For A Great Love

For A Great Love
episode 80 rahasia yang di ketahui



Beberapa minggu ku lalui hari-hari di surabaya, semua tidak ada yang berubah, ayah masih belum sadarkan diri, akupun masih belum mendapatkan pekerjaan, meski aku sudah berusaha mencari kesana kesini. Semakin hari uang tabunganku semakin menipis, Aku harus membayar kontrakan yang harganya lumayan mahal, karena aku memilih untuk menyewa rumah yang tak jauh dari rumah sakit, belum lagi biaya sekolah arga, setiap minggu aku harus mengirimi arga uang jajan meski sebenernya Noval melarang ku, aku tak enak terlalu banyak merepotkannya, dan Tentang Pak Pandu, aku masih terus memikirkannya, merindukannya, sesekali aku mendengar kabar dari kak nanda, katanya Pak Bagaskara sudah pulang ke rumah, dan tak lagi memegang jabatannya sebagai presdir, semua full di serahkan pada Pak Pandu, karena Pak Candra juga sudah pergi ke malaysia untuk mengurus bisnis disana, bukan hanya itu Kak Nanda juga cerita, kalau Pak Pandu sudah di jodohkan dengan seorang wanita yang adalah anak dari teman Pak Bagaskara. Yah mungkin semua harus seperti itu.


Sore ini aku bergantian jaga dengan Bi Nur, rasanya tubuhku lelah dan lengket.


"Bibi nggak papa Kiand tinggal dulu? " tanyaku


"Ya nggak papa ndok! lagian kamu sudah seharian di rumah sakit " jawab Bi Nur


"Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung telpon Kiand ya! Bibi jangan lupa makan, dan jangan capek-capek " pesanku sebelum meninggalkan ruang rawat


"iya ndok! kamu juga ya! " ujar Bi Nur sambil mengelus pundakku, yah saat ini Bi Nur yang menjadi penguatku, meski tak ada sosok ibu dalam kehidupanku, tapi ada Bi Nur yang menggantikannya, meski tidak sepenuhnya.


Aku berjalan ke samping tempat tidur ayah, "Ayah, Kiand pulang dulu ya, nanti kiand balik lagi, Kiand bakal terus berharap ayah segera sadar, kiand kangen sama ayah... "


...****************...


Kota surabaya tidaklah berbeda dengan jakarta, orangnya padat dan mereka memiliki mobilitas yang cukup tinggi, terbukti siang ini, beberapa puja sera di oenuhi porang-orang yang sedabg mengisi perutnya di tengah-tangah hecticnya pekerjaan.


Sebelum pulang aku memang mampir ke sebuah puja sera yang tak jauh dari rumah sakit, selain rumah sakit disini jiga banyak perkantoran, sehingga tempatnya sangat ramai di jam makan siang.


"Si Juna beneran resign? " terdengar obrolan tiga orang yang berada di meja belakangku


"tepatnya di pecat! " sahut salah satu orang di samoingnya. Aku bukan maksud menguping, hanya saja suara mereka terdengar sangat nyaring


"Malu juga tuh dia, semua kantor tahu kalau dia punya hutang di pinjaman online" sahut teman satunya


"Iya, begitulah kalau memiliki gaya hidup yang berlebihan"


"Sekarang bagian A & p kosong nih, aku jadi kerja double" kata-kata itu mengalihkan perhatianku, yang awalnya tertuju pada sebuah mangkuk soto ceker khas surabaya.


"lemburan kenceng nih! " sahut temannya.


Aku yang sedang menikmati soto langsung menghentikan suapanku , dan memberanikan diri bertanya apa mungkin aku bisa melamar menggantikan temannya itu.


"Permisi mas! " sapaku para pria itu terkejut melihatku, dia menatapku dari ujung rambut hingga kaki


"iya mbak! ada apa? " tanya mas-mas yang duduk di baris tengah


"maaf sebelumnya, bukan maksud saya menguping pembicaraan kalian, tapi karena kebetulan saya duduk di depan, mas - mas nya saya sedikit mendengar percakapan kalian" jelasku meski dengan suara yang bergetar " kalau boleh saya tahu, apa saya bisa melamar di perusahaan mas? " tanyaku


"Ohhh bisa-bisa mbak! kebetulan temen kami ada yang resign hari ini, siapa tahu mbak bisa masuk menggantikannya" jawab salah satu pria tersebut


"boleh saya minta alamatnya? " tanyaku lagi


"boleh, tunggu sebentar ya...! " seseorang dari mereka mengeluarkan note dari kantong kemejanya, dia menuliskan alamat kantor dan nama orang yang harus ku temui


"Ini mbak" pria itu menyodorkan sebuah kertas "nanti mbak langaung aja ke meja resepsionis dan bilang mau ketemu Pak Surya. " jelas pria tersebut


"baik mas, terima kasih banyaj! " ucapku.


