
POV Pandu
Sesuai dengan rencanaku hari ini kami pergi ke sebuah kota di pesisir pantai selatan Jawa Barat, untuk melihat lokasi pembangunan hotel sesuai proposal yang di ajukan PT Tania Corp pada PT Bagaskara group. Aku mengajak Jefry, Yoga, Kiand dan Nanda kami sengaja pergi tanpa memberitahu karyawan yang lain, mereka hanya tahu kami sedang melakukan perjalanan Bisnis.
Sesampainya disana kami memesan tiga kamar, untukku, Jefry dan Yoga serta Kiand dan Nanda, aku sengaja membuka kamar sendiri tidak bergabung dengan Yoga dan Jefry, karena aku harus fokus pada pekerjaan yang satu ini, aku sangat yakin pilihanku kali ini tidak akan meleset.
Kami sengaja datang lebih pagi agar bisa menikmati keindahan Pantai yang terkenal dengan ombak tingginya. Jefry dan Yoga memilih untuk berselancar sedang aku, Kiand dan Nanda hany duduk di pinggir pantai sambil memandang hamparan laut yang indah.
"Kalian masih mau tetep disini? " tanya Jefry menghampiri kami dengan baju yang basah dengan sebuah papan selancar di tangannya
"Saya disini aja pak" jawab Kiand
"Lo? " tanya Jefry pada Nanda "Mau jadi nyamuk buat Kiand sama Pandu? " ujarnya pada Nanda
"Ngga sih pak, tapi saya nggak bisa selancar" jawab Nanda
"Ajaklah, biasanya lo jago ngajarin cewek selancar" ledekku
Jefry mengulurkan tangannya pada Nanda "Ayo...! "
"Kemana? " tanya Nanda
"Udah ikut aja" jawab Jefry
Nandapun membalas uluran tangan Jefry dan pergi bersamanya. Tinggallah aku dan Kiand yang masih duduk di tepi pantai. Kiand menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan yang melingkar. Ku rangkul Kiand dan ku sandarkan kepalanya di bahuku. Dulu aku selalu menghabiskan akhir pekan di pantai bersama Bintang, Bintang sangat menyukai senja dia akan duduk di tepi pantai sambil memandang matahari yang mulai kembali ke peraduannya dengan kepala yang bersandar di bahuku, persis seperti Kiand saat ini.
Bukan hal yang mudah menghilangkan Bintang di hatiku, tapi aku masih berusaha untuk itu, Aku tidak bermaksud menjadikan Kiand pelarian, sampai saat ini aku masih belajar mencintainya
"Pacar... " panggilnya
"Hmmmm" jawabku
"Apa yang lagi pacar pikirin? " tanya Kiand, sepertinya dia bisa merasakan jika pikiranku sedang tidak bersamanya
"Nggak ada" jawabku sambil menggelengkan kepala
"Kesana yuk! " ajak Kiand menunjuk ke arah pangai yang lebih sepi
Aku berjalan di pinggir pantai sambil bercerita banyak hal, dan ada satu perkataan Kiand yang membuatku tertampar
"Nggak usah di paksakan pak! saya ngerti kok pak, tidak mudah menghilangkan perasaan yang sudah tertanam bertahun-tahun" Dia mengatakan itu dengan senyum di bibirnya, tapi aku bisa dengan jelas melihat kesedihan di matanya
"maksud kamu?" tanyaku berpura-pura meski sebenarnya aku tahu arah pembicaraan Kiand
"Saya sadar pak, mungkin Pak Pandu mencintai saya nggak sedalam Pak Pandu mencintai Bu Bintang, tapi Pak Pandu tenang aja, saya akan berlagak bodoh untuk hal itu" ujarnya lagi sambil sesekali menendang pasir
"Ki...! " Ku raih tangan Kiand yang berjalan sedikit di depanku, hingga ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arahku, aku berjalan mendekat tanpa melepaskan tangannya, ku dekap tubuh Kiand dari belakang "Kamu pernah lihat laut di saat senja? " tanyaku Dia hanya mengangguk, aku tahu saat ini dia sedang menahan air matanya "Senja itu indah, tapi hanya bisa di nikmati di sore hari, ketika mulai malam, keindahan senja akan tertutup oleh kegelapan, begitulah Bintang untukku saat ini, senja mungkin akan muncul keesokan harinya, tapi dia pasti pergi dan terganti" ujarku
Ku arahkan tubuh Kiand menghadap ke laut lepas, aku masih berdiri di belakangnya, melingkarkan tangan di lehernya, dan menjadikan tubuhku sandaran untuknya, sedang kedua tangannya memegang tangan ku. "Kasih saya waktu untuk benar-benar melepaskan Bintang dari pikiran saya" Ku layangkan kecupan di kepalanya.
