
Pagi ini aku bersiap untuk pergi ke kantor, dengan mata yang masih berat karena aku baru tidur jam tiga pagi.
"Du ! jangan lupa jemput Bintang jam sebelas di Global Hotel! " Mas Candra mengingatkan
"Iya! " jawabku dan langsung bergegas menuju mobil
Hari ini aku memutuskan untuk membawa mobil sendiri tanpa Kemal, karena biasanya Bintang tidak suka jika aku menjemputnya memakai supir
"Itu sih namanya lo bukan jemput gue, tapi kemal yang jemput gue" Ucapan Bintang waktu itu saat tahu Kemal yang berada di kursi pengemudi
Rasanya sulit untuk membuang semua kenangan kebersamaan aku dan Bintang, semua tempat yang aku datangi, selalu saja tentang Bintang. Aku bahkan seperti seorang yang hilang arah, tidak tahu tujuan hidupku tanpa Bintang.
Seperti hari biasa aku akan menyerahkan Mobilku pada petugas Valet, jika aku membawa mobil sendiri. Aku berjalan masuk menuju lobby dengan sebuah tas di tangan kananku, semua orang akan tertunduk hormat saat aku melewati mereka, itu sudah menjadi hal yang lumrah selama aku menjadi wakil presdir disini.
"Pacar! " Suara itu seperti aku mengenalnya. Aku menoleh ke belakang benar saja itu Kiand, dia berlari mendekatiku dengan wajah yang begitu riang
"Pacar, Pacar....! bisa sopan nggak kalau manggil? "
"Katanya drama kita di mulai dari kantor? " bisik Kiand sambil mengarahkan bibirnya ke telingaku, meski harus susah payah berjinjit karena tinggi tubuh kami yang berbeda
"Tapi nggak usah teriak pacar! nama saya pandu! " Aku kembali melanjutkan langkahku, di ikuti Kiand di samping
"Pak! hari ini aku makan siang sama Dian ya! " ucapnya seperti anak kecil
"Kamu ikut saya jemput Bintang! " tegas ku
"Tunggu! " Kiand menahan tanganku dan terpaksa aku menghentikan langkahku
"Ada apa? " tanyaku heran
"Pak Pandu mau jemput Bintang! bukannya.....? "
"Jangan mikir yang nggak-nggak, saya jemput Bintang karena di suruh Mas Candra! " potongku
Aku kembali melanjutkan langkahku hingga sampai di depan lift
Ting !!!
pintu lift terbuka dan saat aku sudah melangkah memasuki lift, Kiand mengikutiku dari samping
"Aku naik lift ini ya! " Bisik Kiand
"Hmmm! " jawabku, beberapa mata memandangi kami, semua karyawan sudah mendengar gosip tentang aku dan Kiand, jadi mereka seolah terbiasa dengan kebersamaan kita.
Aku menekan tombol delapan belas untuk menuju ke ruanganku, di ikuti Kiand yang langsung menekan tombol dua belas
"Pak! hari ini saya nggak belajar jalan atau makan kan? " tanyanya
"Memangnya kamu sudah bisa? "lirik ku
"Sudah dong! 100% sudah bisa! " jawabnya sambil membusungkan dada
"Kalau nanti kamu bikin malu saya, saya potong gaji kamu lima puluh persen! "
"Hah! potong gaji? " Raut wajah Kiand berubah menakutkan "Bapak jangan seenaknya potong gaji saya ya! lagian ini tuh bukan job desk saya! jadi bukan tanggung jawab saya! " ujarnya
"Saya kan sudah kasih kamu bonus untuk itu! masih belum cukup? " tanyaku bermaksud menggodanya
"Yah kalau Pak Pandu mau nambahin sih dengan senang hati! " sahutnya
"Huh ngarep! dasar matre"
"Yeyyy!!! itu bukan matre pak! namanya saya kerja yah saya harus di bayar! "
Ting!!!!
Pintu lift terbuka di lantai dua belas
"Dadah pacar!!! " Kiand melambaikan tangannya sambil berjalan mundur keluar dari lift
Anak itu memang unik, dia bahkan bisa membuatku sedikit terhibur dengan sikapnya yang natural dan apa adanya.
Ting!!!
