For A Great Love

For A Great Love
episode 25 tangan itu ....



Rasanya tak nyaman jika aku berada di sini, kuraih tas dan kunci motor, aku butuh angin segar malam ini untuk merefleksikan otakku yang penat.


Ku turuni anak tangga dengan langkah yang cepat


"Pandu, mau kemana kamu? " tanya mami


"Ada urusan! " sahutku tanpa menoleh ke arah mereka, yah mereka masih berada di meja makan, seolah tak memperdulikan perasaanku.


"Pandu....! " kali ini papi yang berteriak


Tapi aku tak perduli, aku tetap melangkahkan kakiku keluar. Ku nyalakan motor dan memacunya sekencang mungkin, tak perduli kemungkinan buruk yang akan terjadi.


Bintang.... aku melihatnya tadi, rasa ini masih terasa menyakitkan, tangan Bintang yang menggenggam tangan Kak Candra semakin manyayat hatiku, dan tak ada yang perduli dengan perasaanku, semua begitu bahagia dengan hubungan kak candra dan bintang, bahkan memaksaku untuk ikut bahagia bersama mereka, sedang kak candra tahu seberapa besar aku mencintai Bintang.


Jalanan ibu kota terlihat kosong, ku tambah kecepatan ku, semakin kencang, agar setiap angin yang berhembus mampu mengambil setiap luka yang kurasakan, ingin aku berteriak, menumpahkan semua amarah ku, tapi ku urungkan. Tanpa sadar air mataku menetes, teringat tatapan mami dan papi, mereka kecewa padaku, pada anaknya yang tanpa sadar sudah mereka sakiti.


Motor melaju ke arah tempat biasa aku menumpahkan masalah, karena hanya itu satu satunya cara untukku melupakan sesaat rasa sakit ini.


"Seperti biasa ya wir! " pintaku pada bartrnder yang bernama wira,


"Ada apa lagi sih bos? " tanyanya, sambil menaruh sebotol minuman dan gelas kecil


"Biasa masalah hidup" jawabku tersenyum


Ditengah masalahku aku masih teringat Kiand, bagaimana dia sekarang? apa mereka aman bersama jefry dan yoga? harusnya sih aman yah, tapi lebih baik ku pastikan gumam ku


Aku segera menghubungi jefry untuk memantau keadaan kiand


"Halo jef! gimana aman semua ? " tanyaku


"aman Du, Lo dimana sih? kok berisik banget? " tanya Jefry, saat mendengar suara kencang yang berasal dari music di dalam club


"Biasa... " jawabku


"Lo kenapa lagi? " tanya jefry


"Ngga papa, gue cuman butuh rileks " jawabku


"Gue perlu temenin lo? " tanya Jefry


"Nggak usah, lo jaga aja kiand sama adeknya, gue cuman sebentar kok"


" ohh oke, take care kalau ada apa-apa hubungi gue" , untunglah aku memiliki sahabat seperti jefry dan Yoga


"Ohh ya, jangan bilang kiand gue ada disini! " pintaku


"nggak janji gue! " jawab Jefry


"jef...! " namun dia langsung mematikan sambungan telpon.


Dasar jefry, si mulut lemes..gumam ku.


aku mulai menuang minuman kedalam gelas dan meminumnya , kenyamanan ini memang ku rasakan sesaat, tapi lumayanlah, setidaknya aku bisa tetap waras setelah ini. Aku sudah menghabiskan satu botol minuman, tenang aku masih waras, kebiasaan ku minum membuatku tahan untuk tetap minum beberapa botol


Wira membawakan botol minuman yang sama, dan aku kembali menuangkannya di gelas, hampir 1 jam aku disini, dan aku sudah menghabiskan tiga botol minuman. kepalaku sedikit pusing, tapi aku masih tetap sadar, Cukup sadar saat suara itu terdengar di telingaku.


"Apa semua masalah dapat di atasi oleh minuman? " Suara terdengar begitu jelas di telingaku, suara seseorang yang ku kenal.


"Kenapa kamu kesini? " tanyaku pada Kiand yang sudah berdiri di samping


"Harusnya saya yang bertanya seperti itu, kenapa bapak ada disini? apa segitu lemahnya seorang Pandu ? " suara kiand penuh penekanan.


