For A Great Love

For A Great Love
episode 76 Tersudut 1



POV Pandu


"Orangnya tidur kenapa? " Samar terdengar suara Yoga yang duduk di kursi kemudi


"Santai dulu, ada apa? " tanyanya lagi. Aku yang kala itu tengah tertidur di kursi sebelahnya terbangun mendengar suara Yoga


"Siapa Sih? " tanyaku


"Ehh nih orangnya udah bangun! " ujar Yoga pada sambungan telpon


Yoga pun memberikan ponselnya padaku "Nih... Jeje" ujarnya dan kembali fokus pada stir


"Napa je? " tanyaku


"Lo udah sampe mana? " tanyanya terdengar begitu cemas


"Baru masuk tol kenpa? "


"puter balik atau lo bakal kehilangan Kiand! " titahnya,


"kenapa kiand? " aku yang awalnya santai, seketika muncul perasaab cemas


"Kiand resign! " ujar jefry, aku yang masih tak percaya dengan ucapan jefry sempat terdiam sesaat, baru saja semalaman aku bersama dia, dia tidak mengatakan apapun


"lo nggak usah ngada-ngada deh, kiand nggak ngomong apa-apa sama gue"


"gue serius Du, tadi Nanda bilang malam ini dia mau ke surabaya! " ujar jefry mencoba meyakinkanku


"Lo serius je, nggak lagi bercanda kan? " tanyaku


"menurut lo? gue berani becanda tentang kiand? "


"Lo tahan Kiand, gue keluar tol dan balik arah! " Ucapku begitu panik.


Setelah menutup ponsel aku segera meminta Yoga keluar tol dan kembali ke jakarta, sepanjang jalan hatiku gelisah, aku sudah berusaha menghubungi kiand tapi ponselnya mati, aku juga mencoba menghubungi ponsel arga, tapi tidak di angkat. Perjalanan terasa begitu panjang, belum lagi, aku harus menghadapi kemacetan.


"Ga, lo bisa cepet sedikit nggak? " tanyaku kesal, Aku tahu Yoga sudah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tapi rasanya itu masih kurang bagiku.


"Gila lo ya ! gue udah nyetir di kecepatan 90 tapi lo masih minta gue untuk nyetir lebih cepet lagi, yang ada lo nggak bisa ketemu kiand Du! " jawab Yoga


"Aghhh!!! " teriakku sambil membanting ponselku


"kiand masih belum bisa di hubungi? " tanya Yoga


"belum! " jawabku.


Jam menunjukan pukul 3 sore, perjalanan menuju rumah noval masih harus ku tempuh sekitar 1-2 jam lagi, belum lagi hujan yang saat itu mengguyur kota jakarta, semakin memperlambat lajunya kendaraan


"Lo tenang dulu Du, jangan panik, gue yakin kita masih punya kesempatan ketemu kiand! "


"Gimana gue bisa tenang Ga, Jelas-Jelas jeje bilang kalau kiand mau ke surabaya hari ini, dia bakal pergi ninggalin gue, tanpa gue tahu alasannya apa? "


Kali ini Yoga memilih diam, tak ingin berdebat denganku, dia tahu aku bukanlah orang yang bisa di ajak berdebat jika dalam kondisi seperti ini.


Detik terus berdetak, waktu terus berjalan, dan aku semakin tak tenang, beberapa kali aku melihat jam yang melingkar di tanganku, berharap aku bisa menghentikan waktu, tapi nyatanya waktu terus berjalan dan aku tak berdaya.


Mobil memasuki kawasan elite perumahan dimana noval tinggal, Yoga menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah berpagar hitam, dengan cepat aku keluar dan berlari meski saat itu hujan turun dengan lebatnya


"Kiand...! " teriakku, aku mrlihat mobil Noval hendak keluar rumah dan aku yakin jika kiand ada di mobil itu. terlihat seorang pria paruh baya membuka pagar, dan itu jadi kesempatanku untuk masuk ke dalam.


Aku terus meminta kiand keluar dari mobil, tapi kiand tak bergeming, pria paruh baya tadi sempat menghadangku, dan memintaku untuk pergi, tapi aku tetap bersikukuh untuk meminta kiand keluar dan mengatakan apa sebenarnya yang terjadi.


"Kiand, kita harus bicara ki! " aku terus mengetuk jendela mobil , tapi kiand tetap diam, bahkan mobil itu malah melaju tak mengidahkan keberadaanku. Aku sungguh tak percaya kenapa kiand melakukan hal seperti ini padaku, bukankah dia mencintaiku? bukankah itu yg dia katakan?


"Kiand, please kita harus bicara! " Hujan tak jadi halangan untukku, bahkan hingga tubuhku basah kuyup kiand seakan tak perduli padaku.


Rupanya usahaku sia-sia, kian benar-benar tidak memperdulikan ku, tubuhku terasa lunglai, hatiku sakit, apa kisah cintaku selalu tragis seperti ini? ku jatuhkan diri di atas aspal jalan, sambil menatap mobil kiand yang menjauh, ia benar-benar pergi tanpa mengatakan apapun.


"aghhhhh!!! " teriakku kesal, ku pukul air yang tergenang di aspal beberapa kali, untuk meluapkan kemarahan ku, aku marah pada diriku sendiri,


Saat ku mengadahkan kepala kearah mobil kiand, aku melihat kiand berlari ke arahku, dengan cepat ku sambut pelukannya, aku yakin kiand tidak akan meninggalkanku aku percaya itu, meski nyatanya pelukan ini adalah pelukan terakhir untukku.


Kiand memilih pergi dan meninggalkanku. Aku kembali ke mobil dengan keadaan basah kuyup, Yoga membuka jas dan memberikannya padaku.


