
"Masuk dok...! " Sepertinya dokter dhani sudah datang, aku sangat mengantuk setelah minum obat, hingga aku tertidur
"Pak pandu udah bangun? " Kiand segera membantu mengangkat kepala, ketika aku hendak bangun "hati-hati pak...! "
"Hmmm pemandangan yang tidak biasa! " ujar dokter Dhani sambil memicingkan matanya ke arahku dan kiand "Jadi apa keluhan anda tuan muda pandu? " tanya dokter dhani. Usia kami memang tidak terpaut jauh, dan kami cukup lama saling mengenal jadi tak ada rasa sungkan atau apapun itu
"Kayanya maag pak pandu kambuh dok, perutnya sakit, mual, tadi juga sempat muntah " Dia benar-benar mencemaskan kondisi ku, sampai-sampai menjelaskan semuanya tanpa jeda
"Oke.. oke..! saya periksa dulu ya... " Dokter dhani mulai mengecek suhu, tekanan darah dan nadi
"sakit nggak? " Dokter dhani memukul bagian perutku
"sedikit dok! " jawabku
"Pandu, kamu tuh punya asam lambung, sudah tahu apa resikonya jika sampai telat makan? "
"hmmm... " jawabku mengangguk
"makan di lupain, tapi kopi jalan terus, benar? "
"i.. iya bener banget dok! " jawab kiand bersemngat, sepertinya mereka berdua bersengkokol untuk menindasku kali ini
"ya.. ya...!!!! sudah bisa ku tebak, ya sudah nanti ku berikan obatnya melalui infus ya, wajah kamu sudah pucat, pasti badan kamu juga lemas"
"hmm baik dok! " aku hanya bisa pasrah dan menuruti semua perintah dokter dhani, menolak pun tak akan ada artinya saat ini.
"Oke sudah selesai...!!! "
"makasi ya dok! " ucap kiand
"sama-sama, ya sudah! nanti kalau ada apa-apa hubungi saya ya... "
Dokter dhanipun kembali ke klinik, hanya ada aku dan kiand, sayang tanganku agak sulit bergerak karena selang infus
"Sakit nggak? " tanya kiand sambil mngelus bagian tanganku yang terpasang infus
"nggak kok, abis ini juga aku sembuh... " jawabku "sini! " aku meminta kiand bersandar di dadaku
"hmmm pak pandu kan lagi sakit, saya duduk disini aja"
"sini...! " paksaku
"oke oke...! " ku sandarkan kepala kiand di dadaku, rambutnya yang lembut seakan menjadi candu untukku mengusapnya lagi dan lagi.
(bunyi dering ponsel ku )
"Pak telpon pak pandu bunyi" ujar Kiand "aku ambilin ya ! "
Kiand beranjak dan segera mengambil ponsel yang berada di meja kerja tak jauh dari ruang tv
"Yoga...! " kata kiand sambil menyodorkan ponsel yang masih berdering
"aku angkat dulu ya...! "
"Hallo Ga! "
"Du.. lo pulang sekarang!!!! " suara Yoga begitu panik
"Kenapa Ga? "
...****************...
Tanpa pikir panjang aku langsung mencabut selang infus yang terpasang di tanganku
"Pak Pandu yakin? biar aku temenin ya! " Kiand pun tak kalah panik
"aku jalan sendiri, aku nggak papa kok, kamu jangan kemana-man, nanti aku suruh Jefry dan Nanda jagain kamu" ujarku tergesa-gesa
Aku segera mengambil jaket, dan langsung bergegas menuju rumah papi, Yoga bilang Reina mengurung diri di kamar, tak terdengar suara tangis Reina, mereka kgawatir jika reina nekat bunuh diri, kondisi papi juga sedang tidak baik, jika sampai jantungnya kambuh lagi, harapan hidup papi sangat tipis
Begitu sampai di rumah aku segera berlari ke kamar Reina, Yoga, dan mami sudah berada di depan pintu kamarnya, mereka masih berusaha mengetuk pintu kamar reina.