Kini pintu lift terbuka di lantai delapan belas, aku langsung bergegas keluar lift dan langsung menuju ruangan kerja
"Karin hari ini saya mau jemput Bu Bintang jam sebelas, tolong kamu cancel rapat siang ini ya! dan tolong buatkan jadwal baru! " perintahku pada Karin sebelum aku memasuki ruang kerjaku.
"Baik Pak! " jawab Karin
ku hempaskan tubuhku di atas kursi hitam sambil menarik napas panjang. Padahal aku sedang berusaha menjauhi Bintang, tapi sekarang aku justru harus kembali berhubungan dengan Bintang, Ku raih ponselku dan berniat menghubungi Bintang, setelah aku menemukan kontak Bintang di ponselku perasaan galau menyelimuti hatiku, membuatku mengurungkan niat untuk menghubunginya. mungkin mengirim pesan lebih baik dari pada aku harus mendengar suaranya
Aku menekan aplikasi pesan singkat, dan mengetik namanya, semua kenangan chatingku dan Bintang masih ada di aplikasi pesan ini, tidak ada satupun yang ku hapus, aku selaku kembali membacanya saat aku benar-benar merindukannya, kata sayang, selamat malam, mimpi indah! semua ku rekam jelas di otakku setelah membacanya, dan saat ku sadari ternyata pesan itu terakhir di kirim oleh Bintang lima bulan yang lalu.
Aku mulai mengetik sebuah pesan pada kontak Bintang
Bi! nanti aku jemput kamu tulisan pesan ini terasa begitu asing saat aku mengetiknya
tak lama Bintang membalas pesanku
Oke!
Sejak Bintang sudah menajdi kekasih Mas Candra rasanya hidupku hampa. Ada lubang besar yang ia tinggalkan dalam hatiku. dan itu sangat sulit untuk bisa ku perbaiki.
Sesekali aku teringat ucapan Yoga dan Jefry,yang menyarankan untukku mencoba membuka hati, namun rasanya tak semudah itu, bayang-bayang Bintang akan seketika muncul ketika aku menatap wanita lain. Contohnya Kiand, Kiand memang berbeda dengan Bintang sangat jauh berbeda, tapi entah kenapa banyak hal yang mengingatkan ku pada Bintang saat aku bersama Kiand. dan itu sangat tidak adil untuk Kiand, bagaimana jika Kiand benar-benar menyukaiku, aku pasti akan menyakiti hatinya
Kring!!!!!!
Dering telpon berbunyi memecahkan lamunanku tentang Bintang dan Kiand. Aku segera mengangkat gagang telpon
"Pak! Saya nggak usah ikut ya jemput Bu Bintang!" ternyata telpon itu dari Kiand
"Kenapa? " tanyaku
"Aku sama Dian, dan Kak Nanda mau makan Bakso yang ada di sebrang gedung! " pintanya sambil merengek
"Ohh! Ya sudah kalau begitu! "
"Bener Pak? Bapak ngijinin saya ? " Suara Kiand terdengar sumringah di balik telepon
"Iya! saya nggak akan maksa kamu! " jawabku
"Oke deh makasih banyak ya pak! " Saking bersemangatnya dia bahkan menutup gagang telpon dengan keras, hingga suaranya membuat telingaku sakit
...****************...
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh lewat tiga puluh lima menit, aku segera bergegas menuju lobby dan lanjut menjemput Bintang di Global Hotel.
Saat mobil memasuki lobby Global hotel, Bintang sudah terlihat sedang berdiri menungguku di sana, jadi aku bisa langsung jalan tanpa harus memarkirkan mobilku
Aku keluar mobil untuk membukakan pintu mobil seperti yang sering aku lakukan pada Bintang.
"Makasi ya! " Ucap Bintang sambil tersenyum
Setelah memastikan Bintang sudah aman di dalam Mobil, aku berlari menuju pintu di sampingnya dan langsung masuk ke dalam mobil
"Kok tumben nggak sama kemal? " sindir Bintang
"Iya! tadi kemal sibuk! " terpaksa aku harus berbohong, aku tak mau terlihat rapuh di mata Bintang
"Bukan karena aku nggak suka di jemput kemal kan? " tanyanya sambil tersenyum ke arahku, senyuman yang sulit hilang dari kepalaku
"Ohh ng-ggakkk lah! " jawabku grogi. Aku segera memacu mobilku menuju Sania Hotel yang berjarak 20 KM dari Global Hotel.
