
"Nih...! " pak pandu menaruh kantung plastik berisi beberapa pembalut, yah aku bisa lihat, sepertinya dia tidak hanya membeli 1 pembalut saja, karena bentuk kantung plastik yang agak besar.
Aku bisa merasakan aura kecemburuan dari raut wajahnya, tanpa berkata apa-apa ia berjalan menuju bed rumah sakit, sambil mengambil remote tv yang berada di atas nakas, sama sekali tak ada senyum dari wajahnya.
"Pak pandu! " aku berjalan menghampirinya, ia sama sekali tak menggubris panggilanku, tatapannya hanya fokus pada televisi
"Pak pandu marah? " tanyaku. tapi lagi-lagi dia tidak menjawab
"Pak...! tolong jangan seperti itu! " kali ini aku mencoba merengek, berharap dia menoleh ke arahku
"tadi noval kesini sama bu bintang, nggak sendiri kok! " jelasku, meski tetap tanpa respon darinya
"pak, aku minta maaf, aku nggak tahu kalau bu bintang ninggalin kita berdua " ujarku masih dengan jurus merengek "lagian noval itu sahabat aku, harusnya pak pandu nggak perlu cemburu" ujarku seolah menarik semua perasaan bersalah
"oke, kalau masih belum mau bicara, pak pandu disini saja, saya mau pulang!!!"
sudah dua jurus ku keluarkan tapi pak pandu masih saja diam, akhirnya aku terpaksa memakai jurus ancaman
Saat hendak berbalik, pak pandu langsung menarik tanganku, hingga tubuhku jatuh tepat di atas tubuh pak pandu, tatapannya membuatku sulit bergerak. kedua wajah kami saling mendekat, aku bisa merasakan cinta itu hingga ciuman itu kini tak terelakkan, bibir lembutnya kembali membasahi bibirku. Sudah tiga kali, laki-laki ini menciumku tanpa intruksi, bahkan ijin pun tidak.
Dengan cepat aku mendorong tubuhnya, rasanya aku tidak bisa nafas, meski dia melakukannya dengan begitu perlahan
"Bisa nggak, nggak langsung cium begitu" ujarku merajuk
"Enggak! " jawabnya santai, seolah tak ada rasa bersalah
"memang pak pandu pikir, bisa seenaknya cium aku gitu aja? " kali ini aku berdiri tepat di hadapannya sambil bertolak pinggang menampakkan kekesalanku
"anggap aja, itu adalah permintaan maaf kamu, karena sudah bikin aku cemburu! "
"huh! " aku langsung mengambil plastik berisi pembalut, tanpa menghiraukannya yang masih tersenyum puas.
Saat ku buka benar saja, bukan hanya satu bungkus pembalut, tapi 5 dengan aneka merek dan bentuk
"pak pandu nggak salah? beli sebanyak ini? " tanyaku
"saya nggak tahu, mana yamg biasa kamu pakai" dia berjalan mendekat kearahku yang sudah menjauh dari kasur
"tapi nggak harus sebanyak ini pak! "
"dari pada kamu terus komplain, lebih baik kamu bilang terima kasih"
"oke, oke terima kasih! " ucapku ketus. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri
"stop! "
mendengar perkataannya, aku menghentikan langkahku
"Jangan bergerak! " ujar pak pandu
dia terlihat membuka jaket yang ia kenakan, dan berjalan mendekat, lalu membalutkan jaketnya, dan mengikatkan di bagian pinggangku
"sepertinya kita memang harus pulang! " ucap pak pandu
Aku mengerti maksud pak pandu, dan aku merasa terpukau dengan caranya memperlakukanku
Dengan senyum yang terus mengembang, aku berjalan ke kamar mandi, baru kali ini aku di perlakukan oleh pria semanis ini, its simple tapi begitu mengena di hatiku.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu aku mampir ke ruang perawatan pak candra, ternyata disana ada pak bagaskara dan istri.
