
POV Kiand
Hari ini aku di tugaskan untuk menjadi pendamping kak Nanda. Dia tampak cantik dengan gaun putih sederhana dan minimalis , tidak banyak hiasan yang ribet. Riasan rambutnya pun di tata begitu simple, tapi justru itu yang membuatnya semakin terlihat sangat cantik.
Ketika pembawa acara meminta pengantin wanita untuk memasuki tempat akad, aku berada di belakang kak Nanda, memegang ekor gaunnya yang menjuntai, berjalan perlahan sampai kak Nanda bertemu dengan pak Jefry. Pak Jefry terlihat begitu tampan memakai balutan jas hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna biru muda.
Aku begitu senang melihat mereka akhirnya tertawa bahagia, dengan kisah cinta mereka yang tak di sangka-sangka. aku duduk di samping Kak Nanda, tak ada yang menjadi prioritas ku saat ini selain kak Nanda, bahkan aku menghempas jauh pikiranku tentang pak pandu, meski terkadang aku membayangkan sebuah pernikahan seperti ini dengan Pak Pandu.
Selesai acara, Kedua mempelai berjalan menuju pelaminan, aku masih setia berada di samping Kak Nanda, membantunya berjalan karena agak ribet oleh gaunnya yang memanjang
"Kiand!" panggil pak Jefry
Aku mendekat ke arah pak Jefry, karena riuh suara MC aku tidak terlalu bisa mendengar kak Jefry berbicara
"Ada pandu disini!" jelasnya. Seketika tubuhku kaku antara aku harus sedih dan bahagia.
Aku membalikan tubuhku, mataku terus mengitari setiap para tamu undangan, tapi aku tidak menemukan pak pandu.
"mana pak?" tanyaku
Pak Jefry sendiri tidak bisa menemukan pak pandu, entah berubah menjadi apa dia.
"Nanti juga ketemu!" ucap pak Jefry
Aku kembali merapikan gaun kak Nanda, beberapa orang mulai naik ke pelaminan untuk memberikan selamat pada kak Nanda dan pak Jefry, sedang aku kembali duduk di meja VIP yang sudah di sediakan
"kemana sih pak pandu !" gumamku sambil terus mencari keberadaannya
"harusnya dia ada di tempat VIP" pikirku
Tak lama aku tertegun saat melihat seorang pria dengan balutan jas biru melambaikan tangannya ke arahku, hatiku makin berdebar saat pria itu jalan ke arahku.
"Tuhan, aku sangat merindukan pria itu, dan kini dia ada di hadapanku, lalu aku harus apa?" batinku
"hai ..." sapanya setelah berada tepat di depanku
"pak pandu....!" tatapanku sendu
"kamu apa kabar?" tanyanya, dia kini duduk di samping kursiku
"baik pada akhirnya" jawabku
"maafin aku ya!"
Aku hanya tertegun, rasanya aku ingin menangis, marah memukulnya, tapi aku ingin memeluknya.
"Kiand, ada yang mau aku omongin sama kamu" ucapnya
"mau ngomong apa? "
" aku mau minta maaf, maaf untuk semuanya , maaf karena sudah menyakitimu, maaf karena sudah meninggalkanmu, maaf karena sudah berusaha menghilang dari hidupmu meski pada akhirnya aku gak bisa" ucap pak pandu
aku menatapnya , tak puas dengan semua kata-kata yang dia ucapkan, tak ada penjelasan yang menjawab semua pertanyaan di kepalaku
Pak pandu, meraih tanganku, ia menggenggamnya, dan menaruhnya di dada
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu Kiand, I love you, menikahlah denganku" Aku terdiam sejenak, dan ketika sadar aku segera menarik tanganku dari genggamannya.
"apa kamu masih belum jelas, dengan perkataanku Kiand?" tanyanya
Beberapa orang yang berdiri di dekat meja kami, tidaklah lagi fokus pada pengantin maupun wedding singer yang tengah menyanyikan lagu-lagu hits, mereka justru fokus pada aku dan pak pandu.
