For A Great Love

For A Great Love
episode 94 kekuatan cinta



POV Kiand


Bodoh kamu kiand, kenapa kamu masih berharap kalau Pak Pandu akan lebih memilih mu dari pada orang tuanya gumamku


Tak sanggup untukku kembali mengadahkan kepala saat Pak Pandu berdiri di atas panggung bersama Bu Monic


"Are you oke? " tanya Bu Bintang sambil mengelus tanganku


Aku berusaha untuk tetap tersenyum, meski sebenarnya aku tidak baik-baik saja.


"Kita bisa keluar dari sini kalau lo mau! " bisik Noval


"Udah tenang aja! semua bakal baik-baik aja kok" sahut Pak Yoga. Aku bingung kenapa mereka terlihat santai. Dan dengan cepat ku tahu jawabannya, Sungguh apa yang ku dengar barusan itu adalah kata-kata yamg keluar dari mulut pak pandu? Ku angkat kepalaku dan spontan aku membalikan badan kearah panggung, Ku lihat Pak Pandu berjalan kearahku, Aku berdiri di tengah orang-orang yang menatap kami, Pak Pandu berjalan semakin dekat, lebih dekat memutus jarak di antara kami .


Pak Pandu memelukku, ia sempat menghapus air mata yang terjatuh di pipiku, lalu dengan cepat dia menciumku. Tubuhku membeku tak bisa bergerak, lidahku kelu saat itu.


Aku tahu ini adalah waktu yang tepat untukku dan pak pandu bersikap tegas, dan jujur bahwa kami saling mencintai dan memutuskan untuk bersama.


Pak Pandu menarikku ke atas panggung, jelas wajah Pak Bagaskara begitu geram, begitupun dengan Bu Monic yang masih syok atas perlakuan pak pandu


"Pandu! kamu sudah gila! " teriak bu monic "Kamu juga, dasar wanita ******, berani-beraninya kamu merebut pandu ! " Dia hendak mengangkat tangannya dan mengarahkan ke pipiku, tapi dengan cepat di sanggah oleh pak pandu


"Dari awal aku sudah bilang, jika pertunangan itu tidak akan terjadi karena aku hanya mencintai kiand! jadi aku harap jangan pernah salahkan kiand dalam hal ini! " Aku masih berlindung di balik tubuh pak pandu, mungkin saat ini keluarga bu monic dan pak bagaskara akan mencaci makiku.


"Pandu lepasin tangan Monic! " Pak Wijaya nampak berjalan menghampiri kami, dan dengan cepat ia melayangkan tamparan ke arah pipi pak pandu


PLAKkkkk!!!! suasana pesta kini menengang, tak ada kegembiraan yang seharusnya tergambar


"Bagaimana bisa kamu mempermalukan anak saya! " ujar Pak Wijaya


"Maaf pak sebelumnya, saya sudah mengatakn semuanya bukan, tapi tak ada satupun di antara kalian yang menghargai keputusan saya! " ucap pak pandu


"omong kosong! " ujar Pak Wijaya " saya tidak akan pernah memaafkan kamu! "


"Pak Wijaya saya minta maaf, ini di luar dugaan saya! " pak bagaskara menghampiri pak wijaya


"Saya benar-benar kecewa dengan keluarga anda , bukannya kita sudah sepakat dengan pertunangan ini? " seru Pak Wijaya "Harusnya anda pastikan jika anak anda benar-benar mencintai putri saya bukan malah mencintai orang lain! "


"Saya akan pastikan pertunangan ini akan tetap berlanjut pak! pandu akan menjelaskan semuanya! "


"Maaf pi, tapi keputusan pandu sudah bulat! pertunangan ini tidak akan di lanjutkan! "


PLAkkkkk!!!!!! Pak Bagaskara menampar pipi pak pandu dengan keras


"Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini pada papi, hanya karena wanita itu! " pria paruh baya itu mengangkat jari telunjuknya tepat di wajahku


"Ayo monic, kita tinggalkan tempat ini! " Pak Wijaya menarik tangan Bu monic


"Papi, monic mencintai pandu, monic mau pertunangan ini tetap berlanjut" teriak Bu Monic


"untuk apa kamu bertunangan dengan orang yang tidak bisa menghargai kamu! " ujar Pak Wijaya


"Monic nggak perduli! monic mencintai pandu! " ujar Bu monic keras kepala


"papi bilang pulang! pulang! " tegasnya


Tanpa bisa melawan sang ayah, Bu monic pergi meninggalkan ballroom bersama keluarga, dan saat itu juga Pak Bagaskara meminta agar tamu undangan segera meninggalkan ruangan.


