
POV Pandu
Setahun lebih aku tidak bertemu Kiand, bukan hal yang mudah untukku, setelah Papi meninggal aku benar-benar tak ada waktu, bahkan untuk diriku sendiri, aku Yoga, dan kak Candra sibuk membangun kembali perusahaan yang tengah tersisa, untunglah semua perjuangan kami tidak sia-sia.
Lusa Jefry dan Nanda akan menikah, aku gak mungkin tak menghadiri pernikahan mereka, aku juga sangat merindukan Kiand, tapi untuk kembali bertemu dengan Kiand, apa aku sanggup? Apa mungkin Kiand masih menungguku, atau justru dia sudah menikah?
"Du, Laporan yang kemarin udah selesai?" tanya Yoga memudarkan lamunanku
"ohhh iya ga, belum selesai tapi dikit lagi" jawabku sambil bergegas mengambil laptop di ruang kerja, lalu mulai mengerjakan laporan perusahaan.
Saat ini pikiranku memang sedang kacau, terlebih tentang Kiand, bukan hal yang mudah menjalani satu tahun ini tanpa dia, kadang aku selalu membuka folder ponselku untuk melihat beberapa foto Kiand yang ku miliki, atau mendengar kembali voice note dengan suara khasnya, semua itu tak pernah hilang dari hidupku.
"mas pandu! " seorang pembantu rumah memanggilku "maaf mas, di panggil ibu di meja ruang makan "
"ohh iya bi! " aku sekilas mengangguk dan segera pergi
Mami tanpa papi bak burung tanpa sayap, sama seperti aku tanpa kiand, dan mami mulai menyadari apa yang aku rasakan selama ini.
"Mami manggil pandu?" tanyaku ketika sampai, terlihat Yoga, Kak Candra, Reina ,dan Hazle ponakanku sedang duduk di meja makan
" iya sayang, ayo sini kita makan!" ajak mami
Akupun segera duduk di samping mami, aku menatapnya ketika dia mulai menuangkan nasi ke dalam piringku, wajahnya semakin keriput, menyimpan begitu banyak kerinduan pada Papi
"udah mi, cukup!" ucapku sambil menyentuh tangannya, dan dia hanya tersenyum
"Haiii ganteng.....!" sapaku pada Hazle ponakanku, dia begitu lucu berada di pangkuan Reina, tangannya terus bergerak hendak meraih apapun yang ada di meja
"kamu gak mau kasih Hazle lain buat mamah!" celetuk mamah tiba-tiba, aku yang sedikit terkejut langsung menoleh ke arah mamah dan tersenyum
"sampai kapan kamu menyimpan perasaan kamu buat Kiand?" tanya mamah, semua mata menatapku, seperti sedang menunggu sebuah jawaban
"entahlah mih!" jawabku berlagak santai, sambil mengambil ayam rica-rica yang ada di depanku
"Gue besok ke indo! Gue mau hadirin pernikahan Jefry!" ujar Yoga yang duduk di samping Reina
"kok Lo gak ngasih tau gue?" tanyaku kesal
"yahhhh harusnya kak pandu punya inisiatif lah!" ujar Reina tersenyum
"Lagian Du, perusahaan sudah mulai stabil, kita juga udah mulai mengambil beberapa saham yang pak Wijaya ambil dari kita, dan yahh...mungkin gak lama lagi kita akan pindah ke Jakarta!" ucap kak Candra membawa angin segar yang ingin ku hirup
"tapi....!" aku terdiam
"Kiand belum married ...." celetuk Yoga, seakan tau apa yang aku pikirkan
"Lo tau dari mana?" tanyaku
"bukan yoga namanya kalau Gak tau segala hal tentang Lo!" ujarnya membanggakan diri
"mami minta maaf sama kamu, mami tau selama ini kamu berat menahan rindu itu untuk Kiand, mami bisa merasakannya, kamu sudah bekerja keras untuk keluarga kita, kamu juga sudah terlalu banyak berkorban, terutama untuk saudara-saudaramu, sekarang saatnya pikirkan dirimu pandu! Kejar cintamu, mami ikhlas, dan mami memberi restu " aku sungguh terharu mendengar ucapan mami, semangat itu kembali mendidih ...
"mami serius?" tanyaku tak percaya
Mami hanya menganggukkan kepala, dengan cepat kuraih tangannya dan ku cium berulang-ulang, sungguh betapa bahagianya aku saat ini
"tunggu apa lagi, cari penerbangan ke Jakarta, besok gue nyusul!" ujar Yoga
Reina tersenyum, seakan bisa merasakan kebahagiaanku, begitupun dengan kak Candra.
"makasi banyak ya mi!" aku beranjak Ari kursi, tak lagi menghiraukan makananku, ku cium pipi mami, dan aku segera berlari ke kamar.