"Mas Candra yang minta kamu menjemputku? " tanyanya
"Hmmm! " Aku mengangguk sambil fokus menatap jalanan
"Du! Boleh aku tanya sesuatu? " Aku langsung menoleh mendengar perkataannya
"Boleh! " jawabaku berusaha bersikap santai
"Apa Kiand itu benar pacar kamu? " Aku sedikit terkejut Bintang menanyakan hal itu
"Yahh! " jawabku singkat
"Tapi aku nggak yakin! " sahutnya
"Tapi dia memang pacar aku! dan aku nggak perlu kamu yakin atau nggak! " jawabanku mungkin sedikit tidak enak di dengar dan aku terpaksa melakukan hal itu.
"Du! " panggilnya lagi
"Hmmm! " lagi-lagi aku berusaha biasa saja, padahal jujur saat ini jantungku sedang berdegup lebih cepat.
"Aku minta maaf! " ucapnya
"Semua sudah takdir Bi! mungkin Tuhan memang tidak mentakdirkan kita bersatu! aku Bahagia jika kamu Bahagia! " jawabku
"Aku harap Kiand benar bisa menggantikan aku ya Du! "
Seandainya Bisa! sayang....! itu nggak Bisa Bi! jawabku dalam hati
"Yahhhh! semoga! " jawabku datar
"Du! sebenarnya aku nggak mau kita justru jadi sejauh ini! tapi aku juga menghargai keputusan kamu untuk menjaga jarak dariku" ujar Bintang
"Itu bukan keputusanku, tapi keputusan kamu! " sahutku sambil tetap fokus pada jalan
"Aku minta maaf Du! " Ku lirik Bintang dari ujung mataku, dia hanya tertunduk, rasanya aneh saat kami duduk satu mobil tapi pembicaraan kami agak kaku, tidak seperti biasanya, dulu dia selalu bersandar di bahuku meski aku sedang fokus pada kemudi ku, atau dia akan duduk dengan menaikan kakinya dan menghadap kearah ku sambil bercerita semua yang dia lalui hari ini.
"Kamu nggak perlu minta maaf, apapun keputasan kamu itu kebahagiaan kamu, aku tidak mungkin memaksa kamu untuk tetap bersamaku, sedang hati kamu untuk irang lain, aku bisa tanpa kamu kok Bi! " Rasanya aku tak sanggup menyembunyikan kerapuhan ini di depan Bintang, andai saja dia tahu cintaku untuknya terlalu besar hingga setiap aku menatap wajahnya luka itu kembali tersayat.
"Makasi karena sudah mengerti! " Bintang menatapku dengan senyumannya , aku berusaha membalas senyuman itu meski dengan kesakitanku
"Sudah sampai, aku nggak anter kamu masuk ya! masih ada kerjaan di kantor! " ucapku setelah mobil berada di lobby Sania Hotel, Aku tidak akan sanggup melihat kemesraan Bintang dengan Mas Candra.
"Du! " Bintang menyentuh lenganku, seketika mataku menatap tangan Bintang
"Ehh maaf! " dengan cepat Bintang mengangkat tangannya dari lenganku
"Kita sudah usai Bi! kamu sekarang milik Mas Candra, dan aku bukan Mas Candra yang akan merebut kekasih saudaranya sendiri! " sindirku
Bintang tampak terdiam kemudian tersenyum tipis, lalu membuka pintu mobil dan keluar, aku sengaja tidak membukakan pintu mobil untuknya, rasanya aku tak sanggup ketika aku harus terus bersikap seperti dulu, dalam lubuk hatiku cinta untuk Bintang masih sangat dalam.
Aku kembali ke kantor rasanya aku butuh Kiand saat ini, untuk sekedar membuat ku tersenyum dan melupakan perasaanku pada Bintang, tapi tadi Kiand bilang jika dia akan makan siang bersama temannya, rasanya tak adil jika aku mengganggu waktunya. Mungkin jeje bisa menemaniku siang ini.
Ku kirim pesan singkat pada Jefry
Je! ke kantor gue penting
tak lama jefry menjawab
Siap Bos OTW
Setidaknya siang ini aku tak sendirian, walaupun hanya jefry yang menemaniku.