"sama-sama mbak! " jawab mereka


Setelah membayar makanan, aku segera pulang ke kontrakan yang bisa ku tempuh dengan jalan kaki, aku mulai menyiapkan beberapa berkas untukku melamar pekerjaan besok, aku berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan ini.


Setelah bertemu HRD, dan melakukan beberapa tes, aku di minta menunggu kabar selanjutnya,


Semangat kiand, kamu nggak boleh pesimis, kamu oasti bisa bekerja disini ujarku dalam hati.


meski bukan perusahaan besar seperti Pekerjaanku sebelumnya tapi tak apa, setidaknya ada pemasukan setiap bulannya.


Aku berjalan menyusuri trotoar sambil mengesap teh kemasan dalam plastik, jika sedang berjalan sendirian, pikiranku selalu saja tentang Pak Pandu, tak bisa ku pungkiri rasa ini terlalu dalam, hingga sulit untukku melepaskannya, apa lagi saat Kak Nanda bilang jika Pak Pandu di jodohkan oleh anak teman Pam Bagaskara, hatiku terasa sakit. aku bukan tidak bersyukur terlahir menjadi diriku yang biasa, tapi aku hanya menyesali, kenapa aku justru jatuh cinta pada pria seperti pak pandu.


Sore ini pikiran masih tentang Pak Pandu seakan sulit sekali untuk ku buang jauh-jauh, meski aku sudah berusaha menyibukan diri dengan membaca novel, menenggelamkan pikiranku dalam cerita , walaupun ternyata di satu jam terakhir aku cuman bisa membaca kurang dari 10 lembar, bukan karena aku tidak menyukai ceritanya, hanya saja krpalaku begitu penat, dalam novel itu banyak bercerita tentang lehidupan yang nyaris sama dengan kisahku dan pak pandu.


"Kok ngelamun? "


Suara Bi Nur membuatku terenyak . Aku bahkan tak sadar jika Bi Nur sudah berdiri di sampingku, padahal sebelumnya, Bi Nur bilang mau mencari makanan untukku


"Ehh Bi, kok udah pulang aja? " tanyaku sambil menutup novel dan menaruhnya di atas nakas, yang berada di samping tempat tidur ayah


"Perjalanan dari ruangan ini ke kantin hanya perlu waktu 15 menit kiand, memangnya kamu pikir sudah berapa lama Bi Nur pergi? "ujarnya sambil tertawa melihatku ke bingungan, aku merasa Bi Nur baru saja keluar ruangan


" ohh, kiand ngerasa Bi Nur baru aja keluar, ternyata udah lewat 15 menit ya" kilah ku


"makanya jangan ngelamun! " Bi Nur sibuk menuangkan beberapa makanan dalam piring " Gimana kondisi ayahmu? " tanyanya


"belum ada perubahan Bi! " jawabku kecewa


"Ayahmu pasti akan segera sadar, sabar ya ndok! " ujarnya sambil menepuk pundakku " ayo makan dulu! " ajak Bi Nur


Kami menikmati Nasi padang yang di jajakan di kantin rumah sakit, yah karena repon harus menjaga ayah, Jadi kami lebih banyakembeli makanan ketimbang memasak, aku juva nggak tega kalau Bi Nur harus bulak balik memasak dan membawanya ke Rumah sakit.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? " tanya Bi Nur di sela makan sore


"Nggak ada Bi" jawabku berusaha tersenyum


"Nggak usah bohong! kamu rindu pria itu? " tebak Bi Nur bak magician yang bisa membaca pikiranku


"Nggk Bi, udah ahhh kita lanjutin makannya" aku masih mengkilah


"Ndok! Kita memang tidak bisa memilih seperti apa saat kita di lahirkan, menjadi kaya kah, miskin kah, terpandang kah atau biasa saja, tapi kita bisa memilib pada siapa kebahagiaan kita akan kita sandarkan, awalnya Bibi nggak setuju kamu dengan pria itu, karena bi Nur nggak mau kamu terluka, tapi sepertinya, pergi dan menghindar justru membuat kamu jauh lebih terluka" ucaoan Bi Nur seakan memberi sedikit kejutan pada neouron-neouron di otakku.


"apa sih Bi, kiand baik-baik aja kok! " jawbaku masih memakai jurus pura-pura bahagia


" Bibi kenal kamu dari bayi merah ndok, bibi bisa merasakan bagaimana sakitnya hati kamu saat ini, jadi jangan berbohong pada Bi Nur, pesan Bibi, jangan pernha menyerah memperjuangkan cinta dan lebahagiaanmu ya"


" aghh bibi, kiand jadi terharu.... " ku peluk Bi Nur, aku emmang kehilangan Ibu, tapi aku tak kehilangan sosoknya.


note : maaf baru bisa upload, lagi banyak kerjaan,


jangan bosen baca karyaku ya....


terima kasih