For A Great Love

For A Great Love
episode 78 sudah kuputuskan



POV Kiand


Di pintu masuk stasiun Noval mengantarku, Aku sempat tertegun beberapa saat, sebelum kami berpisah.


"Thanks ya Val " ucapku berusaha mengulas senyum walaupun semua orang di sekitarku mungkin menyadari jika aku habis menangis.


"Lo baik-baik disana, kabarin gue kalau ada apa-apa, cepet ganti nomer lo, dan hubungi gue" ujar Noval sambil mengusap kepalaku, hal yang selalu ia lakukan, ketika menasehatiku


"hmmm...! " jawabku sambil mengangguk


"Jangan pernah merasa lo sendiri, gue ada disini buat lo! " pesannya. sorot matanya yang teduh, membuatku lebih tenang meski tak ada yang bisa menghapus luka ku karena harus berpisah dengan Pak Pandu.


"Gue titip arga, tolong kabarin gue tentang arga, dia anak yang lemah, dan tolong cari tahu, siapa yang membuat arga babak belur, dan kenapa mereka menyerang arga waktu itu"


"Lo tenang aja, fokus sama bokap lo disana, dan diri lo! gue gak bisa selalu jagain lo, jadi gue mohon jaga diri lo baik-baik, jangan ngelakuin hal konyol sendiri, telpon gue ketika lo bingung untuk mengambil keputusan" Noval berkata dengan begitu lembut, selembut belaiannya di puncak kepalaku saat ini. Sialnya aku tak mampu membendung lagi kesedihan ini, tangis ku pecah saat ku tenggelamkan kepalaku di dada noval.


Seandainya aku bisa mencintai Noval, mungkin tidak akan ada perpisahan sepahit ini gumam ku dalam hati. Bulir air mataku terus meluncur, menerpa pipi sampai leher.


Selama lima menit aku terisak dan Noval tetap bertahan di posisinya. Lengannya masih merengkuhku, juga jemarinya masih membelai rambutku, dia membiarkanku menangis dalam pelukannya, membuat perasaanku lebih lega.


Pengumuman jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta bergaung keras di penjuru stasiun, suara itu biasanya mencuri perhatianku, entah kenapa aku selalu menyukai suara itu, kadang aku mencoba menirukannya, lalu aku tertawa, tapi kali ini suara itu sama sekali tidak mengalihkan perhatianku.


"Ayo ndok! " ajak Bi Nur


Aku dan Bi Nur, berjalan masuk kedalam stasiun, lambaian tangan Noval mengantarku pada kehidupan baru, menutup semua cinta untuk Pak Pandu, menghapus semua kenangan yang terpahat di pikiranku.


...****************...


Sesampainya di surabaya, Bi Nur langsung membawaku menuju kamar kos temannya, meski sangat kecil tapi cukup nyaman untuk kami beristirahat beberapa jam sebelum kami ke rumah sakit, sekaligus menitipkan beberapa koper yang ku bawa.


Pukul 10 pagi, kami segera ke rumah sakit, Bi Nur langsung membawaku ke ruang anggrek, dimana papi di terbaring lemah tak berdaya, dengan macam-macam selang, yang tertempel di tubuhnya. Di depan ruang rawat ayah, dua orang pria bertubuh tegap sedang berjaga, begitupun di dalam kamarnya, total ada 5 pria tegap yang menjaga ayah, persis seperti seorang kepala negara yang sedang dalam perawatan.


"Bagaimana kondisi ayah saya? " tanyaku pada pria berbaju hitam yang berdiri di samping ayah


"Masih belum ada perkembangan, Pak Bagaskara meminta saya terus memantau bapak ini sampai seseorang datang menemuinya, apakah orang itu anda? " tanya pria berbadan tegap itu


"Iya, saya anaknya" jawabku sambip duduk di sebuah kursi yang berada di samping tempat tidur ayah


Sebenarnya aku tidak suka bau rumah sakit, entahlah bagiku bau rumah sakit membuat kepalaku pusing.


Ayah terbaring di atas tempat tidur, matanya masih terpejam, wajahnya juga pucat , Bibirnya agak kering, dan yang paling membuatku sakit adalah selang-selang di tubuhnya, belum lagi selang yang di masukan ke dalam hidungnya, itu pasti sakit sekali. Bunyi bip bip terdengar dari mesin yang terletak di samping ranjangnya.


Ku genggam tangan ayah yang semakin kurus dan keriput, air mataku kembali jatuh, hingga dadaku sesak, ayah adalah orang tua yang ku miliki saat ini, bagaimana aku jika ayah pergi? aku sangat menyayangi ayah, meski agak sulit untuk mengungkapkan.


"Yang sabar ya nak! ayahmu orang yang kuat, dia pasti sembuh" ujar Bi Nur, selama ini Bi Nur lah yang menjaga ayah di kampung, dulu ayah adalah orang yang periang, tubuhnya tegap, ia begitu tegas pada kedua anaknya, dan satu hal yang sampai detik ini aku ingat, rasa cinta ayah untuk ibu yang tak pernah habis di lekang waktu. meski ibu sudah tidak ada, ayah tetap mencintainya.


