
"Val.. "
"Ki.... "
kami saling memanggil satu sama lain...
"Ehhh lo dulu deh! " ujar noval, sambil mengelap bibir menggunakan tisu setelah selesai menghabiskan makanannya
"Ya udah lo dulu aja! " ujarku canggung
Noval melirik heran kearahku, ia menatapku dari atas sampai bawah
"Lo sehatkan ki? " tanya noval
"Sehat, emang kenapa? "
"Yah nggak biasa-biasanya aja lo kaya gitu! "
"Biasa aja! " aku benar-benar terlihat canggung di hadapan noval
"Hmmmm.... yakin nggak ada sesuatu?"
" Nggak ada val! "
Dia hanya mengangguk sambil mengalihkan pandangannya
"Terus lo mau ngomong apa? " tanyanya
"hmmm... itu...! " aku bingung harus mulai dari mana pembahasan ini
"apaan, lo kok canggung gitu,? " Noval tampak tersenyum kearahku
"tentang arga! " aku mengalihkan pembicaraan, sepertinya aku belum siap, saat aku menanyakan apa yang bunda noval katakan, dan noval mengiyakan.
"Ohhhh!!!!! kirain lo mau nanya apa! " Noval tampak mengambil teko dan menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya
"Lebih baik lo tanya langsung sama dia! gue nggak punya kapasitas buat menjelaskan " jawabnya
"Tapi kok lo bisa bareng sama arga tadi pulang? " tanyaku
"sekolah arga kan gak jauh dari halte, jadi wajar dong kalau gue jemput dia ! "
"ohhh oke! " aku mengangguk " terus tadi lo mau ngomong apa? " tanyaku
"ohh itu! kita bicarain di luar aja yuk! nanti disini ada yang nguping" ujarnya, matanya melirik ke arah dinding pembatas antara dapur dan meja makan
"nguping? " tanyaku "siapa? "
"Udah ayo kita ke taman! " ajaknya "syuuutttt" dia memberi kode dengan menaruh telunjuk di bibir, kemudian perlahan memintaku untuk mengikutinya dari belakang, berjalan menindak nindak ke arah tembok pembatas.
saat sampai di tembok, noval menyondongkan kepalanya "bunda ngapain disini? " tanyanya pada sang bunda
"ehhh noval, sayang...! itu ada cicak, bunda mau nangkep cicak" jawabnya grogi, sambil mengalihkan tatapan ke segala arah. melihat hal itu, aku hanya tertawa kecil, ternyata bunda noval sedari tadi menguping pembicaraan kita
"ohhh cicak, bunda mau ngambil cicak? " ujar noval menghoda
"iya..., ya bi ya, tadi ada cicak gede banget" si bibi yang sedang mencuci piring hanya mengangguk sambil tertawa
"ohh, ya udah mau noval bantu ambilin? nah itu dia cicaknya di atas kepala bunda, noval tangkep ya ...!
" mana val, mana? dimana? " bunda noval tampak berjingkrak ketakutan, dia terus mengibaskan rambutnya dengan tangan
"itu bun, itu! " noval masih mengerjai bundanya
"noval! " aku memukul bahu noval"bohong tante nggak ada! " sahutku. Noval tertawa geli saat melihat ekspresi sang bubda,
"novalll jahat deh! " ujar wanita di hadapan noval, dengan rambut yang acak-acakan
"abis, bunda ngapain nguping noval sama kian? " tanyanya setelah puas tertawa
"itu... kan... bunda... hehhehe! " sang bunda tampak kikuk tak bisa mebjawab pertanyaan noval, dia langsung berlari kebelakangku yang berdiri di samping noval "jangan bilang tadi tante ngomong apa ya! " bisiknya, dan langsung pergi meninggalkan aku dan noval
"bunda... bunda! bunda belum jawab pertanyaan noval! " teriak noval " ngomong apa bunda? " tanyanya, aku hanya menggelengkan kepala sambil menahan senyum
"ayo cepet bilang, bunda ngomong apa? " paksanya sambil memberi kelitikan kecil kebagian pinggangku
"nggak noval! " aku terpaksa berjalan mundur untuk menghindari kelitikan noval
"ayo bilang nggak tadi bunda ngomong apa? " dia berjalan mendekat kearahku, aku hanya menggeleng sambil terus berjalan mundur,
"tante nggak ngomong apa-apa ihhh!" aku terus berjalan mundur untukenghindari kelitikan noval
"ayo bilang nggak!"
" noval geli ihhh!!!!"
aku tidak melihat jika ada undakan antara dapur dan ruang makan,hingga tubuhku hampir saja terjatuh, namun dengan sigap noval menyanggah punggungku, kami sempat melemparkan pandangan, tapi dengan cepat ku alihkan, aku berpura-pura merapikan pakaian dan rambutku, sedang noval langsung mengalihkan pandangannya ke segala arah, kami benar-benar canggung.
