dalam dekapan kiand, pemandangan ini membuatku tertegun, kiand begitu menyayangi adiknya
"Udah nggak papa lo aman sekarang" jefry mendekat dan mengelus kepala arga !
"Dapet dari mana lo orang-orang itu? " tanyaku sambil melihat beberapa pria bertubuh besar yang berdiri di belakang yoga
"Hahahha, lo kaya nggak tahu jefry aja! " sahut Yoga "kalau cuman cari cowok badan gede doang mah gampang" tambahnya
"Makasih ya pak" ucap Kiand, dia masih mendekap sang adik
"Besok kalian pindah ke apartemen aja ya" pintaku
"Nggak usah pak, saya udah terlalu banyak ngerepotin kalian" jawab Kiand
"Ki, saya sudah sewa apartemen itu, dan kalian akan aman di sana, kamu mau hal serupa terjadi lagi? " ujar ku
"Jasmine nggak akan menyerah gitu aja, pasti dia bakal balik lagi" tambah jefry
"Iya kak, kita tinggal di apartemen aja kak, Arga takut" Kiand terdiam, ia tampak sedang berpikir, aku tahu Kiand kecewa padaku, itu alasan utama dia tidak mau menempati apartemen itu
"Baik, saya akan pindah besok" jawaban kiand membuatku lega , setidaknya aku bisa memantau dia dari apartemen ku
"Oke jangan sungkan hubungi kita buat bantu pindahan" bisik Jefry
"Pak, bisa kita bicara sebentar" Kiand menarik tanganku, menjauh dari arga, yoga dan Jefry
"ada apa ki? " tanyaku saat dia menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapanku
"Terima kasih untuk hari ini, saya akan menarik perkataan saya, saya akan tetap melanjutkan drama ini" Entah kenapa ada rasa senang di hatiku, bak sebuah harapan yang terwujud, tapi aku tak ingin menampakan itu di hadapan Kiand
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya, lalu kembali ke tempat dimana Arga, Yogi dan Jefry berdiri.
"ayok, jangan terlalu lama disini bahaya" ajakaku pada mereka
Kami segera meninggalkan cafe yang sudah sepi karena jasmine dan bodyguardnya telah lebih dulu meninggalkan cafe, Jefry yang biasa mengunjungi cafe itu bercerita, jika jasmine bukan orang yang mudah menyerah, dia akan tetap melakukan apapun untuk bisa mendapatkan keinginannya, aku semakin khawatir jika Kiand masih harus tinggal di kontrakan malam ini.
"Kiand, Arga, malam ini kalian jangan pulang ke kontrakan, bawalah beberapa baju, dan tinggalah di apartemen, aku yakin Jasmine akan menyuruh orangnya untuk mengawasi kalian " pintaku
"Tapi pak...! "
"Kak, Bener kata Pak Pandu, Arga takut kak" Kiand terdiam saat Arga menyela pembicaraannya, dia tahu keselamatan adiknya yang paling utama
"Baik, malam ini kita tidur di apatemen, dan besok kita kembali membawa sisa barang yang akan kita bawa" ujarnya
Aku bisa bernapas lega kali ini, ku telpon Yogi dan Jefry yang berada di mobil lain, untuk merapat ke apartemen, dan menjelaskan jika malam ini Kiand sudah akan menempati apartemen
...****************...
Untuk sementara aku meminta jefry dan Yoga tetap di apartemen Kiand, sedang aku harus pulang, beberapa hari ini mami terus menghubungiku, dia begitu marah saat aku tiba-tiba pergi di tengah acara pertunangan Kak Candra
"Pandu...! " panggil mami
"Bisa kita bicara nanti mi, pandu mandi dulu" jawabku sambil berjalan ke atas dimana kamarku berada
"Pandu...!! " teriak papi. Ku hentikan langkahku "Bisa sopan sedikit bicara pada mami mu? " Nada bicara papi meninggi
"Maaf pih, mih, Pandu capek... " jawabku hendak melangkahkan kaki menaiki anak tangga
"Tunggu! " cegah papi "Sini kamu, papi harus bicara! " Sepertinya ada sesuatu yang di bicarakan Kak Candra tentangku pada Papih. Dengan terpaksa aku kembali ke meja makan, menghampiri papih, mamih, reina, Bintang dan Kak Candra.