Nasib kami benar-benar berubah ketika ibu meninggal, ayah lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar, ia juga mengabaikan pekerjaannya, hingga dia di berhentikan, selama ini ayah berhutang untuk tetap bisa membayar sekolahku dan arga meski dalam keterpurukan, ayah tak melupakan kewajibannya.


"Kenapa ayah jadi kaya gini bi? " tanyaku pada bi nur


"Ayahmu benar-benar kehilangan separuh jiwanya selama ini, di tambah waktu kamu ke jakarta ayahmu semakin kesepian" jelas Bi Nur


"Kiand tau bi perasaan ayah, tapi kiand nggak punya pilihan" jawabku sambil memandang ayah yang masih tak sadarkan diri dengan nafas yang begitu berat


"Sekarang kita hanya bisa berdoa, semoga ayah segera sadar! " Bi Nur merangkul ku, yang masih duduk menyandarkan kepala di ujung tempat tidur ayah , sambil terus mencium tangan ayah.


Para penjaga itu masih terus mengawasi kami, tapi kali ini mereka hanya mengawasi dari luar, aku sempat mendengar percakapan mereka, jika Kondisi kesehatan Pak Bagaskara sedang tidak baik. Langsung aku teringat Pak Pandu, diapun mungkin sedang merasakan ke khawatiran seperti ku saat ini, rasanya aku ingin berada di sampingnya menguatkannya, karena aku yakin diapun rapuh.


Aku bangkit berdiri dari kursi, dan meminta Bi Nur bertukar tempat, karena aku ingin membeli secangkir kopi, dan sebuah kartu untuk ponselku yang seharian tak ku hidupkan.


"Bi Nur, mau kiand belikan apa? "tanyaku sebelum meninggalkan ruangan


" Apa aja Ki, terserah kamu.. " jawabnya


Akupun berlalu meninggalkan ruang rawat Ayah, menuju kantin, setelah memberikan beberapa makanan ringan, aku terpaksa keluar rumah sakit untuk mencari counter hp, aku ingin menghubungi Noval, dan mencari tahu kabar arga, aku juga ingin menghubungi Kak Nanda. Mendengar dua penjaga tadi membicarakan kondisi pak bagaskara, aku jafi ingin tahu kondisi pak pandu sekarang, apakah doa baik-baik saja?


Setelah mendapatkan nomer, aku segera menghubungi Noval, aku memberi tahunya jika aku sudah berada di rumah sakit, Noval juga menceritakan kabar Arga.


setelah menghubungi noval, aku mencari nomer kak nanda, tapi aku hanya bisa menatap layar ponsel, apa mungkin aku sanggup mendengar kabar pak pandu. Aku masih terdiam kaku, terus menerus menatap ponselku beberapa detik, sampai akhirnya ku putuskan untuk menghubungi kak nanda.


"Hallo siapa ya? " terdengar suara kak nanda


"kak ini kiand! " jawabku ragu


"kiand, serius ini lo? " tanya kak Nanda tak percaya


"iya kak, tapi kali ini gue minta jangan kasih tau siapapun nomer gue"


"iya ki, gue janji...! lo dimana sekarang? lo jadi ke surabaya? "


"gue udah di surabaya kak, sekarang lagi di rumah sakit, nunggu ayah siuman"


"hmmm kiand, sabar ya, seandainya gue bisa ada disana! " ujarnya


"iya nggak papa kak! " jawabku.


Aku terdiam dalam sambungan telpon, ingin rasanya aku menanyakan kondisi Pak Pandu, tapi bibir ini berat


"Ki! " panggil kak nanda


"iya kak! " jawabku


"Pak Bagaskara kena serangan jantung! " jelas Kak Nanda, ternyata yang di bicarakan dua penjaga di kamar ayah itu benar


"Lalu bagaimana kondisinya? " tanyaku


"lo masih perduli sama dia, gue sih berharap dia cepet mati... " jawab kak nanda kasar


"husshh! nggak gitu lah kak! " ujarku mengingatkan


"abis gue kesel, gara-gara dia lo pergi! mungkin ini hukuman yang buat dia" kak nanda terus mengumpat kesal


"Iya sih, tapi biar gimana juga dia ayahnya pak pandu, Pak Pandu pasti sedih ! "


"ohh iya, ngomongin itu pak pandu, kemarin Malam Pak Yoga nelpon gue , dia nelpon jam 1 malem, pak yoga cerita kondisi pak pandu, dia benar-benar hancur di tinggal lo Ki, " penjelasan Kak Nanda cukup menampar hatiku, bukan hanya pak pandu yang hancur tapi aku juga


"ohh... yasudah ya kak, nanti gue hubungin lo lagi! " aku tak mau semakin sakit dan merasa bersalah mendengar kondisi pak pandu, jadi ku memilih menyudahi percakapanku dan kak nanda


Lagi-lagi aku hanya bisa menangis, bagaimana aku memghadapi hariku tanpa memikirkan pak pandu, bisakah aku hidup dalam udara yang di penuhi Pak Pandu?