For A Great Love

For A Great Love
episode 87 it's just begin



Aku berjalan menyusuri lorong apartemen yang kosong, tak perduli dengan ponsel yang sedari tadi berdering tiada henti, mungkin sudah ada ratusan panggilan tak terjawab yang ku acuhkan.


Ku hempaskan tubuhku di atas sofabed


"stres!!!! "


masalah ini rasanya semakin pelik dan berlarut-larut. Kiand tetap teguh dengan pendiriannya untuk mengakhiri hubungan ini. Monic yang semakin hari semakin Agresif membuatnya semakin muak dengan keadaan, tak bisa ku pungkiri, pertemuan-pertemuan dengan Monic tidak meninggalkan sedikitpun kesan di hatiku, karena semua ruang di hati ini sudah terisi penuh oleh Kiand.


"Gue bisa gila lama-lama kaya gini! " ku remas rambutku dan ku hempaskan. Detik terus berdenting, menandakan waktu terus berjalan meski rasanya ingin ku hentikan. Sulit untukku bisa memejamkan mata, terbayang wajah kiand yang sendu, bagaimana dengannya sekarang?


Ku nyalakan treadmill yang terletak di samping jendela apartemen, berolahraga malam mungkin bisa membuatku sedikit lebih waras, ku atur kecepatan pada panel treadmill di angka 4mph, aku hanya ingin lari-lari kecil saja. ku nyalakan beberapa lagu yang sesuai dengan hatiku, dan ku pasang earphone di telingaku. seperti itu lebih baik dari pada aku harus ke club malam dan membuat diriku tak sadar.


Drtttt ponselku kembali bergetar, kali ini bukan dari monic. Ku kerutkan keningku saat melihat nama Yoga di layar ponsel, ada apa dia menghubungiku selarut ini pakai segala video call! gumamku


Ku arahkan ponsel tepat di hadapan wajahku, sambil tetap berlari kecil di atas treadmill


"Apa? " tanyaku saat gambar wajah Yoga yang ternyata tidak sendiri muncul di layar ponsel


"Ngapain lo? olah raga? gila lo ya, bukannya istirahat malah olah raga! " ujar Jefrry, aku bisa lihat ekspresi wajahnya yang tengil


"Lo sendiri ngapain VC gue tengah malam! "


"ini pagi bro.... malam sudah lewat!!! " ujar Jefry


"Kenapa? kerjaan bereskan semua? " tanyaku pada yoga dan jefry


"Beres, tapi cewek lo dari tadi nelponin kita, katanya lo nggak ada di apartemen, lo kemana? " tanya Yoga. Aku sengaja tak mengatakan apapun tentang kiand pada mereka, mungkin akan ku ceritakan setelah aku balik dari sini.


"Ngapain dia? " tanyaku sambil tersenyum puas. mereka pasti di cecar oleh monic untuk memberitahu keberadaanku dimana, meski mereka sudah menjawab dengan jawaban tidak tahu


"Biasalah, hadeh dia ngoceh-ngoceh! masak gue bilang lo nggak sama kita dia nggak percaya! " gerutu jefry


"Bukannya Monic ikut sama lo? " tanya Yoga "Kok bisa dia nggak tau lo kemana? "


"Dia memang sama gue, tapi dia lebih pilih nginep di hotel, dan gue di apartemen, " jawabku masih dengan posisi berlari santai di atas treadmill


"Emang lo abis dari mana? " tanya jefry "Lo nggak cari gebetan kan? "


"Emangnya gue lo, gebetannya ada di setiap kota! "


"Terus lo kemana? " mereka masih penasaran dengan jawabanku


"ada deh....!!! " ledekku "Ya udah, gue mau mandi nih badan gue udah keringetan! "


"Ehhh Pandu! tiga hari lagi ada meeting proyek baru sama beberapa investor, lo udah balikan? " tanya yoga


"Iya lusa gue balik sebentar...! "


"Ya udah oke! kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi kita! " ujar Yoga


"oke! " jawabku dan langsung mengakhiri percakapan kami melalui video call.


...****************...


Baru saja aku memejamkan mata, alarm di ponselku sudah berbunyi, belum lagi panggilan masuk dari Candra dan Monic .


