
"Ki, sebenernya kamu ada hubungan sama anak bapak-bapak tadi? " tanya bi nur saat kami sedang dalam perjalanan
"Iya bi, kami pacaran! " jawabku
aku dan Bi nur menaiki taxi online menuju rumah noval
"Ya ampun ki, ki....! harusnya kamu sadar, kamu itu siapa dan laki-laki itu siapa! "
"Yah bi kiand tahu, tapi kiand nggak bisa bohongin perasaan kiand! kiand sayang sama pak pandu... " ujarku
"Tapi perasaan kamu itu jadi bumerang buat kamu sendiri nak! bibi cuman nggak mau, kamu semakin di buat susah karena mencintai laki-laki yang salah, hutang ayah juga belum lunas, di tambah lagi biaya pengobatan ayahmu, sekarang terpaksa kamu harus berhenti kerja karena laki-laki itu"
Aku hanya terdiam, terlintas di pikiranku setelah ini aku harus segera mencari pekerjaan, pesangon yang di berikan Pak Bagaskara juga tidak akan cukup membiayai aku, ayah dan arga saat ini, belum lagi sekolah arga, kasihan dia sebentar lagi dia lulus, aku tak boleh membebani pikirannya.
Mobil berhenti tepat di rumah noval, Bi nur nampak terkejut saat melihat rumah mewah yang jadi tujuan kami
"Ki, rumah siapa lagi ini? " tanya Bi Nur
" Ini rumah temen kiand Bi, untuk sementara Kiand tinggal disini! " jawabku sambil turun dari mobil setelah membayar ongkos taxi
"Oalah baik sekali temen kamu, terus apa arga tinggal disini juga? " tanya Bi Nur
Aku mengangguk sambil berjalan menuju pagar tinggi yang menjadi gerbang utama rumah noval
"Sore pak nimin! " sapa ku saat pak nimin membukakan pagar untuk kami, Bi nur tampak tercengang melihat rumah Noval yang besar dan luas
" ayo masuk bi! " ajak ku, saat kami masuk ruang tamu, terlihat bunda noval sedang duduk santai sambil membaca buku di sofa
"Sore tante..! " sapaku
"ehh kamu udah pulang? kok tumben gak bareng noval? " tanya bunda noval, dia menutup bukunya dan menaruh di atas meja
"Iiiya tante... kebetulan, saya pulang duluan" ucapku
Bunda noval tampak bingung melihat Bi Nur
"Sore bu! " sapa Bi Nur
"Sore... hmm Kiand! " panggilnya,
"Ini Bibi saya bu dari kampung" jelas ku
"Ohh, kok kamu nggak cerita kalau bibi kamu mau datang, tante kan bisa suruh supir untuk jemput kamu" ujar Bunda noval , dia memang sangat baik, hingga aku sendiri sungkan untuk tinggal leboh lama di rumah ini.
"Iya mendadak, bibi cuman mau lihat kondisi aku dan arga, karena kebetulan ayah di kampung juga lagi sakit" jelasku
"Ayo duduk dulu..." Bunda noval mempersilahkan Bi Nur duduk, kami saling bercerita banyak, terutama tentang keadaan ayah, aku masih menyembunyikan apa sebenarnya yang terjadi pada Bunda noval, karena tak ingin terlalu merepotkan nya.
Saat kami sedang asik berbincang, Noval dan Arga datang, Arga begitu terkejut saat melihat Bi Nur, karena setau dia, Bi Nur sedang menjaga ayah
"Bi Nur! " panggil Arga..
