
Seharian ini kami sudah cukup bekerja keras, rasanya akan semakin lelah jika kami langsung melanjutkan perjalanan pulang, Jefry meminta kami menginap sehari lagi, meski sebenarnya ini bukanlah ide bagus, karena ada Kak Candra dan Bintang di hotel ini.
PT Bagaskara termasuk salah satu pemilik saham hotel ini, itu alasan kenapa kami ada disini begitupun dengan kak candra. Disini kami di sediakan kamar yang langsung menyatu dengan pantai sehingga hanya kami yang bisa menikmati pantai di hotel ini .
Sore itu Jefry mengajakku berjalan menikmati sore di pinggir pantai, tapi rasanya aku tidak bersemangat, kedatangan Kak Candra dan Bintang sudah merusak moodku
"Ayolah....! sampai kapan lo mau di depan laptop terus" rayu Jefry
Entahlah rasanya aku sedang tidak ingin keluar kamar, aku takut akan menyaksikan pemandangan yang membuat hatiku semakin tersayat.
Pantai adalah tempat favorit ku dan Bintang, terlebih di saat senja, kami akan berjalan menyisiri pantai dengan bergandengan tangan, Bintang mulai menceritakan banyak hal saat itu, dan aku hanya menatapnya, aku bahagia melihatnya tersenyum dan saat itu aku pikir, aku lah orang yang bisa membahagiakan dia, tapi nyatanya aku salah.
"Pandu.... di ajakin malah bengong! " sahut Yoga
"Kalian jalan aja deh duluan nanti gue nyusul" jawabku
"Nggak asik lo, ayo ga! " Jefry pun menarik tangan Yoga dan pergi dari kamarku.
Aku membuka sedikir gordyn hotel,aku bisa langsung melihat suasana pantai dari lantai 5.
Deburan ombak terus mengingatkanku akan senyum Bintang kala itu, dia akan melompat saat ombak kecil menghampiri, dan akan ia lakukan berulang-ulang. Sangat sulit melepas bayangan Bintang, dia begitu melekat di pikiranku, aku sudah berusaha dengan mencintai kiand tapi sepertinya setengah dari hatiku menolak.
Aku memutuskan untuk mengikuti jefry dan Yoga, karena akan percuma jika aku disini tapi pikiranku tetap pada Bintang, aku berharap bisa bertemu kiand dan melupakan bintang sejenak .
Kiand terlihat sedang bermain ombak bersama Nanda, begitupun jefry dan Yoga, aku memilih untuk duduk agak jauh dari mereka, ingin menikmati hembusan angin dan deburan ombak yang membuatku tenang. Aku menatap lautan luas, yang entah dimana ujungnya. Lagi -lagi aku melihat bayanganku dan Bintang, kami sering menaiki kuda di pesisir pantai, yah hotel ini juga menyediakan beberapa kuda untuk pengunjung, Bintang sangat menyukai kuda.
"Pak Pandu..... " teriak Kiand sambil melambaikan tangannya mengajakku bermain air, tapi aku tolak aku hanya melemparkan senyuman padanya dan membiarkan mereka bersenang-senang.
Dari ujung timur aku melihat seseorang menaiki sebuah kuda aku sangat yakin jika itu Bintang, tapi dia sendiri tidak di temani Kak candra, anehnya aku merasa ada yang tidak beres, kuda itu seperti sedang berontak. dan aku mendengar teriakan Bintang meminta tolong, tanpa pikir panjang aku berlari mencari kuda lainnya, Kuda yang di tunggangi Bintang terus berputar mengitari pantai.
"Kuda mana yang bisa aku naiki? " tanyaku pada salah seorang penjaga kuda
"Ini Pak! " ujar penjaga itu panik
Aku segara menaikinya dan mengejar kuda yang di tunggangi Bintang, semua orang cemas melihat Bintang tapi mereka tidak bisa apa-apa, karena kuda Bintang lari tidak beraturan
"Bi.... " teriakku Bintang tampak mencoba menenangkan kuda nya, namun tidak bisa
Aku pacu kuda ku lebih cepat untuk menyusul kuda yang dinaiki Bintang
"Bi.... " teriakku saat kuda ku sudah berada di samping kuda Bintang , Bintang menoleh kearahku dengan wajah yang ketakutan
"Pandu... aku takut... " teriaknya
"Kamu tenang....! tetap pegang kendali jangan terlepas" teriakku sambil terus mengendalikan kuda yang ku tunggangi "Kamu bisa lepas bagian belakang kuda? " teriakku, tapi Bintang menggelengkan kepalanya dia terlihat sangat panik saat kuda yang di tungganginya justru berputar tak karuan
"Bi... bertahan, pegangan jangan sampai lepas? "
"Pandu aku takut, aku nggak kuat, kudanya berontak.... " Teriak Bintang sambil menangis,
Kuda itu kembali memutar dan berlari menuju arah sebaliknya
Jefry dan Yoga berusaha mengejar, namun agak sulit untuk berlari di pesisir pantai
"Tarik talinya... " teriak seseorang
"Jangannnnn!!!!! " teriakku, "Bintang akan jatuh jika di tarik talinya" sahutku
Aku menarik tali kuda dan memutar kudaku untuk mengejar Bintang
"Pak Pandu hati-hati... " terdengar suara Kiand, semua terasa begitu tegang dan kala itu aku tidak perduli dengan diriku, di pikiranku hanya ada satu Bintang harus selamat
"Bi tarik tali kendalinya perlahan, tekan kaki kamu Bi.... " aku berada di belakang Bintang
"Bi....tarik kepala kudanya! " aku terus memberikan intruksi pada Bintang
"Tarik, tali kendalinya....! " teriakku " kamu tenang, aku disini! "
Terlihat kuda Bintang perlahan mulai tenang, dan saat ada kesempatan aku meminta Binta untuk lompat . Aku menghentikan kudaku dan turun mengejar Bintang.
