For A Great Love

For A Great Love
episode 109 untuk cinta terbaik



Karena Yoga harus menjaga Reina, terpaksa hari ini aku yang menemui pak michel padahal badanku juga belum terlalu fit.


Aku menunggu di sebuah restaurant di pusat kota, tempat ini memang selalu ramai oleh eksekutif muda yang bertemu dengan klien mereka, selain tempatnya yang nyaman, restaurant ini berada di pusat perkantoran, sehingga lebih mudah di tempuh.


"selamat siang pak pandu! " Pak michel sudah berdiri di sampingku


"siang pak miche, silahkan duduk! " ucapku "mau pesan minum atau makanan? " tanyaku


"valilla late aja! " jawabnya


aku memanggil pelayan restaurant dan memesakan vanilla late untuk pak michel


"Baik pak pandu, sepertinya saya juga tidak akan terlalu lama mengambil waktu anda, anda pasti sangat sibuk bukan? " ujar pak michel


"ohh tidak apa-apa pak, waktu saya luang hari ini" jawabku


pak michel mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya


"permisi vanilla late! " seorang pelayan mengantarkan pesanan pak michel


"oke terima kasih ! " ucapku


"di minum dulu pak! " titahku


pak michel mengesap ujung cangkir yang berisi vanilla late


"Saya minta maaf sebelumnya pada pak pandu, keputusan pak tan memang sangat mengejutkan, ternyata di akan tetap menaruh sahamnya pada PT wijaya group dan mengambil semua saham dari PT Bagaskara group" jelas pak michel. sebuah penjelasan yang membuatku kecewa


"Saya sudah berusaha meyakinkan pak Tan, tapi sepertinya, pak tan punya alasan sendiri mengapa dia bersikeras mencabut sahamnya dari pt bagaskara group" ujar pak michel


"hmm ya!! tidak apa-apa pak, saya sangat berterima kasih, pak michel mau meluangkan waktu untuk saya"


"ya sudah, saya masih ada meeting dengan klien, semoga suatu saat kita bisa bekerja sama kembali! " jabatan tangan pak michel adalah bentuk kegagalanku, dan aku harus terima itu


aku memilih pulang ke apartemen, rasanya tak ingin menginjakan kaki di kantor, maupun di rumah papi, aku butuh menenangkan pikiran dan perasaanku saat ini.


Ku buka pintu apartemen dengan sisa tenagaku "Aku pulang!!! "


Suasana apartemen begitu sepi, jelas saja, Bi Nur, Arga, ayah masih di surabaya, dan kiand? kemana dia?


"Hei.. pacar udah pulang? " Kiand keluar dari dapur dengan celemek biru yang jadi kesukaannya


"hmm aku mau istirahat! " jawabku


aku berusaha menyembunyikan kegalauanku tentang pekerjaan di hadapan kiand, aku tak ingin dia terlalu khawatir


"ya udah, pacar istirahat dulu, aku mau lanjutin masak ya ! " Ujarnya, dengan spatula yang masih berada di tangannya


Aku menarik tangan kiand tak rela membiarkannya pergi, hatiku sedang tak nyaman, dan hanya kiand yang membuat hatiku tenang.


Aku langsung memeluk tubuhnya, hal yang ingin aku lakukan saat ini, di tengah ke putusasaan ku


"Pacar kenapa? ada masalah? " Kiand tampak kebingungan, wajar saja tidak biasanya aku melakukan hal ini, tapi kali ini aku benar-benar butuh dekapan hangat darinya setidaknya untuk memberikan ketenangan sesaat


"Jangan gerak, sebentar aja! " pintaku


Kiand seakan mengerti perasaanku, tak ada pertanyaan yang keluar dari mulutnya, dia hanya membalas pelukanku dan membiarkanku berada dalam dekapannya


"satu menit aja! " pintaku manja


"hmmm... " kiand mengangguk


Aku merasa melepaskan semua bebanku saat berada dalam pelukan kiand, seperti baterai yang di charher full, semangatku kembali , keputus asaan yang tadi menghantuiku menghilang tergantikan dengan harapan dan impian, aku harus segera menyelesaikan masalah perusahaan, aku tak ingin membiarkan kiand menungguku terlalu lama


"Sudah satu menit! " ujar kiand


Bukannya melepaskan pelukan aku justru semakin memeluknya erat " sepuluh detik lagi please!!! " rengekku


"hmmm ya, aku hitung mundur ya! " kiand mulai menghitung dari angka sepuluh sampai di titik angka satu


"Sudah....! " ujarnya


aku melepaskan pelukan kiand, dengan senyum lebar dari bibirku


"Ya udah pacar istirahat, sebentar lagi makanannya mateng, kita makan bareng ya! " ujar kiand


"oke, aku juga mau ganti baju dulu...! "


Kiand kembali ke dapur, dan aku ke kamar, aku sempat merenung sesaat, memikirkan bagaimana cara mengembalikan perusahaan seperti dulu,


drtttt


Jefry memanggill....


