
POV PANDU
"Hallo Du! " suara Bintang terdengar lembut di telingaku
"Iya Bi," jawabku
"Ada yang mau aku bicarakan Du! bisa nggak kita ketemu? "pintanya
"Ohh iya bisa, kamu dimana? " tanya ku
"Aku di Global Hotel " jawabnya
"Ya udah tunggu! aku on the way sekarang! "
Meski terlalu sakit, tapi rasanya sulit untuk tidak memprioritaskan Bintang sampai saat ini, niatnya aku ingin menjauh, tapi aku tak pernah bisa menolak saat Bintang Minta bertemu denganku.
"Saya ada perlu dulu! kamu jangan kemana-kemana! tunggu sampai saya datang, ingat! kalau saya datang kamu nggak ada, saya potong gaji kamu! " tegasku sebelum bergegas meninggalkan ruangan.
"Iya pak !" jawab kiand.
Aku langsung memasuki lift menuju ke halaman parkir, memacu mobilku ke Global hotel yang hanya membutuhkan waktu dua puluh lima menit untuk sampai kesana.
Sesampainya di Global Hotel aku langsung bergegas menuju ruangan Bintang di lantai lima belas, dulu aku selalu berada di tempat ini setiap jam makan siang, menemani Bintang saat ia terpaksa harus tetap di ruangan karena kerjaannya yang menumpuk. Sudah beberapa bulan ini aku tidak pernah menginjakan kaki disini, dan hari ini untuk pertama kalinya aku kembali.
"Siang Pak Pandu! " beberapa Karyawan menyapaku saat aku berjalan ke ruangan Bintang
"Siang! " jawabku sambil berusaha tersenyum
"Bu Bintang di dalam? " tanyaku pada Meta sekertaris Bintang yang sudah bekerja lima tahun di perusahaan ini.
"Pak Pandu! " Meta tampak terkejut melihatku kembali "Ada pak di dalam! " jawabnya
"Makasi ya! " Aku tersenyum ke arah meta
Ku turunkan gagang pintu dan membukanya dengan perlahan, terlihat Bintang sedang duduk sambil memijit keningnya, dia terlihat begitu lelah.
Berbeda dengan Mas Chandra yang langsung menyerahkan semua pekerjaannya padaku saat tengah mengurus pertunangannya, Bintang masih tetap harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sedang ia handle, begitulah Bintang dia pekerja keras dan bertanggung jawab, tak ada yang bisa menghentikan pekerjaannya apapun yang tejadi.
"Hey! " sapaku samabil berjalan kearah meja kerjanya.
"Ehh kamu sudah datang! maaf ya jadi merepotkan! " ucap Bintang.
"Nggak kok, aku juga lagi santai! " jawabku sambil menatap Bintang. Aku rindu ruangan ini, disini kami sering menghabiskan waktu saat Bintang harus lembur bekerja dan itu kami lakukan setiap hari, biasanya dia akan memintaku menyuapinya, sedang ia fokus pada laptopnya, tapi sekarang berbeda aku berdiri di tempat yang sama namun dengan suasana yang tak sehangat dulu, justru kami saling grogi dan salah tingkah saat ini.
"Duudk disana yuk! " ajak Bintang.
Kami duduk di sofa tamu yang berada tak jauh dari meja kerjanya.
"Mau minum apa? " tanya Bintang
"Nggak usah, aku udah minum di kantor! " jawabku
"Du! aku ragu untuk melanjutkan pertunangan ini! " ucap Bintang berhasil membuatku terkejut
"Maksud kamu? "
"Yahh...! rasanya aku sudah terlalu egois, karena sudah menyakiti hati kamu Du! " Bintang tertegun di hadapanku
"Kamu jangan cepat memutuskan sesuatu Bi! besok sudah hari pertunangan kamu! "
"Tapi Du! aku nggak bisa lihat kamu seperti ini! "
"Apa yang kamu lihat!? aku baik-baik saja, malah sekarang sudah ada Kiand yang menemaniku ! "
"hemmm! Kiand! aku nggak yakin kamu benar-benar mencintai Kiand! " desah Bintang
"Siapapun wanita yang bersamaku saat ini, dialah yang bisa mengobati luka hatiku, jadi jangan pernah kamu batalkan pertungan itu hanya karena kamu memikirkan perasaanku, bukan hanya aku yang akan terluka, mas candra, mami , papi dan keluarga besar"
"Telat Bi, sekarang bukan saatnya kamu merasa bersalah karena perasaanku, harusnya dari awal saat kamu memutuskan untuk menerima perasaan cintaku, kamu berpikir terlebih dahulu, apa kamu benar-benar mencintaiku atau hanya pelampiasan kamu saja!" jelasku berusaha tegar
"Pandu aku minta maaf!" Suara lembut Bintang bak petir yang menggema di telingaku, kata maaf yang terus terucap membuat hatiku semakin sakit.
Bukan hal mudah melepasmu Bi, tapi membiarkan kamu menyakiti mas candra itu akan menjadi lebih sulit untukku gumamku dalam hati
"Tidak perlu minta maaf, semua sudah takdir Bi, kita tidak pernah bisa melawan takdir! " jawabku. Aku berusaha tetap tersenyum di hadapan Bintang, tak ingin lukaku menjadi beban untuknya.