"Hallo.....! " jawabku dengan nada setengah sadar


"Pak, saya sudah di bawah, Pak Pandu sudah siap? " tanya Candra. Ku jauhkan ponsel dari telingaku, kulihat jam di ponsel ternyata sudah menunjukan pukul 08.00 pagi


"Astaga!!!.. " aku terperanjat hingga membuang ponselku, dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap ke kantor.


"Sorry, semalam saya nggak bisa tidur! " ucapku pada Candra yang sudah membukakan pintu mobil untukku


"Iya nggak papa pak! " jawabnya


Candra langsung masuk ke kursi kemudi, dan melajukan mobil menuju kantor yang jaraknya hanya 2 KM. Tak jauh dari kantor aku sempat melihat Kiand berjalan dengan tergesa-gesa, ingin rasanya aku mengajak dia, tapi setelah kejadian semalam sepertinya aku harus lebih jaga jarak saat di kantor, kiand keberatan jika aku terus mengejarnya.


Mobil memasuki lobby kantor dan berhenti tepat di pintu masuk, Candra segera membukakan pintu mobil.


"Makasi can! ohh ya, sepertinya nanti sore saya akan ke gym, jadi kamu tidak perlu jemput saya" ujarku pada candra sebelum aku masuk ke lobby


"Tapi pak! "


"Sudah, papi nggak akan tahu apa yang kamu lakukan disini! "


"Baik pak! " Candra menunduk.


"Ya sudah, saya langsung masuk ya..! " Aku berjalan menuju pintu lobby, seorang pria bertubuh tegap dengan mengenakan seragam hitam berdiri di samping pintu lobby dia tersenyum sambil menundukan tubuhnya " Pagi Pak Pandu! " sapanya


"Pagi pak! " jawabku melempar senyum, aku berjalan menuju kantorku yang berada di lantai tiga. agenda hari ini aku harus meeting dengan klien mengenai digital marketing sebuah apartemen yang berada di pusat kota surabaya.


"Pagi Pak! " Sapa seorang pegawai wanita mengenakan blazer coklat, dan rok hitam yang sedang merapikan beberapa berkas


"Pagi! " jawabku.


Aku langsung membuka pintu ruang kerjaku namun aku benar-benar di buat terkejut, saat melihat Monic sudah duduk di kursi kerjaku


"Astaga!!! " ucapku sambil mengelus dada


"kenapa? kaget aku samperin kamu ke kantor? " tanyanya beranjak dari kursi dan berjalan kearahku


"ngapain kamu kesini? " tanyaku


"Pandu, aku udah telpon kamu berpuluh-puluh kali loh dari kemarin, nggak bisa apa angkat telpon aku sebentar aja! " dia mulai mengomel-ngomel hal yang menjadi kebiasannya ketika aku tidak mengangkat telpon darinya


"aku sibuk! kerjaanku banyak! " jawabku santai sambil berjalan ke balik meja kerjaku


"Iya, aku ada urusan...! " jawabku tak perduli


"Pandu! aku ini tunangan kamu! " Monic mulai kesal melihat sikapku yang santai seakan tak ada masalah


"Ralat, calon tunangan! " potongku


"Aghhhh! kamu ini! " ekspresi wajahnya menampakan emosi yang tertahan dengan tangan yang ia remas di hadapan wajahku "oke kalau sikap kamu seperti ini, aku akan mempercepat tunangan kita! "


"Monic, sampai kapanpun aku tidak bisa mencintai kamu, apa kamu sudah siap hidup dengan pria yang sama sekali tidak menaruh cintamu di hatinya? " tanyaku ramah


"Aku nggak perduli ya! aku sayang sama kamu dan kamu harus jadi milikku! " dia meremas pergelangan tanganku dengan tatapan penuh ambisi


" Terserah, aku ada meeting hari ini! jadi lebih baik kamu pulang dan selesaikan urusan kamu! " ku hempaskan tangannya dan ku tinggalkan dia yang masih berdiri di depan mejaku


"Pandu, pandu... !!!! kamu nggak bisa pergi gitu aja! " teriak nya


"Aku nggak perduli! " jawabku sambil membuka pintu dan meninggalkan ruangan


Aku langsung ke lantai dua, dimana para karyawan lainnya termasuk kiand bekerja.


