
POV Pandu
Seharian ini, aku hanya sempat beristirahat lima atau sepuluh menit, Proyek ini memaksaku lembur pagi hingga malam, belum lagi aku harus mempersiapkan proyek lainnya, rasanya kepalaku mau pecah.
Setelah kemarin aku memberi tahu papi, jika aku akan memproses kembali Proyek Tunjungan lagoon, dengan tegas papi menolak, karena menurut papi itu akan beresiko, bukan hanya untukku, tapi juga untuk perusahaan, kasus korupsi dalam proyek itu, tidak semua mencuat ke luar, hanya 5-10 persen saja dari beberapa masalah yang terjadi, dari mulai tidak sesuainya harga bahan bangunan yang di rencanakan, perebutan tender suplayer, dan pembebasan lahan, tapi aku tetap bersikeras karena itu adalah tantangan yang Kak Candra berikan untukku.
Malam ini Papi memintaku untuk menemuinya di rumah, terpaksa aku pun harus pulang ke rumah,
Sesampainya di rumah, aku di sambutan oleh pelukan dan kecupan mami, begitupun Reina si bontot kesayanganku, dia bahkan menangis dalam pelukanku.
"Papi mana mi? " tanyaku
"di ruang kerja sayang! " jawab mami, Dia menyentuh kedua pipi ku " Kalian adalah saudara, mami harap kalian pikirkan lagi masalah ini" suara mami terdengar bergetar seperti menahan tangis
"Mami tenang aja, Pandu yakin Pandu bisa! " jawabku
Aku berjalan menuju ruang kerja papi, terlihat pintu yang sedikit terbuka, tampak Kak Candra hanya menunduk di hadapan papi. Pria berusia 63 tahun itu masih berdiri tegap dengan wajah yang sangar.
"Apa sebenarnya yang ada di otakmu ? " terdengar suara papi yang meninggi
Ku beranikan diri untuk membuka pintu perlahan, Papi langsung menyadari kedatanganku
"Sini! " titahnya
Dengan hati yang berdebar aku berjalan mendekati papi
Plakkkk!!!!! Sebuah tamparan keras melayang ke pipiku, sungguh itu membuatku terkejut
"Ada apa dengan kalian? " tanya Papi "Taruhan untuk saling menyingkirkan? "
"Maaf pi! " satu kata yang ada di pikiranku
"Kalian itu saudara, sudah berapa kali papi ingatkan! " aku tidak pernah melihat papi semarah ini, wajahnya tampak memerah, keriput di wajahnya semakin jelas terlihat.
"Papi benar-benar kecewa sama kalian! awalnya papi pikir kalian sudah dewasa, nyatanya kalian tak beda dengan seorang anak kecil"
Kami hanya diam membisu, tak ada yang mampu keluar dari mulutku, begitupun kak Candra
"Besok papi akan kembali ke kantor, papi akan adakan meeting bersama direksi , papi harus selesaikan masalah ini" ujar papi
Kak Candra melirikku dengan tatapan kebencian, aku memang yang bilang pada papi tentang taruhan ini, bagiku ini bukan hanya mempertaruhkan jabatan ku, tapi juga nama baik perusahaan, mana mungkin aku menutupinya dari papi.
"Sudah kalian keluar! " titah papi. dia berjalan menuju balik meja dan menjatuhkan tubuhnya di kursi, ada rasa bersalah saat aku melihat wajah tuanya tengah lelah, keributan yang terjadi antara aku dan kak Candra menambah beban pikirannya.
Kak Candra berlalu begitu saja, tanpa berbicara apapun, sedang aku masih berdiri menatap papi, aku berjalan mendekat dan duduk di hadapannya
"Ada apa? " tanya papi saat melihatku hanya terpaku menatapnya
" Pandu mau minta maaf pi" jawabku
"Papi mengerti kamu emosi, kakakmu juga begitu, tapi tidak seharusnya mengambil keputusan yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain, papi pernah muda seperti kalian, papi juga pernah emosi saat itu, dan hasil yang papi dapat hanyalah penyesalan, berdamailah dengan kakak mu, biar gimana juga itu adalah kakakmu, dia yang kelak akan menjagamu dan Reina" Nasehat papi "Hidup papi tidak lama nak! jika papi pergi siapa yang akan memantau kalian? apa kalian tega melihat papi menangis di dalam kubur saat tau kalian masih saja ribut, turunkan ego mu, Kakakmu memang keras, makanya disini kamu yang harus mengalah, " Aku berusaha mencerna semua nasehat papi, tapi kenapa rasanya berat saat aku di minta untuk mengalah, Aku sudah cukup puas mengalah demi kak Candra
"Baik Pi" ucapku meski tak sama dengan keinginanku
"Ya sudah, sekarang temui kakakmu!" titah papi
Untuk yang satu ini belum bisa aku lakukan, ketika aku melihat Kak Candra seolah aku melihat bayangan Bintang yang pergi meninggalkanku
" Maaf pi! untuk saat ini Pandu belum bisa" jawabku, untunglah papi mengerti.
