For A Great Love

For A Great Love
episode 74 please stay! 2



Baru saja aku hendak meninggalkan apartemen pak Pandu, ponselku berdering, ku lihat nama Kak Nanda di layar ponsel.


"Hallo kak! " sapaku santai


"Kiand lo dimana? " tanyanya


"Gue mau ke rumah noval dari apartemen pak pandu kenapa kak? "


"jangan kemana-mana tunggu gue disana! " titah kak nanda, dari suaranya dia terlihat marah dan cemas, entahlah


"Ada apa kak? " tanyaku


"udah lo tunggu aja di sana! " tiba-tiba sambungan telpon terputus.


Mendengar perintah kak nanda, alhasil aku kembali masuk ke apartemen, aku hanya duduk di sofa sambil melihat acara televisi yang tidak menarik perhatianku, selang 30 menit kak nanda kembali menghubungiku


"Iya kak"


"jemput gue di lobby! " telpon kembali terputus, jantungku berdegup kencang, tidak mungkin kak nanda bersikap seperti ini jika tidak ada sesuatu.


Aku segera turun ke lobby, ku lihat kak nanda bersama pak jefry dia berlari ke arahku


"ayo naik... " kak nanda menarik tanganku menuju lift, tak ada kata yangterucap dari bibir kak nanda maupun pak jefry, kami hanya diam, aku sendiri takut saat ingin menanyakan ada apa dengan mereka. sesekali kak nanda menatapku sinis, aku semakin tak enak hati.


Sesampainya di depan apartemen pak pandu, aku segera membuka pintu, belum juga pintu tertutup rapat sebuah tamparan melayang ke pipiku


Plakkkk !!!! aku terkejut, bagaimana mungkin kak nanda melakukan hal ini


"Nanda... " pak jefry tak kalah terkejut


"Apa maksud lo? " tanyanya


"maksud apa kak? " aku masih tidak mengerti dengan pertanyaan kak nanda, dan kenapa dia menamparku


"Ki... kenapa lo resign? " tanya Pak Jefry


Aku terdiam, jadi ini alasan mereka marah padaku. Aku hanya bisa tertunduk, tak tahu harus menjawab apa


"ki, jawab kenapa lo resign? " tanya kak nanda dengan nada yang tinggi.


"maaf kak! "


"Ki, gue yakin pandu nggak tahu hal ini! " ujar pak jefry


lagi-lagi aku hanya bisa diam, aku tak mungkin mengatakan jika semua karna pak bagaskara, karena aku sudah janji untuk menutupi semuanya


"Dari mana kalian tahu gue resign? "


"Lo nggak perlu tahu, yang jelas jawab pertanyaan gue, kenapa lo resign? " tegas Kak Nanda.


"Maaf, tapi gue nggak bisa bilang alasan kenapa gue resign" jawabku sendu,


"Jadi hanya sebatas itu lo anggep perteman kita ki? gue nganggap lo bukan hanya partner kerja, bukan hanya teman, tapi gue udah anggep lo ade gue sendiri" Kak Nanda benar-benar marah, dia bahkan menangis saat mengatakan hal itu


"Sabar nan, sabar... " Pak Pandu yang berdiri di sampingnya mencoba menenangkan kak nanda


"Kak, tolong ini kehidupan gue, biar gue yang jalanin" ujarku


"Lo tahu ki, betapa sayangnya pak pandu sama lo, dan saat dia tahu lo resign apa yang akan terjadi? lo nggak mikir sampe kesana? "


"Ki, gue tahu hubungan kalian berat, masa lo mau nyerah, segini aja perjuangan lo? " sahut pak jefry


Seandainya bukan karena nyawa ayah, mungkin aku akan tetap berjuang, aku cuman gak mau terjadi sesuatu pada ayah... gumamku dalam hati


. "Maaf, hubungan ini memang sudah salah dari awal, harusnya gue nutup diri dari pak pandu, harusnya gue ngga___"


"nggak apa? nggak suka sama pak pandu? lo pengecut ki! lo lari dari masalah, dan gue nggak percaya lo bisa seperti itu, dulu gue bangga jadi temen lo, lo yang kuat, lo yang nggak putus asa, lo yang selalu berpikir postif , tapi sekarang gue bener-bener kecewa" kata-kata kak nanda terdengar begitu pedas, tapi aku bisa pahami itu.