Noval masih berdiri menatapku, lalu kemudian dia berjalan dan bersalaman dengan Bi Nur, kami melanjutkan perbincangan kami di meja makan sambil makan bersama, setelah itu Bi Nur beristirahat di kamarku, sedang aku memilih untuk duduk di taman, aku masih bingung bagaimana aku bicara pada arga, jika aku sudah tidak bekerja, dan kita harus benar-benar menghilang dari pandangan Pak Bagaskara lebih tepatnya Pak Pandu
"Hey...! " Noval berjalan menghampiriku
"hey... "
"Ngapain disini? Bi nur mana? " tanya noval
"Cari angin, Bi Nur lagi istirahat di kamar, dia habis perjalanan jauh, pasti capek" jawabku beralasan
"Gue boleh duduk? "
"Yah boleh lah... " aku sedikit bergeser untuk memberikan tempat duduk pada noval
"Lo jadi malam ini pergi makan malam? " tanyanya, saat makan siang aku memang memberi tahu Noval jika malam ini akan ada acara makan malam bersama Pak Pandu dan kawan-kawan
"Jam berapa? " tanyanya lagi
"Jam 7 sepertinya, gue lupa"
"Lo di jemput? "
"Yah...! " jawabku mengangguk
"Sampai kapan lo mau terus berjuang buat cowok itu? "
"entahlah val, meski gue berusaha untuk tetep berjuang, nyatanya dunia terus menentang gue"
"Maksud lo? lo mau nyerah? " dia menoleh dan menatapku
"Gue cuman nggak mau ada yang terluka, dan tersakiti karena hubungan ini, mungkin kalau gue cuman berjuang mencari restu, gue akan tetap berjuang, tapi kalau sampai menyangkut keluarga atau orang yang gue sayangin, gue pastiin gue mundur" Saat aku bercerita tanpa sadar air mataku menetes, dan segera ku usap
"Ki... " Noval menyentuh tanganku " Jangan berpikir kalau lo sendiri, jadi apapun masalah yang lo hadapi, tolong ceritain ke gue, dan gue bakal ada buat lo! "
Terkadang aku berandai-andai, seandainya aku bisa mencintai noval, mungkin kisah ku tak serumit ini, tapi nyatanya, hati ini lebih memilih Pak Pandu, yang aku tahu resiko apa yang aku hadapi saat memilih tetap bersamanya.
Noval merengkuhku dan menyandarkan kepalaku di bahunya, ada kenyamanan yang aku rasakan, rasanya aku ingin mengatakan semua beban yang ada di pundak ku, tapi aku nggak bisa, aku tetap harus merahasiakan percakapanku dengan pak bagaskara tadi siang.
...****************...
Malam ini senyum , tawa semua terasa hambar, disaat kami saling bersenda gurau, aku hanya bisa menatap mereka dengan air mata yang tertahan, aku pasti akan merindukan kebersamaan seperti ini lagi, Kak Nanda, Pak Jefri dan Pak yoga, bagiku bukan hanya sekedar partner tapi mereka sudah seperti kakak ku sendiri.
"Ki lo kenapa darin adi diem aja? " tanya Kak Nnada
"Heheh nggak papa, gue cuman lagi menikmati kebersamaan aja" jawabku
"ayo! " tiba-tiba pak pandu berdiri dan mengajakku
"udah ikut aja! " ujarnya sambil menarik tanganku
"pak, makanan saya belum habis! "
"udah ayo!! " pak pandu memaksaku untuk ikut bersamanya.
"Udah sana ki, tancap gas....! " sahut pak jefri
dengan terpaksa aku mengikuti Pak Pandu, yang entah mau membawaku kemana.
Mobil melaju, melewati gedung-gedung bertingkat yang terlihat indah dengan hiasan lampu-lampu.
"Kamu kenapa? " tanya pak pandu
"Hah... kenapa pak? " tanyaku lagi
"Kamu kenapa? "
"nggak papa kok pak, saya sehat walafiat" jawabku
"Bukan hanya Nanda yang merasa kamu berbeda saat ini, sayapun merasakan seperti itu, dari awal saya jemput kamu di rumah noval, kamu nggak seceria biasanya, kamu ada masalah? "
"Nggak pak, saya nggak papa! " ujar ku tersenyum, Pak Pandu masih berkonsentrasi dengan stirnya meski sesekali tangannya terulur untuk menggenggam erat tanganku. Sekuat hati aku berusaha menutupi kesedihan ini, aku selalu mengalihkan pembicaraanku saat pak pandu terus menanyakan aku kenapa?.
"Jangan pernah menyembunyikan masalah apapun, aku mohon! " ucapnya seketika membuat hatiku meleleh
Aku hanya bisa menatapnya sambil terus menguatkan diriku sendiri
"Iya pacar...! " jawabku
Mobil terus melaju, menuju sebuah taman bermain yang berada persis di belakang gedung bertingkat , aku bahkan tidak tahu jika di jakarta ada tempat seindah ini.