"Aneh ya pak, kadang saya berpikir kenapa takdir mempertemukan saya dengan Pak Pandu? " tanya Kiand
"Karena tuhan tahu, cuman kamu yang bisa tulus mencintai saya" jawabku
"Seyakin itu kah? " tanya Kiand sedikit mendongakan kepala untuk bisa menatapku
Aku hanya tersenyum dan mengangguk "hmmm"
Kiand kembali menatap laut lepas, kesedihan di matanya perlahan sirna, tergantikan oleh senyuman
"Pak Panduuuuu menyebalkan" teriaknya mengarah ke laut lepas
"Kenapa aku menyebalkan? " tanyaku
"Nyebelin aja! " jawabnya sambil melepakan dekapanku, dan berlari kebibir pantai, bermain dengan ombak ombak kecil yang datang
Kiand wanita yang berbeda, dia memiliki karakter unik yang saya pikir dulu saya membencinya. kepolosan, ketegaran, dan kasih yang Kiand miliki begitu tulus datang dari dirinya. Rasanya terlalu naif jika aku terus membandingkan Kiand dengan Bintang yang jelas memiliki karakter dan Rasa yang berbeda
Cukup lama kami bermain di pantai menikmati kebersamaan bersama, cuaca juga sudah mulai panas, dan kami memutuskan untuk kembali ke kamar hotel.
...****************...
Malam ini aku harus bertemu dengan utusan Tania corp membahas pembebasan lahan yang mungkin akan kami lakukan jika kita akan membangun hotel di area tersebut
"Lo yakin mau dateng sendiri? " tanya Yoga saat aku meminta untuk pergi sendiri menemui Pak Thomas
"Yakin gue, lagian cuman sebentar kok, kalian hapfun aja nanti gue nyusul" jawabku
"Ya udah, gue sama Jefry mau ke club ya, dari tadi dia bawel nanya club bagus dimana" ujar Yoga, aku yang saat itu sedang merapikan rambut dengan cepat berbalik badan menatap Yoga
"Jangan bawa Kiand" tegasku
"Ya elah Du, nggak papa kali, sekali-kali bawa Kiand masuk ke dunia kita" sahut Jefry yang sedari tadi hanya sibuk bermain ponsel di atas kasur
Ku lemparkan sebuah bantal ke arahnya "Dunia kita, itu sih dunia lo! " sahutku
"Dia lupa, berapa Kali Kiand nyusulin lo ke club? " sahut Jefry tertawa puas,
"I.. itukan beda cerita" aku berusaha mengeles
"Ya udah, tapi jangan ada yang ngasih minuman sama Kiand, kalian berdua harus jagain dia, kalau sampai kenapa-kenapa awas aja! " ancam ku
"Wihhhh, Bos kita mulai posesif" ledek Jefry
Setelah selasai bersiap-siap aku menemui Kiand sebentar di kamarnya, aku bilang padanya untuk bersenang-senang dengan Jefry dan Yoga untunglah Kiand tidak keberatan, Aku segera bergegas ke sebuah caffe yang jaraknya cukup jauh dari hotel, semua harus serba cepat di lakukan karena aku yakin Kak Candra memiliki strategi lain untuk bisa berinvestasi pada PT Tania corp .
Cukup lama aku berbincang dengan Pak Thomas,dan salah satu perwakilan warga, ternyata untuk membebaskan tanah disini agak sulit, warga meminta dana yang jauh lebih tinggi dari harga pasaran. Aku dan Pak Thomas sudah coba nego tapi sepertinya negosiasi kita sangat alot, hingga membuang waktu yang cukup lama.
Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, kami masih berbincang ringan sambil membahas beberapa bangunan yang Pak thomas sarankan, Pak Thomas juga berencana menambah fasilitas yang bisa memanjakan para pengunjung.
Aku menyetujui beberapa point yang Pak Thomas ajukan, dan aku juga memintanya untuk menahan tawaran investasi dari pihak manapun, karena aku tahu Kak Candra juga akan tertarik dengan proposal ini.
