For A Great Love

For A Great Love
episode 96 keyakinan



Aku lega akhirnya pak Bagaskara siuman, dokter juga sudah mempersilahkan kami melihat kondisinya.


"Untuk saat ini, kasih kesempatan untuk papimu bernapas lega, masuklah bersama Reina, biar Kiand disini bersama mami" ujar Mami Pak Pandu


Aku dan pak pandu saling menatap sesaat, terlihat ke khawatiran dari mata pak pandu saat meninggalkan ku berdua dengan maminya, tapi aku berusaha meyakinkan jika semuanya akan baik-baik aja.


"Kamu nggak papa saya tinggal? " tanya Pak Pandu


ku anggukan kepalaku dan ku lepaskan senyum meyakinkan sambil ku usap pundaknya.


"Ya udah saya masuk ya! "


Pak Pandu dan Reina masuk ke dalam ruang rawat, menyisahkan aku dan maminya, awalnya aku gugup, takut, aku yakin cacian makian akan kembali berngaum di telingaku.


"duduk! " titahnya lembut


"makasi tante! " jawabku tersenyum


aku duduk tepat di sampingnya, dan ini untuk pertama kalinya aku lakukan.


"Sebelumnya tante minta maaf atas perlakuan tante selama ini! " Deggg! jantungku berdebar, dia begitu lembut dan ramah


"i.i.i.iya tante, saya ngerti kok! "


"Kiand! kamu tahu, seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya? " tanyanya dan aku hanya mengangguk " Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk pandu, tapi sepertinya apa yang saya dan papinya lakukan itu justru malah membuat jarak antara saya dan pandu! " Tersirat sebuah penyeselan dari matanya yang terlihat lelah.


" Tante sadar, pandu sudah besar! dia punya jalan hidupnya sendiri, dan kami lupa akan hal itu! Diaa dalah harapan satu-satunya untuk kami, karena kami sudah gagal mendidik kakaknya, karena rasa bersalah yang tertanam dari hati kami sejak mereka kecil! kami merasa sudah kehilangan sosok kakaknya, dan kami takut harus kehilangan sosok pandu juga! "air mata terjatuh dari matanya


Aku memberanikan diri mendekat hingga tak ada jarak antara kami, ku raih tangannya dan ku genggam


"tante, pak pandu sangat menyayangi tante dan om, apapun yang terjadi padanya selama ini, rasa sayangnya untuk om dan tante tak sedikitpun berkurang, apa yang pak pandu lakukan adalah bentuk kekecewaan atas semua penolakan yang kalian berikan, tapi tidak mengurangi sedikitpun kasih sayangnya untuk tante dan om" ujarku


"yah, tante percaya dia anak yang baik! ki! " wanita itu menatapku lekat,


"i.. iya tante! " ucapku gugup


"Tapi tante minta maaf, untuk saat ini, tante mohon dengan sangat jauhi pandu, anggap saja ini bentuk permohonan seorang ibu yang takut kehilangan putranya"


Aku terdiam tubuhku seketika membeku, bibirku kelu tak berdaya


"kiand, semua tante lakukan, karena tante tau sampai kapanpun papi pandu tidak akan merestui kalian, dan pada akhirnya pandu akan pergi" ujarnya


"tapi.. tan! "


"tante tahu, kalian saling mencintai, tapi takdir kalian berbeda kiand! " wanita itu meraih tanganku "kabulkanlah permintaan wanita tua ini kiand! " ibanya


Sungguh aku tak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini


"Permisi tante! saya harus pergi! "


Aku kecewa, aku marah aku terluka, lalu aku bisa apa? melihat matanya aku merasa tak berdaya.


Di kursi taman rumah sakit aku duduk, kurenungkan kembali permintaan wanita itu, pergolakan batin terjadi antara perasaan dan logikaku, aku terlalu mencintai pak pandu, aku tak ingin melepaskan dengan alasan apapun, aku tak perduli meski dunia memusuhiku sekalipun.


