For A Great Love

For A Great Love
episode 90 last love



"Makasi ya pak! " ucapku setelah seharian menghabiskan waktu di rumahku.


Untuk pertama kalinya aku melihat Ayah seceria hari ini, meski sulit untuk mengungkapkannya, tapi aku bisa lihat matanya sungguh bercahaya. Pak Pandu banyak bercerita pada Ayah , mereka menghabiskan waktu berdua di teras, sungguh ini adalah kebahagiaan yang luar biasa untukku


"Sama-sama," jawabnya. Meski kami saling mencintai, namun kali ini aku merasa canggung di dekatnya, entahlah aku hanya membatasi hatiku agar tidak terluka terlalu dalam.


"Kamu jangan tidur malam-malam ya! " pesannya, saat aku mengantarnya ke depan gang


"Hmm iya, Pak Pandu juga ya! " ucapku tersipu


Dia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, aku benar-benar seperti anak SMA yang baru merasakan getaran cinta.


"Bye! " Pak Pandu melambaikan tangan sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.


Mataku terus menatap mobil hitam yang pak pandu tumpangi, rasanya tak ingin sedikitpun aku mengalihkan pandanganku, hingga mobil Pak Pandu menghilang menyatu dengan mobil lainnya.


Tak henti-hentinya bibirku tersenyum, aku di buat kasmaran olehnya


"Malam Bi Nur" Sapa ku riang setelah aku masuk rumah dan melihat bi nur tengah menonton televisi


"Hmmm yang lagi seneng! " ledek Bi Nur. Kebetulan Ayah sudah masuk kamar dan tidur, jadi hanya ada Bi Nur di ruang tv yang merangkap jadi ruang tamu.


"Ihh apaan sih! "


"Gimana? " tanya Bi Nur


"Gimana apanya? " aku balik bertanya


"Hubungan kalian? "


"entahlah Bi! kita saling mencintai, tapi hubungan kami terhalang benteng besar yang sulit di robohkan" ujarku sambil menaruh kepalaku di pangkuan Bi Nur


"Kiand, sekuat apapun benteng itu menghalangi, jika cinta kalian tulus, benteng itu akan hancur, percaya Bibi! " ucapnya dengan belaian lembut di kepalaku


"Kiand masih ragu, antara menyerah atau mempertahankan Bi! "


"ikuti kata hatimu kiand! mana yang menurutmu lebih baik, lakukanlah! dan jangan lupa berdoa, minta kepa yang kuasa, langkah apa yang harus kamu ambil! " pesan Bi Nur


Bi Nur selalu membuatku lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, hal yang sama saat aku bimbang, harus tetap di kampung atau merantau ke jakarta, Bi Nurlah yang membuatku yakin, meski saat itu ayah sangat menentang keinginanku.


Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, aku sudah yakin dengan keputusanku, untuk melanjutkan hubungan ini, apapun yang akan terjadi kedepannya aku siap menghadapi semuanya bersama Pak Pandu, aku yakin dia adalah pria yang tepat untukku.


...****************...


Tak sabar rasanya ingin bertemu Pak Pandu, selama ini aku sudah salah menjauh darinya. dan sekarang aku sadar jika semua yang ku lakukan hanya menyakiti hatiku dan Pak Pandu.


Pagi ini aku begitu bersemangat, tak pernah aku sesemangat ini saat akan bekerja, aku yakin pak pandu akan senang mendengar keputusanku untuk melanjutkan hubungan ini.


"Pagi Pak! " sapaku pada security yang bertugas , saking senangnya aku ingin menyapa semua orang.


"Pagi mbak! " balasnya


Setelah menaruh tas di meja, aku bergegas ke ruangan Pak Pandu yang berada di lantai tiga. setelah malam itu, kami memang tidak saling mengirim pesan, aku sengaja ingin memberikan surprice untuknya


"Kiand! " seseorang memanggilku, saat aku hendak masuk lift


ternyata wulan, dia terlihat tegesa-gesa


"Gila kamu ya! " ujar wulan saat melihatku "Kamu tahu Bu monic marah besar kemarin! "


"Hmmm...! " aku hanya berdehem tipis, tak tahu alasan apa yang harus ku berikan pada wulan


"Kamu kemana sama pak pandu? " tanyanya


"Saya pulang ke rumah! " jawabku ragu


"lalu Pak Pandu? " Wulan semakin penasaran dengan jawabanku


"aduh ceritanya panjang! " aku rasa belum saatnya aku banyak bercerita tentang hubunganku dan Pak Pandu


"aku nggak mau tahu, kamu harus cerita semuanya! " paksa Wulan " kamu udah buat aku terjebak dalam situasi sulit kiand, Bu monic terus nanyain kamu dan pak pandu, dia bahkan ngancem aku kalau aku nggak ngomong sejujurnya, aku mau di pecat! " Bu monic memang tidak akan main-main dengan ucapannya, toh dia juga termasuk pemilik saham disini, dia bebas mengeluarkan karyawan sesuka hatinya


