
menjalani hari yang baru bersama Noval tidak membuat perasaanku pada Pak Pandu hilang, tetap hanya pak pandu yang memenuhi semua isi kepalaku, tanpa sepengetahuan noval aku tetap mencari tahu keberadaan pak pandu.
Hari ini selepas pulang kerja, aku berniat menemui Bu Bintang, aku berharap ada titk terang dimana Pak Pandu berada, Bu Bintang mungkin sedikit banyak akan tahu info tentang pak Pandu.
Menggunakan ojek online aku berhenti tepat di gedung tempat Bu Bintang bekerja, aku berjalan menuju lantai atas dimana ruangan bu bintang berada
"Sore! " sapaku pada seorang reseptionis yang sedang membenahi beberapa buku di atas mejanya
"Sore! maaf Ibu kantor kami akan segera tutup, Sudah tidak menerima tamu lagi" ujar seorang resepsionis
"Maaf kak, tapi saya sudah ada janji dengan Bu Bintang" jawabku
"Ohh, dengan... " resepsionis itu terlihat membuka sebuah buka, seperti sedang mencari catatan " Bu kiand? " tanyanya
"Iya benar! " jawabku penuh antusias
"Ohh maaf Bu Kiand, Bu Bintang sudah menunggu di ruangan! mari saya antar! "
Aku berjalan mengikuti resepsionis di depanku, menunjukan arah dimana ruangan Bu Bintang.
Dengan hati yang gemetar, untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki disini, lagi-lagi bayangan pak pandu melintas di kepalaku
"Bu kiand, ini ruangan Bu Bintang! " ujar Wanita itu, memecah segala lamunanku
Suasana memang sepi, hanya terlihat beberapa orang yang masih berada di kubikel mereka.
"Tok.. Tok...! " resepsionis itu mengetuk pintu ruangan bu Bintang, lalu membukanya
"Bu, Ibu kiand sudah datang! " ujarnya
"Ohh baik, suruh masuk aja! "
Aku memberanikan diri melangkahkan kaki, masuk ke ruangan Bu Bintang
"Hai kiand! apa kabar! " tanya Bu Bintang lembut memang selalu seperti itu
"Baik Bu! " jawabku kaku
"Duduk! " titahnya "Terima kasih rita, kamu boleh pulang! " ujarnya pada resepsionis yang mengantarku
"baik bu, terima kasih! "
Aku masih gugup berada disini, entah obrolan apa yang akan aku mulai untuk menanyakan kondisi Pak Pandu!
"Mau minum apa? " Tanya Bu Bintang
"nggak usah Bu! " jawabku
"Santai aja, jangan panggil aku Ibu, panggil aja Bintang! " Bu Bintang duduk di hadapanku
"ii.. iiya Bintang! " rasanya aneh sekali di lidahku
"Jefry sudah cerita semua! kamu masih mencari pandu? " tanya Bu Bintang
Aku hanya mengangguk membenarkan pertanyaannya
"Kiand, aku sendiri tidak tahu banyak tentang Pandu, semenjak Om Bagaskara meninggal keluarga mereka sudah tidak ada kabar lagi" ujar Bu Bintang, hal yang sama yang di katakan pak jefry waktu itu. Pak Pandu benar-benar menutup akses tentang dia
Aku menunduk lesu, kecewa, marah, cape semua tercampur aduk, perasaan ini sungguh membuatku sulit, setiap hari aku memikirkannya, bahkan di saat aku berusaha untuk melupakan dia, dia justru hadir di mimpiku aku benar-benar merindukannya
Bu Bintang berjalan ke arahku, dia merundukan tubuhnya di hadapanku, mengangkat daguku, hingga aku bisa jelas melihat matanya.
"Kiand, percaya sama aku, semua yang pandu lakukan ini untuk kebaikanmu, Pandu hanya ingin kamu hidup lebih baik, dia bukan tipe laki-laki yang pergi tanpa alasan, hanya saja kondisinya mungkin sangat sulit saat ini" entah kenapa mendengar perkataan Bu Bintang, air mataku mengalir begitu saja, pedih rasanya hati ini,
"Apa menurut dia membuat saya seperti ini, itu yang terbaik? menahan rindu setiap hari! " ujarku dengan tersedu sedu
Bu Bintang memegang bahuku " Saya tahu! awalnya mungkin akan perih! tapi kamu akan terbiasa setelah ini! " ujarnya
"Entahlah Bu! saya hanya merasa benar-benar lelah, ingin menyerah, tapi perasaan ini terus menghantui hidup saya! "
Bu Bintang menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya, "Dulu aku pernah berpikir, Pandu tidak akan mencintai orang lain selain aku, nyatanya aku salah, dia bisa jatuh hati padamu, bahkan cintanya melebihi cinta yang dia berikan untukku, awalnya aku sakit, aku kecewa, aku memang yang meninggalkannya, tapi itu tak sepenuhnya, aku terpaksa meninggalakannya kamu tahu itu? kadang di saat kita mencintai seseorang, belum tentu kita bisa membahagiakannya, itulah yang sedang pandu rasakan saat ini, dia melepaskan kamu hanya untuk kamu bahagia! "
"kamu tahu seberapa rapuh pandu saat aku tinggal? " aku menangguk, aku masih ingat bagaimana hidup pak pandu berantakan saat Bu Bintamg meninggalkannya
"lalu pada akhirnya, dia bisa menemukanmu! " tambahnya " Pandu meninggalkanmu, karena dia percaya kamu akan menemukan kebahagiaanmu meski tanpa dia! "
Rasanya aku masih ingin mengelak semua yang di katakan Bu Bintang, aku tak ingin orang lain yang ada di hatiku, akuhanya ingin pak pandu.