"Terima kasih untuk semuanya ya Pandu! sampai kapanpun kamu akan menjadi sahabat kecilku, pahlawanku yang selalu berdiri di depan untuk menjagaku" Tangis Bintang pecah saat itu, rasanya aku tak sanggup menahan tangan ini untuk tak menghapus air mata Bintang, tapi...
"Kamu tenang aja Bi, aku akan tetap melindungi kamu sampai kapanpun, pegang janjiku! " tegasku. Bintang menghapus air matanya sendiri, dan itu menambah goresan luka di hatiku, dulu aku adalah orang yang selalu menghapus air matanya, memastikan tidak ada kesedihan dalam hidup Bintang, tapi saat ini semua menjadi dilema tersendiri.
Cukup lama kami menghabiskan waktu berdua, hingga suara dering telpon memutus pembicaraan ku dan Bintang.
Kiand? Nama Kiand terpampang jelas di layar ponselku
"Halo Pak Pandu! aku terjebak di dalam lift, lampunya mati aku takut! " Suara Kiand terdengar gemetar
"Astagaa saya minta maaf ki! saya lupa kalau kamu lagi nugguin saya! kamu tenang ya! saya akan menghubungi keamanan di sana!jangan panik! saya langsung ke kantor sekarang! "
"I-Iya pak! " jawabnya terisak
Bagaimana aku bisa lupa, jika hari ini aku ada janji dengan Kiand. Setelah ku matikan sambungan telpon aku segera menghubungi salah satu security di kantor
"Halo Pak Deni, ada salah satu karyawan terjebak di lift, tolong kamu tangani sekarang, saya akan segera kesana sekarang juga! " perintahku pada salah satu security kantor
"ba-baik pak! " Aku segera menutup ponsel dan menaruhnya ke dalam kantung jasku.
Bintang menyadari kepanikanku
"Pandu ada apa? " tanya Bintang
"Maaf Bi, aku harus buru-buru ke kantor, Kiand terjebak di lift! " jawabku
"Aku ikut!" sahutnya
"Tapi Bi! "
"Please Du, aku harus ikut! "
"Oke...! " Aku dan Bintang bergegas menuju kantor. Ku pacu mobilku secepat mungkin, entah kenapa aku begitu khawatir pada Kiand, mungkin karena rasa bersalahku meninggalkan dia di ruangan sendiri, ahhh Pandu bodoh banget sih lo!
"Tenang semuanya akan baik-baik saja! " ucap Bintang seolah menegerti kegelisahanku
"Hmmm! " aku hanya mengangguk dan kembali fokus pada stir mobil. Sesampainya di kantor, ternyata lampu gedung pun mati, dan tak lama menyala, aku segera berlari menuju lift ku lihat lift sudah berjalan turun, tapi ke khawatiranku belum hilang, karena aku tak tau kondisi Kiand di dalam sana.
Saat pintu lift terbuka, aku segera berjalan ke arah kiand, ku lihat bulir air mata di pipinya, membuatku semakin merasa bersalah, ku tenggelamkan tubuh Kiand dalam pelukanku,
"Kamu nggak papa ki? " tanyaku "Maaf Ki, aku benar-benar lupa!" Kiand tak menjawab pertanyaan ku, dia hanya menangis dalam pelukanku, aku bisa merasakan ketakutan pada diri Kiand, dia memelukku erat, tiba-tiba tubuh Kiand lemas dan jatuh dalam pelukanku.
"Ki.. Kiand, kiand kamu kenapa? " aku terus menepuk pipi Kiand berusaha membangunkan nya, aku semakin panik saat kiand tak juga sadar.
"Tolong hubungi petugas medis! sekaran juga! " teriakku, beberapa karyawan dan security yang berada di sekitarku segera mencari pertolongan
"Ki.. Kiand! bangun Ki! saya mohon, saya minta maaf! " air mataku jatuh membasahi wajah Kiand , untuk pertama kalinya aku takut kehilangan seseorang selain Bintang .
"Pandu! " Bintang menyentuh Pundak ku
"Ki.. Kiand! sadar ki! " aku terus menepuk pipi Kiand, dan tak menghiraukan panggilan Bintang, dalam otakku hanya ingin kiand segera sadar.
Tak lama dua orang tenaga medis datang membawa Brangkar dorong, dan membawa Kiand ke dalam ambulan, aku dan Bintang menemani Kiand, sepanjang perjalanan, aku sama sekali tak melepaskan tangan kiand, rasa ini pernah aku rasakan saat Bintang kecelakaan empat tahun lalu, aku begitu takut kehilangan Bintang saat itu, dan dan sekarang harus terjadi pada Kiand, rasa takut yang sama yang pernah aku rasakan dulu.
Sesampainya di rumah sakit Bintang langsung di berikan tindakan di IGD, dalam kepanikan aku segera menghubungi jefry untuk datang ke rumah sakit menemaniku. karena kondisiku benar-benar kacau.