
Hari ini adalah hari pernikahan Pak Yoga Dan Reina, yah mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, ini menjadi berita baik untuk kita semua. Acara pernikahan Reina tidaklah meriah, seperti impian wanita-wanita pada umumnya, apa lagi dengan status Reina yang adalah seorang anak pengusaha. Reina harus menutup rapat-rapat tentang impian sebuah pernikahan, karena kondisi dan keadaannya.
"Kak Kiand! " Reina berlari ke arahku dan langsung memelukku, meski semua begitu sederhana, tapi Reina terlihat begitu cantik
"Gimana? kamu sudah siap? " tanyaku pada Reina saat aku menemuinya di kamar
"Yah, aku siap! ini akan jadi awal kehidupanku, aku harus lebih siap! " ujarnya tampak begitu dewasa
Umur Reina masih 19 tahun, masih terbilang sangat muda untuk menikah, bahkan kuliahnya pun belum selesai, tapi melihat pak Yoga, rasanya aku yakin Reina akan mendapatkan kebahagiaan
"Selamat ya Reina! semoga kamu selalu bahagia! " ucapku, mengucapkan kebahagiaan di tengah kegundahan hati memang terlihat berat
Reina meraih kedua tanganku, dia mungkin bisa membaca kekhawatiran dari raut wajahku. pernikahan Reina mungkin menjadi akhir pertemuanku dan dia, begitupun pertemuanku dan pak pandu, lusa mereka akan pindah ke malaysia, membuat jarak antara kita.
"Kak kiand jangan khawatir, Reina pasti jagain kak pandu, biar nggak genit - genit" ujarnya mencoba memberikan ketenangan batin yang akan sulit ku rasakan saat ini
Aku hanya tersenyum kearahnya, berat sangat berat, tapi aku harus berusaha merelakannya
"Kiand sudah siap? " Pak pandu terlihat sudah berada di ambang pintu
Kami saling menatap, tapi kami saling melempar kecemasan
"Ya sudah, penghulu sudah datang, kita semua sudah menunggu kamu di bawah " ujar pak pandu
"Hmm oke kak! sebentar lagi ya! " jawab Reina
"Kamu sudah siap? " tanya pak pandu padaku, saat itu aku menjadi pendamping Reina, karena maminya harus menjaga pak bagaskara yang masih lemah di atas kursi roda
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Pak Pandu, entah kenapa hatiku rasanya sakit, saat pria itu menatapku, aku mengerti ini menjadi pilihan tersulit untuknya, tapi ada sisi keegoisanku yang ingin menahannya untuk tetap tinggal
"Ya udah, kakak ke bawah duluan ya! "
Aku dan Reina bersiap untuk turun, semua orang yang hadir memandang kagum pada kecantikan mempelai wanita, begitupun mempelai pria, ia tampak tak menyangka, jika wanita yang akan ia nikahi secantik ini
Reina begitu anggun dengan gaun biru yang memanjang hingga menutupi beberapa lantai, dengan hiasan rambut yang ia buat sederhana, namun sangat cantik oleh sentuhan bunga kecil yang menghiasinya, aku jadi membayangkan, jika suatu saat aku menikah dengan pak pandu, akankah aku secantik reina?
Kami menuruni anak tangga dengan perlahan, tampak pak yoga berdiri hendak menyambut Reina, semua tersenyum bahagia, begitupun aku meski rasanya senyuman ini menjadi lambaian tangan perpisahan. Pak Pandu menatapku dengan mata yang berbinar, dia tahu wanitanya akan tetap tegar, meski sebenarnya rapuh.
Akad nikah terlaksana begitu khidmat, pak Yoga begitu lancang membacakannya, penuh keyakinan, dan ketegasan. Kini mereka resmi menyandang status suami istri, hal yang selalu membuatku iri.
Acara di lanjutkan dengan makan-makan, tapi rasanya aku tidak ingin, aku hanya ingin menyendiri, karena keramaian ini justru membuat hatiku terluka, aku berjalan menuju taman, disini aku bisa merasakan kesegaran angin, dan bisa menghirup oksigen yang sempat tertahan kala mataku mengarah pada pak pandu.