"kiand! " suara itu membuatku terkejut, dengan cepat aku segera menghapus air mataku, "daya cariin tahunya kamu disini! " ujar pak pandu yangbternyata sudah berada di belakang kursi


"iiya pak, saya cari angin! " Pak Pandu berjalan dan duduk di sampingku


"kamu nangis? apa yang mami katakan sama kamu? " tanyanya ketika menyadari jika mataku sembab


"nggak pak! ini tadi kelilipan" ujarku berbohong


"mau sampai kapan kamu selalu berbohong sama saya? " tanyanya


"saya akan temui mami! " ujarnya namun aku segera menarik tangannya, aku tak mau ada adu mulut lagi terlebih dengan suasana yang seperti ini


"mami pak pandu nggak ngomong apa -apa kok! dia malah minta maaf sama saya! " ujarku setidaknya membuat wajah geram pak pandu lebih rileks


"Terus kenapa kamu nangis? "


"pak! apa mungkin kita bisa sama-sama? " tanyaku


"maksud kamu? "


"saya cuman takut bermimpi terlalu tinggi! dan akhirnya terjatuh"


"tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, dan saya tidak tidak akan pernah membiarkan kamu terjatuh,"


"tapi pak! "


"sudahlah kiand, saat ini saya tidak mau berdebat tentang hal ini lagi, saya akan tetap memperjuangkan kamu"


Pelukan paks pandu selalu berhasil membuatku lebih tenang, meski aku tahu, rasa tenang ini sewaktu-waktu akan terusik oleh kegundahan karena perbedaan kami.


"Saya antar pulang ke apartemen ya, untuk sementara waktu saya akan pulang ke rumah, karena harus merawat papi dan perusahaan"


ku anggukan kepala sebagai jawaban setuju


"apa saya perlu telpon nanda untuk temani kamu? " tanyanya


"lebih baik biar arga yang temani saya pak, gak enak kalau harus merepotkan kak nanda" jawabku


"ohh ya sudah, kamu hubungi arga, biar dia tinggal di apartemen saya, itu lebih baik dari pada di rumah noval" nada bicaranya terdengar tidak mengenakan


"hmm pak pandu keberatan kalau arga tinggal di rumah noval? " tanyaku


"menurut kamu? memangnya calon kakak ipar arga itu noval? bukannya lebih baik kalau arga tinggal di rumah kakak iparnya, dari pada dia tinggal di rumah orang lain"


"pak pandu cemburu? " ledekku


"pikir aja sendiri! " dia langsung melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkanku


Cinta itu terkadang sulit untuk ku tebak, aku menatap wajah pak pandu dengan seutas senyum yang tak ingin ku lepaskan, masih tak percaya aku akan mencintai dia, orang yang ku pikir angkuh dan keras kepala,


"ngapain kamu ngeliatin saya? " tanyanya ketika sadar jika aku memperhatikan dia yang sedang mengendarai mobilnya


"memangnya gak boleh saya liatin pacar saya? " jawabku


"Pacar? tapi kamu masih panggil saya pak! " ujar pak pandu sebagai bentuk protesnya


"iya saya suka lupa pak ehh pacar! "


"dasar" dia mengacak-acak rambutku dengan satu tangannya, aku sempat terdiam, yah aku bahagia bersamanya, dan aku tidak akan melepaskannya, apapun yang akan terjadi meski seluruh dunia memusuhiku karena aku melawan perbedaan kasta yang terjadi antara kita


"Kamu harus inget, saya sayang sama kamu kiand, jadi jangan pernah takut kehilangan saya, dan jangan berpikir untuk tinggalin saya! " dia mengulurkan tangannya, dan dengan cepat ku balas uluran tangannya


tangan kami menyatu, terikat, dan itu adalah bentuk cinta kami yang sudah terikat


Restu memang penting dalam sebuah hubungan, jadi aku akan berusaha untuk bisa mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, bahkan jika itu akan menyakitiku kelak.


note


maaf untuk episode ini lama banget, lagi benar-benar gak ke pegang maaf ya. 🙏🙏🙏🙏