"Duduk! " perintah papi, tampang Reina terlihat ketakutan, anak itu selalu saja seperti itu ketika papi memarahiku
"Dari mana kamu? " tanya Papi
"Maksud papi? " tanyaku heran
"Yahh, kemana kamu pergi saat acara pertunangan kakak mu? "
"Masih mau bahas ini? " tanyaku kesal
"Pandu, jawab pertanyaan papi mu! " seru mami
"Pandu ada urusan pi! " jawabku mereda
"Urusan? ada urusan yang lebih penting dari kakakmu? " tanya papi "Selama ini papi selalu mengajarkan, keluarga nomer satu" tambah papi, dan perkataan itu membuatku muak, kenapa harus aku yang di ingatkan tentang keluarga? bagaimana dengan kak candra? apa kak candra mengingat arti keluarga saat merebut bintang dari ku?
"Sudah pi, mungkin Pandu memang ada urusan yang mendesak" Bintang berusaha membelaku, entahlah membela atau justru menjebak ku
"Mendesak? apa urusan mendesak yang membuatmu pergi gitu aja? " papi terus menyecar pertanyaan padaku
"Kiand...! " ucap Kak Candra
"Kiand? siapa kiand? " tanya papi, aku segera menoleh ke arah kak candra yang duduk di sampingku, apa maksud kak candra membawa nama kiand disini?
"Maksud lo apa ka? " Aku berdiri dari kursi, menatap kak candra tajam
"Duduk pandu! " perintah papi "Dimana sopan santun mu pada kakak mu sendiri? " Ku tarik nafas panjang-panjang berusaha menenangkan hatiku
"Jawab pertanyaan papi? siapa kiand? apa hubungan dia dengan mu? " tanya papi
"Semua bukan tentang kiand pi, nggak ada urusannya! " jelasku
"Jawab pertanyaan papi? " tegas papi " candra, siapa kiand? " tak dapat jawaban dariku papi beralih menanyakan pada kak candra, sungguh aku tidak percaya dengan sikap kak candra saat ini! apa sebenernya yang mereka inginkan?
"Maaf pi, untuk pertanyaan itu lebih baik, papi tanyakan pada Pandu, candra nggak berhak untuk menjelaskan siapa kiand! " jawaban clasic
"heemmmm" senyumku sinis "Tau apa lo tentang berhak dan nggak berhak? " tanyaku pada Kak Candra
"Pandu, jaga sikap kamu! " bentak mami, kali ini aku seperti seorang penjahat dan Kak Candra adalah korbannya, sedang sebenarnya disini aku yang terluka
"Jawab papi siapa kiand? " papi melemparkan pertanyaan yang sama
"Kiand adalah kekasih Pandu om" jawab Bintang, aku langsung menoleh kearahnya, namun Bintang langsung menunduk tanpa mau menatapku, kenapa seolah semua menghakimiku?
"Kekasih? sejak kapan kamu berhubungan sama dia? " tanya papi " tinggal dimana dia? bagaimana orangtuanya? " pertanyaan demi pertanyaan terlempar dari mulut papi, itu membuatku semakin kesal.
"Arah perbincangan ini sudah ngaur pih, pandu capek, pandu mau istirahat" tanpa menunggu izin dari mami dan papi aku segera meninggalkan meja makan, bergegas ke kamar, teriakan mami memanggil namaku sama sekali tak aku hiraukan. Kadang aku merasa siapa sebenarnya aku dalam keluarga ini? Mereka selalu memprioritaskan Kak Candra, mereka tak perduli bagaimana perasaanku, bagaimana hatiku saat ini, bagaimana besarnya cintaku pada Bintang, aku semakin membenci Kak Candra.
"Aghhhhhh!!!!!!! " ke hempas beberapa barang yang ada di atas nakas , aku lelah dengan hidupku, tak ada yang mengerti ku, bahkan Bintang sekalipun, wanita yang ku anggap selalu mendukungku, selalu ada untukku, justru seolah menjatuhkan ku,
"Mas Pandu, Mas... buka mas" Suara Reina mengetuk pintu kamar
"Mood mas lagi nggak bagus dek! jangan ganggu mas" teriakku. Reina adalah orang yang selalu menghampiriku di saat aku sedih, dia juga yang selalu tersenyum dan meyakinkanku jika aku masih punya keluarga.
"Mas, mas nggak papakan? " tanya Reina
"Mas nggak papa, mas cuman mau sendiri! " jawabku.
Reina pun memberi ruang untukku menenangkan diri, tapi suara perdebatan di bawah membuat kepalaku sakit, masih terdengar bagaimana papi terus mengumpat ku "anak tak tau terima kasih, tak punya aturan! " kata-kata yang sering ku dengar saat aku berdebat dengan mereka "Pandu harus banyak belajar dengan Kak Candra, contoh sikapnya, contoh kerja kerasnya" akhir dari umpatan itu . sebenarnya aku muak, tapi aku menyayangi mereka, karena untukku apapun keluargaku, mereka adalah rumahku.