
Setelah kejadian itu aku hanya bisa diam, merasakan luka yang teramat, bukan hanya luka hatiku, tapi luka yang juga Pak Pandu rasakan. Aku pikir Pak Pandu benar akan berusaha untuk mencintaiku, tapi nyatanya dia seperti ingin menyerah.
Aku dan Kak Nanda kembali ke hotel, begitupun Pak Yoga dan Pak jefry. sesampainya di hotel, aku hanya duduk meringkuk menatap jendela kamar hotel yang menyuguhkan pemandangan indah, tapi aku tak bisa menikmatinya, bagiku senja ini kelabu, gelap, tak ada warna kemerahan bersinar yang menjadikan keindahan di ujung laut.
Dengan cepat aku menghapus bulir air mata yang jatuh, Kak Nanda hanya bisa memandang iba padaku dari tempat tidur, ia seakan ingin memberikan waktu untukku lebih tenang agar bisa mengendalikan kesedihanku.
Ku utarakan rasa sakit ku lewat butiran air mata, harusnya aku sadar dari awal aku menerima cinta Pak Pandu, aku harus siap untuk terluka, dia masih menyimpan bayangan masa lalu yang tak akan mudah lepas begitu saja.
Aku masih menangis, seakan ingin memberitahukan pada malam jika sakit ini begitu menusuk ke dalam kalbuku, hingga sulit rasanya aku bernapas. Dulu aku begitu takut jatuh cinta, aku terlalu takut untuk terluka, dan di saat aku sudah merasa siap, justru aku mencintai orang yang salah. Pak Pandu hanya memberiku kebahagiaan sesaat bak hujan yang turun mencumbui bumi, hujan itu akan berhenti dan menghilang.
"Ki... mau sampe kapan lo nangis? " tanya Kak Nanda, yang sedari tadi hanya bisa memperhatikan aku tanpa bisa berkata apa-apa. Kak Nanda berdiri di depanku yang masih meringkuk di atas sofa.
"Udah ya...! sayang air mata lo"
Aku langsung memeluk tubuh Kak Nanda, dan menangis dalam dekapannya, jemari kak nanda membelaiku, mencoba memberi sedikit ketenangan dalam hati, namun aku semakin merasa sesak saat ku ingat kembali kejadian tadi, bagaimana Pak Pandu begitu mengkhawatirkan Bu Bintang, dan bagaimana dia mengacuhkan ku .
"Gue sadar, semua bakal berakhir seperti ini, semua kata sayang yang pak pandu bilang itu nggak pernah tulus" aku terus menangis dalam dekapan kak nanda
"Sabar ya ki, kasih waktu buat pak Pandu, nggak mudah melepaskan perasaan yang udah tertanam bertahun-tahun"
"Gue tahu kak, dan harusnya gue udah siap untuk itu"
"Udah.. udah. jangan nangis lagi ya! " Kak Nanda menghapus air mataku. malam itu aku benar - benar larut dalam kesedihanku hingga aku tertidur dengan mata yang sembab
...****************...
Pagi ini kami pulang ke jakarta, aku sudah memutuskan untuk segera pindah dari apartemen Pak Pandu, aku sudah tak menginginkan perasaan ini lagi, menjauh darinya itu lebih baik sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa memiliki hatinya, meski jantung dan nadiku berdetak untuknya.
Di dalam perjalan semua terasa dingin, tak ada tawa, atau perkataan dari Pak Pandu, ia tampak kaku, padahal berulang kali Pak Jefry mencoba mencairkan suasana dan nyatanya Pak Pandu tetap dingin, Dia hanya fokus mengendarai, di temani Pak Yoga di kursi sebelahnya, sedang aku kaka nanda dan pak jefry duduk di kursi belakangnya.
Aku memilih untuk diam,memandangi pemandangan sepanjang jalan, aku bukan menikmati perjalanan, tapi aku mengalihkan kesedihanku, sesekali air mataku terjatuh dan aku segara mengusapnya, Kak Nanda terus mendekap ku, dia berusaha menguatkan ku, tapi sepertinya kali ini aku benar-benar rapuh.
Selang beberapa jam mobil berhenti di lobby apartemen, aku dan Pak Pandu turun terlebih dahulu, sedang Yang lainnya, masih melanjutkan perjalanan ke rumah mereka masing-masing, kali ini Pak Yoga yang berada di kursi pengemudi.
Kak Nanda memelukku sebelum aku masuk ke lobby
"Udah ya jangan nangis lagi.. " pesan Kak Nanda
Aku tersenyum sambil mengangguk, entahlah air mata ini seolah tak ingin berhenti.
Aku berjalan masuk ke dalam lobby, aku pikir Pak Pandu akan meninggalkanku ternyata dia menungguku, kami hanya saling tatap tanpa bicara, aku sendiri enggan untuk menanyakan hal apapun pada nya dan memilih untuk tetap berjalan ke arah lift. Di dalam lift, kami seperti orang asing, tak ada kata sapa atau senyum diantara kami, rasanya aneh berada di samping Pak Pandu dengan sikapnya yang sedingin ini.
Aku sudah memutuskan semuanya, aku harus pergi dari apartemen ini secepatnya.