*Suara Ponsel*
"Maaf saya angkat telpon dulu" ujarku sambil berjalan menjauh
ternyata Yoga yang menghubungiku aku segera menerima panggilan dari Yoga
"Kenapa Ga? " tanyaku
"Masih lama? " tanya Yoga, di belakangnya terdengar dengan jelas suara musik dan keramaian
"Sebentar lagi...! " jawabku
"Ada sedikit ma..... " aku tidak bisa dengan jelas mendengar suara Yoga karena musik disana terlalu keras
"Gue nggak bisa denger suara lo? " tanyaku "Lo keluar dulu... "
"Du....! ada masalah...! " kali ini aku mendengar dengan jelas suara Yoga
"Masalah apa? jangan bilang trntang Kiand! " Aku mulai cemas memikirkan Kiand disana
"Kiand minum alkohol" jawab Yoga. Aku terdiam tak percaya bagaimana bisa dia minum, minuman yang tidak biasa dia minum
"Kok Bisa? " tanyaku
"Dia salah minum! " Jawab Yoga, ada-ada saja memang sikap cerobohnya kadang selalu menyulitkan dirinya sendiri.
"Gue kesana sekarang! share lock alamatnya"
Sebelum pergi aku berpamitan dengan Pak Tomas dan Pak Angga, berjanji akan melanjutkan perbincangan masalah ini lagi.
Ku pacu mobil secepat mungkin agar segera sampai ke lokasi, aku bebar-benar mencemaskan dia, bagaimana mungkin dia bisa salah minun?
Begitu sampai di club malam, mataku langsung menelusuri setiap sudut mencari keberadaan Kiand dan yang lainnya. Aku segera menghubungi Jefry dan ternyata mereka ada di lantai atas, tanpa pikir panjang aku berlari ke lantai dua.
Aku menghamiri meja dimana Kiand dan yang lainnya berkumpul. Kiand tampak lemas, ia menjatuhkan setengah tubuhnya di atas meja
"Kalian gimana sih? kok bisa kiand mabuk seperti ini? " Tanyaku raut wajah Nanda tampak cemas, sedang jefry masih berdiri di samping meja dengan terus mentertawakan Kiand, Yoga sendiri masih duduk di samping Nanda
"Ma.. ma.. maaf Pak, tadi saya lagi ke toilet" jawab Nanda ketakutan
"Lo Ga? " tanyaku pada Yoga
"Gue nganter Nanda, dia baru pertama di tempat kaya gini, dia bingung kalau jalan sendiri" jawab Yoga
"Lo jef...? " kali ini aku menatap Jefry
"heheheh... " dia menggaruk kepalanya "Tadi ada cewek cakep banget Du, yah gue tinggal deh Kiand, tapi tadi gue bilang ama dia, kalau lo haus pesen orange jus aja jangan yang macem-macem" jawabnya. Anak ini masih aja tidak berubah, nggak bisa liat cewek cakep sedikit langsung nempel
"Kebiasaan lo...! " sahut ku sambil memukul kepalanya " Kok dia bisa minum alkohol? memang kalian pesan? " tanyaku lagi
"gue tadi pesen, sebotol doang...! " sahut Jefry
Aku hanya bisa menupuk jidatku melihat kelakuan sahabatku yang satu ini
"Ya udah, gue mau bawa pulang Kian, kalian masih mau disini? " tanyaku
"Saya ikut pulang pak! " sahut Nanda
"Ya udah gue juga pulang aja... " tambah Yoga
"Ya udah gue juga balik deh... " ujar Jefry.
Aku menggendong Kiand yang mulai hilang kesadaran , entah berapa banyak alkohol yang dia minum, hingga dia semabuk ini
"Buka mobilnya cepet... " pintaku saat ingin memasukan tubuh Kiand ke dalam mobil
"Ga lo bawa mobil, gue di belakang jagain Kiand! " ujarku
Aku Nanda , dan Kiand duduk di kursi belakang sedang Yoga menganntikanku mengemudi di temani Jefry.
Ku rapikan anak rambut Kiand yang berantakan, saat menatap wajahnya yang tengah tertidur pulas, aku terhenti sejenak merasakan jantungku yang berdetak lebih cepat, mataku seolah enggan berpaling.
"Pandangin aja terus.....!!! " celetuk jefry dari kursi depan
Aku yang baru menyadari jika aku tidak hanya berdua dengan Kiand langsung mengalihkan pandanganku dan merubah posisi dudukku.