
POV Kiand
Semuanya berjalan indah. Setelah merasakan tidak enaknya sebuah kehilangan, kini aku menggenggamnya. Aku pikir cintaku dulu tak akan sedalam ini, tapi kenyataannya aku terlalu dalam mencintai Pak Pandu, dan sekarang aku begitu bahagia secara resmi aku dapat menyatakan diriku adalah milik pak pandu, tanpa permainan dan bukan sebuah kepura-puraan.
Tidak terasa aku sudah menjalani hubungan dengan Pak Pandu selama tiga bulan. Aku sudah meminta maaf dan menjelaskan pada Bunda noval, karena tak melanjutkan hubungan dengan Noval, untunglah bunda novel mengerti jika perasaan itu tidak bisa di paksakan, sekarang hidupku jauh lebih baik, kesehatan ayah berangsur membaik, meski masih harus berjalan di atas kursi roda, aku juga sudah sempat berkomunikasi dengan mami pak pandu melalu sambungan telpon atau video call, sambutan beliau begitu ramah, tidak seperti saat pertama kali kami bertemu.
Hidupku jauh lebih tenang, dan yang lebih membuatku sempurna, adanya pak pandu saat ini. Hari ini aku berangkat kerja seperti biasa, baru satu bulan ini aku kerja di salah satu mall sebagai fit out officer yah sesuai dengan pengalamanku sebelumnya, namanya karyawan baru ada saja yang membuatku sedikit tidak nyaman, contohnya hari ini, managerku kecewa dengan hasil kinerja aku dan tim, sebenarnya bukan salahku, aku sudah memberi ide dan saran tapi tak ada yang di pakai, maklum harus menerima apapun keputusan senior.
...****************...
"Kenapa? " satu suara mengagetkanku saat aku menunduk melipat kedua tanganku di atas meja valley
" ahhh bikin kaget aja!" gerutuku saat melihat pak pandu "lama banget sih ..."
Pak pandu hanya tersenyum tipis lalu mengikuti langkahku di belakang
"kenapa sih?" tanyanya saat kami berjalan mengitari mall
" aku sebel, harusnya kalau tadi ide ku di pakai, kita gak akan kena omel Bu Mega" gerutuku
"tunggu!" Pak pandu menghentikan langkahnya membuat akupun ikut terhenti, dia terlihat berjalan ke arah coffeshop.
"nih...biar gak panas!" tak lama pak pandu kembali sambil menyodorkan sebuah minuman dingin
aku segera menancapkan sedotan lalu menyesapnya dengan rakus
"haus banget kayanya!" sindir pak pandu
"untuk menenangkan kepala yang panas!" sahutku
Kami kembali berjalan mengitari sudut mall
"kalau kamu merasa gak nyaman resign aja!" celetuknya
"resign resign gak segampang itu !" jawabku sedikit ngegas
" memangnya Bu Mega itu siapa?" pak pandu mencoba mengulik
" itu manager Fit out, pak pandu tau, orangnya marah marah Mulu, marah sih kaya minum obat sehari bisa tiga kali...." aku terus menggerutu
" belum nikah kali....!" ujarnya santai
" memang kalau belum nikah suka marah-marah?" tanyaku
"yah...kata orang sih gitu, tapi menurutku benar, coba aja liat, orang di depanku, marah-marah aja sepanjang jalan, karena dia belum nikah" aku terdiam mendengar perkataan pak pandu yang justru mengarah padaku
"maksud pak pandu aku?" tanyaku tak sadar dengan ucapannya
pak pandu hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya
"hmmmm aku akan menikah kalau aku udah punya penghasilan 50jt/bulan" aku menepuk pundak pak pandu
Pak pandu nampak cemberut "ahhh kalau gitu gak akan nikah-nikah. Lagi pula untuk pendapatan 50jt perbulan penghasilanku sampai kok"
"yah itukan pak pandu bukan aku!" sahutku
"uang suami adalah uang istri, jadi semua pendapatanku adalah uangmu, kenapa masih harus nunggu?"