"maaf ya wulan! " jujur aku merasa bersalah dalam hal ini, memang tak seharusnya kami meninggalkan bu monic begitu saja


"sekarang kamu mau kemana? " tanya wulan


"hmm itu.. hmm kemana ya! " aku berusaha mencari alasan dan mataku sesaat mengarah ke pintu pantry yang berada di samping kanan lift. "pantry, yah aku mau ke pantry" aku langsung menunjuk arah pantry,


"heheh masih ke kunci! " jawabku dengan ekspresi yang salah tingkah


"Kamu kenapa sih? " wulan yang melihat gelagat tak enak pada diriku terus menatapku curiga


"Nggak papa, beneran, aku mau ke pantry tadi, ehh taunya tutup! "


"Ya udah ke meja yuk! " alhasil aku terpaksa mengikuti wulan ke meja, agar wulan percaya.


Entah sudah berapa kali aku melihat layar ponsel, namun tak ada pesan masuk dari Pak Pandu. Aku mulai gelisah, tak biasanya dia seperti ini.


"Wulan, Kiand,... " Daniel berlari ke mejaku dengan tergesa-gesa


"Kenapa niel? " tanya Wulan


Aku menatap mata Daniel yang langsung menuju ke arahku, seketika aku memikirkan Pak Pandu, Pasti ada sesuatu yang terjadi pada pak pandu.


"Itu... itu...! " Daniel mencoba mengatur napasnya yang tersenggal-senggal


"Itu apa, kamu tenang dulu! " ujar wulan


"Pak Pandu! " deg... hatiku langsung gelisah, saat Daniel menyebut nama Pak Pandu


" kenapa Pak Pandu? " tanyaku langsung


"Pak Pandu di bawa orang di depan! " jelas Daniel


"Di bawa orang gimana? " tanya wulan tak kalah penasarannya denganku


"Iya di bawa masuk ke mobil, di paksa gitu! "


"di bawah bukannya ada security? " tanyaku


"Mereka diem aja, soalnya yang bawa pak pandu anak buah pak bagaskara! " tubuhku lemas mendengar nama itu disebut! semua yang terjadi pasti karena aku, setelah ini aku pasti akan di keluarkan dari kantor


Ku tarik napas panjang, mencoba menenangkan perasaanku. Rasanya semangat yang sebelumnya menggebu-gebu kini padam, aku bahkan tak ingin mengangkat kepalaku untuk melihat kenyataan, jika aku memang tidak bisa bersama Pak Pandu


"Ki, kamu nggak papa? " tanya Daniel, dia mungkin bingung dengan perubahan sikapku yang langsung terdiam


"Aku semakin sadar bahwa Pak Pandu di matamu bukan sekedar atasan" Kalimat itu terngiang di kepalaku, saat wulan mengatakannya


"Maksudnya? " tanya Daniel


Aku terenyak saat Daniel bertanya, dan langsung mencoba mengalihkan pembicaraan


"Hmmm aku lupa ada laporan yang harus selesai hari ini, "


Wulan dan Daniel terdiam, mungkin ingin mengomentari aku yang masih terus melamun, tapi mereka seperti menjaga perasaanku.


"ohh ya udah,! " Daniel pun langsung meninggalkan


meja kerja wulan dan kembali ke meja kerjanya


tak lama ponselku berdering, ternyata Kak Nanda, aku langsung menjawab panggilan kak nanda sambil berlari ke pantry


"Hallo! " sapaku langsung


"Ki! lo nggak papa? " tanya Kak Nanda cemas


"ka, ada apa disana? " feelingku merasa jika Kak Nanda sudah tahu sesuatu


"Ki! malam ini Pandu akan tunangan, tadi Pak Candra nelpon Pak Yoga! " berita dari Kak Nanda sungguh membuat tubuhku lunglai, aku pun tak bisa menggambarkan diriku saat ini, terluka kecewa, semua harapan yang sudah ku yakinkan kini pupus dan lenyap seketika, lalu aku bisa apa dengan keadaan ini, ingin marah, ingin berontak tapi untuk apa?


"Ki, kiand! lo nggak papa? " suara kak nanda melemah, dia mungkin akan mencemaskan aku


"iya kak! nggak papa kok! " jawabku sambil menghapus air mata yang menetes begitu saja


"lo yakin? "


"iya, lo tenang aja! gue udah ikhlas buat lepasin pak pandu"


"Ki, gue tahu, ini bukan hal mudah buat lo, gue nggak akan nyuruh lo untuk kuat, karena ini memang berat, gue cuman pengen bilang, gue bakal selalu ada buat lo! " tangis ku semakin pecah, aku lemah saat ini, sangat lemah, tapi apa aku harus seperti ini, membiarkan kelemahan mendominasi hidupku.


Setelah sambungan ponsel terputus, aku pergi ke toilet untuk menghapus air mata yang tak kunjung berhenti, meski aku berusaha untuk menghentikannya


Dulu ayah pernah bilang, mencintai paling dalam adalah saat kita bisa mengikhlaskan orang yang kita cintai dengan pasangannya.