For A Great Love

For A Great Love
Episode 124 Bagaimana akhirnya?



Perkataan Kiand cukup menyentak ku. Aku memang sudah terlalu banyak menyakiti hati Kiand, tapi rasanya tak rela jika Kiand harus mengorbankan perasaannya.


"Bro...." Aku terkejut saat Jefry ternyata sudah berdiri di sampingku


"duduk..." titahku


"Kasih waktu buat dia!" ujar Jefry, aku melirik ke arah Nanda, ia tengah duduk sendiri.


"temenin istri Lo...." sahutku


"udah tenang aja, tamu juga lagi sepi " ujar Jefry, aku tau Jefry tak tega meninggalkanku sendiri


Ku ambil sebuah gelas yang berisi orange jus, lalu menyesapnya.


"ngomong apa dia?" tanya jefry


"dia udah tunangan sama Noval" jelasku


Jefry hanya tersenyum kecil "ohh jadi itu...!"


Aku spontan mengangkat wajahku dan menatapnya, dia begitu santai merespon ucapanku


"belum, baru akan!" jelasnya, memupuk secercah harapan di hatiku


"maksudnya? Dia boong sama gue?"


"bukan bohong, mungkin dia mau Lo jauhi dia, karena memang dia udah mau tunangan sama Noval" jelas Jefry


Aku merasa masih ada kesempatan, walaupun tipis, tapi setidaknya aku tahu, Kiand belum bertunangan.


"udah jangan galau, Lo masih punya kesempatan, obrolin lagi sama kiand!" titah Jefry


"iya, selesai acara gue mau temuin Kiand lagi" ucapku .


"ya udah gue naik dulu, udah banyak tamu!" Jefry beranjak dari kursinya dan kembali ke pelaminan.


Alasan kiand bertunangan dengan Noval itu hanya karena berhutang Budi, bukan karena cinta, itu artinya gak adil buat Kiand, tapi tadi dia seolah tak perduli dengan semua pernyataan ku, apa mungkin Kiand mau mengubah keputusannya. Ahhh entahlah ..


Setelah bergumul dengan banyak pertimbangan , aku keluar sejenak mencari tempat untukku lebih rileks.


...****************...


Hari hari berlalu, Jefry sudah menikah, yoga sudah menikah, tinggallah aku yang masih mengejar cintaku. Aku ingin kembali menemui Kiand, tapi sepertinya Kiand belum siap untuk kembali bertemu denganku, beberapa kali aku mencoba menghubunginya, tapi dia tidak merespon.


Drttttt (getar ponsel )


Aku meraih ponsel yang ku taruh di celana, ku lihat tak ada nama si penelpon


"Hallo!!"


"Hai....ini gue Noval !" ucapnya to the point


"ohh ya....!"


"bisa kita ketemu?" tanya Noval


"ohh bisa, kapan dan dimana?" jawabku tegas, aku yakin dia akan membicarakan tentang Kiand, ini akan menjadi kesempatan ku untuk meminta Kiand kembali


"kita ketemu di coffeshop ." pinta Noval


"oke ..." jawabku dan langsung menutup sambungan telpon


Aku memutar kemudi, berbalik ke arah Jakarta Selatan, menuju coffeshop yang berada di mall. Butuh waktu 30 menit untuk sampai kesana, apa lagi dengan jalanan Jakarta yang cukup padat.


Terlihat Noval sudah lebih dulu sampai, dan aku segera menghampirinya


"Sorry jalanan macet" ujarku


"oke, no problem, duduk..." titahnya


"thanks...." ku tarik kursi dan duduk di hadapan Noval


"sampai kapanpun cinta Kiand buat Lo, bukan buat gue, dan gue mau dia bahagia, udah cukup dia ngerasain sakit selama ini, terlebih tentang Lo....jadi gue harap Lo gak akan menyia nyiakan Kiand untuk kesekian kalinya" tegasnya penuh penekanan, aku terima semua yang di katakan Noval, karena akupun menyadari semua derita Kiand berawal dariku


"Kiand ada di rumah gue, jemput dia...dia butuh Lo banget, tolong jangan nyakitin dia lagi, kalau sampai itu terjadi, seujung kuku pun gak akan gue biarin Lo bisa sentuh Kiand lagi...." ancamnya.


"oke, pegang janji gue, gue akan bahagiain Kiand!"


Tanpa basa basi aku segera mengambil kunci mobil, dan pergi menuju rumah Noval.kupacu mobil menuju daerah pondok indah , di perjalan aku merasakan salah satu ban sebelah kanan kempes. Aku menghentikan mobil dan keluar untuk mengecek. Sepertinya ada sesuatu yang menancap pada banku.