"Gimana kondisinya kak? " tanya pak pandu
"jauh lebih baik! " jawabnya
aku tidak melihat kebencian lagi dari matanya, diapun menatapku dengan ramah, tidak seperti saat kami bertemu dulu
"Jangan pernah ulangi hal ini lagi" ucap Ibunda pak pandu sambil menggenggam tangannya "kamu tetaplah anak kami, jadi jangan berpikir jika kami tidak menyayangimu, hanya saja cara kami salah" air mata wanita itu mengalir tak terkendali, aku bisa merasakan bagaimana sakitnya seorang ibu jika anaknya terluka
"maaf, sudah buat kalian khawatir" ucapnya lemah
Aku sendiri hanya diam, tak tahu harus berkata apa, aku masih merasa canggung, berada di keliling keluarga ini
"kiand! " panggilnya, meski terasa sulit saat memanggil namaku tapi aku bisa mendengarnya jelas
"i.i.. iya pak ! " jawabku. Pak pandu memberi ruang untukku lebih dekat dengan pak candra
"Maaf...! "ucapan yang terdengar begitu tulus, aku sadar pak candra orang yang baik, hanya saja masa lalu dan pikiran negatifnya membuat dia menghilangkan jati diri yang sebenarnya
" sudah lupakan saja pak! saya harap pak candra cepat kembali pulih" jawabku
"terima kasih, saya sangat berhutang karena kamu sudah menyelamatkan nyawa saya"
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, suasana begitu hangat, semua perselisihan, salah paham, dan amarah terlebur oleh cinta dan rasa sayang yang kami miliki.
Meski mereka sudah bersikap baik, tapi aku masih merasa tak nyaman, suasana seperti ini masih terasa asing untukku, apa lagi saat pak bagaskara meminta maaf padakku, dia bahkan akan memberikan pengobatan yang terbaik untuk ayah, awalnya aku menolak, karena rasanya semua itu terlalu berlebihan.
"papi memberikan itu bukan untuk kamu, tapi untuk ayah, jadi kamu nggak punya hak buat menolak" ujar Pak Pandu saat itu
Aku tahu kondisi perusahaan saat ini juga sedang tidak stabil, jadi rasanya aku hanya akan menambah beban untuk mereka
"hanya kerugian kecil, tidak akan membuat papi tidak bisa membayar biaya rumah sakit kiand!!!! " ujar pak pandu, diikuti gelak tawa mereka
perasaan bahagia bercampur aduk saat aku melihat pak pandu tertawa begitu lepas, seolah bebannya yang selama ini ia pikul telah hilang, selama aku menemaninya, jarang sekali aku melihat dia tersenyum selega ini.
"Ada hal yang ingin saya kasih tahu sama kamu" ujar pak candra
"tidak perlu di bicarakan sekarang, lebih baik pak candra istirahat saja" ucapku
"tidak, semua harus terungkap, kesalahan saya terlalu banyak, untuk kamu, pandu, dan papi mami " Pak Candra meminta pak pandu sedikit menaikan tempat tidurnya
Dia menceritakan semua yang terjadi selama ini, siapa saja dalang di balik semuanya, dan kenapa pak candra bisa bergabung pada mereka.
Mommy yasmin? pak Darma ? Dian? ternyata mereka senkongkol, Pak darma dengan liciknya memberi informaai perusahaan pada pak wijaya, selama ini dia adalah mata-mata yang di taruh pak wijaya di perusahaan pak bagaskara, mereka tahu Pak Candra banyak menyimpan luka pada keluarga pak bagaskara, hingga akhirnya mereka memperlat pak candra untuk terus mengambil aset yang di miliki perusahaan bagaskara.
dari awal aku memang banyak menyimpan curiga pada pak darma, dan ternyata dia memanfaatkan kepolosan Dian selama ini. Sayang Pak Darma punya alibi kuat hingga dia masih bebas sampai saat in, dan Dian, dia entah kemana.
"Apa nggak sebaiknya kita cari tahu keberadaan Dian? " tanyaku
"Itu hal mudah, setelah saya sembuh, saya yang akan mengurus semuanya, lebih baik audit semua pengeluaran perusahaan, ada beberapa laporan keuangan yang di manipulasi oleh Darma" ujar Pak Candra
"Oke, besok aku dan yoga akan mengurus semuanya " ujar Pak Pandu
"Papi serahkan semua urusan perusahaan pada kalian, papi percaya kalian akan melakukan yang terbaik"
Pak Bagaskara menepuk pundak pak candra, saat itu aku menyaksikan bagaimana seorang ayah menurunkan keangkuhan hatinya demi kebahagiaan anak-anaknya.