"Waw.... " mataku terbelalak saat melihat beraneka permainan dengan lampu yang gemerlapan
"Kamu belum pernah kesini? " tanya Pak Pandu, aku hanya menggeleng, kami masih berada di mobil untuk mencari tempat parkir, tidak terlalu banyak pengunjung disini, mungkin karena ini bukan hari libur.
Setelah mendapatkan tempat parkir, pak pandu segera berlari untuk membukakan pintu mobil
"makasih " ucapku, dia mengulurkan tangannya, yang langsung ku sambut, kami berjalan bergandengan menikmati keindahan malam ini.
Di taman ini memang hanya ada beberapa permainan saja, seperti bianglala, ontang anting, dan beberapa komedi putar, selain itu terdapat beberapa kedai yang menjajakan banyak makanan, dari mulai makanan ringan hingga makanan berat.
"Dari mana pak pandu tahu tempat ini? " tanyaku sambil berjalan mengikuti terpaan angin malam
"pernah satu hari saya benar-benar frustasi, mabuk saja rasanya tidak membuat rasa sakit hati ini terobati, aku butuh tempat untuk bisa menenangkan pikiranku, dan yah saya menemukan tempat ini, lebih indah lagi kalau kita datang saat waktu senja, kamu bisa benar-benar melihat lukisan nyata terpampang di depan mata"
"Ohh jadi sendiri kesini nya? " ledek ku " saya pikir...! "
"kenapa? kamu mikir saya kesini sama Bintang? "
"nggak heheh"
"Kamu wanita pertama yang ku ajak kesini" ucap Pak Pandu, sambil menatapku kali ini hatiku langsung menghangat ada rasa sedih , terenyuh, damai ketika mataku dan mata pak pandu saling melempar pandangan. Kini aku sadar mencintai bukan hanya saja tentang rasa harus memiliki tetapi berusaha merelakan.
Pak Pandu terus menggenggam tanganku, tanpa melepaskannya sedetikpun, dan kami duduk di kursi panjang yang di sediakan, beberapa orang terlihat begitu asik menikmati wahana permainan, banyak juga pasangan muda yang menghabiskan malam seperti kami.
Ada rasa sedih bercampur haru, malam ini kami benar-benar bersenang-senang menikmati beberapa wahana berdua, membeli ice cream dan pop corn, hingga tak terasa jam menunjukan pukul 11 malam, beberapa orang terlihat mulai meninggalkan taman bermain begitupun aku dan pak pandu.
"Besok aku jemput ya! " ujar Pak Pandu, kita berjalan menyusuri jalan dengan beberapa tumbuhan di samping kanan kirinya sambil menikmati pop corn
"besok saya cuti" lagi-lagi aku harus berbohong
"Ngapain kamu cuti? kerjaan kita masih banyak loh! "
"Saya lagi pengen istirahat aja" jawabku "Pacar besok sibuk ya? " tanyaku manja
"Apa kerjaan kita membuat kamu lelah? " tanyanya
"nggak sih pak! tapi lagi pengen istirahat aja" jawabku
"ohh... " dia mengangguk "ohh ya, tadi kamu tanya apa aku sibuk? "
"iya, kalau pacar nggak sibuk, gimana kalau besok kita menghabiskan waktu di apartemen
Pak Pandu menghentikan langkahnya, dia menatapku dari atas sampai bawah " kamu sehatkan? " tanyanya sambil menaruh telapak tangan di keningku
"Pacar, saya sehat kok...! " jawabku menyingkirkan tangan dari keningku
"Kamu yakin, kamu nggak papa? "
"saya yakin seyakin-yakinnya pak pandu yang terhormat"
"Oke...! kita langsung pulang...! " dia menarik tanganku dengan tawa riang,
Maaf, pak hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mengukir kebahagiaan di akhir pertemuan kita ucapku dalam hati.
Aku pernah membaca kata-kata yang membuatku kuat sampai detik ini.
" berlian akan berpendar karena sebuah gosokan"
Tanah liat akan menjadi indah jika di bakar"
begitupun dengan kehidupan, karena sejatinya hidup adalah sebuah proses untuk menjadi lebih baik.
Pertemuan ku dengan Pak Pandu pasti ada tujuannya, begitupun dengan perpisahan ku dengan pak pandu, aku yakin tuhan tidak akan terus memberiku badai, karena pasti akan ada pelangi setelahnya.
#maaf agak telat update, karena lagi banyak banget kerjaan, terima kasih buat yang setia baca novelku#