"Pagi pak! " sapa salah satu karyawan yang berpapasan denganku


"pagi! " jawabku


Aku mendekati meja para tim kreatif , karena butuh layout untuk iklan property yang sedang ku tangani saat ini


"Pagi...! " sapaku, di meja itu, ada beberapa karyawan termasuk wulan dan kiand, mereka seperti sedang berdiskusi


"ehh pak pandu! pagi pak! " sapa wulan. Kiand sendiri hanya diam dan tersenyum kecil padaku, kami benar-benar harus bersikap seperti atasan dan bawahan bukan dua orang yang saling mencintai


"Wulan, saya minta lay out untuk iklan apartemen agung jaya group ya, karena hari ini saya akan bertemu dengan direktur marketingnya" titahku


"ohh baik pak! tapi belum selesai semua pak, tinggal sedikit lagi" ujar wulan


"ohh ya sudah nggak papa saya tunggu! saya di ruangan pak louis ya" ujarku


"baik pak! " saat ku berbalik badan hendak meninggalkan meja wulan, terlintas di kepalaku untuk mengajak kiand, yah hanya itu yang bisa ku lakukan agar aku dekat dengannya


"ohh iya, ada yang bisa ikut dengan saya ? " tanyaku


"Ikut kemana pak? " tanya wulan, sedang beberapa karyawan lainnya hanya menatapku bingung.


"ikut untuk rapat hari ini! " jawabku "saya tidak begitu mengerti mengenai marketing, atau periklanan, jadi lebih baik ada yang menamni saya, untuk membantu menjelaskan sudah sejauh mana progress kita "


"Oh...! " sahut wulan, cukup lama mereka saling memandang satu sama lain, tapi kiand hanya diam dan menunduk, seakan sibuk dengan kerjaannya sendiri.


"hmm gimana kalau kamu! " aku menunjuk ke arah kiand


"Hah! kenapa saya pak? " tanya kiand


"Kalau kiand kayanya belum bisa pak! dia karyawan baru disini, sedang lay out ini saya yang handle" ujar wulan


"Ohh ya sudah kalau gitu kamu dan kiand ikut saya! " titahku


"Maaf pak, tapi saya sedang mengerjakan deadline untuk hari ini" kiand sengaja menolak


"Kan bisa di kerjakan yang lain! " ujarku agak memaksa "hmm itu kamu! saya lupa namamu" tunjukku ke salah satu karyawan pria yang duduk di belakang kiand


"Daniel pak! " jawabnya


"kamu bisa hanlde pekerjaan kiand? " tanyaku


"bisa pak! tenang aja...!" aku suka dengan jawabannya, setidaknya tak ada alasan kiand menolakku lagi


"Ya sudah selesaikan lay outnya, dan langsung temui saya di ruang pak louis" aku berbalik dengan senyum kemenangan, yah salah satu keuntungan seorang pemegang saham.


Saat aku masuk ruangan pak louis, tampak Monic sudah ada disana, mood ku yang indah ternodai dengan melihat tatapan sinis monic


"Kenapa kamu disini? " tanyaku


"Maaf pak! tadi bu louis langsung masuk ruangan saya mencari pak pandu" ujar Pak louis


"Ya sudah nggak papa ! " jawabku


"Ternyata begitu cara seorang pandu bagaskara memperlakukan wanita? " ujar monic kesal


"bisa pelankan suaramu, ini kantor bukan tempat umum! "


"Aku nggak perduli! " ujar monic


"permisi pak, sebaiknya saya keluar dulu! " Pak louis tampak tak nyaman mendengar aku dan monic saling adu mulut


"Nggak usah, kamu disini saja, inikan ruangan kamu...! " tolakku


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, kemana kamu kemarin, kenapa nggak angkat telpon dariku? " tanyanya lagi


"Apa perlu aku jawab disini! aku lagi kerja, jadi lebih baik kamu keluar deh! " usirku secara halus


"kamu lupa, aku pun salah satu pemilik perusahaan disini, jadi nggak ada yang berhak mengusirku"


"terus sekarang mau kamu apa? " tanyaku kesal


" aku mau ikut kamu! " Ku tarik napas panjang, kalau aku menolak, dia pasti berulah, tapi aku sudah terlanjur mengajak kiand!


"terserah! " hanya itu yang bisa ku ucapkan pada monic, semoga saja dia tidak agresif saat meeting nanti