Tak punya pilihan lain, aku pun memarkirkan mobil di tempat dekat ruko perkantoran. ku lihat di dalam mobil, ada ban cadangan, aku segera mencari dongkrak. Ku sing sing kan lengan baju ku angkat ban cadangan ke luar , lalu ku mulai memasang dongkrak dan memutarnya hingga bagian mobil terangkat, entah bagaimana kondisiku sekarang, kotor tak karuan, tapi aku tak perduli, aku harus segera menemui Kiand.


Setelah semuanya selesai, aku kembali menaruh dongkrak, dan ban yang bocor, lalu bergegas menuju rumah Noval.


Sesampainya di depan rumah Noval, aku terdiam sejenak, aku menarik nafas panjang, dan mulai menyiapkan sederet kata - kata yang ingin ku ungkapkan pada Kiand, namun otakku rasanya membeku. Sudah 10 menit aku berada di dalam mobil.


"Argghhhh!" aku tak perduli apa yang akan ku katakan nanti pada Kiand, yang jelas saat ini aku harus bertemu Kiand, aku keluar dari mobil dan bergegas menuju rumah yang memiliki pagar cukup tinggi, seorang security keluar


"permisi!" sapa ku


"iya mas, cari siapa?" tanyanya


"Kiand ada?" ku harap security ini mengenal Kiand


"ohh non Kiand, ada di dalam, tunggu ya ...! " aku sama sekali tidak dipersilahkan masuk, orang itu hanya meninggalkanku di balik pagar.


Tak lama aku melihat Kiand keluar dari pintu, ia tampak terkejut melihatku dan sempat terhenti di depan pintu, tapi ia kembali berjalan ke arahku.


"Pak, tolong bukain ya...." titah kiand


Akhirnya security itu mempersilahkan aku masuk, kami hanya berdiri di halaman rumah. Kiand menatapku dari ujung rambut hingga kaki, aku hanya membalasnya dengan senyuman.


" Pak Pandu ngapain kesini?" tanyanya heran


"mm...ahhh..Akku..." geram ku pada diri sendiri, karena susah sekali untuk mengatakan semuanya


"pak pandu baik baik aja kan?" tanyanya "pak pandu dari mana?" dia terus menatapku, aku tahu kondisi tubuhku saat ini tak karuan, muka yang kotor, rambut yang acak-acakan, bahkan kemejaku penuh dengan noda.


"aku gak papa kok...itu..tadi ban mobilku bocor" jelasku, Kiand terlihat menahan senyum


"lalu, pak pandu mau apa kesini?" tanyanya lagi


Aku menarik nafas panjang, ku raih tangan Kiand "Kiand, aku bener - bener mau minta maaf, tolong kasih aku satu kesempatan, aku gak bisa hidup tanpa kamu Kiand, tolong jangan tinggalin aku, aku tau kamu belum bertunangan dengan Noval, tolong jangan lakukan hal yang bodoh , dengan melanjutkan hubungan kalian, kamu tidak mencintai Noval Kiand" ujarku


"Pak pandu tahu, gimana rasanya setiap hari menunggu kedatangan pak pandu, setiap hari berharap pak pandu datang menemui ku, bayangkan bagaimana aku menjalani hari hariku kemarin" Kiand terisak . Lagi-lagi aku membuatnya menangis


"aku minta maaf Kiand, aku pun merasakan sakit, saat setiap hari aku harus merindukanmu, sedang aku tak berdaya!" ujarku


"sekarang, setelah semua yang pak pandu lakukan padaku, apa aku bisa percaya ? Apa pak pandu bisa jamin kalau pak pandu tak akan pergi lagi?"


"Kiand , tolong percayalah, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini"


Kiand terisak lagi, dan mengusap air matanya, tak tahan melihatnya menangis, aku membawa Kiand dalam pelukanku. Aku memeluknya erat agar ia tahu bahwa aku tak ingin kehilangannya. Agar pelukan ini memberitahunya kalau ia begitu berharga untukku.


"Aku mau kamu tahu Kiand, aku akan berusaha membuat kamu bahagia, aku akan menyembuhkan setiap luka yang ku buat sampai kamu tak akan mengingatnya lagi"


Kiand meremas kemejaku dengan kedua tangannya,dan mengangguk


Aku tersenyum lega, ku usap kepalanya dan memeluknya dengan sayang.


"pak pandu janji gak akan ninggalin aku lagi?" tanyanya memastikan dan melepaskan pelukanku


Aku mengangguk pasti, meyakinkannya


" kalau sampai pak pandu pergi lagi, apa konsekuensi yang pak pandu terima?" tanya ya lagi


Aku mengulum senyum " apapun hukuman yang kamu berikan , aku terima!"


Kiand tersenyum dan kembali memelukku. Kan ku biarkan Kiand memiliki hatiku seutuhnya, ia bisa melakukan apa pun dengan hatiku. Ia boleh menjaganya bahkan menghancurkannya.