For A Great Love

For A Great Love
episode 107 perawatku



Aku benar-benar sibuk hari ini, aku harus memulihkan kembali kondisi perusahaan, tiga investor resmi menarik saham mereka, dan itu benar-benar membuat perusahaan goyah,


Malam Minggu ini aku sengaja menginap di apartemen, Ayah Kiand, Bi Nur dan Arga tengah ke surabaya, aku tak ingin membiarkan kiand sendiri, jadi meski aku sangat sibuk aku berusaha menemaninya


"Makan dulu, dari tadi pacar nggak beranjak dari laptop deh" titah kiand, dengan membawa sepiring spageti buatannya


"Iya sebentar lagi nanggung, aku masih harus ngecek laporan keuangan tiga bulan terakhir" jawabku


Kiand menarik sebuah kursi dan duduk di sampingku


"aaaaa..... " Dia hendak menyuapiku, dan terpaksa aku menuruti maunya


"sibuk boleh, tapi pacar harus jaga kesehatan, aku nggak mau pacar sakit" ujarnya manja


ku hentikan pekerjaanku sejenak, ku hadapkan tubuhku kearah kiand


"Kamu sabar ya, setelah ini aku akan fokus sama hubungan kita " janjiku saat itu


"Iya, pacar tenang aja, aku sabar kok...! " jawabnya


Kiand selalu bisa membuat hatiku lebih tenang, meski dalam kondisi apapun...


"makasi pacar... " ucapku sambil mengacak-acak rambut nya yang selalu lembut dan wangi


Aku melanjutkan pekerjaanku, di temani kiand, yang masih menyuapi spageti buatannya, setelah itu aku meminta kiand untuk bersantai di sofa, itu akan lebih nyaman untuknya, dari pada dia harus duduk di kursi makan


fokusku kembali ke layar laptop, semua laporan yang masuk aku cek ulang, memang ada beberapa laporan keuangan yang janggal, dulu aku tidak terlalu memperhatikan.


Tak terasa jam menunjukan pukul satu dini hari, aku bahkan lupa jika kiand sedang menemaniku, saat ku tengok ke arah sofa, ternyata sudah sudah terlelap dengan tv yang masih menyala, anak itu selalu bisa tidur dalam kondisi apapun. Ku matikan laptopku, dan layar TV kemudian menghampiri kiand di sofa


Ku tatap wajahnya yang tengah terlelap, akan sulit untukku menatap wajah kiand di saat dia sadar, dia akan selalu memalingkan wajahnya. Kali ini aku punya kesempatan untuk lebih lama melihat ketenangan dalam diri kiand, matanya yang sipit, hidungnya yang mancung dan pipinya yang selalu merona kala aku menggodanya. Tanganku perlahan membelai setiap lekuk wajah kiand, aku sangat mencintai wanita di hadapanku ini, dan aku tak perlu memberi alasan kenapa aku mencintainya.


Ku gendong tubuhnya menuju kamarku, dengan perlahan ku letakannya di atas kasur. aku lanjut memandangi wajah kiand, dia terlihat semakin cantik saat tertidur, setelah ku rasa puas ku kecup keningnya lalu pergi membiarkannya beristirahat sementara aku masih harus mengurus Reina bersama Yoga.


"Jadi gimana kondisi adek gue? " tanyaku pada Yoga melalui sambungan telpon


"Gue nggak bisa di baik-baik aja Du, Hari ini dia cuman mau di kamar aja, gue udah coba bujukin dia buat keluar, setidaknya buat menghirup udara segar, tapi Reina nggak mau" jawab Yoga


"Gue juga nggak bisa nyalahin kemal seutuhnya Ga, dari awal kemal udah niat bertanggung jawab, tapi kan lo tahu bokap waktu itu "


"yah... itu yang sampe detik ini buat reina masih nggak mau ngomong sama bokap lo Du, sebaiknya lo harus ngomong sama Reina, luangin waktu lo sehari buat dia"


" Iya, mungkin besok atau lusa gue ke rumah nyokap" jawabku


"kiand tidur? " tanya Yoga


"hmmm ya, dia udah tidur, semaleman dia nemenin gue akhirnya tepar juga"


"hahhaa dia nggak tahu lagi nemenin si raja gadang" ledek Yoga


"Ya udah gue kalau gitu, gue masih ada kerjaan yang lain, ohh ya jangan lupa lo follow up lagi Pak Michel, dia harapan kita satu-satunya" ujarku mengingatkan


"Siap bos...! "


"thanks ya bro, lo udah jagain adek gue!!! "


"siap nggak masalah, Reina anak yang baik, apa yang terjadi sama dia pasti di luar dugaannya"


Kami mengakhiri perbincangan melalui sambungan telpon, bebanku saat ini bukan hanya perusahaan, tapi juga Reina, dia benar-benar seperti kehilangan arah, tak ada lagi keceriaan terpancar dari raut wajahnya


Ku rebahkan tubuhku di atas sofa panjang, aku merasa perutku sedikit perih, kebiasaan buruk yang tak bisa aku hindari, melupakan semua hal ketika aku sedang fokus, bahkan lupa dengan diriku sendiri, beberapa hari ini makanku memang tidak teratur, jika bukan karena kiand mungkin aku tidak pernah merasa lapar.