"Buka baju lo dingin! " titah Yoga


"Nggak perlu, hati gue jauh lebih dingin! " jawabku


"Kiand pasti punya alasan kenapa dia pergi! "


"Yah, dan keluarga gue adalah salah satu alasannya. " Aku benar-benar lemah tak berdaya tanpa kiand, bahkan untuk berpikir melanjutkan hidupku pun rasanya akan sulit, kehilangan Bintang sudah cukup membuatku frustasi, dan sekarang aku harus kehilangan Kiand


"Kenapa semua nggak pernah bisa berjalan sesuai keinginan gue Ga? kenapa? " Teriakku, entah bagaimana aku mendeskripsikan rasa sakit ku kali ini, bahkan air mataku saja sudah habis.


Yoga hanya bisa melihat kondisiku yang menyedihkan, diapun tak tahu harus berkata apa lagi.


"Nggak usah! " tolakku, aku masuk kedalam mobil dengan kondisi basah dan menggigil


Yoga mulai menyalakan mesin kendaraan, ia melajukan mobil kearah rumah papi, meski sudah ku bilang aku tak mau pulang, tapi Yoga kekeh membawaku kesana.


Sepanjang perjalanan aku hanya menahan rasa dingin di tubuhku dan hatiku, Yoga sudah mematikan AC mobil tapi lagi-lagi ku hidupkan kembali, saat itu juga aku berpikir mati adalah solusi dari masalahku.


Mobil masuk kedalam halaman rumah papi, Yoga memapah ku, yang masih menggigil dengan keadaan baju yang basah


"Kemal, bantu gue! " teriak Yoga, aku bisa mendengar suaranya.


"Kenapa Pak Pandu? " tanya Kemal yang membantu Yoga memapah ku


"Udah bawa dulu, dia kedinginan....! " Kemal dan Yoga membawaku ke dalam rumah.


"Pandu, kenapa Yoga? kenapa pandu bisa basah kuyip begini? " terdengar suara mami yang begitu cemas, tapi aku tak perduli dari sisa kesadaranku, aku bisa melihat papi dan kak candra berjalan mendekatiku.


"Cepet bawa ke kamarnya, dia kedinginan... " ujar kak candra


"Nggak perlu" tolakku lemah, aku mencoba tetap berdiri meski tubuhku lunglai


"Bawa ke kamar mandi, nyalakan air hangatnya, biar pandu bisa berendam ! " ujar Papi.


"Pandu bilang nggak perlu! " teriakku


Semua terlihat panik dengan kondisi ku saat ini, tapi mereka lupa, kalau hatiku jauh lebih memprihatinkan dari ragaku.


"Pandu tapi kamu kedinginan! " ujar mami


"Biarin pandu kedinginan, memangnya asa yang perduli sama pandu? " tanyaku


"Du, please, badan lo udah dingin banget ini" bisik Yoga yang berdiri di sebelah ku


"Gue nggak perdu ga! " sahutku


"Pandu, mami mohon jangan seperti ini, kamu kenapa nak? " tanya mami


"Mami mau tahu pandu kenapa? " tanyaku balik "Tanya sama papu


"Du...! " Yoga berusaha menenangkan ku dengan menarik bajuku


"Apa maksud papi? " tanyaku


"Pandu, bisa sopan sedikit? " ujar kak candra


"Pi, jawab apa maksud papi? " tanyaku


"Hangatkan dulu badanmu pandu! "


"nggak usah basa basi, kenapa papi minta kiand resign? " teriakku


"Kiand resign? " tanya kak candra , dia tampak bingung, dan menoleh ke arah papi


"Yah, kiand resign hari ini, dan dia juga pergi ke surabaya, sekarang papi sudah puas? "


"Pandu, itu semua buat kebaikan kamu! "


"Kebaikan pandu apa kebaikan papi? selama ini pandu selalu menuruti semua keinginan papi, pandu bekerja keras untuk perusahaan, pandu selalu berusaha agar papi bangga, tapi apa yang papi lakukan sama pandu? papi nggak pernah peduli perasaan pandu! papi tahu! hati pandu hancur, saat melihat kiand pergi....! hancur pih! " teriakku


"Pandu... ! " sentak kak candra


"kebapa? lo seneng kan liat gue udah bener-bener hancur? "


"Gue nggak tahu apa-apa! jadi jangan berpikir buruk tentang gue! " ujar kak candra


"kalian berdua tuh sama nggak ada yang perduli sama gue! "


"Pandu, dia bukan wanita baik-baik, bukan wanita seperti itu yang layak mendampingi kamu! " sahut pmami


"Lalu wanita seperti apa? wanita anak kolega papi, agar papi bisa bekerja sama dan membesarkan perusahaan papi! iya? papi sama aja menjual kebahagiaan anak papi hanya untuk harta! apa sekarang papi layak di panggil papi? " mungkin kata-kataku akan sangat menyakitkan tapi itu yang alami.


"Pandu, jaga mulut lo! " seru kak candra


"buat apa? apa setelah ini, gue bisa menganggap dia bokap gue? hidup gue bener-bener hancur! "


"Pandu... terserah kamu mau bilang apa, yang jelas ini untuk kebaikanmu! " ujar pria tua yang berdiri di di hadapanku dengan piyamanya


"mulai besok pandu berhenti menjadi seorang presdir, dan mulai detik ini, pandu tidak akan menginjakan kaki di rumah ini lagi! "


"Pandu! apa yang kamu katakan? " Papi terkejut aku bahkan melepaskan statusku sebagai anak seorang pengusaha


"Permisi tuan bagaskara! " ucapku dan berbalik meninggalkan ruman, namun tak lama, aku mendengar teriakan mami, dan kak candra, saat aku menoleh aku melihat papi justru terkapar lemah di atas pangkuan mami.