"masih belum keluar? " tanyaku pada yoga
"belum! coba lo yang bujuk, mungkin dia lebih dengerin lo di banding gue"
"Pandu, tolong adikmu, ayo kamu bujuk dia keluar, dia belum makan, mami khawatir" ucap mami ketakutan dan memberi wajah memohon
Akupun mengangguk dan mulai mengetuk. pintu kamar Reina "Reina! buka! ini kak pandu, kakak ngerti kami marah dengan keadaan, tapi bukan cara seperti ini? ayo kita bicara, nggak ada masalah yang nggak bisa di atasi" ucapku selembut mungkin
Masih nihil tak ada jawaban , Yoga terlihat tak kalah cemas dari mami,
"reina, Kak yoga khawatir loh sama kamu! " panggilku
"masih nggak di buka ! " ujar mami
"Kunci serep!!! " aku berlari ke bawah, biasanya mami menaruh kunci serep di laci bawah...
Setelah mendapatkan kunci itu, aku segera kembali ke kamar Reina, dan langsung membukanya. Kami semua terkejut, ketika tubuh Reina sudah tergeletak lemah di atas kasur, di tanganya telihat sebuah obat berdosis tinggi
"ya allah reina, apa yang kamu pikirkan nak! " mami begitu histeris
Tanpa pikir panjang Yoga langsung mengangkat tubuh Reina
"gue siapin mobil;" ujarku
Yoga segera memasuki tubuh Reina masuk ke dalam mobil
"mami tunggu disini, jagain papi, nanti Pandu kabarin, tolong telpon kak candra suruh temenin mami di rumah " titahku
"reina.... " mami terus menangis memanggil nama reina
"mami jangan khawatir! " ku kecup kening mami dan bergegas masuk ke dalam mobil, langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi
"rein, bangun rein ... " di perjalanan, yoga terus
menepuk pipi reina, berharap reina sadar
Untunglah jalanan tidak terlalu macet, sehingga dengan cepat kami sampai di rumah sakit,
"Perawat tolong...ada pasien di dalam! " teriakku
beberapa perawat mendorong brangkar dan mengangkat tubuh reina untuk di bawa ke ugd
"Maaf tunggu di luar ya! " ujar perawat yang membawa reina
Yoga begitu cemas, begitupun aku, tak habis pikir reina akan melakukan hal gila seperti ini, dia memang terlalu rapuh untuk menghadapi masalah seberat ini
drttttt (suara dering telpon)
"gimana reina? " tanya kiand
"reina berusaha bunuh diri, dia minum banyak obat dosis tinggi, sekarang kita lagi di rumah sakit, semoga reina nggak papa! "
"pak pandu sendiri kondisinya gimana? "
"kamu nggak usah khawatir aku baik-baik saja, oh ya, tadi aku sudah suruh jefry dan nanda temenin kamu, mungkin mereka masih di perjalanan , tolong jaga diri baik-baik sampai mereka datang ya! "
"iya pak, pak pandu jaga kesehatan kabarin aku ya! aku sayang pak pandu!!! "
kata penutup yang begitu menenangkan
"yah, kamu tenang aja...!aku lebih menyayangimu, dan aku akan hidup lebih lama "
Yoga masih mundar mandir ke arah pintu ugd, belum ada dokter ataupun perawat yang keluar ,
"Duduk aja bro! reina pasti baik-baik aja" ujarku
"gue masih belum tenang...! " jawab yoga
dia masih saja menengok ke arah pintu
"Percaya sama gue, reina bakal baik-baik aja! " ujarku sambil menepuk pundak yoga
Yoga memang tidak pernah terlihat memiliki kekasih, jadi baru kali ini aku melihat Yoga mencemaskan seorang wanita
"Pasien atas nama Reina " panggil seorang perawat
"iya dok! saya kakak nya! " jawabku menghampiri perawat yang berada di ambang pintu igd
"Kondisi pasien reina sudah lebih baik, kita masih menunggu sampai pasien sadarkan diri, setelah itu baru bisa di pindahkan ke ruang perawatan" jelas perawat
"oke baik Sust...! "
"lo jaga disini, gue ngurus adminiatrasi dulu" ujarku pada Yoga
"hmmm....!!! " jawabnya mengangguk
Setelah mengurus administrasi tak lama seorang perawat memberi tahu kami jika reina sudah sadar, dan sudah bisa di pindahlan ke ruang perawatan
Aku memesan kamar VIP untuk Reina, dia butuh tempat yang nyaman, karena bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi mental dan hatinya.