Setelah berbincang cukup lama, aku pamit untuk pulang, entah sampai kapan aku akan terus seperti ini, berharap sesuatu yang tidak pernah pasti ku dapatkan lagi.
...****************...
Pernikahan Kak Nanda hanya tinggal hitungan hari, aku banyak main ke rumahnya, untuk mengantarkan sesuatu atau sekedar menemaninya, aku pikir dengan menambah kesibukan aku akan lupa pada pak pandu nyatanya tidak!
Noval mengerti dengan perasaanku, dia tidak sedikitpun protes dengan apa yang ku lakukan, terkadang aku menolaknya saat dia ingin mengajakku makan atau pergi ke sebuah ousat perbelanjaan, aku masih merasa semua tempat yang aku lalui selalu mengingatkanku pada pak pandu.
"Kiand! pokoknya besok lo harus nginep disini, gue mau lo temenin gue terus " ujar kak nanda
"siap kak! tenang aja! " jawabku
aku senang dengan kebahagiaan mereka, seandainya saja kisah ku bisa berakhir seperti kisah mereka.
Malam itu aku bergegas ke rumah kak Nanda, sesuai janjiku akan menemaninya sampai hari bahagianya tiba
Rumah kak nanda begitu ramai, beberapa orang terlihat tengah sibuk mengurus tenda dan dekorasi, beberapa lainnya disibukkan dengan konsumsi. .
"Nak kiand! " sapa wanita paruh baya, dengan mengenakan daster dan kerudung biru, dia adalah ibunda kak nanda, aku segera meraih tangannya dan menciumnya
"ibu apa kabar? " tanyaku basa basi
"baik nak! nanda ada di kamar, kamu langsung aja ke kamar " titah wanita itu
"baik bu! " jawabku
aku masih menikmati ramainya rumah kak nanda, sedari kecil aku suka suasana menjelang pernikahan, ramai, semua orang sibuk, tertawa, bahagia.
Aku meninggalkan keramaian yang begitu indah untukku, menuju kamar kak nanda di lantai atas
"tok tok tok "
ku ketuk pintu kamar kak nanda yang setengah tertutup
"masuk... " teriaknya dari dalam
aku membuka pintu itu, terlihat seseorang tengah melukis tangan kak nanda dengan hena
"kiand!!!! " teriak kak nanda kegirangan
aura wajahnya begitu bersinar, dia terlihat begitu bersemangat dan bahagia
"hey kak! " aku menghampirinya, dan seperti biasa memberikan pelukan dan kecupan pipi, lalu duduk di sampingnya
"makasi ya, lo mau dateng! " ujarnya
"iya, gue pasti dateng kok, gue pasti ada di samping lo, selalu!!!!! " ujarku
"mbak udah ya, tunggu sampai kering! " ujar seseorang yang tengah melukis tangan kak nanda
"iya mbak, makasi ya! " tak lama orang itu keluar
"gimana kak rasanya? " tanyaku
"rasanya campur aduk, bahagia, tegang, pokonya semuanya deh ! " jawabnya begitu antusias
semalaman kami berbincang, menjalani waktu malam yang terasa panjang, bahkan sampai kami di tegur untuk segera tidur.
Kak nanda sudah terlelap terlebih dahulu, sedang aku masih terjaga, mataku menatap atap, terbayang wajah pak pandu, senyumnya, marahnya, bahkan suaranya masih selalu terngiang di telingaku, kadang aku kesal memendam rindu yang tak tau sampai kapan, ingin aku berontak pada tuhan, meminta merubah takdir cintaku, tapi yah.... itu tak mungkin
Semalaman aku merenung, cinta itu bukan hanya perasaan satu orang saja, tapi dua orang, seperti kak nanda dan pak jefry, bikan seperti aku dan noval.