For A Great Love

For A Great Love
episode 110 harapan cinta



POV KIAND


Raut wajah pak pandu tidak seperti biasanya, seolah ada yang sedang ia sembunyikan dari ku


Setelah makan siang, kami beristirahat di sofa sambil menonton Drama korea favoritku, seperti wanita pada umumnya aku selalu merasa terbawa suasana, apa lagi bila adegannya romantis.


"pacar! " panggilku sambil menyandarkan kepala pada pundaknya , rasanya begitu nyaman, meski aku melihat pikiran pak pandu saat ini mungin tidak ada disini


"hmm !! " jawabnya dia menggenggam tanganku, dan menyandarkan kepalanya di kepalaku, sesekali sambil mencium tanganku


"kenapa adegan film selalu romantis dan berakhir bahagia? " tanyaku, aku hanya ingin mengalihkan sedikit pikirannya


"Karena dalam adegan film tidak pernah ada kelanjutannya, itulah yang membuat filmberakhir romantis dan bahagia! " jawabnya


Mendengar jawaban pak pandu, aku segera mengangkat tubuhku dan menatapnya


"kan ada akhirnya? " tanyaku


"ada akhirnya, tapi tidak ada kelanjutannya! " jawabnya membuatku semakin bingung.


pak pandu menatapku lekat, bibirnya menyungging membentuk senyuman


"dalam film, akhir akan selalu bahagia, atau sedih sehingga orang melihat sisi keromantisannya, tapi dalam kehidupan, setelah kesedihan atau kebahagiaan pasti akan ada kelanjutannya, seperti naik roller coster, naik turun tak beraturan. " jawaban yang sempurna, tak pernah menyangka dia akan terpikir sampai kesana


Aku menaruh kepala di pundaknya lagi, menikmati setiap saat yang aku lewati bersama pak pandu, sekecil apapun momen itu aku selalu bahagia berada disisinya


"Apa hubungan kita akan ada kelanjutannya? atau akan berakhir agar terlihat romantis? " tanyaku


"Aku lebih memilih berlanjut, meski tidak terlihat romantis! " jawabnya


"mau ikut? " tanyanya


"kemana? " tanyaku balik


"udah ikut aja! " Pak pandu menarik tanganku keluar berjalan menyusuri lorong apartemen, dan menaiki lift hingga lantai dasar, tak sedikitpun pak pandu melepaskan genggamannya, kami terus berjalan dan keluar melalui pintu timur apartemen


Suasana disini jauh lebih asri, banyak pepohonan yang tumbuh, dan beberapa bunga bermekaran, begitu indah dan memanjakan pandanganku


"waw... aku nggak pernah tahu ada tempat secantik ini? " aku berdecak kagum


Tempat duduk taman tertata rapih, ada seperti joging track dan beberapa alat gym untuk umum


"tapi bukan disini tempatnya! " ujar pak pandu


pak pandu masih membawaku masuk ke sebuah hutan kecil, entah apa aku menyebutnya, tapi disini banyak sekali pohon tinggi, dan tepatnya sangat tertutup


"tempat apa ini pak? " tanyaku bingung


"udah kamu ikut aja, tapi hati-hati ya! "


aku masih mengikuti langkah pak pandu, semakin dalam dan.... waw... aku benar-benar terkejut dengan pemandangan yang ku lihat ,


Sebuah danau membentang air terlihat tenang, dan angin berhembus menyapu setiap dahan yang berguguran


Aku menarik napas panjang lalu menghembuskan, jarang sekali aku menemukan suasana asri di tengah kota, biasanya aku merasakan suasana ini di puncak ataupun di bandung


Ada jembatan yang menghubungkan pada tempat yang berada di tengah danau


"ayo...! " pak pandu mengajakku untuk menyusuri jalan itu.


Matahari begitu menyorot kearahku, tapi aku masih bisa merasakan kesegaran dari hembusan angin yang bertiup


Pak pandu berdiri di depanku, tangannya menutupi kepalaku, melindungiku dari sengatan sinar matahari


Aku begitu terpukau dengan cara dia memperlakukanku


"Pacar sini deh! " aku meminta pak pandu untuk mendekat dan pak pandu menuruti perintahku


"lebih dekat lagi! " tubuh pak pandu semakin mendekat


"agak sedikit turun! " pintaku lagi "sedikit lagi! " sampai tinggi kami sejajar


"lebih dekat! " wajah pak pandu semakin mendekat, begitupun dengan wajahku, dia memejamkan matanya. Aku bisa sangat dekat menikmati keindahan wajah pak pandu, hingga hidung kami bersentuhan, dadaku berdetak semakin cepat, ingin rasanya bibir ini menyentuh bibirnya yang lembut, tapi pada akhirnya ku urungkan, aku hanya mengambil topi yang ia gunakan


Menyadari tidak ada kecupan dariku dia segera membuka matanya dan tersenyum


"jadi cuman mau ambil topi? " tanyanya


Pak pandu membantu mengecilkan topi yang ku pakai, lagi-lagi wajah kami berdekatan dan jantungku terus berdetak tak beraturan


saat pak pandu tengah serius mengecilkan topi di kepalaku, aku langsung mencium pipinya tanpa ragu, mugkin saat ini wajahku mulai memerah karena malu.


