For A Great Love

For A Great Love
episode 112 ujung tombak



POV PANDU


Sesampainya di kantor, aku segera memarkirkan mobil di basemant, dan langsung menuju ruang meeting.


Hari ini ada meeting para pemegang saham, dan akan menjadi hari krusial bagiku


"Pagi Pak Pandu! " Sapa karin saat aku hendak memasuki ruangan


"Pagi! karin hari ini tolong atur ulang jadwal pertemuan saya dengan beberapa fendor, saya akan fokus meeting di kantor! " titahku pada karin


"Baik pak! " jawabnya


aku segera memasuki ruangan, memeriksa beberapa berkas, yang harus ku cek untuk meeting hari ini


Tok Tok Tok suara ketukan pintu


"Pagi bro!!! " Jefry dan Yoga menghampiriku


"hmmm.... " jawabku karena aku masih konsentrasi membaca beberapa berkas penting


"Sibuk banget bro! masih pagi ini! " ujar Jefry dengan gaya selengean nya , yang anehnya aku selalu bisa mentolelir hal itu, justru aku alan merasa aneh ketika dia bersikap normal seperti aku dan yoga.


Aku yang saat itu sedang berdiri agak sedikit membukuk, segera berbalik ke arah jefry yang berdiri di belakangku


"Bro!!! ini adalah awal perjuangan gue yang sesungguhnya, jadi bro!!!!! tolong jangan buat gue kecewa, semua berkas sudah oke kan? " ujarku sambil menepuk kedua bahu jefry. dia terlihat kikuk dan menatapku dengan tatapan aneh, tak percaya, atau apalah itu


"Bro!!! sarapan apa pagi ini? kenapa begitu bersemangat? " tanya jefry, Yoga yang duduk di sofa sambil melihat majalah hanya tersenyum kecil, melihat tingkah kedua sahabatnya ini


"Sarapan cinta! " bisikku dan segera berjalan ke belakang meja


"ohhhh.. ya... ya... gue paham! kalau udah urusan cinta semangat lo bisa berkali kali lipat ya!!! " godanya


"lo harus maklumin jef! dia lagi mengejar masa depan! " sahut yoga


"berisik lo pada, bentar lagi meeting!! semua data udah lo siapinkan?" tanyaku pada yoga


"beres, kalau soal kerjaan lo nggak salah nunjuk


orang! " jawabnya


"lalu kalau soal jodoh? " aku sedikit menyentil ke arah Reina


Yoga terdiam, dia kembali membaca majalah yang ada di depannya, seakan tak ingin membahas masalah ini


"hey hey hey....! kenapa obrolan kalian pagi ini berat banget sih! santai bro rileks....! " sahut jefry sambil menepuk pundak yoga dan duduk di sampingnya


"apaan sih lo! gue masih normal! " ujar Yoga, saat tangan jefry melingkar di bahunya dan dengan cepat ia singkirkan


"Ya udah! yok ke ruang meeting ! " ajakku


Kami berjalan menuju ruang meeting yang tak jauh dari ruanganku , ternyata kak candra sudah berada di dalam tanpa memberi tahuku


"Ehh pak candra ternyata sudah disini! " ujar jefry


"iya, tadi habis sarapan di bawah langsung ke sini!" jawabnya kaku


"Ohhh..! " responku singkat


Aku duduk di antara kak candra dan Yoga kami kembali berdiskusi kecil sebelum para investor datang


Tak lama satu persatu mereka memasuki ruang dan meeting di mulai pukul 10.00 dengan agenda membahas beberapa proyek yang terbengkalai dan solusi yang akan kami hadapi


Kak candra membuka meeting hari ini, dia menjelaskan proyek yang memiliki keuntungan tinggi nantinya, salah satunya proyek Pondok Emak , proyek yang aku dan Kiand pegang saat itu, dalam hal ini kak candra meminta para pemegang saham untuk tetap tenang, dan mengabaikan berita yang beredar, karena kita saat ini sedang berusaha mengembalikan kejayaan perusahaan ini


"Menurut saya proyek ini tidak terlalu efektif, karena masih membutuhkan waktu dan biaya yang cukup lama" ujar salah satu pemegang saham yang hadir saat itu


"Kita sudah pikirkan hal itu, selama proyek berlangsung kita akan lakukan berbagai cara untuk membangun proyek yang saat ini sudah mulai berjalan, seperti hotel yang di Bali dan pembangunan rumah kos di jakarta barat " jelas kak candra


"Saya tetap tidak yakin perusahaan ini akan tetap bertahan, apa jaminan anda? setahu saya beberapa fendor juga sudah mengeluh dengan pembayaran yang sering tertunda, jadi saya memilih akan menjual saham saya pada perusahaan lain" seru Pak Galang salah satu pemegang saham


"Maksud pak Galang? " tanyaku


"Pak wijaya menawar saham saya dengan harga yang tinggi, jika di lihat dari resiko yang kemungkinan terjadi itu sangat menguntungkan buat saya" jawabnya


"Yah, bukannya beberapa pemegang saham yang hilang juga sudah berpindah tangan kepada pak wijaya? " ujar Pak Galang


" mohon maaf saya tidak mengerti dengan maksud anda! " aku mengintrupsi


"Pak pandu, bisa di tanyakan pada pak candra, selama ini para pemilik saham tidak benar-benar menarik saham mereka, melainkan menjual saham mereka pada wijaya group"


aku yang tidak mengerti apapun yang di bicarakan segera menoleh kearah Kak Candra, aku tak tahu apa lagi yang di sembunyikannya


"Saat ini, pak wijaya memegang 45 persen saham bagaskara group bukan? " tanya Pak Hamzah


"45 persen? beberapa data tidak menunjukan hal itu, hanya 20 persen saham yang masih ada di perusahaan ini, bukannya pak wijaya sudah menarik semua sahamnya? ada apa ini? " aku seperti orang bodoh disini!