Plakkk!!!! lagi-lagi pak bagaskara menampar pak pandu, tapi pak pandu memilih diam dan hanya menunduk, aku sendiri tak bisa apa-apa, entah apa yang harus ku katakan pada orang tua sekeras kepala seperti pak bagaskara


"Puas kamu menghancurkan semuanya, berita ini akan cepat beredar di luaran, dan kamu tahu?!!! Saham perusahaan kita akan anjlok! belum lagi Pak Wijaya akan membatalkan semua kerja sama kita"


"Pi, kenapa yang ada di otak papi hanya saham, perusahaan dan kejayaan, pernah papi mengerti sedikit perasaan aku, perasaan Reina ! " ujar Pak Pandu


Ibunda Pak Pandu nampak menghampiri kami, wajahnya begitu ketus, wanita yang selalu tampil cantik dan lebih muda dari usianya ini menatapku dari atas rambut sampai ujung kaki


"mi, pandu mencintai kiand,! "


"cinta, cinta, cinta! kenapa kalian selalu di butakan oleh cinta? reina, kamu! " wanita itu tampak kesal


"Kenapa kalau kami di butakan oleh cinta! " Reina yang sedari tadi hanya diam kini memilih bersuara


"bukannya itu lebih baik, dari pada di buta kan oleh harta, sampai-sampai kalian tidak perduli pada perasaan kami! " tampak kesedihan dari mata reina, dia bahkan sampai meneteskan air mata


"Papi, mami pernah nggak sedikit aja tanya sama kita, apa mau nya kita? bagaimana perasaan kita? hal apa yang membuat kita nyaman? pernah nggak? " tanya Reina "Semua hidup reina, hidup kak pandu semua di atur oleh mami dan papi, tanpa boleh sedikitpun kami memilih untuk hidup kami sendiri! "


Pak Bagaskara dan sang istri hanya terdiam melihat anak perempuannya mengungkapkan semua perasaan yang dia rasakan


"kami anak mami dan papi! bukan boneka yang bisa kalian atur sesuka hati kalian! " ujar Reina


"Reina ini semua buat kebaikan kamu nak! " sahut sang mami


"kebaikan siapa? aku? mami bilang untuk kebaikan aku? " tangis reina semakin pecah "nggak mih! semua hanya untuk nama baik mami, papi, perusahaan , kerja sama dan apalah itu! " ujar reina


"pi, tolong untuk kali ini biarkan pandu memutuskan sendiri hidup pandu! pada siapa pandu harus mencintai seseorang pandu mohon! " pinta Pak Pandu


Suasana mulai mengharu biru, entah apa yang ada di pikuran pak bagaskara, tapi yang aku lihat dia sedang merenungkan setiap kata yang keluar dari reina, amarah yang awalnya memuncak, seolah reda begitu saja, pak bagaskara hanya diam tanpa sanggup berkata apapun


"tidak! " tegas ibunda pak pandu " kamu harus kembali pada monic, dan minta maaf pada keluarga wijaya! kamu sudah kelewatan pandu! "


"mi! tolong, pandu gak cinta sama monic! pandu cintanya sama kiand! "


"kurang ngajar kamu! " saat ibunda pak pandu hendak menampar pak pandu, dengan cepat ku beranikan diri menahan tangannya


"cukup tante! " ucapku, aku tak tega melihat pak pandu terus di salahkan bahkan harus menerima tamparan berkali-kali "Hati pak pandu sudah kalian sakiti, apa harus kalian menyakiti fisiknya juga! bukankah kalian orang tua? setahuku seorang ayah dan ibu, akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya, tidak egois memaksakan kehendaknya sendiri hanya untuk mengejar sebuah kekayaan! "


"sudah lancang kamu ya! merasa ada yang bela? merasa pandu mencintai kamu, jadi kamu bisa seenaknya! lepasin! " wanita itu menarik tangannya dari cengkraman ku


"Maaf tante om, tapi kalian sudah keterlaluan, apa menurut kalian pantas memperlakukan seorang anak seperti ini? " tanyaku


"Kamu! " raut wajah pak bagaskara begitu geram "sampai kapanpun saya tidak akan merestui hubungan kalian! " ujarnya terasa menusuk kedalam hatiku " ayo kita pulang! " ajak pak bagaskara


merekapun berjalan meninggalkan kami, "Reina ayo pulang! " ajaknya pada reina


"nggak, reina nggak mau pulang! reina mau sama kak pandu! " tolak reina


"reina, papi bilang pulang ! pulang! " bentak pak bagaskara


"buat apa reina pulang? papi akan melakukan hal yang sama bukan? tidak merestui hubungan reina dan kemal, papi juga akan menggugurkan kandungan reina! iya kan? " aku sungguh terkejut saat ku tahu jika reina tengah mengandung, ku tatap wajah pak pandu, mengisyaratkan sebuah pertanyaan apakah semua itu benar , dan pak pandu hanya mengangguk.


"kamu ini! " pak bagaskara hendak menampar reina, tapi sesuatu terjadi padanya " aghhhh! " dia nampak kesakitan dan terus memegang dadanya


"pi! " pak pandu berlari menghampiri pak bagaskara


"aghhh...! " tubuh pak bagaskara terjatuh


"papi....! " reinapun menghampiri pak bagaskara yang sudah berada di pangkuan sang istri


"papi, bangun pi! " suasana menegang, pak pandu hendak membawa tubuh pak bagaskara, namun di tolak oleh ibundanya


"jangan pegang! ini semua karena kalian! kalau sampai papi kalian kenapa-napa! mami tidak akan memaafkan kalian! "


"mi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat! ayo bawa papi ke rumah sakit! " ujar pak Pandu


Semua panik, begitupun aku, aku berlari keluar mencari bantuan, untunglah tim hotel dengan cepat memberikan pertolongan pertama dan segera membawa pak bagaskara ke rumah sakit.


"Aku antar papi ke rumah sakit, nanti kamu nyusul di antar yoga! " aku bisa lihat hatinya begitu hancur, tapi dia tetap membuatku tenang dengan mengecup keningku sebelum dia pergi!