Pak pandu terlihat terkejut, namun senyumnya semakin lebar, aku berharap sentuhan kecil itu bisa membuatnya lebih bahagia


"jadi udah mulai nakal sekarang? " godanya


"sedikit! " jawabku dengan memperlihatkan ibu jari dan telunjukku lalu berlari menjauh


pak pandu berusaha mengejarku, saat ia menangkap tubuhku, ia langsung menggendongku hingga aku bisa melihat rambutnya dari atas


"ohh jadi begini rasanya jadi pak pandu? " tanyaku


"maksudnya! " tanya pak pandu bingung


"karena pacar lebih tinggi dari aku, jadi pacar bisa lihat atas rambutku bukan? "


"ya.. ya... ya...! rambutmu yang selalu wangi dan lembut" sahutnya


aku menikmati hembusan angin yang meniup wajahku, sambil membentangkan kedua tanganku , aku berteriak " aku sayang pak pandu!!!! " teriakku


"Aku sayang kiand! " teriak pak pandu


"Aku lebih sayang pak pandu! " teriakku


"aku lebih sayang kiand! " balas pak pandu


Kami saling mengungkapkan rasa sayang kami yang jauh lebih besar hingga tak ada yang mau mengalah.


Awan cerah perlahan berubah menjadi gelap, perubahan cuaca bulan ini begitu tiba-tiba


"Kamu tahu kiand! kamu orang pertama yang ku ajak ke tempat ini" ujarnya dan aku merasa istimewa "bahkan bintang sekalipun tak pernah ku bawa kesini"


"ohh ya! kenapa? " tanyaku


"tempat ini seperti persembunyian jati diri ku, ketika aku merasa gagal, marah, kecewa aku akan lari ke tempat ini" ujarnya


"hmmm lalu? kenapa pak pandu bawa aku kesini? "


"karena setelah bertemu denganmu hampir tidak pernah aku kesini, aku merasa aku bisa menjadi diriku sendiri, aku bisa tertawa lepas, aku bisa menangis, bahkan di saat aku marah dan kecewa, kamulah tempat persembunyian ku" sungguh aku!selalu tertegun dengan pengakuan pak pandu kali! ini


"Sepertinya sekarang tempat ini bukan lagi menjadi tempat persembunyian ku, tapi tempat kita berdua!!!! "


"yah...! ini adalah menjadi tempat kita berdua! " tegasku


Awan putih perlahan menghilang tergantinkan dengan awan hitam, langit yang awalnya cerah bahkan matahari begitu menyengat kini berubah menjadi mendung, angin yang berhembus pun sangat kencang air satu persatu jatuh membentuk titik pada permukaan danau


"yahh kok hujan! " ujarku kecewa, aku masih ingin disini, menghabiskan waktu berdua bersama pak pandu


"ayo pulang! " ajak pak pandu


terpaksa aku harus kembali ke apartemen, kami berlari menerjang hujan yang turun semakin deras, pak pandu sempat melepaskan jaketnya, untuk menutupi kepalaku, kejadian ini mengingatkanku, saat pak pandu merelakan jasnya basah untuk menutupi kepalaku saat aku melintas di sebuah cafe, dan saat itu hujan turun begitu deras, hari ini dia kembali melakukan hal yang sama


di bawah guyuran air hujan, aku menatap wajah pak pandu, hal yang selalu membuatku nyaman. aku begitu bersyukur mengenalnya, dan menjadi wanitanya


"ayo.. ayoo... masuk!! " pak pandu menarik tanganku setelah kita sampai di lobby pintu timur apartemen


"Rambut kamu basah...! " dia mengusap rambutku menyeka setiap air yang menyentuh wajahku


aku hanya diam memandangnya.


Sesampainya di apartemen, aku mengambilkan handuk untuk pak pandu, dan mengeringkan rambutnya


"Aku siapin air panas ya, buat pacar mandi! " ujarku


"hmm makasi ya...! "


"sama-sama... "


Aku segera ke kamar mandi mengatur temperatur air untuk pak pandu mandi, khawatir air hujan akan membuatnya sakit.


Pak pandu selalu membuatku bak ratu di hatinya, menjadikan istimewa di ruang kehidupannya, entah apa yang aku rasakan jika kisah ini akan ada akhirnya, seperti film yang tidak pernah ada kelanjutannya.