"Ehh kakak udah pulang! " Sapa Arga ketika melihatku masuk
"Beresin baju kamu Ga, kita pergi dari sini! " ujar ku tak ingin menunda lagi
"Kita pergi dari sini? " tanya Arga bingung
" Iya...! Kita harus pergi sekarang" jawabku
"Hah! terus kita mau tinggal dimana kak? "
"Dimana aja, asal jangan disini , cepet beresin semua barang-barang kamu" titah ku
"Tapi kak_"
Arga tampak membeku, ia hanya menunduk dan perlahan menuruti ku
Aku mulai mengemas pakaianku, dengan air mata yang masih mengalir, terlihat arga mendekat
" Kakak ada masalah sama Pak Pandu? " Tanya Arga
Aku tak menjawab pertanyaan Arga, Aku masih sibuk mengontrol kesedihanku sendiri.
"Apa nggak bisa di bicarakan baik-baik? " tanyanya hati-hati
namun lagi-lagi aku hanya diam, Arga yang tahu aku tidak akan menjawab apapun memilih meninggalkanku sendiri. Dalam kesendirian aku terpuruk di atas kasur, ku jatuhkan tubuhku, ku tumpahkan air mataku yang sempat tertahan, dadaku semakin sesak, kala bayangan Pak Pandu tak henti-hentinya berada di kepalaku. Aku tidak menyesal mencintainya, aku hanya menyesalkan kebodohan ku selama ini yang percaya jika Pak Pandu akan mencintaiku.
Tak kuat menahan perih yang terus menelanku, aku pun segera melangkahkan kaki ke luar, aku berniat membasuh wajahku tapi aku terkejut saat Pak Pandu justru sudah berada di ruang tamu, ia terlihat berdiri menatapku di temani arga di sampingnya.
"Mau kemana kamu? " Pak Pandu bertanya, tapi aku tak menjawab, Aku melanjutkan langkahku menuju kamar arga
"Kiand! " Pak Pandu mengejar ku dan mencekal tanganku, dengan cepat kuhempaskan
" Kata Arga kamu mau pergi! kamu mau kemana? " tanyanya lagi.
Aku masih terdiam dengan menatap ke sembarang arah, menghindari tatapan Pak Pandu yang mungkin akan membuat air mataku mengalir lagi
"Bukan Urusan Pak Pandu! " jawabku ketus
"Permisi, aku harus berkemas! " aku berusah berjalan menerobos tubuh Pak Pandu yang berada di depanku.
Pak Pandu tetap berdiri di depanku sengaja menghalangi. ia menarik tanganku masuk kedalam kamar arga, dan langsung membanting pintunya.
"Pak... Apa apa apaan ini? " bentak ku pada Pak Pandu
" Saya tanya kamu mau kemana? " tanya Pak Pandu dengan tatapan tajam
"Itu bukan urusan Pak Pandu,! Pak Pandu pikir Pak Pak pandu siapa, bisa atur-atur saya" aku balas membentaknya dan membalas tatapan tajamnya meski dengan air mata yang tertahan
Pak Pandu tampak marah mendengar jawabanku
" Saya tahu saya salah, saya minta maaf , tapi bukan berarti kamu bisa pergi begitu aja, ingat kamu dalam bahaya, orang-orang jasmin mungkin masih mencari mu dan Arga"
"Pak Pandu nggak usah khawatir, saya bisa jaga diri saya dan adik saya, sebelum Pak Pandu hadir di hidup saya, kami baik-baik saja"
"Ki, saya mohon jangan pergi, kalau kamu nggak mau lihat saya, untuk sementara saya akan pulang ke rumah, tapi saya mohon kamu jangan pergi! "
"Maaf pak, tapi saya nggak bisa tetap disini, itu akan membuat saya sakit... " ujar ku
"Ki...! saya minta maaf ki, saat itu saya nggak bis mengendalikan perasaan saya"
"Saya mengerti pak, dan saya sadar, Pak Pandu tidak akan pernah bisa mencintai saya, dan saya bisa terima itu, next jangan pernah menggunakan orang lain untuk bisa melupakan seseorang, karena saya juga punya hati." Aku menjauh dan pergi berlalu, meninggalkan Pak Pandu yang masih berdiri kaku , namun saat hendak membuka Pintu, dengan cepat Pak Pandu menahannya, Ia menggenggam lenganku memaksaku berdiri di hadapannya
"Kiand, tolong beri saya kesempatan, maafkan saya karena sudah menjadikanmu pelampiasan, mari kita mulai dari awal, saya akan berusaha untuk lebih mencintaimu" Kami saling melempar pandangan, getaran cinta itu sangat dalam kurasakan. Hingga tanpa sadar bibir Pak Pandu sudah menyentuh bibirku, aku merasakan lembutnya uluman dari bibir Pak Pandu, seakan terhipnotis aku hanya diam dan mengikuti alurnya. Entah kenapa hatiku enggan menolak, aku mungkin memang naif, aku tahu cinta pak pandu bukan untukku, tapi aku tak perduli, hatiku sudah memilih dia untukku cintai, meski aku tahu, hatinya hanya membiarkan satu wanita yang tinggal di dalamnya, walau wanita itu sudah pergi. Dan aku disini mencoba untuk bisa mengisi kekosongan hatinya , aku ingin tinggal di hatinya memilikinya seutuhnya, meski mungkin akan sulit.
Aku sudah jatuh terlalu dalam, hingga rasanya sulit untukku kembali ke permukaan. Mungkin aku hanya bayangan yang takan pernah bisa berjalan di sampingnya namun aku akan tetap berada di belakangnya menjaganya, dan tak akan pernah membiarkannya terjatuh.