"Hai....! " sapa yoga pada reina yang masih berbaring lemah di UGD
Reina tampak tidak menggubris sapaan ku ataupun yoga, dia hanya diam sambil memalingkan wajahnya, air matanya masih mengalir seakan sulit terhenti
"biarin, kasih dia waktu! " aku menarik tangan yoga, saat ia ingin menghampiri Reina
"Oke, pasien sudah bisa di bawa ke ruang perawatan ya, " ujar perawat sambil mempersiapkan brangkar Reina , kami menuju lantai 3 menggunakan lift khusus
"Ini kamarnya, gimana mbak Reina? sudah nyaman? " tanya perawat yang mengantar kami
Reina masih saja diam, tak menggubris ucapan perawat itu
"Semua sudah oke ya mas, kalau ada apa-apa bisa langsung tekan nurse call untuk memanggil perawat"
"baik sust, terima kasih banyak! "
"sama-sama....!!! saya tinggal dulu ya! "
"syuuttt... " aku memberi kode yoga untuk menghampiri reina
Yoga berjalan perlahan, dan aku memberi ruang untuk mereka. Aku masih merasakan sakit di bagian perutku, jadi lebih baik aku beristirahat di sofa
"hei...!! " sapa yoga, tapi reina hanya membelakanginya, aku masih memperhatikan mereka, aku rasa Yoga bisa mengatasi masalah Reina
"posisi tidurnya nyaman? " tanya Yoga lagi
"Mau kak yoga naikin sedikit ? " yoga masih berusaha mengajak reina bicara, tapi reina masih diam
Yoga melirik ke arahku seolah dia sudah putus asa, dan akhirnya aku jugalah yang harus turun tangan
aku menghampiri tempat tidur reina, dan duduk di sampingnya tepat di hadapan wajah reina
"De....! " panggilku lembut, ku raih tangannya
"kakak tahu masalah kamu berat, dan akan sangat berat kalau kamu hadapi sendiri! saat ini dirimu bukan hanya untuk kamu, ada makhluk kecil yang sangat bergantung sama kamu" Reina menatapku, matanya sangat sembab wajahnyapun murung
"Kamu marah dengan keadaan? " tanyaku
"kakak jauh lebih marah! tapi itu bukan sebuah solusi, tidak ada masalah yang tidak bisa di atasi, bukankah selama ini reina selalu jadi anak yang kuat? " Tak ada kata yang terucap dari mulutnya, namun air matanya terus mengalir, bahkan sampai terisak
"udah... udah... jangan nangis" aku mendekap tubuh reina, dan membelai kepalanya, aku tahu reina membutuhkan itu
"reina harus apa kak? " tanyanya
"reina hanya harus menjalani hidup reina yang baru!!! " jawabku
"sekarang reina sendiri! kemal udah pergi, siapa yang akan jadi ayah untuk anak reina nanti... " ucapnya
"ada kakak, ada kak candra, anak reina tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ayah, kakak janji itu !!! " jawabku
"itu beda kak, itu nggak akan sama....!!!!! reina juga butuh seseorang yang temenin reina saat ini, kakak, kak candra suatu saat akan pergi!!!! lalu bagaimana dengan reina dan anak reina? " kali ini suara reina meninggi, aku mengerti apa yang dia khawatirkan
"kak yoga! kak yoga yang akan jadi ayah anak itu! " jawab yoga dengan tegas,
reina yang saat itu hanya mau menatapku, kini berbalik menatap yoga
"kak yoga akan menikahi reina, reina nggak perlu khawatir! " ujarnya
aku tersenyum lega mendengar perkataan yoga, aku percaya dia benar mencintai reina
"untuk apa kak yoga ngelakuin hal itu? " tanya reina
"karena kak yoga sayang reina! " jawabnya
"kak yoga cuman kasian sama reina, bukan sayang! " ujarnya
Yoga meraih tangan reina dan menggenggamnya " reina harus percaya kalau kak yoga sayang reina! "
Reina hanya terdiam, air mata yang sedari mengalir ia usap dengan tangannya sendiri, dia lebih tenang kali ini
"gimana? reina mau? " tanyaku pada reina
"reina nggak tahu kak! " jawabnya
"ya sudah, kalian bicarain masalah ini berdua, kakak keluar dulu! " aku sengaja meninggalkan mereka berdua, mereka harus membicarakan masalah ini berdua, itu akan jauh lebih baik.