"Hai! " Pak Pandu terlihat menghampiriku "aku cariin ternyata kamu disini! " semenjak pak pandu mengatakan jika dia akan pergi ke malaysia, hubungan kami justru agak renggang, pak pandu tak ingin membuatku semakin berat melepaskannya, jadi dia memutuskan untuk menghindariku.
"Cari angin! " jawabku aku berada di sebuah gazebo di taman, dengan hantaran kolam yang di hiasi bunga teratai
Pak Pandu terlihat menelan ludah beberapa kali, seolah ingin mengatakan sesuatu namun sulit
"besok, aku berangkat! " ujarnya kaku
"yah aku tahu! " jawabku tanpa sanggup menatapnya
"Apa kamu bisa antar aku ke bandara? " tanyanya
"entahlah! " jawabku "memang nggak ada jalan lain selain pak pandu harus pergi? " tanyaku, Aku sekuat hati menahan agar tidak menangis, meski rasanya air mata sudah tak lagi sanggup ku bendung
"Kiand, aku hanya minta waktu satu tahun! " ujarnya
"Satu tahun bukan waktu yang sebentar pak! "
"yah aku tahu, tapi aku mohon kamu mengerti, kondisinya begitu sulit! kita akan tetap berhubungan melalui telpon! "
"Yah! aku harus mengerti, dengan ketergantunganku pada pak pandu! "
"Kiand! " pak pandu merangkulku dari belakang, dan itu membuat air mataku pecah
"Aku memang terlalu egois, aku tahu pak pandu bukan hanya milikku, tapi bolehkan aku merasa berat harus merelakan pak pandu pergi? "
Tanpa berkata apapun pak pandu memelukku erat, membiarkan aku menangis dalam dekapannya, karena dia tahu, kata-kata bukan yang aku butuhkan saat ini.
Berada dalam dekapannya, merasakan aroma tubuhnya, merasakan kecupannya mendarat di kepalaku, aku akan merindukan semuanya
"Tunggu aku, dan tetap tunggu aku, apapun yang terjadi! "
Kata-kata itu menjadi kata terakhir pak pandu untukku.
...****************...
Akhirnya kami benar-benar berpisah, sekuat apapun aku menahannya pak pandu tetap pergi!.
Aku masih tetap mencarinya di tempat biasa, sampai aku benar-benar sadar jika pak pandu sudah pergi!
Satu tahun berlalu, tak ada kabar dari pak pandu, bahkan pak yoga dan Reina! aku tak tahu bagaimana kondisinya disana, tapi aku mencoba mengerti, sulit bagi mereka menerima kenyataan ini!
"Lagi ngapain ndok! " tanya Bi Nur saat aku berdiri di balkon menatap daun yang basah tersiram rintikan air hujan
"Ehh Bi Nur, aku lagi cari oksigen ! " jawabku, padahal aku sedang merindukan pak pandu
"Masih belum ada kabar? " tanyanya
"Sabar ya ndok! mungkin pandu sibuk! karena harus merawat ayahnya! " ujar Bi Nur, ikatan aku dan Bi Nur bukan hanya sekedar saudara, tapi seperti anak dan ibu, Bi Nur selalu tahu setiap kecemasan yang ku rasakan
"Kita nggak bisa terus tinggal di apartemen ini bi! " ujarku, saat menatap setiap sudut apartemen yang penuh kenangan
"hmm iya ki! bibi mengerti! akan berat untukmu tetap berada di sini! "
"Secepatnya kiand akan cari kontrakan! bibi nggak papak? "
"enggak! bibi selalu mendukung apapun keputusan kamu! "
Aku memeluk bi Nur, untuk menghilangkan kegalauanku
"makasi ya bi, bibi selalu ada buat kiand dan ayah! " ucapku
"sama-sama ndok! bibi sayang kamu, bibi nggak mau lihat kamu bersedih! "
Pak Pandu memang menyuruh pak jefry untuk tetap menjaga apartemen ini, apapun yang terjadi apartemen ini tidak boleh terjual, tapi rasanya tinggal disini membuat aku selalu memikirkan pak pandu, hingga tak ada ruang untukku memikirkan yang lain, apa lagi kini aku tengah manata kemabali karirku, aku bekerja di perusahaan arsitek yang mempunyai nama besar di jakarta, dan ini menjadi impianku selama ini, aku tak boleh menyianyiakannya.