"Gue bakal cerita, tapi gue mohon keep rahasia gue" pintaku


"Gue tahu semua karna pak bagaskara bukan? " tanya Pak Jefry


"Yah, tapi bukan hanya itu" jawabku " Bokap gue kritis, dia di rawat di Rumah sakit daerah surabaya, dan orang-orang pak bagaskara yang menjaga bokap gue, pak bagaskara minta gue pergi ke surabaya, saat pak pandu pergi ke bandung, kalau nggak semua alat yang terpasang di tubuh bokap gue, bakal langsung di cabut" mendengar penjelasanku mereka begitu terkejut, mereka bingung bagaimana pak bagaskara bisa tahu dimana ayahku tinggal, dan begitu jahatnya menjadikan ayah untuk mengancamku


"Tapi lo nggak harus resign ki, kita bisa cari jalan keluar" ujar Kak nanda


"jalan keluar apa lagi kak! kakak tahu gimana jahatnya pak bagaskara sekarang, gue nggak mungkin ngorbanin bokap gue cuman karena sebuah perasaan"


"kapan lo berangkat? " tanya pak jefry


"mungkin malam ini" jawabku


"gue nggak bisa bayangin perasaan pandu saat tahu lo udah nggak ada disini ki" pak jefry terlihat cemas "lo inget gimana gilanya dia di tinggal bintang, dan saat dia mulai merasakan cintanya kembali, lagi-lagi dia di tinggalkan"


"makanya gue mohon dampingin terus pak pandu, tolong buat dia bisa lupain gue! " pintaku


"ki, apa keputusan lo udah bulat? " tanya kak nanda "kita butuh banget lo di tim ini" kak nanda meraih tanganku "siapa yang bisa gantiin lo ki? "


"maaf ka, tapi ini harus gue lakuin, cuman bokap satu-satunya orangtua yang gue miliki"


"kerjaan lo? " tanya Pak jefry


"mungkin saya bakal cari kerjaan di surabaya pak, yah semoga saya bisa dapet kerjaan seenak disinh, dan punya temen kaya kalian" ujarku sambil tersenyum meski sebenarnya hatiku menjerit


"Ki, please lo pikirin lagi ki! gue mohon" pinta kak nanda


"Kak, gak ada pilihan buat gue kak, jadi please, jangan bilang apapun sama pak pandu"


Hari itu menjadi perpisahanku dengan kak nanda dan pak jefry, kami sempat berpelukan sambil menangis. Berat untukku melepaskan semuanya, tapi itulah hidup, kita hanya punya dua pilihan, bahagia atau sedih.


...****************...


Di rumah noval, tampak noval tengah berada di ruang TV bersama sang bunda, sedang Bi Nur dan Arga aku tidak melihatnya.


"Kiand kamu pulang! " ujar Bunda Noval yang melihatku lebih dulu


"Iya tante... " aku berjalan mendekat ke arah mereka , belum banyak yang aku ceritakan pada mereka tentang kepindahanku ke surabaya


"Kok muka kamu sembab, kamu abis nangis? " tanya bunda noval "masalahmu dengan atasanmu itu sudah selesai? " tanyanya


Aku hanya mengangguk, Noval terus memperhatikanku, terlihat dari matanya, seperti banyak pertanyaan yang akan dia tanyakan padaku


"Tante, Kiand mau bicara " aku memberanikan diri berbicara pada bunda noval


"Ohhh boleh, boleh.. mau disini atau di kamar tante? " tanya bunda noval


"disini aja tante, kebetulan ada noval, jadi kita bisa bicarakan ini bertiga "


Ohh ya udah sini duduk.. " bunda noval mempersilahkanku duduk di atas sofa berbentuk letter L


"Tante, sebelumnya kian mau ngucapin terima kasih, atas kebaikan hati Tante sudah memperbolehkan kiand, dan keluarga untuk tinggal beberapa waktu di sini" ucapku sambil menahan tangis


"Iya kiand sama-sama, tante malah seneng rumah jadi rame " jawabnya seperti biasa dia selalu tersenyum


"Tante, seperti yang kiand bilang kemarin, kiand sudah ambil eecuti untuk beberapa hari karena harus nengok ayah di kampung, nah sepertinya kiand akan berangkat malam ini, tadi kiand udah pesen tiket kereta, dan berangkat jam setengah 9" jelasku.