Aku mulai mencari penerbangan menuju Jakarta, untunglah masih ada di jam 3 sore ini, aku segera berkemas penuh semangat, bayangan Kiand sudah ada di depan mata.
aku mencintainya....
God I love Her ........
Aku bangkit dan berlari menuju ruang makan
"waw....!" decak Yoga melihatku sudah rapi dengan tas ransel "gerak cepat sekali tuan pandu" ledeknya
"kamu gak habiskan makananmu dulu?" tanya mami
"gak mi, pandu langsung kenyang " ujarku riang
"sayang, papi pandu mau jemput mami Kiand, kamu doain papi berhasil ya .....!" ujarku pada hazle, dia hanya tersenyum sambil tangannya menyentuh mulutku.....aku menciumnya dan kembali menaruh Hazle pada pangkuan Reina
"doain gue ya!" Yoga memberi pelukan hangat, di susul kak Candra, dan terakhir mami.
"kabarin mami kalau kamu sudah landing" ujar mami sambil mengecup ku
"iya, pasti mi!pandu berangkat ya!" pamit ku
"hati-hati!"
Aku melambaikan tangan, dan bergegas keluar menuju garasi, aku di antar supir ke bandara. Di perjalan aku terus mencoba menghubungi Kiand, tapi tak di angkat, baiklah ini akan jadi kejutan untuknya (batinku).
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Aku landing sekitar pukul 17.10,kebetulan aku juga sudah booking hotel dekat bandara, aku harus benar-benar dalam kondisi siap, saat bertemu Kiand.
Mobil jemputanku tiba, aku segera menaiki mobil Innova berwarna hitam. Hotel yang ku pesan jaraknya hanya 3km dari bandara, jadi tak perlu waktu lama untukku sampai kesana.
Aku berjalan ke arah resepsionis, untuk re-check in, setelah itu bergegas ke kamar yang sudah ku pesan, mungkin untuk hari ini, aku akan disini terlebih dahulu, dan belum saatnya aku memberi tahu siapapun tentang keberadaan di jakarta.
"Uhmmmm ahhhhhhhh" aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya, aku sangat merindukan kota ini.
Aku sungguh menikmati indahnya pemandang kota di sore hari, setelah membersihkan tubuhku aku beristirahat sejenak, tak lupa mengabari mami jika aku sudah sampai, tapi baru saja aku ingin memejamkan mata, suara dering telpon terdengar begitu nyaring, ku raih ponsel yang ku taruh di nakas, hanya terlihat barisan angka, tidak ada namanya.
"Hallo ! " sapaku
"Heh anak monyet, kemana aja loh!" suara itu sangat aku kenal, yah siapa lagi kalau bukan Jefry
"apa kabar Lo?" tanyaku
"tai Lo! Bisa-bisanya ngilang tanpa kabar, Lo udh gak anggap gue?" dia masih terus dengan amarahnya
"sorry,sorry....!" jawabku tersenyum
"Sora sorry Sora sorry , gila Lo ya! Kalau ketemu gue hajar Lo!" sahutnya
"oke gue terima, bebas Lo mau hajar gue, yang penting Lo maafin gue!"
"dimana Lo? Gue jemput!" tanyanya
"lagian kok Lo bisa tau nomer gue?" tanyaku
"Yoga ngabarin gue, dia kirim email, Lo lagi ke indo, dan dia ngasih nomer Lo!" jawabnya
"dasar lemes!" gerutuku
"udah Lo dimana? Gue jemput ya!"
"gak usah, gue udah di hotel, besok gue temuin Lo, Lo jangan bilang siapapun kalau gue udh di indo ya!" pintaku
"kenapa?Lo gak kasian sama Kiand?" tanya Jefry
"yah kasian, makanya gue pulang! Gue mau kasih surprise buat dia!" jawabku
"ahhh kampret, Paling nanti lo yang dapet surprise dari dia " celetuk Jefry sambil tertawa
"maksudnya?" tanyaku bingung
"iya liat aja nanti!" dia malah membuatku penasaran
"inget Lo ya, jgn kasih tau siapapun, termasuk Nanda!" tegas ku
"iya iya, ya udah kalau Lo gak mau gue jemput, besok Lo kerumah ya, kan Lo tau gue lagi di pingit!" ujarnya
"ahhh sok sok an di pingit, modelan kaya Lo!" ledekku
"ahhhh gak papa, yang penting gue udah mau nikah, dari pada Lo!" ledaknya balik
Emang rese nih anak satu! Aku langsung menutup telepon tanpa berpamitan, buka. Jefry namanya kalau gak ngeselin.
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, kedua tanganku jadi bantalannya, ku pandang lampu gantung yang berada di langit-langit, tak sabar rasanya memeluk tubuh Kiand, bagaimana dia sekarang? Apakah ada perubahan dari dirinya, lalu kejutan apa yang kira-kira akan aku dapatkan nanti? Semoga dia masih menungguku!