"ehh, gue nemuin arga dulu ya! " tak ingin belama-lama dalm kekakuan ini, aku segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamar arga.
Aku tidak mau sampai noval benar-nenar menyukaiku, akan tidak enak rasanya jika itu terjadi, hubungan kita hanyalah sebatas teman, dan aku hanya mengingankan itu.
Pintu kamar Arga terlihat kebuka sedikit, aku mengetuknya perlahan, ia tampak sedang duduk di ujung tempat tidur
Aku berjalan menghampirinya, tanpa menunggu persetujuan arga
"Kamu kenapa? " tanyaku saat aku berada di depannya, tapi arga tidak menjawab, dia masih menundukan wajahnya, ku rendahkan tubuhku agar bisa sejajar dengannya
"arga! " panggilku ia masih belum menggubris panggilanku. Ku angkat dagunya, dan sungguh aku terkejut saat melihat muka arga yang di penuhi oleh luka lebam
"arga! kamu berantem? " tanyaku arga tidak menjawab apapun, dia hanya menangis
"arga, bilang sama kakak, aiapa yang lakuin ini sama kamu? " tanyaku , tapi arga masih diam dan hanya menangis
"arga, tolong jawab kakak! " paksaku
"maaf ka! " ucapnya sambil terisak
"kamu kenapa ga? " ku dekatkan tatapanku ke wajahnya, tapi matanya seolah enggan menatapku, lagi-lagi dia memalingkan pandangannya
"arga nggak bisa cerita sekarang! "
"oke, kakak nggak akan paksa kamu untuk cerita, tapi kakak mohon jangan lakukan ini lagi! " ku genggam tangan arga, keluarga yang aku miliki saat ini hanyalah arga, sebisa mungkin aku harus menjaganya, itu pun pesan ayah, saat kita merantau ke jakarta, ayah akan sedih jika dia tahu anak laki-lakinya terluka seeprti ini
Arga hanya mengangguk, dia langsung memelukku erat "maafin arga ya kak! " ku balas pelukannya
"ya sudah, kakak obatin lukanya ya! "
"iya kak! "
"kamu sudah makan? " tanyaku setelah ku lepaskan pelukannya
"belum kak! "
"ya udah abis kakak obatin lukanya kamu makan ya! "
Aku segera beranjak mencari noval, meminjam beberapa obat oles untuk luka arga.
Noval memberikanku sekotak p3k. Aku segera mengompres luka arga dengan kasa dan alkohol, dan menutupi beberapa lukanya dengan plester
"udah makan dulu sana! " titahku
Arga langsung menuruti perintahku, ia segera turun menuju meja makan, sedang aku masih berada di kamar arga, yang adalah kamar noval.
aku duduk di sebuah sofa kecil tepat di dekat jendela, sedang noval berdiri di dekat tempat tidur, dia menatapku sambil melipatkan kedua tangan dan menaruhnya di dada
"Percaya! apa yang noval lakukan bukan hal yang buruk" ujarnya, aku yang tadinya bersandar pada daun jendela, langsung menoleh ke arah noval
"lo tahu dia kenapa? " tanyaku,
noval mengangguk sambil berjalan kearahku " yah...! "
"apa sebenernya yang terjadi sama dia? " tanyaku
"Dia hanya butuh lo percaya sama dia"
"val, dia adek gue satu-satunya, gue nggak bisa lihat dia babak belur kaya tadi,"
"gue bakal jaga dia! lo percaya sama gue? "
aku mengangguk, meski sebenarnya aku masih khawatir, arga bukan anak yang kuat, dia bahkan tidak bisa bela diri
tok tok tok
seseorang mengetuk pintu kamar noval , kami langsung menoleh ke arah pintu, yang ternyata adalah salah satu pembantu noval
"maaf den noval, ada yang cari mbak kiand! " ujarnya
"cari kiand? siapa? " tanya noval, tak ada satu orangpun yang dekat denganku, tahu rumah noval
"kurang tahu den! " jawabnya "dia wanita cantik, yah kurang lebih seumuran mbak kiand"
kak nanda? pikirku tapi nggak mungkin, kak nanda juga gak tau rumah noval
"ohhh... yasudah bi, nanti saya turun" jawabku
"iya mbak, tamunya sedang bersama ibu di ruang tamu"
"oke baik bi! "
setelah pembantu noval pergi, aku dan noval saling bertatapan bingung
"siapa yang tahu lo disini? " tanya noval
. aku hanya menggelengkan kepala, sambil berpikir
"gue juga nggak tahu, wanita cantik, seumuran gue?" "
"ya udah yuk kita turun" ajak noval
kamipun segera turun dan langsung menuju ruang tamu, aku sedikit terkejut saat mataku mengarah pada wanita itu, dia yampak tersenyum menatapku, sedang aku masih berdiri kaku.
apa yang membuatnya datang menemuiku?
dan dari mana dia tahu rumah noval?