"Hallo jef" sapaku mealui sambungan telpon


"Du, gagal...! " kata jefry terdengar kecewa


"Oke kita pikirkan besok di kantor! " jawabku


"beberapa proyek terpaksa di hentikan, karena nggak ada kucuran dana lagi" jelas Jefry


"hmm ya..!! nanti gue coba pikirin "


"ya udah kalau gitu, gue masih harus balik ke kantor"


"gue mungkin besok baru ke kantor, hati ini gue istirahat dulu, lambung gue juga belum pulih banget "


"oke, lo jaga kesehatan bro!! "


"siap!!! "


ku tutup sambungan telpon, rasanya begitu lelah, masalah datang silih berganti. Setelah mengganti pakaian aku menghampiri kiand di dapur. tenggorokanku begitu kering, terlalu banyak memikirkan masalah aku bahkan tidak merasa haus.


"Sabar ya sebentar lagi! " ujar kiand saat melihatku mengambil sebuah gelas kosong


"hmm iya,! " jawabku. ku buka kulkas hendak mengambil air dingin


"pacar mau ngapain? " tanya kiand mengaggetkanku


"minum? " jawabku bingung


Kiand langsung mematikan kompornya " ihhh udah tahu lambungnya lagi bermasalah, masih minum air dingin" dia mengambil gelas kosong ku, dan menuangkan air hangat


"nih minum! " titah kiand


entah bagaimana jadinya aku jika tidak bertemu wanita ini, aku bahkan tidak mampu memperdulikan diriku sendiri,


"hmm!!!makasi ya! " ucapku tersenyum


"pacar harus jaga kesehatan, jangan sakit lagi ya, keluarga pacar sedang membutuhkan pacar jadi harus sehat"


"ohh keluarga aku? keluarga aku doang yang membutuhkan, tidak terlalu bersemangat! " celetukku


kiand tersenyum menatapku " aku juga!! " ucapnya malu-malu


"nah kalau ini aku semangat! ayo kita makan, perut aku udah keroncongan" ujarku riang


"ya udah, aku siapin di meja makan ya...! " kiand memasak soto ceker dan teman-temannya, wanginya begitu menggoda membuat perutku yang sedari tadi tidak terasa lapar kini seakan berontak memintaku segera mengisi perut


Kiand menuangkan soto ke dalam mangkuk dan aku hanya memperhatikan wajahnya yang selalu membuatku jatuh cinta


"ini buat pacar... " kata kiand menyodorkan mangkuk yang sudah berisi soto panas, tapi aku tak langsung mengambil mangkuk itu, aku berlaga memperhatikannya saja, seraya memasang wajah ingin di suapi


"pacar ini sotonya!! kata bi nur makan saat panas lebih enak" ujarnya


Dia tidak mengerti atau pura-pura tak mengerti sih , padahal aku sudah kasih kode agar dia mau suapin aku


"nggak mau? " tanyanya


"hmmm...! " ku rubah raut wajahku menjadi ekspresi kesal, dan dia hanya tersenyum


"aku tahu, pasti mau di suapin kan? " ledeknya,


Aku pikir setelah itu dia akan menyuapi ku, ternyata dia malah menaruh mangkuknya di hadapannya, dan memakannya sendiri


"hmmm enak...!!! " lagi-lagi dia menggodaku "yakin nggak mau? " aku masih ingin bertahan, tapi sepertinya perutku tidak sanggup lagi


Saat Kiand mengangkat sendoknya dan hendak memasukan ke dalam mulutnya, aku segera menarik tangannya, dan menyondongkan wajahku tepat di hadapannya, setelah itu aku memasukan sendok itu ke dalam mulutku, kiand yang melihat gerakanku begitu cepat, hanya diam, apa lagi saat itu wajah kami saling berdekatan, hampir tak ada jarak. Kami saling melempar tatapan cukup lama, hingga aku merasakan panas di lenganku, ternyata mangkuk yang berisi soto panas itu bersentuhan dengan kulit lenganku


"au.. au... panas! " teriakku


kiand tertawa puas " makanya jangan jail, langsung di bayar kontan! "


"yeay pacarnya kesakitan bukannya di obatin! " tampang merajuk


"sini-sini aku liat tangannya...! " kiand menarik tanganku, dan mengelus bagian yang terasa panas


"masih sakit? " tanyanya


aku menjawab dengan gelengan kepala "aku mau makan! " aku langsung mengambil mangkuk milik kiand, yang kebetulan sudah ada sendok bekas suapannya


"ihh itu punya aku...!!! " ujar kiand


"kita tukeran, kamu makan yang ini! " aku menyerahkan mangkuk milikku


"kok gitu!!! "


"habisnya kamu nggak mau suapin aku, jadi aku makan di sendok bekas suapan kamu" jawabku


"hmmm dasar curang!!!! " sahutnya kesal


kami makan bersama siang itu, tertawa, bercanda, hingga aku melupakan masalahku sesaat, sekali lagi aku hanya ingin bilang, aku begitu beruntung memiliki dia, wanita yang begitu memahamiku, berjalan bersamaku, tak perduli angin , badai di hadapan kita, dia selalu menggenggam tanganku, dan bersama menerjang semua badai yang datang


untuk cinta terbaik.