"Bagaimana pak candra? " tanya pak galang


"saya akan menjelaskan disini! kemarin-kemarin para investor berbondong-bondong menarik saham mereka, karena isu yang beredar, dan ternyata isu itupun di buat oleh wijaya group, beberapa proyek kita sedang berjalan, dana yang seharusnya keluar otomatis tertahan, karena gejolak yang terjadi di dalamnya, saya sengaja tidak memberi tahu pak pandu, karena masalah yang terjadi adalah tanggung jawab saya, pada saat saya hendak melobi kembali beberapa investor, saya cukup tercengang ketika mereka mengatakan tidak mencabut saham mereka melainkan telah menjualnya pada wijaya group! "


"bukan pada aturannya, mereka harus mendiskusiksn hal itu dengan kami, dan menawarkan saham itu pada pemilik saham lainnya? sebelum ke luar? " tanya Yoga


"itu alasan mengapa wijaya group menyisakan 20 persen saham miliknya! " jawab kak candraa


Aku sudah muak dengan rapat kali ini, dan memilih untuk pergi keluar ruangan meski rapat masih berlangsung


brakkk!!!!!! ku banting pintu ruangan, rasanya aku begitu emosi menghadapi pak wijaya, begitu licik, menarik sahamnya dari perusahaan, membuat opini seopah perusahaan akan hancur, lalu tanpa sepengetahuanku dia justru membeli saham dari mereka yang percaya padanya.


"aghhhh!!!!!! " teriakku sambil menendang kursi hingga dia terpental agak jauh dari tempatnya


apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini, target pak wijaya adalah memiliki 100 persen saham bagaskara group, dan saat ini ia sudah memiliki 45 persen


"Du....! " kak candra masuk ke ruang kerjaku, di susul oleh Yoga dan Jefry


"Apa maksud semuanya? kenapa kak candra nggak kasih tahu apa yang terjadi? " tanyaku kesal


"bukan nggak kasih tahu, tapi gue tunggu waktu yang tepat! " ujarnya


"lalu, setelah perusahaan hancur seperti ini adalah waktu yang tepat? "


"Du lo tenang dulu dong! " Yoga mencoba menenangkanku


"Gimana gue bisa tenang Ga! semua tanggung jawab ada di tangan gue saat ini!!! "


"bukan cuman lo! tapi gue! awalnya karena gue! " sahut kak candra! " semua nggak bisa di pertahankan lagi Du! " serunya


"Tapi nggak harus ngejual perusahaan kita pada dia!!!! " sahut pak pandu


"lalu? apa ada solusi? biaya operasional perusahaan tidak sedikit! belum gaji karyawan, beberapa partner kita udah pergi..... proyek kita terbengkalai! " teriak kak candra


"udah, udah, kalian berdebat bukan menyelesaikan masalah! " ujar yoga,


"Pak wijaya begitu tahu celah kelemahan kita Du! beberapa fendor juga terus menghubungi kita, dana tidak akan keluar jika hidak ada persetujuan dia kali ini! " jelas Kak Candra


"Lalu ! apa wewenang kita sudah tidak ada gunanya lagi? " tanyaku


Kak candra terlihat menggelengkan kepala , ku jatuhkan tubuhku di atas kursi , bagaimana aku menjelaskan semuanya pada Papi? jujur aku menyesal karena tidak terlalu mengenali dunia bisnis dan permainannya, harusnya dari awal aku banyak belajar untuk hal ini, aku terlalu bodoh dan naif


"saham yang dia pegang saat ini lebih dari yang kita miliki, jika pak galang jadi menjual sahamnya itu artinya kepemimpinan akan jatuh ke tangannya, dan dia akan mengumkan hal itu pada dewan direksi, keputusan akhir semuanya ada di tangan Pak galang"


"Gila tuh orang, licik! bener-bener licik! " sahut jefry


"beberapa kita mungkin akan terpental, dan yah kita harus siap untuk itu! "


"Kita harus mundur, tapi bukan mengalah! " gumam ku


Tok tok tok suara ketukan pintu


"siang! " sapa kiand


aku terkejut saat melihat kiand datang, dan segera menghampirinya, kiand membawakan ku makan siang, tapi saat kiand datang kak candra justru pergi, dia masih kaku dan memilih menghindari kiand .


kami makan bersama, bercanda seolah melupakan masalah yang ada meski sebenarnya aku sedang melupakannya sesaat.