"Aku akan bertunangan dengan Noval pak" jelasku membuat pak pandu terdiam,
"entahlah pak, rasanya berbeda, Noval dan keluarganya sudah banyak membantuku, perasaanku saat ini tidaklah begitu penting"
"Kiand, aku disini sekarang, kamu jangan mengorbankan perasaanmu lagi...."
"Hai, lo disini !" seru Noval yang ternyata sudah ada di sampingku
Aku sontak menoleh ke arah noval, tangannya langsung merangkul pundakku
"Maaf Pak, aku masih ada urusan!" aku beranjak dan pergi bersama Noval meninggalkan pak pandu sendiri.Air mataku tak terbendung, aku meminta Noval menemaniku untuk pergi ke taman, aku tak ingin ada yang melihat kesedihanku terutama kak Nanda atau pak Jefry, rasanya tak enak aku justru bersedih di saat mereka sedang merayakan kebahagiaan.
"Ki!" Noval mendekat ke arahku yang tengah berdiri di samping kolam, terlihat beberapa orang hilir mudik, tapi aku tak ingin menghiraukannya
"ke mobil yu, gak enak kalau disini" ajak noval
Akupun pergi ke mobil, benar kata noval tak enak jika ada yang melihatku menangis
Aku menumpahkan semua air mata yang tertahan, sampai dada ini sesak.
"sampai kapan gue harus liat Lo nangis kaya gini?" tanya noval sambil mengulurkan tisu
Aku tak sanggup berkata apapun, yang ingin aku lakukan saat ini hanya menangis, aku mencintai pak pandu , aku senang melihatnya ada disini, tapi aku justru harus bertunangan dengan noval
"Ki, ayolah, udah nangisnya!" pinta noval
"noval, maafin gue ...!" ucapku sambil terus nangis
"Lo gak perlu minta maaf Ki, gue gak akan maksain perasaan Lo buat gue " ucapnya semakin membuat aku menangis
Aku menggelengkan kepalaku, aku tak mungkin sejahat itu, apa yang harus ku katakan pada bunda?
"Noval....!" aku menatap Noval, air mataku semakin deras, aku akan sangat merasa bersalah jika aku menyakiti hatinya lagi
"Ki, gue tuh sayang sama Lo, yang gue mau kebahagiaan Lo, bukan cuman memiliki Lo....." ujar noval
Aku menenggelamkan tubuhku dalam pelukan noval, aku tahu rasa sakit yang noval terima saat ini, tapi dia rela
"udah jangan nangis lagi, nanti Nanda nyariin Lo gimana?"
"gue gak sanggup kalau harus liat pak pandu val!"
"Ki, " Noval menghapus air mataku, kepalanya menunduk agar sejajar dengan wajahku "Lo cewek
yang paling kuat, yang gue kenal, udah banyak hal yang Lo lakuin selama ini, kejar kebahagiaan Lo, ikuti kata hati Lo, kalau memang Lo yakin, pandu lah orang yang bisa buat Lo bahagia, kasih dia kesempatan, gue akan selalu ada buat Lo! ngerti ya!"
"tapi val...."
"syuuuttt, udah udah " potong Noval " Lo gak usah pikirin perasaan gue, gue udah terlatih untuk hanya mencintai Lo, tanpa berharap Lo jadi milik gue..."
"novall....! " dia hanya menampakkan senyum meski aku tahu hatinya begitu sakit.
Egois Kah aku, jika aku mengorbankan perasaan Noval demi pak pandu? Pikirku
"jadi, mau balik lagi ke acara?" tanya Noval setelah melihat aku jauh lebih tenang.
Aku mengusap sisa air mataku, dan mengangguk..
"gitu dong, itu baru Kiand yang gue kenal" Noval membuka pintu mobil untukku, kami berjalan bersama memasuki gedung.
Semakin siang, tamu undangan semakin ramai, aku masih melihat Pak Pandu di meja VIP, sesekali pak Jefry menghampirinya, aku sendiri memilih untuk duduk di kursi tamu undangan bersama Noval.