"Bi turun...! " pintaku....
"Aku takut... " ujar Bintang aku masih berlari mengejar kuda bintang,
"Percaya sama aku.... kudanya udah mulai tenang! " ucapku
Perlahan Bintang melepaskan tali kendalinya, mencondongkan tubuhnya ke belakang, mengangkat kaki kanannya dan langsung melompat, dengan cepat aku tangkap tubuh Bintang, dan kami jatuh bersamaan di atas pasir
Ku dekap tubuh Bintang, dengan posisi bintang yang terjatuh tepat di atas tubuhku dia begitu ketakutan.
"Its oke Bi kamu aman! " ucapku dengan napas yang tersisa
"Pandu... " Bintang memeluk ku erat, dia begitu syok , Ku belai rambutnya, dan beberapa kali ku kecup untuk menenangkannya, aku tak bisa bayangkan jika bintang terjatuh dan bisa saja kuda itu menginjak dan menendang tubuh Bintang
"Nggak papa Bi, aku disini! " ujarku masih terus mendekapnya
Bukan hanya bintang yang merasa takut, aku pun sangat takut, aku sadar perasaan ini masih tersimpan begitu dalam, cinta yang tak pernah hilang, meski aku sudah mencobanya
"Gimana nggak papa? " tanya Jefry dan lainnya,
Penjaga kuda terlihat mengamankan kuda yang di tumpangi Bintang, sedang satunya menjaga kuda yang ku naiki.
"Aman...! " jawbaku masih dengan mendekap Bintang
Aku melihat Kak Candra berlari menghampiri kami dengan raut wajah yang cemas, begitipun Kiand.
"Bi... kamu nggak papa? " Kak Candra langsung menarik tangan Bintang dengan terpaksa ku lepaskan pelukannya , aku hanya diam menatap Bintang. aku sadar saat ini aku bukanlah siapa-siapa untuk Bintang. Bintang sempat menoleh ke arahku saat ia memeluk Kak Candra, aku masih melihat sebuah cinta di matanya
Kak Candra melepaskan pelukan Bintang, dia mendekat kearahku
"Plaaakkkkk" sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, " Itu peringatan buat lo, jangan pernah menafaatkan situasi" tegasnya.
Semua terkejut dengan perlakuak Kak Candra termasuk aku, saat itu aku masih dalam posisi terlentang di atas pasir, hingga aku sulit membalas tamparan Kak Candra, Aku hanya diam menatap mereka, tamparan ini tidak begitu sakit jika di bandingkan hatiku, saat melihat Bintang justru berlalu pergi dengan kak Candra.
"Lo nggak papa? " tanya Yoga, aku sempat melihat raut wajah kiand, ada bulir air mata yang tertahan, aku tahu pemandangan ini akan menyakitkan untuknya, selama ini aku berusaha untuk mencintainya sepenuh hati, tapi nyatanya aku belum bisa
"Pak... nggak papa? " Kiand mendekat ke arahku merendahkan tubuhnya persis di depanku, tangannya menyentuh ujung bibir ku ya g terluka akibat tamparan Kak Candra, tapi dengan cepat ku sanggah tangan Kiand
"Saya nggak papa" jawabku Kiand tampak terkejut dengan sikapku yang berubah dingin. entahlah aku pun tidak mengerti dengan perasaan ini, hal yang selalu aku takutkan saat Kiand hadir di hidupku, adalah menyakitinya, dan sekarang hal itu terjadi.
Aku berdiri, dan Kiand hendak membantu tapi lagi-lagi aku menolaknya, dengan menyingkirkan tangannya dari bahuku, aku berlalu pergi meninggalkan mereka.
Aku memilih berjalan di pesisir pantai, mengenang kembali hari bersama Bintang,
Hentikan Pandu...! gumamku dalam hati
lupakan saja!
sekarang sudah berbeda , perasaannya telah berubah, semua sudah berakhir... batinku menjerit tanpa sadar aku menangis meratapi perasaanku sendiri
"Agghhhhhhhhhh" aku menendang butiran pasir meluapkan kekesalanku
sampai detik ini aku mencoba kuat, aku berusaha mencintai orang lain, yang aku pikir bisa menggantikan bintang tapi nyatanya aku gagal.
.