Aku mencari obat yang biasa ku taruh di kotak p3k, rasa perih di perutku memang sesekali sering kambuh, jadi aku sudah menyiapkan obat yang biasa ku minum, setelah meminumnya aku akan merasa lebih baik.


meski sudah minum obat, aku masih merasa perutku tak nyaman malah aku mulai mual, ku coba minum segelas air hangat, berharap akan sedikit lebih baik, setelah itu aku kembali merebahkan tubuhku di sofa hingga aku merasa aku tertidur pulas.


...****************...


"hmmmm" Tubuhku makin tak nyaman, aku merasa dingin perutku perih, dan mual


"Pacar udah bangun? " terdengar suara kiand samar


Aku berusaha membuka mataku, tapi kepalaku juga berat , aku merasa ada sesuatu di keningku.


"Jam berapa? " tanyaku lirih,


Aku berusaha menahan rasa sakit di bagian perut, tak ingin kiand semakin khawatir


"Aku udah bikinin bubur buat pak pandu, makan dulu ya...! " Kiand masih mengompres keningku dengan handuk kecil, wajahnya terlihat begitu cemas


Ku tarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh di atas tubuhku "Aku nggak papa kok! "


"Pak Pandu ihhh......!!! lepasin dulu, aku mau kompres kening pak pandu, biar demanya turun" ujarnya tapi tak aku hiraukan, aku semakin mendekap tubuhnya erat-erat, hingga dia pasrah dan hanya tersenyum menatapku


"Gimana tidur kamu nyenyak? " tanyaku


"Pak pandu, harusnya pak pandu aja yang tidur di kamar, di luarkan dingin, pak pandu jadi sakit kaya gini... " jawabnya sedikit merengek,


"aku nggak papa, kamu nggak usah cemas...!!! " ujarku, padahl saat itu aku sedang berusaha menahan rasa sakit di perutku


"ya udah pak pandu makan ya...! " titahnya


Tak ingin mengecewakan kiand, aku berusaha bangun meski dengan kepala yang berat, kiand terlihat berjalan ke dapur , ia sudah menyiapkan semangkuk bubur untukku.


"Maaf ya buburnya cuman begini aja, abis tadi aku mau ke supermarket, takut pak pandu bangun, jadi aku pakai bahan yang ada di kulkas " ujarnya sambil membawa semangkuk bubur yang terlihat masih berasap


"Sini aku bantu... " kiand menaruh sebuah bantal untuk menyangga tubuhku


"makasi...! "


"iya.. pacar, sudah sewajarnya aku merawat pacarku yang bandel.... " goda kiand dengan mencubit pipiku


Dia duduk di sampingku dengan sebuah mangkuk di tangannya


"Makan dulu sedikit" titahnya sambil menyodorkan sandok ke mulutku, tapi sepertinya perutku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, aku merasa semakin mual saat suapan pertama masuk mulutku


"ueeeee.....! "


"Pak Pandu nggak papa! "


"kayanya nggak bisa diisi deh ki, aku ngerasa mual....! " Aku berusaha bangun menuju kamar mandi karena tak tahan ingin muntah, benar saja semua makan yang ku makan dari semalam keluar semua, sampai aku merasa isi perutku ketarik


"Kita ke dokter aja ya pak...! " ajak kiand


"nggak usah, nanti biar aku telpon dokter Dhani" jawabku lemas


Setelah menyiram semua muntahanku di toilet, kiand memapahku berjalan ke sofa, raut wajahnya terlihat begitu sedih


"udah nggak papa, nanti juga aku sembuh, jangan khawatir gitu" aku masih berusaha tersenyum dan menggodanya


"Makanya walaupun sibuk, pak pandu harus makan, kalau kaya gini siapa yang rasain, kan pak pandu sendiri!!!!!? " ujarnya kesal sambil tetap membantuku duduk di sofa setelah menyusun beberapa bantal agar aku nyaman, kiand kembali duduk di sampingku


"iya.. maaf!!! "


"Dasar bandel, aku nggak mau terima peermintaan maaf pak pandu, kalau begini aku bingung, aku nggak tega lihat pak pandu sakit... " kiand menangis


"heii kok nangis? aku nggak papa, nanti juga aku sembuh! " ku usap air mata yang terjatuh di pipinya


"Makanya pak pandu jangan bikin aku khawatir, istirahat yang cukup, makan yang cukup, jangan kerja terus"


"iya aku minta maaf, sini.. sini.. sini... " ku rangkul tubuhnya yang mungil


" ya udah aku telpon dokter dhani ya! " Kiand segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter dhani, dia adalah dokter yang praktek di klinik apartemen. dia juga yang sering merawatku di saat asam lambungku naik seperti ini


"Hallo bisa di sambungkan dengan dokter Dhani"


"Saya kiand dari kamar 893"


"oke baik mbak di tunggu"


"Tunggu ya, dokter dhani lagi ada pasien.... " ujar kiand setelah menaruh ponselnya di meja


"nggak papa, aku sabar kok, selama perawatnya kamu....!!! "


"siap!!!! " dia nampak tersenyum lepas dan aku suka itu "Karena sekarang aku jadi perawat pak pandu, pak pandu harus nurut ya....! "


"siapp....! "


meski sedang menahan rasa sakit di perut, aku masih bisa tertawa melihat tingkah kiand, dia memang bukan seperti wanita dewasa pada umunya, sangat berbeda dengan Bintang, tapi aku selalu melihat ketulusan dalam sikapnya yang polos dan apa adanya, tapi di sisi lain dia juga rapuh hanya saja dia menutupi kerapuhannya dengan ketegarannya.