"Itu bukan urusan mu! " jawabku


"Ayo pulang! " Kiand menarik tanganku


"Lepas...! " ku tarik tanganku hingga tangan Kiand agak terpental "Saya bisa jalan sendiri"


Aku turun dari kursi bar, berusaha jalan meski kepalaku berat, masih terngiang jelas perkataan Bintang waktu itu "Aku mencintai Kak Candra, maaf Pandu" perkataan itu terus menggema setiap hatiku sakit melihatnya berdua dengan kak Candra


Bintang.... Panggilku dalam hati


Ku jatuhkan tubuhku di samping motor yang ku parkir, terkadang aku berpikir selemah ini kah diriku, aku bak pecundang yang kehilangan arah.


"Pak... Bapak nggak papa? " Kiand menghampiriku, dia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan ku


"Kenapa sesakit ini sih? " pertanyaan itu keluar begitu saja


"Pak Pandu...! " Kiand duduk di sampingku


"saya sudah berusaha untuk bisa menjalani semua ini, membiasakan diri melihat Bintang bersama Kak Candra, perlahan mengobati luka sendiri, tapi nyatanya saya nggak bisa" Air mataku menetes, ku curahkan rasa sakit ku di hadapan Kiand


"Tuhan menuliskan takdir terbaik untuk hambanya, kata-kata itu yang selalu saya pegang ketika saya lelah, masalah silih berganti seolah tak ada jalan keluar" perkataan kiand membuatku tertegn sesaat, sepositif itu kah pikiran dia?


"Apa takdir seperti ini? adalah takdir terbaik, disaat kamu benar-benar mencintai seseorang, dan orang itu harus pergi dengan kakaknya sendiri, coba kamu bayangkan, saya akan melihat kemesraan mereka berdua saat saya menginjakan kaki di rumah, dan saya di tuntut untuk tetap tersenyum dan bahagia, takdir macam apa itu? " ujar ku


"Dulu saya selalu bahagia saat Bintang ada di rumah, tangan mungilnya selalu menarik saya menuju dapur, untuk mencicipi masakannya, ia selalu bisa membuat saya bahagia banyak hal yang ia ceritakan, hingga kami bisa tertawa sampai larut, saya mencintai Bintang, dan saya pikir Bintang mencintai saya, namun kenyataan menampar saya Cinta Bintang justru untuk Kak Candra, bukan untuk saya" Tangis ku pecah, aku sadar aku rapuh, terlalu banyak kenangan tentang Bintang di otakku, sekarang ia tidak denganku, bukan tanganku yang ia genggam, tapi tangan Kak Candra, dan semua keindahan yang ku rasakan dulu, kini sirna


Sebuah tangan lembut merangkul ku, mengusap kepalaku, dan aku nyaman menangis dalam dekapan kiand


"Bagaimana saya bisa melalui hari ini, esok dan seterusnya kiand? " Aku terus menangis dalam dekapan Kiand,


"Ini semua sangat menyakitkan, dan ini membuat saya muak"


"Ungkapkan apa yang mau Pak Pandu katakan, saya disini, saya ada untuk Pak Pandu" Ucapan Kiand bak angin segar di gurun pasir, dadaku terasa nyaman, ada ketenangan yang tak ingin aku lepaskan


"Kamu tahu se rapuh apa saya saat ini ki? "


Kami tenggelam dalam malam yang sendu, di temani rintikan hujan yang membuat baju kami basah, Kiand tetap membiarkanku dalam dekapannya, hingga tangisku berhenti, dan entah kekuatan dari mana yang membuatku bangkit, Aku beranjak untuk menaiki motor, diikuti kiand di belakang


"saya antar kamu pulang ya ki, tapi saya nggak akan masuk! " ujarku


"Bapak yakin sudah jauh lebih baik? " Tanya Kiand, aku hanya mengangguk, seandainya kamu bisa menggantikan Bintang ki, tapi itu tidak akan mudah


Ku pacu motor ke arah apartemen kiand, di kawasan kemang, aku meminta kiand untuk tidak menceritakan kejadian malam ini pada siapapun, ini menjadi titik kelemahan ku dan hanya Kiand yang melihat itu.