"loh bukannya kamu berangkat besok? " tanya bunda noval "kenapa mendadak? "


"Ki, bilang ke gue, lo pulang bukan karena bokap lo sakit kan? " tanya noval


"bokap gue emang sakit val! " jawabku aku berusaha menutupi kesedihanku


"ikut gue... " noval menarik tanganku


"val, gue lagi ngomong sama nyokap lo! " tolakku


"ikut gue sebentar! "


"udah kiand ikut noval, kalian bicaralah berdua" ujar bunda noval, dan noval segera membawaku ke taman.


"Lo nggak bisa bohongin gue ki, jawab ada apa? " tanya noval, sambil memandangiku, tatapannya menghakimiku


"bokap gue sakit, dan gue harus pulang! " jawabku santai


"bener cuman itu? "


"iya val, cuman karena bokap gue sakit! " jawabku


"ki, gue cuman nggak mau lo sakit hati, sedih, terluka, jadi please jangan sembunyiin kesedihan lo dari gue! " perkataan noval mampu mengobrak ngabrik hatiku, rasanya semakin membuat pikiranku berantakan


"Ki, lo masih anggep gue sahabat lo kan? " noval menggenggam tanganku, dan aku hanya mengangguk


"jadi tolong jangan menutupi kesedihan lo dari gue! "


"Iya val, tapi kali ini gue bener, gue cuman mau nengok bokap, abis itu gue pasti balik lagi... " jawabku, memberinya seuntai senyum


"Bohong!!! " teriak arga, spontan aku dan noval menoleh kearahnya


"Bi Nur udah cerita semua sama arga, dan arga nggak akan ikut kak kiand pulang, arga mau disini" ujarnya


Noval kembali menatapku, matanya seolah menunggu jawaban dariku


"Ki..! " aku hanya bisa diam


"Kak kiand udah resign dari pt bagaskara, dan itu karena keinginan pak bagaskara sendiri, untuk misahin kak kiand dan pak pandu" jelas Arga


"arga...! " teriakku


"iyakan! dan ayah! dia jadikan ayah ancaman karena saat ini ayah ada di tangan mereka" lanjutnya


"ki, apa yang di bilang arga benar? " tanya noval


aku hanya bisa diam dan menangis, kenapa serumit ini masalahku, aku hanya tak ingin orang di sekitarku terlibat


"ki jawab gue ki! " noval merengkuh ke dua bahuku dan terus menatapku


"kak kiand jujur dong! kenapa kak kiand harus bohong sama kak noval? " ujar arga


"Maaf, gue cuman nggak mau lo terlibat dalam masalah gue! gue bisa urus ini sendiri! " jawabku


"kenapa? karena lo nggak mau gue salahin cowok itu kan? cowok yang selalu buat lo kena masalah, cowok yang nggak bisa lindungin lo! " ujar noval


"val, ini bukan salah pak pandu, dia sendiri nggak tahu kalau gue udah resign! " jawabku tak suka


"kenapa? lo nggak mau dia sedih? lo nggak mau dia juga terlibat dalam masalah lo? iyakan? " noval terus bertanya padaku, hingga aku seperti kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan noval


"Maaf val! " aku menunduk lemah, sambil berpikir keras, apa yang harus ku katakan pada noval


"Ki, lo tahu kan sampai kapanpun gue selalu perduli sama lo? " tanya noval menegaskan kembali membuat hatiku semakin tersayat


" iya, gue tahu! " jawabku berusaha sesantai mungkin, meski suaraku terdengar bergetar karena aku menahan tangis


"Jadi, nggak ada alasan untuk lo nggak jujur sama gue" Aku hanya mengangguk lemah,


"arga nggak mau ikut pulang, arga mau disini! " ujarnya


"arga, nggak bisa, kita semua harus pulang, "


"sekolah arga gimana kak? " tanyanya


"nanti kakak akan cari cara supaya kamu bisa pindah sekolah tanpa harus mengulang" jawabku


"pokoknya arga tetep nggak mau! " tegasnya, sambil berlalu pergi


"arga...! " panggilku, tapi arga tidak memperdulikannya, saat aku akan mengejar, noval menahan tanganku


"biar nanti gue yang ngomong sama arga! " ujar noval, dan aku pun menurutinya.


Percakapan kami berlanjut, dan keputusannya, noval akan mengantarku ke stasiun malam ini, awalnya dia ingin ikut denganku ke surabaya, tapi aku tolak, banyak yang bisa noval lakukan disini.