Dering telpon berbunyi, aku selalu berharap jika itu dari pak pandu, tapi ternyata dari nouval
"hallo val! " sapaku
"udah siap? gue udah di bawah! " ujarnya
Hampir aja aku lupa, kalau hari ini aku akan mencari kontrakan bersama noval, semenjak Pak Pandu pergi, hubunganku dan noval kembali dekat, tapi tetap hanya sebatas teman, perasaanku untuk pak pandu sama sekali tidak berubah, meski aku tak tahu kabarnya dia bagaimana saat ini, aku hanya percaya jika suatu saat dia akan kembali
"ohh iya, tunggu val! " aku langsung beranjak dari sofa, dan mengganti pakainku
"mau kemana kak? buru-buru banget? " tanya arga
"kakak lupa, kalau kakak ada janji sama noval! " jawabku
"kebiasaan! " ujarnya sambil duduk di sofa, dengan susu di tangannya
Melihat arga memegang segelas susu, dengan cepat aku merebutnya
"kakak! " teriak arga kesal
"bagi dikit! bye arga jelek! " sahutku setelah meminum setengah gelas susu milik arga
"bi nur kiand berangkat! " teriakku pada bi jur
"hati-hato! " jawabnya dari dapur
Aku dan arga berkeliling jakarta, mencari rumah yang cocok untukku tempati bersama ayah, bi nur dan arga setidaknya harus ada dua kamar paling sedikit, beberapa kali aku menemui iklan di internet tapi belum ada yang cocok, ada tempatnya bagus, harganya mahal, ada juga yang tempatnya bagus, harga murah tapi terlalu jauh dari tempatku bekerja
"Masih belum ada yang cocok! " gumamku
"sabar, cari rumah itu, ibarat cari jodoh, harus pas, harus klik! " ujar Noval
"masa? "
"yehh nggak percaya, coba lo perhatiin orang kalau udah ketemu jodohnya, mau badai sekencang apapun, mau jarak sejauh apapun, dia pasti ketemu, smakan kaya rumah! "
mendengar ucapan noval, aku kembali teringat pak pandu, bagaimana kabarnya disana? apa dia bahagia?
"hey kiand! " panggil noval memecahlan lamunanku
" masih mikirin pandu? " tanyanya
"apaan sih lo! enggak kok! " jawabku berbohong
aku sadar noval selalu kesal saat obrolan kami mengarah tentang pandu, dan aku sangatenghargai noval sebagai sahabatku
"gue cuman nggak mau, lo makin sakit, ketika lo terlalu berharap sama dia! " ujarnya dengan pandangan fokus menuju jalanan jakarta yang mulai ramai
"iya novalllll!!!! gue gak pernah terluka ketika gue sama lo! kan lo obat gue! jadi tenang aja ya! " jawabku sambil menepuk pundak noval
"gue serius ki! " serunya " udah cukup lo nunggu dia! mau berapa lama lagi? "
"ihh apaan sih! kayanya obrolan kita nggak berbobot deh, mending gue dengerin music! " ku alihkan pembicaraan kita dengan menyalakan musik dari. playlist ponselku, dan ketika aku ingin menambah volume suara, tangan noval menahan tanganku, lalu dia meminggirkan mobil dan berhenti di bahu jalan
"lo jujur sama gu! " tanyanya begitu menegang
"ihh apaan sih val? "
"lo masih berharap pandu balik kan? " tanyanya
aku hanya diam! bibirku selalu kelu kala kami membahas tentang pak pandu, perasaan ini tak mudah menghilang begitu saja, meski satu tahun sudah berlalu , hatiku selalu memberi alasan ketika oikiran jelek tentang pak pandu mengusikku
"kiand! liat gue! " noval meraih tanganku, "sampai detik ini perasaan gue buat lo nggak berubah! dan gue bakal terus nunggu lo! " ujarnya
"val! kasih gue waktu, gak mudah buat gue lupain pak pandu, cintanya terlalu membekas dan dalam, lo ngertikan? "
noval mengangguk, dan kembali melajukan mobilnya, suasana seketika berubah, dia hanya kini hanya diam dan fokus pada jalanan, aku selalu berusaha untuk mencintai noval, tapi nyatanya cinta tak semudah itu, dan aku nggak mau noval hanya menjadi prlarian hatiku saja.