Aku melongo mendengar ujaran pak pandu " bener juga sih" gumamku
"ya udah, tunggu apa lagi, ayo kita nikah ....! " ajaknya penuh semangat
"ayo....!" jawabku tak kalah semangat.
"Ayo pulang!" ajak pak pandu
Aku melihat keluar dan ternyata sedang hujan "tapi hujan pak, gimana kita ke parkirannya?" tanyaku, karena di mall tidak ada parkiran di basemant melainkan di halaman mall yang sangat luas
"Kita lari aja ke mobil!"
"nanti baju dan sepatuku basah"
Mendengar keluhanku pak pandu terlihat berpikir, lalu tiba-tiba dia berjalan ke sebuah toko aksesories, yang kebetulan saat itu berada di samping kami.
" nih....!" pak pandu menunjukan sebuah payung, yang baru saja dia beli
"ihhh...dia beli...!" jawabku tersenyum geli melihat kelakuan pak pandu
Kamipun berjalan menuju parkiran, selama itu aku terus merangkul lengan pak pandu yang sedang memegang payung untukku.
Begitu masuk ke dalam mobil, pak pandu mengecek kembali apakah bajuku ada yang basah, ia juga sempat mengusap dan mengelap rambutku yang sempat terkena cipratan air hujan saat memasuki mobil. Aku tersenyum. Merasakan indahnya perwujudan kasih dan sayang pak pandu.
Pada mulanya, cinta akan tertanam dalam hati, kemudian akan tumbuh bersama dengan waktu dan tampak dalam perbuatan.
pak pandu yang duduk di kursi kemudi menoleh menghadap ku, dan tersenyum. Tangannya mengelus rambutku lembut.
"maaf ya, kepalamu jadi basah..." ucapnya
"gak papa kok, pak pandu lebih basah....!" aku mengusap kemejanya yang basah
Saat mesin mobil dinyalakan, semilir angin dari AC mobil mengenai tubuhku, reflek aku mengusap kedua lenganku untuk mendapatkan rasa hangat, melihat itu pak pandu segera menaikan suhu AC dan mengambil jaket yang di sangkutkan di kursi untuk kupakai
"Dingin ya ..?" tanyanya dan aku hanya mengangguk
Ku masukan kedua tanganku ke dalam kantung jaket milik pak pandu, aku terdiam saat tanganku menyentuh sesuatu. karena rasa penasaran aku mengambil benda itu dan ternyata sebuah tempat perhiasan berwarna merah berbentuk love
"apa ini?" tanyaku sambil menunjukan benda itu
Pak pandu yang sedang mengendarai mobil, hanya melirik dan tersenyum "bukalah"
"boleh?" tanyaku
"hmmm!" jawabnya mengangguk
Aku terkejut saat ku buka sebuah cincin emas tampak bersinar, menyilaukan penglihatan ku.
"ini buat aku?" tanyaku
Pak pandu meminggirkan mobilnya, dia mengambil cincin itu, dan langsung menyematkan pada jari manisku tanpa permisi, jantungku berdetak kencang, bibirku terus tersenyum bahagia.
"pak pandu....!" ku tatap matanya yang penuh kehangatan
"Kiand, mau kah kamu menikah denganku...?"
Aku langsung mengangguk, tanpa berpikir lagi, pak pandu tersenyum puas dengan jawabanku, ia memelukku. Selama perjalanan pulang aku tak bosan melihat cincin emas yang kini melingkar di jariku, rasanya begitu hangat terasa hingga nadiku.
"cincin itu sudah terlalu lama ku simpan" cerita pak pandu "setiap ingin ku berikan, moment ya gak pas, nah sekarang sudah waktunya dia tersemat di jari kamu"
"hmm pak pandu...." rengek ku manja
rasanya aku tak bisa berkata-kata, setelah melewati berbagai halang rintang, akhirnya kisahku berakhir dengan indah, semoga ini adalah awal sebuah cinta yang akan tertanam lama dan tetap tumbuh di hatiku dan pak pandu.
Tuhannn aku sungguh bersyukur dengan takdir yang kau gariskan untukku, duniaku yang hancur perlahan mulai ku tata kembali. terima kasih kau telah kembalikan kekuatanku yang sempat hilang