"Ya sudah ... kamu boleh pergi! " ujar papi
"Pandu...! "
Ku hentikan langkahku "Relakan Bintang untuk Kak Candra" kata-kata itu seperti membuka kembali luka lama yang hendak ku tutup
Aku tak menanggapi perkataan papi dan berlalu pergi.
Bintang teringat kembali kata itu, dulu dadaku berdegup saat aku mendengar nama Bintang, tapi kali ini ada hal yang berbeda, degupan jantungku tak sekencang dulu, apa mungkin karena aku terlalu sakit hati ahh entah lah.
Aku pamit pada Mami dan Reina, mami tampak sedih begitupun Reina, tapi ini sudah menjadi keputusanku, untuk sementara ini aku akan tinggal di apartemen.
...****************...
Ucapan papi kemarin ternyata bukan isapan jempol, hari ini karin menghubungiku, jika papi meminta para direksi untuk berkumpul, aku yang saat itu masih di apartemen segera bersiap ke kantor,
"Mau kemana lo? " tanya Jefry saat aku tengah berlari ke kamar mandi dengan tergesa-gesa
Malam ini aku memang meminta Jefry menemaniku, dia bertugas memantau Kiand.
"Ada rapat besar nih di kantor! " Setelah berpakaian aku segera mengambil kunci mobil dan meninggalkan apartemen.
aku sempat terhenti di pintu apartemen Kiand, ingin rasanya aku mengetuk dan mengajaknya untuk pergi bersama, tapi sepertinya itu percuma, aku tahu kiand pasti menolak, aku melanjutkan langkahku menuju lift, cukup lama aku menunggu di depan lift, sampai akhirnya Ting!!!!!
Pintu lift terbuka tidak ada siapapun di dalam lift kecuali aku. saat pintu hendak menutup, dari jauh Kiand tengah berlari ke arah Lift, segera ku tahan pintu lift dan dia terkejut saat melihat aku yang berada di dalam.
"Pak Pandu duluan aja! " ujar nya
"kenapa saya harus duluan? lift ini masih kosong , ayo cepat naik" titahku
"Nggak usah Pak Pandu duluan aja, saya mau turun lewat tangga darurat, sekalian olah raga" ujarnya
Tanpa berkata apapun, aku segera menarik tangan Kiand, namun kaki kiand tersandung, hingga ia hampir saja terjatuh, untunglah dengan sigap aku menangkap dengan memeluk tubuhnya, ada getaran yang berbeda saat kami saling melemparkan pandangan, aku merasakan perasaan Kiand mengalir dalam hatiku. adegan ini terjafi beberapa saat, hingga Kiand segera menyadari dan melepaskan pelukannya.
"Maaf...! " ucapku kaku
Kiand pun terlihat kaku, dia merapikan pakaiannnya dan berdiri sedikit menjauh. Di dalam lift kami hanya diam, tak ada lagi kata yang terucap dariku atau pun kiand, perjalanan yang harusnya terasa cepat, kini ku rasakan lebih lama.
Ting!!!!
Pintu lift pun terbuka, Kiand keluar begitu saja, entah kenapa aku merasa merindukan kiand yang dulu, senyumnya, keceriaannya, aku merasa bersalah karena telah menghapus keceriaan di wajahnya, aku berusaha mengejar kiand, berniat mengajaknya untuk jalan bareng ke kantor
"Ki.. " panggil ku sambil menahan tangannya
"Lepasin pak! " pintanya
"bukannya kita satu arah, lebih baik kita berangkat bareng" ujar ku
"Nggak usah pak! saya bareng temen saya... " jawabnya
Temen? aku terdiam sesaat siapa? pertanyaan itu terlintas di kepalaku
"Pak... saya harus berangkat, kerjaan saya banyak " Kiand menghempaskan tangannya hingga genggaman kami terlepas
"Oke, hati - hati... " ujarku lemas
Aku terdiam sesaat melihat Kiand berjalan menuju lobby, ku lihat sebuah motor matic berheneti di depannya, dia menyodorkan helem pada Kiand.
Pria itu lagi gumam ku, apa mungkin itu kekasih kiand? tapi mana mungkin secepat itu kiand memiliki kekasih? pikiran tentang kiand sangat mengganggu konsentrasiku ada apa sebenanrnya aku? aku merasa tidak rela dia dekat dengan pria lain selain aku.
Dalam kegalauan aku melanjutkan perjalananku menuju kantor, ku lihat mobil Papi dan Kak Candra telah terpakir di tempat parkir khusus, aku sengaja berhenti di lobby, dan meminta valley untuk memarkirkan mobilku. semenjak aku tinggal di apartemen aku memang menyetir sendiri, kemal ku perintahkan untuk menjadi supir pribadi Reina.